Air terjun Krondonan, Surga tersembunyi di Bojonegoro.

Beberapa waktu yg lalu aku di hubungi salah satu admin explore sidoarjo via DM instagram. Meraka bilang ingin membeli beberapa foto yang aku post di Instagram untuk keperluan membuat majalah. Salah satu foto yang aku kirim adalah air terjun Krondonan di Bojonegoro. Untuk itu, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku mengunjungi Air terjun Krondonan ini.

Sebenernya udah lama juga sih aku ke air terjun ini, sekitar tahun 2017 an kali ya. Dan itupun yang kedua kalinya. Yang pertama gagal karena salah akses masuk dan baru bisa kesampaian setahun seetelahnya.

Berangkat dari rumah bersama temenku,Triono. kami arahkan kendaraan menuju ds Rejuno (perbatasan kabupaten Ngawi -Bojonegoro) melewati hutan jati pegunungan Kendeng. Meskipun hutan jati, tapi akses jalan sudah beraspal, cor, dan paving. Masih ada sedikit jalan rusak sih, tapi gak separah pas pertama kali melewati jalanan ini di akhir tahun 2011.

Lokasi air terjun krondonan ini berada di perbatasan. Antara kecamatan Sekar dan kecamatan Gondang. Akses yang lebih mudah adalah dari desa Krondonan kecamatan Gondang. Itu sebabnya kami harus putar lebih jauh melewati kecamatan Gondang. Karna pengalaman dulu pernah lewat dari Kecamatan Sekar, eh malah gak sampai lokasi karena medan yang ekstrime.

Sampai di desa Krondonan, kami bertanya ke penduduk sekitar tentang lokasi air terjunya. Kendaraan kami parkir di sebuah TK. Karna bangunan TK ini adalah bangunan terakhir untuk sampai ke lokasi air terjun.

Kami mulai berjalan kaki lewat samping TK. Melewati kebun jagung dengan medan yang menurun. Melihat kebun jagung yang sepi, jiwa maling ku mulai bergelora. “Tahan aik, niatmu kesini untuk explore air terjun, bukan mau maling”. Kata lubuk hatiku yang paling dalam.

Sampai dasar sungai kami harus melawan arus menyusuri aliran sungai. Airnya pun juga keruh. Karna bukan dari sumber mata air. Konon, kata temenku yang tinggal di kec Sekar, tempat ini sering menelan korban. Sebab arus di sungai menuju air terjun ini sangat deras. Kami harus berhati hati dalam memilih pijakan batu. selain licin, kadang batu gak terlalu kokoh untuk di buat pijakan.

Gak terlalu lama kami menyusuri sungai, akhirnya kami sampai juga di lokasi air terjun Krondonan.

Debit airnya gak terlalu deras membuat warna air di air terjunya gak terlalu keruh. Struktur bebatuanya khas layaknya gunung kapur, berwana putih kecoklatan. Ketinggian air terjun Krondonan sendiri sekitar 15 sampai 20 meter.

Setelah cukup puas menikmati suasana air terjun, kami lanjut pulang.

Ok sekian cerita kawak dariku. Alhamdulilah, selesai juga tulisane. Sebenere muales banget nulis. Buat nulis yang ini aja butuh waktu berminggu minggu.. Haha

Yauwes, daaaah… 👋👋

Gunung Gajah digapai dengan mudah

Sehari setelah menelusuri peradaban kabupaten Madiun (situs Nglambang dan situs sendang kamal. Aku dan mas Ryan berencana pergi ke Ponorogo. Tepatnya menuju ke gunung Gajah.

Berangkat dari rumah menjelang subuh, kami sempatkan sholat subuh di masjid dekat rumahnya mas Ryan. Seberes sholat, kami langsung berangkat menuju Ponorogo.

Lokasi gunung Gajah sendiri berada di kecamatan Sambit, Ponorogo. Sekitar 25 km ke arah selatan kota Ponorogo. Kami hampir saja salah jalan karena ngikutin Google maps, untung saja akhirnya tanya ke penduduk sekitar.

Gunung Gajah ini aksesnya tergolong mudah. Sebab untuk sampai ke puncak nggak perlu berjalan kaki lama lama. Kendaraan bisa sampai ke atas dekat puncak. Karena memang dilalui jalan penghubung antar desa gitu.

Meskipun gak menguras fisik, kondisi kendaraan harus di perhatikan. Karena 2 km awal kondisi jalanan rusak, jadi tetap harus hati hati. Tetapi setelah itu jalanan mulai mulus, dari mulai yang aspal hingga cor coran. Jika di samain, gunung Gajah ini sama seperti gunung Telomoyo di Jawa tengah, sama sama dapat di akses dengan kendaraan.

Penduduk sekitar menyebut puncak gunung Gajah ini dengan sebutan puncak Kuik. Kalian gak usah kawatir dengan perbekalan, sebab di pinggir jalan deket puncak terdapat beberapa warung. Selain itu juga ada penyewaan alat outdornya juga, jadi jika kalian berniat ngecamp di puncak bisa banget nyewa langsung disini.

Dari atas puncak Kuik, kalian bisa melihat hamparan sawah yang ada di bawah hingga lautan awan, tapi jika kalian beruntung juga sih. Terlihat juga gunung Bayang kaki yang masih di wilayah Ponorogo.

Sedikit turun kebawah dan brasak brasak (tau ah bahasa indonya apa) ada air terjun yang kemungkinan cuma ada pas musim penghujan. Gak cuma satu, air terjun ini ada dua dan itu berdekatan. Uniknya, salah satu air terjun atasnya adalah persawahan teras sering yang pembuangan irigasinya turun langsung menjadi air terjun.

Dan setelah dari situ kami akhirnya pulang deh..

Udah segitu dulu ye..

Menelusuri Peradaban Madiun

Saat menulis ini, beberapa waktu yang lalu telah diresmikan patung Marlion kw di jalan Pahlawan kota Madiun. Ya, jalan Pahlawan yang kini di sulap menjadi Malioboronya Madiun berlahan ditambah beberapa icon dunia, mulai dari ka’bah dan yang terbaru adalah patung singa seperti di negara Singapura. Kabarnya, setelah patung Marlion ini, akan dilanjut dengan pembangunan menara Eiffel.

Ada banyak pro kontra dalam pembangunan icon icon dunia ini. Masyarakat banyak yang berbondong bondong ber foto selfie di icon icon dunia ini. Selain itu, dengan adanya wajah baru kota Madiun dapat mengangkat perekonomian masyarakat sekitar. Sedangkan di sisi lain ada juga masyarakat yang kontra terhadap pembangunanya. Salah satunya tentang menghilangnya identitas dari Madiun itu sendiri. Ada yang beranggapan seharusnya di bangun yang beridentitas dari Madiun sendiri, bukan dari daerah lain. Seperti patung pencak ataupun patung Retno dumilah.

Nah, berhubung ngomongin identitas dari Madiun, gak pas kalo gak ngomongin tentang sejarah kabupaten Madiun itu sendiri. Ditulisanku kali ini, aku akan ajak kalian mengunjungi beberapa tempat bersejarah di kabupaten Madiun

Mengajak mas Ryan, kenalan Dari Instagram, kami mengunjungi beberapa situs yang ada di sekitaran Madiun. Btw, mas Ryan ini bertempat tinggal di kelurahan Kuncen kota Madiun, yang mana kelurahan Kuncen sendiri memiliki nilai historis di kabupaten Madiun itu sendiri. Oke, langsung aja kita menuju ke lokasi pertama.

PUNDEN NGLAMBANG KUNING.

Lokasi peratama yang kami kunjungi adalah Punden Nglambang Kuning. Letaknya 8 km sebelah timur kota Madiun. Yaitu di ds Nglambang, kec Wungu.

Suasana di area situs yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit ini sangat adem dan nyaman. Pasalnya diarea situs terdapat pohon pohon besar yang usianya diperkirakan lebih dari seratus tahun. Didalam situs Ngalambang sendiri terbagi menjadi 2 bagian. Pertama bagian depan yang terdapat pendopo dan bagian belakang yang merupakan punden Lambang kuning itu sendiri.

Ada beberapa bagunan atau benda yang ada di situs Lambang kuning ini. Antara lain ada umpak, yoni, dan makam pendiri atau yang membabad desa nglambang itu sendiri, yaitu makam Nyi Lambang kuning.

Situs punden Nglambang kuning.

Nyi Lambang kuning merupakan keturunan dari kerajaan Kahuripan yang konon melarikan diri karena korban dari legenda “calon arang” hingga sampai menetap di wilayah ini.

Situs Lambang kuning sendiri ramai dikunjungi peziarah disaat bulan bulan sakral kalender jawa khususnya bulan suro.

Sekiranya cukup mengexplore situs Lambang kuning, kami lanjut lagi ke gunung bedah yang tak jauh dari desa Lambang kuning. Gunung bedah sendiri adalah sebuah bukit yang di belah untuk dijadikan jalan. Tujuan kami kesini yang semula untuk berfoto foto akhirnya kami urungkan. Karena suasananya yang ramai oleh pengunjung. Akhirnya kami lanjutkan ke waduk dawuhan. Tapi skip aja lah ya cerita ke waduk Dawuhan.. Hehe

Melanjutkan perjalanan, kami lalu menuju ke arah barat kota Madiun. Tepatnya di ds Kraton kec Maospati kab Madiun. Memang sih, bukan masuk kab Madiun. Tapi secara sejarah, lokasi yang kami kunjungi selanjutnya ini masih erat kaitanya dengan sejarah kab Madiun.

SENDANG KAMAL

Namanya situs Sendang kamal. Lokasinya berada di dukuh Sumber, ds Kraton, kec Maospati, kab Magetan. Tapi sebelum aku bahas lebih jauh tentang Situs Sendang kamal, aku akan bahas desa tempat Sendang kamal ini terlebih dahulu.

Dinamakan ds Kraton karena dulu desa ini terdapat kraton atau kediaman dari Bupati Madiun ke 16. Bernama Ronggo prawirodirjo III. selain sebagai bupati Madiun, beliau juga merangkap sebagai penasehat serta menantu dari sultan Hamengkubuwono II. Beliau jugalah yang menentang kebijakan kebijakan Belanda, apalagi di saat Belanda membuat pernyataan jika hutan hutan di area Madiun diakui milik Belanda, guna keperluan membuat kapal.

Tapi sayang, bekas kediaman atau kraton milik bupati Madiun tersebut sekarang sudah rata dengan tanah, diganti dengan pemukiman penduduk desa kraton tersebut. Ok, kita lanjut bahasa tentang situs sendang kamal ya..

Nama lain dari Sendang kamal adalah Kawambang kulwan. Di depan pintu masuk terdapat 3 buah prastasti yang konon sebagai peninggalan kerajaan Medang atau Mataram kuno. Prasasti ini menunjukan bahwa daerah tersebut daerah merdikan atau daerah bebas pajak. Dari prasasti lanjut ke dalam ada bekas bangunan yang sudah tidak utuh lagi, bangunan ini dulu dibangun di zaman Belanda. Dulu orang orang Belanda juga menggunakan tempat ini sebagai pemandian. Di samping bangunan terdapat kolam pemandian Sendang kamal itu sendiri. Terdapat juga tempat tempat duduk yang berada di sisi sisi kolam pemandian.

Situs Sendang kamal, sekilas seperti Tamansari, Jogja.

Sendang kamal ini dulu tidak terawat, tetapi setelah dilakukan pemugaran oleh pemkab Magetan, membuat tempat ini layak untuk dikunjungi. Apalagi bersama dengan anak dan keluarga. Selain sebagai tempat rekresasi, Sendang kamal juga dapat sebagai tempat edukasi. Agar generasi muda mengetahui sejarah di daerah tempat tinggalnya.

Udah segitu aja ya tulisanya.. Hehe

Lembah dieng. Wisata bekas tambang saingan Ranu Manduro

Kalian pasti udah gak asing lagi kan dengan Ranu manduro yang sempet viral di awal tahun 2020? Wisata yang dijuluki felling good ini sekarang ada saingannya loh.. Namanya Lembah Dieng

LOKASI LEMBAH DIENG

Sama seperti Ranu manduro, lokasinya masih di kaki gunung Penanggungan. Meskipun begitu, gak berarti deket lo ya. Jika Ranu manduro berada di kabupaten Mojokerto, lain hal nya dengan Lembah dieng. Loksinya berada di kabupaten Pasuruan, lebih tepatnya di dsn Dieng, ds Jeruk purut, kec Gempol, Pasuruan.

Dari bundaran Apolo kalian bisa ambil arah ke barat masuk jalan kecil. Sebelum jembatan, belok ke kiri menuju ke dsn Dieng, jaraknya udah gak jauh lagi kok, sekitar 2 km dari pertigaan tadi. Dari sini udah ada petunjuk jalan masuk ke lokasi. Tenang, jalanya udah mulus, hanya beberapa jalan yang makadam. Tapi tetep hati hati ya, sebab banyak lalu lalang truk pengangkut batu.

Masih bingung dengan lokasinya? Ini adalah jalan masuk ke lembah di MAPS LEMBAH DIENG

TIKET MASUK LEMBAH DIENG

Untuk tiket masuknya sendiri masih sukarela. Kalian bisa membayarnya saat masuk dijalan ke arah Lembah dieng. Warga setempat membuat tempat pembayaran dari bahan kardus. Mungkin jika ramai bakal dibuatkan tiket masuk ke lokasi Lembah dieng.

BEKAS TAMBANG INSTAGENIC

sama halnya seperti Ranu manduro, Lembah dieng ini dulunya juga merupakan area penambangan pasir. Karena sudah tak digunakan lagi, maka jadilah Lembah dieng seperti sekarang ini.

Kalian bisa datang ke Lembah dieng disaat musim penghujan. Karena disaat itu rumput yang sebelumnya kering akan berubah menjadi hijau dan enak di pandang mata. Selain itu juga banyak warga sekitar yang mengembala hewan ternaknya di area Lembah dieng, kalian bisa banget tuh buat konten dari situ.. Hehe

Jika Ranu manduro best viewnya berlatar belakang gunung Penanggungan, berbeda lagi dengan Lembah dieng. Kalian bisa berfoto padang rumput dengan view kontur tanah bekas galian yang apik serta kecamatan Gempol dari kejauhan. Jadi kalian gak usah kawatir datang kesiangan karna kabut ya. Tapi jangan juga kesorean, kehujanan dong.. Hehe

Oh iya, jika kalian kesini tetep jaga kebersihan ya, jangan buang sampah sembarang. Gak oke dong jika tempat sekeren ini kotor karna banyak sampah dimana mana.

Foto bulan Feb 2020, saat Ranu manduro viral
Januari 2021

Ok, segitu dulu review Lembah dieng di Gempol, Pasuruan. Tetap patuhi prokes dan jaga kesehatan Kalian..

Wisata sejarah: rumah Dr. Radjiman

Disaat belajar sejarah waktu SD atau SMP sahabat pasti mengenal tokoh pahlawan nasional bernama Dr Radjiman bukan?. Beliau adalah salah satu pahlawan yang jasanya sangat besar dalam membentuk Negara Republik Indonesia. Sebagai ketua  BPUPKI di zaman penjajahan Jepang, beliau kemudian menghabiskan masa tuanya di kabupaten Ngawi. Kali ini sahabat akan aku ajak mengunjungi bekas rumah peninggalan Dr. Radjiman di Ngawi, yang saat ini sebagai bangunan Cagar budaya.

BIOGRAFI SINGKAT.

Dengan nama lengkap Dr.  Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Widiyodiningrat. Beliau lahir di Yogyakarta, 21 April 1879. Setelah lulus sekolah kedokteran di luar negeri, beliau kemudian pulang ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dokter di berbagai daerah di Jawa, tak terkecuali di kec Lawang, Malang (RSJ Dr. Radjiman Widiodiningrat sakarang). Selain sebagai dokter, beliau juga aktif dalam organisasi pergerakan nasional yaitu Budi utomo. Sehingga mengantarkanya sebagai ketua BPUPKI. Setelah kemerdekaan, Dr. Radjiman kemudian menjadi anggota DPR RI. Di masa ini pula beliau pindah dan bertempat tinggal di Ngawi. Beliau selalu pulang pergi Ngawi-Jakarta untuk menghadiri rapat DPR sampai masa tuanya. Beliau wafat di Ngawi, 20 September 1952. Jenazahnya lalu di makamkan di kabupaten Sleman, Yogyakarta.

LOKASI RUMAH DR. RADJIMAN.

Lokasi rumah Dr. Radjiman berada di dsn Dirgo, ds Kauman, kec Widodaren. 30 km dari pusat kota Ngawi. Dari stasiun Walikukun menuju ke arah selatan 50 meter, menuju ke barat, sampai pemakaman umum belok kiri, lurus melewati hutan jati dan sampailah di situs rumah Dr Radjiman. Warga setempat menyebut rumah Dr. Radjiman yang berusia lebih dari satu abad ini dengan sebutan rumah Kanjengan.

MENGHUBUNGI TERLEBIH DAHULU KE PIHAK PENGELOLA.

Jika sahabat ingin mengunjungi Situs rumah Dr. Radjiman ini, sebaiknya sahabat menghubungi pihak pengelola, karena tempat ini tidak selalu dibuka. No yang dapat dihubungi: 085235954755 atas nama Bapak Wagimin selaku ketua RT disana. Rumahnya berada di belakang situs rumah Radjiman. Selain ramah, Bapak Wagimin juga senatiasa menjawab pertanyaan yang sahabat tanyaakan perihal rumah “Kanjengan” ini. Tidak ada tiket masuk ke area rumah Dr. Radjiman ini, Sahabat cukup memberikan uang sukarela kepada Bapak Wagimin selaku penjaga dan perawat Cagar Budaya ini.

ARSITEKTUR RUMAH DR. RADJIMAN.

 Meskipun Situs bangunan rumah Dr. Radjiman ini sudah berumur seratus tahun lebih, bangunannya tetap kokoh berdiri. Pelatarannya begitu luas dengan rumah yang tak terlalu besar. Tampak di depan rumah terdapat patung setengah badan Dr. Radjiman dengan bahan tembaga. Rumah ini terbagi menjadi 3 bangunan.

Bangunan pertama adalah ruangan yang berisikan narasi, cerita tentang perjalanan  tokoh pahlawan Dr. Radjiman. Terbagi menjadi 3 bilik dengan cerita di setiap dindingnya.

Bangunan selanjutnya adalah bangunan yang menjadi tempat kediaman beliau. Ada beberapa ruangan, antara lain. Ruang tamu, kamar tidur dan salah satu yang menarik adalah ruang kosong yang hanya berisi satu lemari kaca di sudut ruangan dan sebilah tongkat Dr. Radjiman yang di letakan di dinding tembok. Ternyata ruangan ini dulunya juga merupakan kamar tidur. Meskipun berusia ratusan tahun, semua perabotan di dalam ruangan masih asli dan sangat terawat.

Bangunan yang terakhir adalah bangunan yang digunan sebagai ‘garasi’ kendaraan pribadi Dr. Radjiman kala itu. Beliau menggunakan delman sebagai alat transportasi. Dalam ‘garasi’ tersebut sekarang terpajang diorama delman dengan dipasangi patung kuda.

Ok, sekian dulu ripiyu wisata kali ini. Jangan lupa baca juga tulisanku yang lainya ya..Siyu nekstems ..

Bukit Bundu, melihat jalur lahar dingin gn Semeru.

Azan subuh mulai berkumandang. Aku pun di bangunkan oleh Irvansyah alias Gepeng, temen satu kosan via missedcall. Karena sebelumnya kami udah janjian untuk melakukan perjalanan menuju ke Malang. Sebenernya janjian jam 3 sih, tapi karna aku masih ngebo akhirnya kami baru berangkat setelah subuh.

Rencana hari ini kami ingin ke pergi ke 2 tempat yang ada di perbatasan antara Malang dan Lumajang. Yang pertama ke bukit Bundu dan dilanjutkan ke Tumpak sewu. Dimana ke dua tempat ini berjarak gak terlalu jauh. Perjalanan kami tempuh dari Ngoro sampai ke bukit Bundu sekitar 3 jam bersepeda Motor.

Bukit Bundu berlokasi di ds Purwoharjo kec Ampelgading, Malang. Jalanya searah sebelum PLTA Ampelgading. Disaat kami mau sampai lokasi, kami sempat tersesat. Kami hampir sampai ke PLTA Ampelgading. Sadar jalanan mulai turun, kamipun putar balik. Disaat itulah bukit baru kelihatan dari jalan yang kami lewati. Oh ya, dari jalanan ini kami juga bisa melihat air terjun yang ada di samping kanan. Entah air terjun apa namanya, yang jelas ketinggianya kurang lebih 100 meter.

Foto aku ambil dari jalan menuju ke bukit Bundu

Parkiranya berada di tepian jalan dekat pintu masuk. Jadi untuk mobil hanya muat beberapa aja. Saat itu loket masih tutup. Tanpa pikir panjang, kami langsung trobos aja dengan mengunci ganda sepeda motor agar lebih aman. Ditambah lagi helm kami bawa menuju ke atas. Mumpung gratis, hehe. Eh pas kami balik ternyata udah ada yg jaga. Kamipun akhirnya membayar tiket Rp 10.000 untuk parkir.

Ok, kembali ke perjalan naik.

Tracking ke puncak Bundu ini gak terlalu lama, sekitar 10 – 15 menit sampai di puncak. Kanan kiri di perjalanan naik banyak di tanami kopi, toilet dan kandang kambing. Ya, terdapat juga kandang kambing milik warga disini.

Sampai puncak, lelahnya perjalanan seketika hilang. Pasalnya kami bisa melihat pemandangan indah dari atas sini. Mulai dari gagahnya gunung semeru, hutan dengan tebing tebing yang curam kayak di jurasick park dan yang paling menarik dari puncak Mundu ini adalah view sungai aliran lahar dingin Gunung Semeru. Sungai yang lebar seperti lembah menjadi ciri khas dari panorama puncak Bundu

Layaknya bukit bukit wisata yang ada di Indonesia, di puncak Bundu juga terdapat beberapa Spot . Antara lain, ada spot tangan, spot papan panah, dan meja kursi di pinggir tebing. Di sisi yg lain juga terdapat papan dengan tulisan BUNDU. karena saat kesini masih pagi dan masih tutup, jadi diatas bukit hanya ada kami berdua.

Bukit Bundu dengan latar belakang sungai aliran lahar dingin.

Melanjutkan ke destinasi ke dua, tumpak sewu. Sebelum sampai ke tumpak sewu kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Sebab dari pagi perut belum terisi sama sekali. Hanya roti yang kami beli di Alfamart sebelum sampai di puncak Mundu tadi.

Ini adalah kali ke tiga ku mengunjungi tumpak sewu. Yang pertama saat tumpak sewu baru dibuka di tahun 2015, dan yg kedua disaat bareng2 sama anak anak se desaku, lupa sih tahun berapa. Dan keduanya lewat tiket masuk Malang. Jadi kali ini yg pertama kali lewat dari Lumajang. Sedangkan Gepeng baru pertama kali. Jadi sebenernya Gepeng lah yang nyidam pengen ngajak kesini.

Sampai lokasi kami harus membayar parkir sepeda motor sebesar Rp 5.000 dilanjutkan tiket masuk Rp 10.000 per orang. Disini fasilitasnya lengkap, maklum wisata yang udah tersohor. Setelah membayar tiket masuk, dilanjutkan berjalan kaki turun kebawah kondisi jalan yang udah cor – coran. Diperjalanan kami suguhi ladang salak yang menjadi komoditi warga pronojiwo. Sekitar 5 -10 menit kami akhirnya sampai di view panorama.

Bagus ya. Panoramanya..

Di tempat ini kami bisa melihat keindahan tumpak sewu dari atas beserta gunung Semeru dari kejauhan. Perbedaan jika dari Malang, view dari Lumajang ini terbilang tampak dari depan tumpak sewu. Sedangkan dari Malang, tampak berada di samping

Perbedaan yang lain, saat kami turun dasar air terjun. Dari arah Malang jalur sangat curam dan harus menggunakan tangga, sedangkan dari Lumajang jalurnya tergolong landai. Kami membutuhkan hampir 30 menit untuk sampai ke bawah air terjun. Melewati aliran air yang cukup licin. Jadi harus ekstra hati hati.

Kebetulan sebelum kami kesini atau lebih tepatnya kemarin, tumpak sewu sedang terkena lahar dingin, jadi daun daun di pinggiran sungai yg semula berwana hijau nampak putih terkena banjir bercampur lumpur. Oleh sebab itu pengunjung cuma dibatasi turun sampai jam 15.00 saja. Toh itupun air dari air terjun utama juga nampak masih keruh akibat banjir kemarin.

Spot bawah yang paling banyak dikunjungi wisatawan sih yang sebelah kanan. Naik ke sebuah tebing yang menjorok gitu. Tapi sekarang kami ingin mencari spot yang kurang ramai di kunjungi, yaitu di sebelah kiri. Kami harus menyebrang sungai lagi untuk sampai ke spot ini. Enaknya dari spot ini, hempasan air gak terlalu deras. Jadi lensa kamera bisa lebih lama dalam membidik objek. Meskipun tetep ngelapi jugs sih, tapi setidaknya gak sesering kalo kita berada di sebelah kanan

Harus ekstra hati hati untuk sampai ke titik spot foto ini.

Ok, segitu dulu ceritaku ke bukit Mundu dan Tumpak sewu. Udah dulu ya, ngantuk akutuh..

Explore Jeguran di kaki gunung Lawu

Minggu pagi sekitar jam 7 aku bersama mas Dhanu, kenalan dari Instagram, berencana mengexplore sumber atau mata air yang ada di lereng gunung Lawu.

Rencananya kami akan mengexplore 3 sumber sekaligus. Tapi dalam perjalanan, karena keadaan fisik yang kurang mendukung, nyatanya hanya 2 sumber yang dapat kami kunjungi.

Janjian jam 7 pagi pun molor hingga jam 9. Maklum, jam Indonesia. Karena mas Dhanu bertempat tinggal di Dolopo, Madiun dan aku di Karangjati Ngawi, akhirnya kami putuskan untuk ketemuan di Maospati, Magetan. Sekitar jam 9 kami bertemu , motor mas Dhanu lalu di titipkan di dekat terminal Maospati. Kamipun lanjut berangkat boncengan ke sumber yang pertama.

Namanya sumber Durenan. Bertempat di bumi perkemahan Gendingan. Meskipun bernama Gendingan, bukan berarti berada di kecamatan Gendingan, Ngawi. Melainkan berada di kecamatan Kendal. Lebih tepatnya di desa Sidorejo, kec Kendal, kab Ngawi. Atau di samping SMP 2 Kendal.

Karna kami dari Maospati, jadi kami menuju ke pertigaan PG Purwodadi ke barat. Lalu dari perempatan pasar Simo belok kanan. Menuju ke ds Sidorejo. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa Klik disini

Sampai di Buper (bumi perkemahan) banyak sekali anak anak yang berenang di sini. Memang, di sini terdapat kolam renang. Ada 2 kolam renang, satu sedalam pundak orang dewasa dan satunya lagi untuk anak anak. Tak heran jika banyak anak anak berenang disini, disamping tempatnya gratis.kolam renang bernuansa terbuka, langsung menghadap ke alam tanpa sekatan tembok atau sejenisnya, membuat kolam renang ini indah dan segar untuk di nikmati. Apalagi lokasinya berada di kaki gunung lawu.

Meskipun masuk ke bumi perkemahan Gendingan dan berenang di kolam renangnya gratis, sayang sekali tempat untuk ganti pakaian tidak tersedia. Solusi yang kami lakukan adalah ganti di bangunan toilet yang sudah tidak terpakai, yang gak jauh dari kolam renang. Meskipun gak ada pintunya, tapi cukup aman untuk anak cowok.

Air di kolam ini seperti kurang terawat, itu terlihat dari warna air kolam yang hijau karna banyak lumut dan kotoran lainya, seperti daun daun kering. Meskipun begitu, airnya tetep seger kog.

Selesai berenang kalian bisa beli makan atau sekedar membeli cemilan di warung dekat kolam renang. Ya, di dekat kolam renang bumi perkemahan Gendingam ini memang terdapat warung penjual makanan. Jadi jika kalian laper, bisa beli makanan disini.

Sedikit naik keatas sekitar 50 m terdapat sumber mata air bernama sumber Durenan. Sumber mata air ini sangatlah segar, khas pegunungan. Selain untuk mengairi persawahan, sumber ini kelihatannya juga sangat sakral. Itu terlihat adanya bekas bekas lilin yang ada di sekitran sumber Durenan. Apa mungkin saat kami kesini menepati bulan Suro? Kami juga belum tau pasti.

Berbicra tentang sumber Durenan yang airnya untuk mengairi persawaan, memang di sekitar sumber atau lebih tepatnya di bawah dari sumber Durenan ini terdapat persawahan terasering. Uniknya persawahan ini, jika pada umumnya pematang bertanah liat. Tapi tidak dengan persawahan ini. Sawah disini menggunakan tumpukan batu sebagai pematangnya. Mungkin karena tempat disekitaran sini banyak terdapat bebatuan, jadi dimanfaatkan sebagai pematang sawah. Alhasil terasering disini sangat instagenic banget, seperti persawahan kuno gitu.

Puas minkati dan mengexplore bumi perkemahan Gendingan. Kami lanjutkan menuju ke lokasi ke dua, yaitu sumber Sejok. Kami kembali lagi ke Maospati dan kali ini kami berangkat dengan kendaraan kami masing masing.

Sumber Sejok ini berada di ds Krajan, kec Parang, kab Magetan. Itu sebabnya kami mengendarai kendaraan kami masing masing. Sebab mas Dhanu bisa langsung pulang ke Dolopo tanpa harus ke Maospati terlebih dahulu.

Sebenarnya sumber Sejok ini sudah pernah aku datengin dulu. Tapi sayang, karenan longsor kolam di sumber sejok jadi hilang dan tak berbentuk. Hanya tersisa air sedikit. 6 bulanan dari situ aku dapat kabar bahwa sumber Sejok di rehab lagi dan air dapat menggenang layaknya kolam. Keinginanku untuk kembali remedi kesinipun akhirnya terwujud lagi, yang kali ini bersama mas Dhanu.

Lokasi persis sumber Sejok ini berada sebelum SMP 2 Parang (jika dari arah utara), masuk ke kanan jalan kecil. Dari pertigaan ini sudah gak jauh lagi, mungkin 300 m. Di sumber Sejok ini, sama halnya bumi perkemahan Gendingan, tak ada tiket masuk. Parkir kendaraan pun juga gak jauh dari lokasi. Atau bisa kalian Klik sebelah sini

Karena info terakhir yang aku dapat udah di perbaiki dan dapat untuk jeguran, di benaku kondisinya kembali sama seperti pertama sebelum longsor. Tetapi setelah kami datangi ternyata gak seperti ekspetasiku, meskipun udah di rehab, ternyata gak seperti yang dulu.

Kondisi yang sekarang jauh lebih dangkal dan gak sebiru yang dulu. Kedalaman kolam tinggal sepinggang orang dewasa. Itupun di dasar kolam terdapat endapan pasir gitu. Mungkin itu yang menyebabkan kedalaman sumber berkurang.

Tapi gak apa lah, terlanjur sampai sini, nanggung banget kalo gak sekalian nyebur. Toh airnya juga masih tetep bening. Eh, bagi kalian yang berenang di sumber Sejok ini, tetep patuhi pantangan yang ada ya. Sebab ada beberapa pantangan yang harus kalian hormati. Seperti gak boleh nangkep ikan dan cewek gak boleh mandi atau berenang disini.

Untuk menangkep ikan, memang di sumber Sejok ini terdapat banyak ikan. Kurang tau sih jenis ikan apa. Yang pasti ikan ini kecil dan makan kulit2 mati tubuh kami saat berendam di sumber Sejok ini. Dan untuk cewek gak boleh mandi atau berendam di sumber sejok, kami kurang tau. Sebab di dinding batuan tertancap plakat yang bertuliskan seperti itu.

Selesai berenang, kami lanjut pulang. Kami berpisah di perempatan Gorang gareng. Mas Dhanu ke selatan, aku ke utara.

Dah gitu aja ya..

Argo Munung, bekas galian jadi tempat wisata dan wisata baru Cekok mondol|Ngawi

Alhamdulillah, hari raya Idul adha libur kerja 3 hari. Jarang jarang sih bisa libur panjang gini, meskipun pas tahun baru islam besok gak libur karna udah di ganti di hari raya Idul adha ini, tetep syukuri. Karna Idul adha libur panjang, aku sempetin buat pulang kampung ke Ngawi. Pulang kerja jam 11 malam, aku langsung berangkat . Dan sampai rumah sekitar menjelang subuh.

Sesuai judul yang udah aku tulis di atas, kali ini aku akan ajak mengunjungi suatu tempat di daerah Ngawi, bernama Argo munung. Lokasinya berada di ds Karangupito, kec Kendal, kab Ngawi.

Bersama temanku Mega, kami udah merencanakan pergi ke Argo munung ini kapan kapan hari. Syukur bisa terlaksana, karna biasaya aku kalo ngerencanaain pergi ke suatu tempat, ujung ujungnya pasti gagal.

Rencana semula berangkat jam 6 pagi akhirnya harus molor jadi 8 pagi. Karna banyak pekerjaan yang gak terduga duga. Seperti harus ke makam orang tua dulu dan benerin motor. Jadi kami baru bisa jalan sekitar jam 8 pagi

Jarak dari rumah ke lokasi wisata Argo munung sekitar 50 km atau 1 jam perjalanan. Tapi kalo dari pusat kota Ngawi sampai ke Argo munung sekitar 30 km an. Jalannya cukup enak kok. Mungkin hanya jalan masuk ke lokasinya aja yang belum memadai, sekitar 300 m menuju ke lokasi Argo munung masih berupa makadam. Selebihnya sudah bagus.

Tidak ada retribusi masuk ke Argo munung ini. Cuma ditarik parkir 3k untuk sepeda motor dan 5k untuk mobil. Parkirnya pun juga luas, mungkin bisa menampung 10 hingga 15 mobil.

Argo munung sediri dahulu adalah lahan bekas galian batu yang kurang terawat. Atas inisiatif dari para pokdarwis (kelompok sadar wisata) desa Karanggupito, tempat yang dahulu bekas galian diubah menjadi sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Apalagi dari tempat ini, perekonomian warga desa Karanggupito dapat terangkat melalui penjualan souvenir penarikan karcis dan lain sebagainya.

Ada hal hal yang menarik di area wisata Argo munung itu sendiri. Atara lain adalah taman bermain, bukit bukit berbatu dan kolam renang. Fasilitasnya pun juga terbilang lengkap, mulai dari gazebo, pendopo, warung makan dan toilet. Dan berikut ini akan aku jelasin satu persatu.

Taman bermain. Di taman bermain Argo munung ini memang gak terlalu lengkap. Tapi cukup lah kalo untuk dapat nyenengin anak anak. Mulai dari jungkat jungkit, ayunan, hingga prosotan ada disini.

Kolam renang. Ini salah satu icon dari Argo munung itu sendiri, yaitu kolam renang.uniknya, kolam renang ini gak berbentuk persegi, melainkan berbentuk seperti motif bekas kaki t-reks gitu. Kedalamanya sekitar 2 m jadi gak bisa buat berenang untuk anak anak. Meskipun gak bisa buat anak anak, sebenernya semenjak adanya pandemi, kolam renang ini udah gak di perbolehkan untuk berenang bagi siapapun juga sih. Sangat sayang sekali ya..

Bukit bukit berbatu. Tempat yang satu ini menjadi tujuan muda mudi buat berswafoto. Terdapat setidaknya 3 spot foto yang ada di bukit bukit berbatu ini. Jalan naik menuju ke bukit berbatu ini juga sudah tertata rapi, di lengkapi tangga yang juga terbuat dari batu. Di atasnya juga tersedia tempat duduk buat nyantai. Dari bukit ini, kalian bisa melihat gagahnya gunung Lawu dan hamparan alam yang ada di bawah.

Fasilitas yang tersedia di Argo munung ini antara lain ada gazebo. Ada beberapa gazebo disini, cocok di gunakan untuk bersantai bersama keluarga. Lalu ada pendopo, jika kalian mempunyai perkumpulan yg ingin melakukan rapat atau sebagainya, di pendopo ini dapat digunakan. Tapi sebelumnya izin dulu.

Argo munung ini buka 24 jam. Jadi selain siang, kalian juga bisa melihat indahnya suasana di malam hari. Gak cuma itu, kalian juga bisa ngecame di lokasi Argo munung ini.

Setelah puas dengan Argo munung. Kami lanjutkan menuju ke destinasi selanjutnya, yaitu Cekok dodol

Cekok dodol adalah sebuah mata air yang berada tidak jauh dari Argo munung. Lokasinya berada di ds kec Kendal. Tempat yang satu ini belum banyak orang yang tau. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa Klik disini untuk lokasi persisnya.

Cekok dodol mempunyai sebuah mata air yang di tampung dan dialirkan ke kolam kolam yang ada di dekatnya dengan menggunanakan pipa besi. Ada 3 kolam di area cekok dodol ini. 1 kolam untuk kolam irigasi bagi persawahan sekitar dan 2 kolam lagi untuk kolam renang.

Sayangnya Cekok dodol ini belum seratus persen rampung digarap. Jadi saat kami kesini belum ada tiket masuknya. Tapi kedepaanya menurut info yang aku dapat, cekok dodol ini akan serius digarap pemkab Ngawi. Sehingga kedepannya akan menjadi destinasi andalan dari kecamatan kendal dan kabupaten Ngawi.

Udah segitu dulu ya cerita kali ini. Tak bobok dulu.. Mikummm..

Explore Probolinggo: Jelajah Ranu Segaran dan Ranu Agung

Ngelanjutin cerita sebelumnya, sehabis dari Air terjun Tirai bidadari, kami lalu menuju ke tempat berikutnya. Yaitu ranu Segaran dan ranu Agung.

Waktu menujukan pukul 12.00 siang, sekeluarnya dari desa Jangkang, kami mampir terlebih dahulu ke warung makan untuk makan siang. Dengan cuma Rp 10.000 kami sudah mendapatkan satu porsi makan “kuli”, ya memang porsinya banyak banget. Sembari makan, kami juga nitip colokan untuk mengisi daya batrai HP dan kamera. Maklum, saat di air terjun dayanya berkurang lebih dari 50 persen.

Serasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju ke ranu Segaran. Cuaca yang mendung membuatku sedikit cemas. Pasalnya view gunung Lemongan bakal ketutup awan. kan sayang banget ya, udah jauh jauh dari Mojokerto, ternyata dapet zonk.

Setelah sampai lokasi dengan membayar parkir Rp 2.000, kami lanjutkan menuju ke tepian Ranu. Bener dugaanku, view gunung Lemongan tertutup oleh mendung. Seketika itu aku jadi gak mood buat foto foto gitu haha. Tapi ya udahlah, emang belum rejeki aja kali ya. Karna memang di dalam sebuah perjalanan yang lebih menarik itu adalah cerita di balik perjalanannya itu sendiri, bukan hasil dari perjalanannya.

Ranu Segaran, sayang gn Lemongan tertutup awan

Karna masih pandemi, pengunjung pun juga masih sepi. Cuma ada kami berdua dan segerombolan orang yang lagi prewedding. Memang, ranu Segaran ini cocok banget buat Prewed. Meskipun pengunjung sepi, tapi tetep rame kok (loh gimana ini). Maksud rame disini bukan rame pengunjung yang sedang berwisata, melainkan rame warga sekitar. Mulai dari yang cari ikan, mencuci pakaian hingga orang orang yang sedang adu balap burung merpati. Ya, disini banyak banget orang orang yang adu burung merpati. Balapan dari ujung ranu ke ujung ranu yg lainya gitu.

Puas dengan ranu Segaran ( sebenernya sih belum puas). Kami lanjut lagi menuju ke ranu Agung, ranu yang gak jauh dari ranu Segaran

Btw lokasi ke dua ranu ini berada di satu desa yaitu desa ranu Agung, kec Tiris kab Probolinggo. Jadi gak lengkap kalo gak mengunjungi kedua tempat ini sekaligus.

Ok, lanjut ke perjalanan. Jalan menuju ke ranu Agung gak begitu sulit, sekitar 10 menit gak jauh dari ranu Segaran. Kali ini kami gak masuk ke Ranu Agung karna memang menurut info yang aku dapat, jika ranu agung masih tutup. Meskipun begitu, memang rencana awal kami ingin mencari spot foto yang viewnya mirip mirip seperti di daerah Maluku gitu.

Bertanyalah kami dengan penduduk sekitar, namanya pak Bambang. Kamipun menunjukan contoh spot foto di instagram yang kami maksud, lalu pak Bambang memberi petunjuk arahnya. Karna beliau takut terjadi apa apa kepada kami, yang memang jalanya itu berbahaya. Akhirnya kami diantar oleh beliau, pak Bambang.

Dan memang, setelah melakukan perjalanan, jalanya begitu ekstrim. Bagaimana tidak, jalan yang kami lalui itu adalah jalan setapak dengan sebelah kanan adalah jurang ranu Agung. Jadi kami harus ekstra hati hati. Setelah sampai di sebuah rumah, kendaraan kami parkir. Kan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Ternyata di lokasi sudah ada anak anak muda yang berada di situ, cukup viral juga tempat ini.

Kamipun lanjutin berjalan kaki lagi ke arah seberang. Tetapi pak Bambang gak ingin ikut, beliau memilih menunggu disini. Sekitar 5 menit berjalan, kamipun sampai di lokasi yang kami maksut.

Disaat kami berada di ranu Segaran tadi kan mendung dan gunung Lemongan tertutup awan kan ya. Tapi syukur, disaat kami berada di Ranu Agung ini, cuaca sore cukup cerah dan gunung Lemongan tampak gagah berada di belakang ranu Agung. Di tambah lagi angin yang bertiup kencang membuat kami berlama lama mengambil gambar di lokasi ini.

Ranu Agung tampak ada di bawah dengan di belakangnya ada gn Lemongan

Setelah selesai dari spot foto ini, kami kembali lagi ke rumahnya pak Bambang. Karna memang helm kami berada di rumah beliau. Apesnya, di tengah perjalanan pulang menuju rumah beliau, ban motor kami kempes habis. Mungkin karna melewati jalananan yang ancur saat ke air terjun Tirai bidadari tadi kali ya. Alhasil kami harus mendorongnya dengan hati hati. Karna memang jalan yang setapak dan berbahaya.

Sampai di rumah pak Bambang, beliaupun meminjam pompa angin milik tetangga untuk membatu memompa ban motor kami. Alhamdulilaah bisa terisi angin dan gak bocor. Pak Bambang dan istripun menawari kami untuk istirahat terlebih dahulu di rumah beliau. Kami pun gak bisa menolak tawaran beliau.

Di tengan obrolan kami dengan pak bambang dan istri, ternyata ban motor yang tadi kami pompa kembali kempes. Waduh, jangan jangan bocor lagi. Karna waktu udah mau mau Magrib, kamipun pamitan degan pak Bambang. Berbekal info tempat tambal ban yang di beritahu oleh pak Bambang, kamipun kembali mendorong montor kami.

Hari semakin gelap, karna waktu itu sudah Magrib. Melawati hutan sengon dan pemakaman, kami mendorong montor sekitar 20 menitan. Mending jika jalan lurus, jalan yang kami lalui naik turun gitu e. Setelah sampai di pertigaan jalan kecamatan, akhirnya ketemulah tukang tambal ban.

Karna sudah tutup, kami pun izin untuk minta tolong ke tukangnya, yang memang lokasi rumahnya ada di sebelah bengkel tersebut. Setelah di cek, ternyata gak ada bekas bocor atau gimana. Mungkin pas aku pompa saat di rumahnya pak Bambang belum terlalu keras, jadi angin kembali keluar lewat sela sela velg kali ya.

Setelah semuanya beres, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Kami turun dari daerah Tiris sekitar habis azan Isa. Alhamdulillah, sampai kos kosan sekitar jam 21.30 dengan keadaan selamat.

Sekian cerita perjalananku ke kab Probolinggo kali ini, khususnya di kec Tiris, jangan lupa baca juga cerita perjalananku yang lainya ya..

Sekian dan terima kasih.. Hehe

Explore Probolinggo: Wisata Baru Air Terjun Purba Tirai Bidadari

Assalamualaikum…

Hoe cah, apa kabs nih.. Di new normal ini udah piknik kemana aja? Objek wisata udah banyak yang buka tau..tapi tetep patuhi protokol kesehatan juga pas berwisata..

Kalo masih bingung, aku punya tempat yang recomend banget. Apalagi buat kalian yang stay di daerah tapal kuda Jatim. Nama tempatnya adalah Air terjun Tirai Bidadari. Lokasinya ada di desa Jangkang, kec Tiris, kab Probolinggo

Nah gini nih, tak ceritain pengalamanku mengunjungi Air Terjun Tirai Bidadari ini..

Aku berangkat bersama Jeri, temen satu kosku sekitar jam 9 pagi dari Ngoro, Mojokerto. Mungkin sekitar 3 jam perjalanan dah sampai lokasi Air Terjun. Karna memang baru pertama kali kesini, pasti aku ngandelin google maps dong. Tau sendiri anak milinials.. Hehe. Tapi entah mengapa ni google ngejerumusin lagi ngerejumusin lagi. Yohh diprank google maps teroooss. Huu

Awalnya sih jalan aman aman aja, melewati jalan desa, naik turun dengan vegetasi tumbuhan yang rapat gitu. Eh.. Lama kelaman jalanya hancur banget. Mending kalo jalan tanah, ini jln aspal second yang tinggal bebatuan coy. Terus ngelewatin desa yang namanya WEDUSAN dan emang, jalanya kayak Wedos tenan!! Haha, becandaan kami saat lewati jalan ini.

Udah lama melewati jalan jelek ini, kok perasaan gak nyampe nyampe. firasatku dah gak beres nih. Apalagi ditengah hutan yang otomatis gak ada sinyal. Untung ada orang yang lewat, kami tanyain deh. Kata orang tersebut kami salah jalan. “Memang bener bisa sampai ke air terjun dengan rute pendek, tapi ya seperti ini jalanya”. Kalo jalan yang lebih enak sehatusnya muter, lewat Ranu Segaran, lanjut orang tersebut. Akhirnya kami disuruh melanjutkan perjalanan lagi, karna memang sudah deket dengan jalan yang lebih layak. Terima kasih mas.. Hehe

10 menit berjalan, akhirnya nemuin jalan yang layak. Tapi gak selang beberapa lama, eh di petunjuk arahnya menuju ke jalan pekarangan gitu. Melewati jalan setapak dengan kebun kebun milik warga sekitar. Ada kopi, sengon, jagung, dll. Jalan setapak ini berjarak 1,1 km. Tapi jalan ini lebih mendingan dari pada jalan yang rusak tadi kami lewati. Oh iya, jika kalian kesini pake mobil, truk, dokar dan apalah itu selain kendaraan roda dua, kendaraan bisa kalian parkir di halaman masjid sebelum gang kecil. Lalu kalian bisa ngojek dengan biaya Rp 20.000 pp.

Setelah sampai, kami disambut sama pengelola wisatanya yang gak lain warga sekitar sendiri. Di tempat ini belum ada Tiket masuk, cuma parkir Rp 2.000 aja. Karna memang Air terjun Tirai Bidadari ini baru dibuka, sekitar bulan Februari yang lalu. Meskipun baru dibuka, diparkiran udah ada warung kok. Jadi yang lupa bawa perbekalan gak usah kawatir deh. Warganya juga baik baik banget. Meraka biasa mengantar pengunjung seperti kami sampai ke lokasi Air terjun. Mungkin kurang lebih 20 menitan, berjalan dengan medan menurun sudah sampai di lokasi air terjun. Btw Bapaknya gak munggut biaya untuk jasa guide ini, tapi jika kalian ingin ngasih uang tips juga monggo..

Air terjun purba tirai bidadari
Sisi lain air terjun, katanya masih ada air terjun lagi di balik tebing

Tonto juga videonya di chanel youtubeku: Air terjun purba tirai bidadari

Sebenernya nama asli air terjun ini adalah Air terjun purba Tirai Bidadari. Kenapa ada sebutan purba? Karna batuan batuan yang ada di air terjun ini di perkirakan berumur ribuan bahkan jutaan tahun. Nah, di bagian dalam batuan batuan tersebut di huni ribuan kelelawar, jadi kalian harus hati hati dengan ranjau atau eek kelelawar yang ada di sekitaran air terjun. Selain eek kelelawar, yang perlu kalian berhatikan juga adalah tentang menggunakan alas kaki. Gunakan alas kaki yang anti selip, sebab batuan batuan disini sangatlah licin.

Mengalir di sepanjang dinding dinding sungai, air terjun ini memiliki sekitar 17 titik mata air yang membentuk air terjun itu sendiri. Gak cuma itu, di atas air terjun ini juga terdapat air terjun lagi dengan kolam dibawahnya yang bisa untuk berenang, tapi gak terlalu deres sih. Jika kalian ingin berenang di kolam yang di atas tersebut, lewatnya bukan dari loket yang tadi kami masuki. Melainkan dari seberang sungai. Oh iya, perlu kalian tau, lokasi air terjun ini memang berada di 2 perbatasan desa. Antara desa Jangkang dan desa Ranugedang. Ada juga sih jalan yang dari Ranugedang, tapi lebih extrime. Makanya kami lebih memilih lewat dari desa Jangkang ini.

Seberes berfoto foto di air terjun, kami lalu menuju ke atas lagi. Ngobrol sebentar dengan pengelolanya, tentang wisata Air terjun Tirai bidadari ini. Setelah itu kami pamitan dan melanjutkan explore tempat yang yang ada di kab Probolinggo, terutama di kec Tiris ini.

Bersambung..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai