Explore Banyuwangi (part 2)

Tak jauh dari kediaman Jerry kami langsung melesat ke Djawatan. Berlokasi di ds Djawatan kec Cluring, Kab Banyuwangi. Berada di pinggir jalan raya, menjadikan Djawatan mudah ditemuka. Tempat ini sebenarnya adalah tempat penimbunan kayu berkwalitas bagus, dikelola langsung oleh pihak Perhutani. Tapi kini banyak dikunjungi wisatawan karna keindahanya. Berlatar belakang pohon – pohon trembesi yang diselimuti tumbuhan benalu menjadikan Djawatan unik, layaknya lokasi film-film Hollywood. Memang, Djawatan pernah menjadi lokasi film horor Indonesia yang berjudul “Kafir”.

Banyak wisatawan lokal maupun mencanegara datang kesini untuk mengabadikan moment indah. Apalagi untuk acara prewedding yang bertemakan alam. Dengan harga tiket sebesar Rp. 5.000 dan parkir Rp. 2.000 tentu cukup murah untuk menikmati kesegaran Oksigen yang di produksi dari daun – daun pohon trembesi (cie anak biologi).

Ada beberapa rumah pohon yang digunakan sebagai penunjang swafoto kalian. Tapi tetap harus hati – hati, sebab sebagian dari rumah pohon banyak yang rapuh. Terdapat pula kereta mini dan delman untuk berkeliling di area Djawatan, tetapi saya kira pengunjung lebih banyak yang menggunakan delman dari pada kereta mini. Untuk ongkos naiknya kami kurang tahu, karna kami tak menaiki ke dua kendaraan itu.

Sedang asik – asiknya berswafoto, rintikan air hujan mulai turun. Pengunjung mulai berhamburan mencari tempat berteduh, tak terkecuali kami. Hingga akhirnya kami berteduh di tenda warung diarea Djawatan. Tapi gak enak juga kalo gak pesan makanan. kamipun pesan mie cup dan secangkir kopi. Itung – itung sambil nunggu hujan reda. Disaat hujan, pesona Djawatan semakin kece, kabut – kabut tipis menyelimuti pohon-pohon trembesi yang bernuansa “angker” ini.

Setelah hujan reda, kami melanjutkan berswafoto kembali. Tanah yang basah membuat kami untuk berhati – hati dalam berjalan agar tak terperosok dalam lumpur. Selang tak beberapa lama, kami menyudahi berkeliling Djawatan dan menuju ke destinasi selanjutnya.

Menuju kembali ke barat, ke arah kec Songgon. Destinasi selanjutnya yang akan kami explore adalah air terjun Lider. Mendung yang tak juga cerah Memaksa kami untuk semakin mengegas lebih cepat kendaraan kami. Rintikan hujanpun datang, tapi kami tak peduli. Kami tetap melaju tanpa berhenti, tanpa menggunakan jas hujan. Dan syukurlah akhirnya hujan berhenti. Masalah satu selesai, datang masalah lagi. Jalan yang tadinya mulus beraspal kini mulai rusak. Kami dituntut untuk lebih berhati hati dalam berkendara. Semakin kesini semakin rusak, hingga pada akhirnya hanya batu ditata sedemikian rupa. Yang awalnya melewati pemukiman warga, berubah menjadi hutan pinus di kanan kiri jalan.

Jalanan yang tak kunjung bagus membawa kami di sebuah perkampungan kecil. Berhentilah kami untuk membeli air mineral dan plastik. Kenapa membeli plastik? Guna untuk membungkus HP dan kamera agar tidak basah saat kehujanan. Orang kampung disini kemungkinan menggunakan bahasa Madura, karena disaat saya membeli air mineral dengan menggunakan bahasa jawa, si penjual terlihat bingung. Dan ketika saya berganti menggunakan bahasa Indonesia, penjualnya baru mengerti.

Kembali melanjutkan perjalanan… Jalanan masih didominasi jalan rusak, tapi kini berganti kebun tebu di kanan kiri jalan. Karna terlalu berat medanya, tak jarang saya harus turun dari motor agar motor lebih enakan dalam melaju. Sempat terbesit di pikiran, tidak mungkin jika mobil masuk ke tempat wisata ini karena medan yang sulit. Setelah kami sampai di parkiran, kami kaget melihat ada mobil diparkir di loket masuk air terjun Lider. Sempat bertanya kepada 2 orang pengunjung dari Bali yang juga baru sampai sebelum kami. Meraka juga kaget jika ada mobil yang bisa sampai sini. Usul punya usul, ternyata jalur yang kami lewati salah. Yang seharusnya kami belok ke kiri, jalan yang lebih bagus. Kami malah ikut jalur kanan yang jalanya sempit dan menanjak. Ah yasudahlah, syukur sudah sampai disini. Meskipun harus kembali dengan jalan yg sama hancurnya. Oh iya, saat sampai disini tak ada pentugas tiket yang menjaganya. Jadi kami free untuk masuk ke air terjun Lider ini.

Sebelum memulai perjalanan. Terlebih dahulu saya menggunakan jas hujan untuk berjaga – jaga jika kehujanan saat di tengah perjalanan (walaupun saya lepas di tengah perjalanan karna gerah 😁). Medan yang kami lewati pertama adalah menuruni tebing menuju ke dasar sungai. Sampai di dasar sungai selanjutnya kami menelusuri sungai tersebut. Kami harus menyebrang, mlipir pinggiran sungai beberapa kali. Seperti treking di coban Jodo. Tenang, sungainya dangkal dengan arus yg tak begitu deras. Pihak pengelola wisata juga sudah mempersiapkan tali penyebrangan agar mempermudah pengunjung dalam menyeberang sungai. Sampai di air terjun Lider sudah ada 4 orang pengunjung yang mengendarai mobil yang kami temui di parkiran atas tadi.

Saya kira air terjun Lider ini berasal dari nama Leader yang artinya pemimpin dalam bahasa Inggris. Ternyata bukan, air terjun Lider berasal dari tempat air terjun ini berada, yaitu di blok Lider. Berada di lereng gunung Raung, persisnya lokasi ini berada di dsn Sragi, ds Sumber arum, kec Songgon, kab Banyuwangi. Tinggi air terjun Lider sekitar 60 m, menjadikan air terjun Lider yang tertinggi di Banyuwangi. Debit air yang deras membuat siapa saja yang mendekat akan basah kuyup terhempas hembusan air dari air terjun Lider. Di kanan kiri air terjun utama terdapat aliran – aliran air terjun kecil yang menambah exsotis air terjun ini. Meskipun air terjun Lider sulit di jangkau dan belum ramai pengunjung, akan tetapi kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya sangatlah rendah. Terbukti ketika berada di sana, kami melihat banyak sampah – sampah berserakan tidak dibuang pada tempatnya.

Sedang asyik – asyiknya berfoto, hujan kembali turun meskipun tidak deras. Untung ada warung kosong berada di dekat air terjun. Kami ber 8 ( 4 orang yang naik mobil, 2 orang dari bali,dan kami berdua) akhirnya berteduh dalam warung, menunggu hujan reda. Setelah hujan reda kami melanjutkan kembali berfoto – foto.

Selang tak berapa lama, serasa cukup mengexplore air terjun Lider, kami ber delapan kembali menuju atas, ke tiket masuk. Takut jika sungai banjir dan kami masih berada di bawah. Kan gak lucu jika seharusnya ingin bersenang – senang saat liburan, eh malah harus bercucuran air mata karena kejebak banjir ( lebei amat).

Sampai diatas kami harus dihadapkan jalanan yang rusak kembali. Maafkan aku ya motor, karenaku kamu menjadi menderita.

Selanjutnya, menuju destinasi yang sudah mendunia di Banyuwangi yaitu kawah ijen. Dari air terjun Lider menuju ke kawah ijen cukuplah jauh, sekitar 70 km. Memutar melewati kota Banyuwangi. Didalam perjalanan kami sempat berdiskusi ingin mengunjungi destinasi yang sekiranya satu arah dengan kawah Ijen . GWD (grand watu dodol) atau pantai Boom yang keduanya berada tak jauh dari kota. Tapi setelah dipikir – pikir karna terlalu lelah dan ingin sejenak istirahat, akhirnya kami metiadakan kunjungan itu.

Akhirnya kami sampai dikota Banyuwangi sore hari sekitar pukul 17:30. Sholat Magrib terlebih dahulu di masjid Agung Baiturrahman (masjid besar Banyuwangi). Selagi saya sholat, jerry menunggu di serambi masjid. Setelah selesai, kami berjalan kaki menuju ke taman Sritanjung yang berada di seberang masjid untuk mencari makan. Maklum, dari tadi pagi perut cuma keganjel mie cup yang kami beli di Djawatan. Saat makan, jerry mengeluh sakit. Waduh, padahal nanti malam bakalan trekking kawah Ijen. Tahan Jeerr..

Karena takut kemalaman, setelah makan, kami langsung menuju ke paltuding, pos pertama menuju kawah Ijen. Sekitar 1 jam berkendara, melewati hutan yang minim penerangan, yang terlihat di depan hanyalah marka jalan. Semakin mendekati pos paltuding udara semakin dingin. Sebelum sampai, terdapat pemberhentian guna menarik uang asuransi sebesar Rp.2.000. Kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang berkelok, sepi dan kanan kiri hutan yang lebat menjadikan perjalanan ini terasa lama. Ingin rasanya sampai pos paltuding dan menghangatkan tubuh di depan api unggun.

Dan sampailah kami di pos paltuding sekitar pukul 20:00, yang kami kira sudah jam 22:00, maklum di jalanan sangatlah gelap. Setelah itu kami langsung menuju warung yang pernah saya singgahi. Rasa dingin hilang setelah kami menghangatkan tubuh di depan api unggun. Mencoba untuk tidur tapi rasa-rasanya saya tak bisa tidur. Tapi Jerry malah bisa tidur dengan posisi duduk di depan api unggun, mungkin dia sangat lelah. Berjam jam menunggu loket buka, sekitar pukul 01:00 dini hari, akhirnya kami putuskan memesan maknan terlebih dahulu. Mengisi perut dahulu sebelum berangkat trekking. Mie telor pake nasi menjadi andalan kami. Jika dilihat dari warung yang kami singgahi, seharusnya jam 01:00 loket sudah ramai, kok ini sepi-sepi amat ya?. Akhirnya kami putuskan untuk melihat kedalam. Ternyata loketnya pindah, loket pindah di bangunan yang agak masuk kedalam. Padahal dulu pas saya pertama kesini berada depan gerbang pintu masuk, jadi terlihat dari warung-warung kalo loket sudah buka.

Untuk tiketnya kami habis Rp.20.000 itu sudah termasuk parkir. Seberes mengurus tiket, kami langsung mulai trekking. Jalur trekkingnya tetap sama seperti dulu, saat pertama kali saya kesini. Yang membedakan kali ini adalah toilet-toilet yang sudah berdiri di jalur pendakian. Dulu saat saya kesini, toilet memang dalam proses pengerjaan. Tapi sayangnya karena toilet yang kurang terawat, menjadikan toilet sangat kotor. Banyaknya sampah yang dibuang didalam toilet menjadi kendala utama. Saya yang semula ingin buang air di toilet pun tak jadi karna toilet kotar dan bau. Mohon dengan kesadaran dari para pengunjung agar merawat fasilitas yang sudah disediakan pemerintah. Tidak hanya di kawah ijan saja, tapi di seluruh wisata dan tempat-tempat lain di Indonesia, mohon dirawat bersama.

Jalan yang semula menanjak akhirnya menjadi landai, itu artinya kami sudah dekat dengan puncak. Di bagian kanan jalan pun sekarang sudah dipasangi pagar, meskipun masih sebagian. Ini berguna agar pengunjung tak terlalu mengambil ke kanan saat trekking pada malam hari.

Disaat naik keatas ini banyak sekali yang menawarkan penyewaan masker, tapi kami selalu menghindar dari tawaran itu. Puncaknya saat kami mau turun ke kawah. Kami ditakut-takuti oleh penyewa masker, tidak boleh menuju ke kawah tanpa menggunakan standard masker yang ada. Benar saja, seorang orang tua dengan membawa anak kecil yang ingin menuju kebawah akhirnya kembali lagi karna tidak menyewa masker. Akhirnya kami menyewa masker dengan menegonya, dari yang semula Rp.50.000 2 orang menjadi Rp.40.000 2 orang. Toh kami menyewa masker ini karna Jerry lagi tak enak badan dan demi keselamatan juga.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kebawah. Jalan menuju kebawah sempit, jadi jika berpapasan dengan penambang belerang kita diharuskan untuk mendahulukan para penambang. Sekitar 30 menit kami trekking menuju ke kwah Ijen, akhirnya sampai juga. Tapi sayang, tak muncul tanda – tanda api birunya.

Sedang asyiknya menungggu api birunya muncul, eh si Jerry malah kembali tidur. Enak banget nih orang bisa tidur di tempat ginian. Karna saya juga kesal dengan api biru yang gak muncul -muncul, akhirnya saya juga ikut tiduran saja.. Tak menghiraukan para pengunjung yang lalu lalang diatas kami, kami tetap melanjutkan tidur di “kasur empuk” ini, meskipun cuma rebahan dan memejamkan mata doang.

Seberkas sinar matahari mulai menyinari kawah. Kami mulai bergerak lebih mendekati sumber belerang untuk melihat para penambang mengambil bongkahan belerang dari dalam perut bumi. Selain menambang, para penambang juga membuat kerajian dari belerang, mencetaknya berbentuk karakter-karakter lucu, lalu menjualnya ke pengunjung yang ada disitu.

Matahari yang semakin keatas, kamipun akhirnya kembali menuju keatas juga, saat perjalanan keatas, beberapa kali kami berhenti untuk mengambil gambar. Sayang, kawah yang tertutup asap belerang membuat pemandanga sedikit tersamarkan. Tapi tak apalah..

Setelah sampai diatas, kami mengambil arah kekiri menuju spot sunrise di bekas bangunan Belanda. Sebelum sampai di bekas bangunan Belanda, kami berhenti di salah satu spot yang cukup terkenal di dunia perInstagraman. Tempat ini berada setelah hutan mati. Jadi tempat ini berupa tanah yang menjorok ke arah kawah. Kami diharuskan untuk berhati-hati dalam mengambil foto ditempat ini, karena berhadapan langsung dengan tebing kawah. Lebih baik mementingkan keselamatan dari pada sebuah foto.

Seberes dari tempat ini, kami lalu menuju bekas bangunan Belanda untuk menikmati mentari pagi. Gak saya sebut sunrise karena matahari udah menyengat sekali 😅. Sambil menikmati mentari pagi, kami mengeluarakan perbekalan berupa roti yang kami beli saat masih berada di kota. Mentari pagi, sarapan roti dan pemandangan kawah membuat kami betah berada disini. Apalagi kalo ada kopi dan colokan. Ingin deh rasanya buat rumah di atas sini 😁.

Seberes dari puncak kami akhirnya kembali menuju ke pos paltuding. Saat perjalanan ke bawah, kami terpencar. Saya berada didepan dan Jerry ada di belakang, terpaut jauh sekali. Tapi karena saya kebelet buang air kecil, akhirnya saya berhenti dan “menghilang” dari jalur trekking. Seberes buang air kecil, saya melanjutkan perjalanan kembali.. Sampailah saya di gerbang teket pintu masuk paltuding. Saya berhenti tepat di stopan masuk penyobekan tiket, dengan dalih menunggu Jerry yang masih di belakang. Sekitar 30 menit saya menunggu, pikiranku malah kemana-mana. Apa mungkin Jerry tersesat? Padahal jalur sangatlah jelas dan ramai. Lalu saya berfikiran untuk menuju ke warung yang sempat saya dan Jerry singgahi tadi malam. Dan ternyata benar, si Jerry sudah ada di sana. Yaelah, kirain belum balik..

Seberes Jerry beli cindramata, kami langsung pulang melewati Bondowoso. Karena sangat kecapekan dalam perjalanan, akhirnya kami berhenti dan istirahat di Arak-arak, sebuah tempat di Bondowoso yang menawarkan pemandangan Pantura dari ketinggian. Disini terdapat banyak monyet yang berkeliaran. Yang semula ingin istirahatpun, malah memberi makan si monyet-monyet ini. Dengan membeli kacang dipedagang sekitar tempat wisata dengan harga Rp. 2.000 per ikat. Setelah kacang habis, kami baru mulai tidur di mushola yang ada di sana. Takut barang bawaan di ambil monyet, kami dekapi aja saat kami tertidur.

Kami terbangun setelah sekitar satu jam tidur, kami melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan dari Arak-arak, Bondowoso sampai ke Mojokerto masihlah jauh. Saat tiba di daerah Bangil, Pasuruan, cuaca tidak mendukung. Hujan turun dan kamipun berhenti untuk memakai jas hujan. Meskipun sampai kos gak hujan sama sekali, tapi kami tetap bersyukur bisa mengexplore Banyuwangi dan kembali dengan selamat.

Pesan yang bisa saya ambil dari berpetualang di Banyuwangi ini adalah ketika saya bertemu dangan para penambang belerang di kawah Ijen. Meraka rela bertaruh nyawa demi rejeki yang tak seberapa. Mendengar batuk para penambang karena menghirup asap belerang, belum lagi mata yang perih akibat paparan langsung dari asap yang dihasilkan. Membuat saya berfikir, sudah beryukurkah kita?. Kita sering melihat keatas, melihat yang lebih baik dari kita. Sedangkan masih banyak yang tak seberuntung kita. Maka, bersyukurlah selagi masih mendapat rejeki,Meskipun kecil nilainya.

Sekian petualang saya di Banyuwangi. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, maapin Aik ya. Jangan lupa baca cerita petualangan saya yang lainya..

avatar Tidak diketahui

Penulis: risalahwongkawak

tak ingin menua tanpa cerita.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai