Beberapa waktu yg lalu aku di hubungi salah satu admin explore sidoarjo via DM instagram. Meraka bilang ingin membeli beberapa foto yang aku post di Instagram untuk keperluan membuat majalah. Salah satu foto yang aku kirim adalah air terjun Krondonan di Bojonegoro. Untuk itu, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku mengunjungi Air terjun Krondonan ini.
Sebenernya udah lama juga sih aku ke air terjun ini, sekitar tahun 2017 an kali ya. Dan itupun yang kedua kalinya. Yang pertama gagal karena salah akses masuk dan baru bisa kesampaian setahun seetelahnya.
Berangkat dari rumah bersama temenku,Triono. kami arahkan kendaraan menuju ds Rejuno (perbatasan kabupaten Ngawi -Bojonegoro) melewati hutan jati pegunungan Kendeng. Meskipun hutan jati, tapi akses jalan sudah beraspal, cor, dan paving. Masih ada sedikit jalan rusak sih, tapi gak separah pas pertama kali melewati jalanan ini di akhir tahun 2011.
Lokasi air terjun krondonan ini berada di perbatasan. Antara kecamatan Sekar dan kecamatan Gondang. Akses yang lebih mudah adalah dari desa Krondonan kecamatan Gondang. Itu sebabnya kami harus putar lebih jauh melewati kecamatan Gondang. Karna pengalaman dulu pernah lewat dari Kecamatan Sekar, eh malah gak sampai lokasi karena medan yang ekstrime.
Sampai di desa Krondonan, kami bertanya ke penduduk sekitar tentang lokasi air terjunya. Kendaraan kami parkir di sebuah TK. Karna bangunan TK ini adalah bangunan terakhir untuk sampai ke lokasi air terjun.
Kami mulai berjalan kaki lewat samping TK. Melewati kebun jagung dengan medan yang menurun. Melihat kebun jagung yang sepi, jiwa maling ku mulai bergelora. “Tahan aik, niatmu kesini untuk explore air terjun, bukan mau maling”. Kata lubuk hatiku yang paling dalam.
Sampai dasar sungai kami harus melawan arus menyusuri aliran sungai. Airnya pun juga keruh. Karna bukan dari sumber mata air. Konon, kata temenku yang tinggal di kec Sekar, tempat ini sering menelan korban. Sebab arus di sungai menuju air terjun ini sangat deras. Kami harus berhati hati dalam memilih pijakan batu. selain licin, kadang batu gak terlalu kokoh untuk di buat pijakan.
Gak terlalu lama kami menyusuri sungai, akhirnya kami sampai juga di lokasi air terjun Krondonan.
Debit airnya gak terlalu deras membuat warna air di air terjunya gak terlalu keruh. Struktur bebatuanya khas layaknya gunung kapur, berwana putih kecoklatan. Ketinggian air terjun Krondonan sendiri sekitar 15 sampai 20 meter.


Setelah cukup puas menikmati suasana air terjun, kami lanjut pulang.
Ok sekian cerita kawak dariku. Alhamdulilah, selesai juga tulisane. Sebenere muales banget nulis. Buat nulis yang ini aja butuh waktu berminggu minggu.. Haha
Yauwes, daaaah… 👋👋