Menelusuri Peradaban Madiun

Saat menulis ini, beberapa waktu yang lalu telah diresmikan patung Marlion kw di jalan Pahlawan kota Madiun. Ya, jalan Pahlawan yang kini di sulap menjadi Malioboronya Madiun berlahan ditambah beberapa icon dunia, mulai dari ka’bah dan yang terbaru adalah patung singa seperti di negara Singapura. Kabarnya, setelah patung Marlion ini, akan dilanjut dengan pembangunan menara Eiffel.

Ada banyak pro kontra dalam pembangunan icon icon dunia ini. Masyarakat banyak yang berbondong bondong ber foto selfie di icon icon dunia ini. Selain itu, dengan adanya wajah baru kota Madiun dapat mengangkat perekonomian masyarakat sekitar. Sedangkan di sisi lain ada juga masyarakat yang kontra terhadap pembangunanya. Salah satunya tentang menghilangnya identitas dari Madiun itu sendiri. Ada yang beranggapan seharusnya di bangun yang beridentitas dari Madiun sendiri, bukan dari daerah lain. Seperti patung pencak ataupun patung Retno dumilah.

Nah, berhubung ngomongin identitas dari Madiun, gak pas kalo gak ngomongin tentang sejarah kabupaten Madiun itu sendiri. Ditulisanku kali ini, aku akan ajak kalian mengunjungi beberapa tempat bersejarah di kabupaten Madiun

Mengajak mas Ryan, kenalan Dari Instagram, kami mengunjungi beberapa situs yang ada di sekitaran Madiun. Btw, mas Ryan ini bertempat tinggal di kelurahan Kuncen kota Madiun, yang mana kelurahan Kuncen sendiri memiliki nilai historis di kabupaten Madiun itu sendiri. Oke, langsung aja kita menuju ke lokasi pertama.

PUNDEN NGLAMBANG KUNING.

Lokasi peratama yang kami kunjungi adalah Punden Nglambang Kuning. Letaknya 8 km sebelah timur kota Madiun. Yaitu di ds Nglambang, kec Wungu.

Suasana di area situs yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit ini sangat adem dan nyaman. Pasalnya diarea situs terdapat pohon pohon besar yang usianya diperkirakan lebih dari seratus tahun. Didalam situs Ngalambang sendiri terbagi menjadi 2 bagian. Pertama bagian depan yang terdapat pendopo dan bagian belakang yang merupakan punden Lambang kuning itu sendiri.

Ada beberapa bagunan atau benda yang ada di situs Lambang kuning ini. Antara lain ada umpak, yoni, dan makam pendiri atau yang membabad desa nglambang itu sendiri, yaitu makam Nyi Lambang kuning.

Situs punden Nglambang kuning.

Nyi Lambang kuning merupakan keturunan dari kerajaan Kahuripan yang konon melarikan diri karena korban dari legenda “calon arang” hingga sampai menetap di wilayah ini.

Situs Lambang kuning sendiri ramai dikunjungi peziarah disaat bulan bulan sakral kalender jawa khususnya bulan suro.

Sekiranya cukup mengexplore situs Lambang kuning, kami lanjut lagi ke gunung bedah yang tak jauh dari desa Lambang kuning. Gunung bedah sendiri adalah sebuah bukit yang di belah untuk dijadikan jalan. Tujuan kami kesini yang semula untuk berfoto foto akhirnya kami urungkan. Karena suasananya yang ramai oleh pengunjung. Akhirnya kami lanjutkan ke waduk dawuhan. Tapi skip aja lah ya cerita ke waduk Dawuhan.. Hehe

Melanjutkan perjalanan, kami lalu menuju ke arah barat kota Madiun. Tepatnya di ds Kraton kec Maospati kab Madiun. Memang sih, bukan masuk kab Madiun. Tapi secara sejarah, lokasi yang kami kunjungi selanjutnya ini masih erat kaitanya dengan sejarah kab Madiun.

SENDANG KAMAL

Namanya situs Sendang kamal. Lokasinya berada di dukuh Sumber, ds Kraton, kec Maospati, kab Magetan. Tapi sebelum aku bahas lebih jauh tentang Situs Sendang kamal, aku akan bahas desa tempat Sendang kamal ini terlebih dahulu.

Dinamakan ds Kraton karena dulu desa ini terdapat kraton atau kediaman dari Bupati Madiun ke 16. Bernama Ronggo prawirodirjo III. selain sebagai bupati Madiun, beliau juga merangkap sebagai penasehat serta menantu dari sultan Hamengkubuwono II. Beliau jugalah yang menentang kebijakan kebijakan Belanda, apalagi di saat Belanda membuat pernyataan jika hutan hutan di area Madiun diakui milik Belanda, guna keperluan membuat kapal.

Tapi sayang, bekas kediaman atau kraton milik bupati Madiun tersebut sekarang sudah rata dengan tanah, diganti dengan pemukiman penduduk desa kraton tersebut. Ok, kita lanjut bahasa tentang situs sendang kamal ya..

Nama lain dari Sendang kamal adalah Kawambang kulwan. Di depan pintu masuk terdapat 3 buah prastasti yang konon sebagai peninggalan kerajaan Medang atau Mataram kuno. Prasasti ini menunjukan bahwa daerah tersebut daerah merdikan atau daerah bebas pajak. Dari prasasti lanjut ke dalam ada bekas bangunan yang sudah tidak utuh lagi, bangunan ini dulu dibangun di zaman Belanda. Dulu orang orang Belanda juga menggunakan tempat ini sebagai pemandian. Di samping bangunan terdapat kolam pemandian Sendang kamal itu sendiri. Terdapat juga tempat tempat duduk yang berada di sisi sisi kolam pemandian.

Situs Sendang kamal, sekilas seperti Tamansari, Jogja.

Sendang kamal ini dulu tidak terawat, tetapi setelah dilakukan pemugaran oleh pemkab Magetan, membuat tempat ini layak untuk dikunjungi. Apalagi bersama dengan anak dan keluarga. Selain sebagai tempat rekresasi, Sendang kamal juga dapat sebagai tempat edukasi. Agar generasi muda mengetahui sejarah di daerah tempat tinggalnya.

Udah segitu aja ya tulisanya.. Hehe

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai