Cerita dibalik Goa Lowo Ngawi yang Mistis.

Dahulu kala di selatan gunung kendeng terdapat sebuah kerajaan yang begitu makmur. Rakyatnya hidup sejahtera. dipimpin oleh seorang Ratu. Ratu ini mempunyai abdi dalem – abdi dalem yang setia.

Di suatu hari salah satu abdi dalem (perempuan) sedang menumbuk padi di lesung, dengan kaki diangkat satu di atas lesung. Tak sengaja “mani” si abdi dalem ini keluar dan jatuh di lantai, dimakanlah “mani” ini oleh ayam yg ada di sekelilingnya. Ayam ini akhirnya bertelur dan mengengkrami telurnya di tempat penampungan beras kerajaan, tanpa sepengetahuan siapapun.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, abdi dalem selalu terheran dengan kejadian aneh yg ada di lumbung beras kerajaan. Pasalnya setiap beras diambil selalu tak berkurang dan malah tambah banyak. Si abdi dalem akhirnya melaporkan kejadian itu ke sang ratu. Dengan inisiatif sang ratu, lumbung itu di geledah. Hingga akhirnya menemukan sebuah ular yang besar hasil dari engkraman ayam yang kapan hari bertelur. Anehnya ular ini bisa berbicara layaknya manusia. Sang ratu pun merawat ular itu.

Hari demi hari ular itu semakin besar dan bisa dikatakan menjadi raksasa. Karna tak ingin membahayakan penduduknya, sang ratu akhirnya membawanya ke perbukitan sebelah utara kerajaan dan menacapkanya 2 buah kayu di kepala dan ekor si ular. Sang ratu berkata, “jangan makan apapun sekalipun ada makanan di dalam mulutmu”. Dan ditinggalah sendirian si ular raksasa di perbukitan itu.

Berberapa tahun setelahnya. Ada 10 anak kecil yg mencari rumput di sekitaran bukit itu. Sedang asiknya mencari rumput datanglah hujan yang deras, akhirnya anak-anak itu berteduh di sebuah goa. Karna ada satu anak yg mempunyai penyakit kulit, anak itu tidak di bolehkan berteduh didalam goa. Alhasil anak itu tidak masuk goa dan tetap kehujanan. Bersamaan dengan itu, mulut goa itu tiba- tiba menutup dengan sendirinya. Ternyata goa itu adalah mulut ular raksasa milik sang ratu beberapa tahun yg lalu. Melihat kejadian itu, si bocah yang berpenyakit kulit akhirnya berlari ketakutan menuju ke desa. Hingga akhirnya goa itu dinamakan goa lawa oleh penduduk sekitar.

Dongeng di atas selalu diceritakan dari ibu saya disaat mau tidur diwaktu saya masih kecil. Tetapi goa lawa ini baru bisa saya explore setelah saya sudah gede dan bekerja, padahal jarak dari rumah ke goa lawa gak terlalu jauh.

Saya mengunjungi goa lawa ini bersama mail, teman sekampung. Goa lawa ini terletak di kawasan waduk Pondok, ds Dero, kec Bringin, kab Ngawi. Kalian bisa masuk melewati gerbang selamat datang waduk, lalu masuk ada pertigaan ke kiri bertuliskan dsn goa lawa. Atau rute yang kedua, yaitu dari pertigaan dsn goa lawa masih lurus, sebelum sampai di pertigaan bendungan, ada jalan menuju kolam renang. Dari kolam renang, goa lawa udah deket. Rute ke dua ini terbilang lebih dekat, tapi sebelum sampai goa, jalannya sangat ekstrim. Jika masih bingung, bisa lihat di maps (klik disini)

Tak ada HTM untuk kesini. Motor bisa parkir dekat mulut goa. Tinggi goa sekitar 3 meter dan lebar sekitar 6 meter. Setelah masuk, kita disambut ratusan kekelawar penghuni goa. Itu mengapa goa ini disebut goa lawa (goa kekelawar). Terdapat lubang lubang di atas goa, membuat goa ini tak begitu gelap. Salah satu lubang di tumbuhi akar pohon yang membuat goa lebih exksotis. Semakin ke dalam goa, semakin sempit dan gelap. Udara pengap pun tak dapat terelakan. Konon mitos yang beredar, goa ini berujung di daerah gunung Pandan, Saradan Madiun.

Serasa cukup mengexplore goa lawa, kamipun pulang. Karna hari juga udah mulai sore.

Sekian mitos dan perjalan saya menelusuri goa lawa. Semoga bermanfaat..😊

avatar Tidak diketahui

Penulis: risalahwongkawak

tak ingin menua tanpa cerita.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai