gunung lawu. Gunung yang berada di perbatasan jawa timur dan jawa tengah ini menyimpan pesona yang begitu indah, tak terkecuali bagian selatan gunung lawu itu sendiri. Bentang alam berupa pegunungan terhampar mulai dari karanganyar, magetan, ponorogo, wonogiri dan pacitan. Pegunungan di daerah ini tergolong minim sumber air, alias gersang. Tak heran jika musim kemarau daerah ini kesulitan air bersih.
Nah, kali ini saya dan rekan saya, triono. Akan mengexplore beberapa tempat menarik di sekitaran pegunungan selatan ini, terutama untuk bukit -bukitnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah bukit besek.
Berangkat dari rumah pukul 03.00 dini hari, berharap kami mendapat sunrise. google maps masih menjadi andalan kami sebagai petunjuk arah. di tengah perjalanan, bensin mulai menipis. SPBU masih jauh, kamipun mencari bensin eceran. Karna masih dini hari, toko penjual bensin eceranpun masih tutup semua. Akhirnya kami memberanikan diri untuk mengetuk pintu toko penjual bensin yg masih tutup. Syukur, akhirnya bahan bakar terisi penuh dan kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalanan yg semula enak berubah menjadi jalanan hancur. Belum lagi drama tersesatnya kami karna dekat lokasi wisata minim petunjuk arah. Alhasil kami tanya- tanya ke penduduk lokal.
Sampai parkiran,kami sedikit bergegas mulai berjalan keatas. Di tengah perjalanan menuju keatas, diberi tahu warga yg sedang menyapu halaman rumahnya, bahwa kami salah jalur. Seharusnya kami ambil arah samping parkiran. Akhirnya kami kembali dan berlari menuju lokasi. Untunglah, jalan yg kami lalui tergolong datar dan gak nanjak. Baru kali ini saya treking di bukit yg jalanya datar gak nanjak. Malah bisa di bilang turun kali ya. Dan Alhamdulillah, sampai lokasi masih dapat sunrise.

Bukit besek ini berlokasi di desa bugelan, kec kismantoro, kab Wonogiri. Selain trakingnya yg datar, cuma membutuhkan waktu 5 -10 menit. Keunikan yg lain dari bukit ini adalah karakteristik berupa tumpukan batu di puncaknya. tumpukan batu itu menyerupai besek, Itu mengapa bukit ini dinamakan bukit besek. Tak jarang di atas batu- batu di bukit Besek ini digunakan warga sekitar untuk menjemur hasil bumi warga sekitar, seperti temulawak dan lain sebagainya.
Tiket untuk masuk sendiri masih free alias gratis. Meskipun begitu, kita wajib menjaga kelestariannya dengan cara tidak membuang sampah sebarangan serta tidak melakukan vandalisme.
Tips bagi yang ingin kesini. Kesinilah saat pagi hari ketika matahari terbit, dan saat musim penghujan. Karna diwaktu waktu itulah disaat viewnya lagi mantul (mantap betul). Puas menikmati keindahan bukit besek, kami melanjutkan perjalanan kembali ke destinsi yang kedua. Kali ini bukan di wisata alam, melainkan wisata edukasi. yaitu monumen jendral sudirman yang berada di kab Pacitan.
Dari bukit besek menuju monumen jendral sudirman tergolong dekat. Karna kedua tempat ini berada diantara perbatasan. Untuk lokasi monumen jendral sudirman sendiri berada di desa pakisbaru, kec nawangan, kab Pacitan. Komplek monumen ini berdiri kokoh patung jendral Sudirman membawa tongkat dgn tinggi sekitar 8 m. Terdapat 3 tingkat tangga menuju patungnya. Masing-masing tingkatan memiliki 17 8 dan 45 anak tangga. Tau sendiri lah filosofinya. Monumen ini memperingti bahwa di tempat ini dulu sang jendral pernah singgah untuk melakukan perang griliya.
Terdapat beberapa fasilitas yang berada di kompleks monumen ini, antara lain. Ruangan audio visual, perpustakaan, diorama dan lain-lain. Disetiap temboknya terdapat relief-relief yg menggambarkan tentang jalanya perang griliya yg di lakukan jendral sudirman, sampai meletusnya serangan umum 1 maret di jogja.

Karna sampai tempat ini siang hari bolong, cuaca panas terik pun tak terhindarkan. Jika kalian ingin kesini usahakan saat pagi atau sore hari, karna disaat itulah cuaca sangat mendukung. Untuk biyaya masuknya gratis, mungkin karna pas kami kesini gak ada yang penjaganya kali ya. Sehabis puas mengelilingi kompleks monumen, kami kembali melanjutkan menuju tempat selanjutnya.
Bukit cumbri. Ya, sebagian dari kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan bukit yang satu ini. Tapi, sebelum sampai lokasi kami sempatkan untuk makan di perbatasan ponorogo dan wonogiri. Tampak di seberang jalan terlihat beberapa polisi yang mengatur lalu lintas, maklum hari itu menjelang malam pergantian tahun 1 suro, yg notabene masyarakat sekitar madiun ponorogo merayakan malam pergantian tahun baru islam ini dgn grebeg suronya. Sehabis makan kami langsung jalan. Belum 5 meter berjalan, kami di panggil pak polisi yg berjaga tadi. Wah, melakukan kesalahan apa kami?, pikirku. Ternyata pak polisi ingin membuat dokumentasi dlm kegiatan tersebut, dan kami yg di jadikan modelnya. Untunglah..😁😁
Setelah selesai, kami langsung tancap gas menuju ds temon pagerukir, kec sampung, kab ponorogo sebagai basecame untuk menuju bukit cumbri. Sebenarnya ada dua jalur sih untuk sampai ke puncak bukit cumbri. Dari ponorogo ini sendiri dan dari ds biting, kec purwantoro, kab wonogiri. Karna bukit ini menjadi perbatasan antara ponorogo dan wonogiri. Kami memilih dari ponorogo, karna jalurnya gak terlalu panjang. Sesampainya di basecame, kami menyempatkan diri untuk tidur sejenak di mushola dekat basecame, toh matahari masih terik-teriknya.
Sekitar pukul 3 sore disaat anak- anak kecil mulai berangkat ngaji, kamipun juga mulai berangkat tracking. Musim kemarau membuat tanah berdebu. Sekitar 30 menit kami tracking, sampailah di puncak gunung cumbri.

Tidak ada orang selain kami berdua yg berada di puncak. Memang, musim kemarau tak seindah saat musim penghujan. Bukit- bukit yang banyak di tumbuhi pohon jati yg hijau di kala musim penghunjan, mulai merontokan daunya dan kering disaat musim kemarau. Angin kencang tak henti- hentinya menerpa kami. Bekas kebakaran semak-semak ada dimana- mana. Tapi tetap kami syukuri, karna di setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing.
Matahari mulai tenggelam, kami memutuskan untuk turun dari puncak. Disaat kami turun, berpapasanlah dengan pengunjung lain yg baru ingin naik. Mungkin mereka ingin menghabiskam malam 1 suronya di puncak. Sampai basecame, bergegaslah kami untuk pulang. Sebab setiap malam 1 suro jalanan ponorogo madiun rawan sekali macet.
Itu tadi cerita dari saya mengexplore kawasan selatan gunung lawu. Sekian cerita dari saya, Terima kasih.