Explore Probolinggo: Jelajah Ranu Segaran dan Ranu Agung

Ngelanjutin cerita sebelumnya, sehabis dari Air terjun Tirai bidadari, kami lalu menuju ke tempat berikutnya. Yaitu ranu Segaran dan ranu Agung.

Waktu menujukan pukul 12.00 siang, sekeluarnya dari desa Jangkang, kami mampir terlebih dahulu ke warung makan untuk makan siang. Dengan cuma Rp 10.000 kami sudah mendapatkan satu porsi makan “kuli”, ya memang porsinya banyak banget. Sembari makan, kami juga nitip colokan untuk mengisi daya batrai HP dan kamera. Maklum, saat di air terjun dayanya berkurang lebih dari 50 persen.

Serasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju ke ranu Segaran. Cuaca yang mendung membuatku sedikit cemas. Pasalnya view gunung Lemongan bakal ketutup awan. kan sayang banget ya, udah jauh jauh dari Mojokerto, ternyata dapet zonk.

Setelah sampai lokasi dengan membayar parkir Rp 2.000, kami lanjutkan menuju ke tepian Ranu. Bener dugaanku, view gunung Lemongan tertutup oleh mendung. Seketika itu aku jadi gak mood buat foto foto gitu haha. Tapi ya udahlah, emang belum rejeki aja kali ya. Karna memang di dalam sebuah perjalanan yang lebih menarik itu adalah cerita di balik perjalanannya itu sendiri, bukan hasil dari perjalanannya.

Ranu Segaran, sayang gn Lemongan tertutup awan

Karna masih pandemi, pengunjung pun juga masih sepi. Cuma ada kami berdua dan segerombolan orang yang lagi prewedding. Memang, ranu Segaran ini cocok banget buat Prewed. Meskipun pengunjung sepi, tapi tetep rame kok (loh gimana ini). Maksud rame disini bukan rame pengunjung yang sedang berwisata, melainkan rame warga sekitar. Mulai dari yang cari ikan, mencuci pakaian hingga orang orang yang sedang adu balap burung merpati. Ya, disini banyak banget orang orang yang adu burung merpati. Balapan dari ujung ranu ke ujung ranu yg lainya gitu.

Puas dengan ranu Segaran ( sebenernya sih belum puas). Kami lanjut lagi menuju ke ranu Agung, ranu yang gak jauh dari ranu Segaran

Btw lokasi ke dua ranu ini berada di satu desa yaitu desa ranu Agung, kec Tiris kab Probolinggo. Jadi gak lengkap kalo gak mengunjungi kedua tempat ini sekaligus.

Ok, lanjut ke perjalanan. Jalan menuju ke ranu Agung gak begitu sulit, sekitar 10 menit gak jauh dari ranu Segaran. Kali ini kami gak masuk ke Ranu Agung karna memang menurut info yang aku dapat, jika ranu agung masih tutup. Meskipun begitu, memang rencana awal kami ingin mencari spot foto yang viewnya mirip mirip seperti di daerah Maluku gitu.

Bertanyalah kami dengan penduduk sekitar, namanya pak Bambang. Kamipun menunjukan contoh spot foto di instagram yang kami maksud, lalu pak Bambang memberi petunjuk arahnya. Karna beliau takut terjadi apa apa kepada kami, yang memang jalanya itu berbahaya. Akhirnya kami diantar oleh beliau, pak Bambang.

Dan memang, setelah melakukan perjalanan, jalanya begitu ekstrim. Bagaimana tidak, jalan yang kami lalui itu adalah jalan setapak dengan sebelah kanan adalah jurang ranu Agung. Jadi kami harus ekstra hati hati. Setelah sampai di sebuah rumah, kendaraan kami parkir. Kan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Ternyata di lokasi sudah ada anak anak muda yang berada di situ, cukup viral juga tempat ini.

Kamipun lanjutin berjalan kaki lagi ke arah seberang. Tetapi pak Bambang gak ingin ikut, beliau memilih menunggu disini. Sekitar 5 menit berjalan, kamipun sampai di lokasi yang kami maksut.

Disaat kami berada di ranu Segaran tadi kan mendung dan gunung Lemongan tertutup awan kan ya. Tapi syukur, disaat kami berada di Ranu Agung ini, cuaca sore cukup cerah dan gunung Lemongan tampak gagah berada di belakang ranu Agung. Di tambah lagi angin yang bertiup kencang membuat kami berlama lama mengambil gambar di lokasi ini.

Ranu Agung tampak ada di bawah dengan di belakangnya ada gn Lemongan

Setelah selesai dari spot foto ini, kami kembali lagi ke rumahnya pak Bambang. Karna memang helm kami berada di rumah beliau. Apesnya, di tengah perjalanan pulang menuju rumah beliau, ban motor kami kempes habis. Mungkin karna melewati jalananan yang ancur saat ke air terjun Tirai bidadari tadi kali ya. Alhasil kami harus mendorongnya dengan hati hati. Karna memang jalan yang setapak dan berbahaya.

Sampai di rumah pak Bambang, beliaupun meminjam pompa angin milik tetangga untuk membatu memompa ban motor kami. Alhamdulilaah bisa terisi angin dan gak bocor. Pak Bambang dan istripun menawari kami untuk istirahat terlebih dahulu di rumah beliau. Kami pun gak bisa menolak tawaran beliau.

Di tengan obrolan kami dengan pak bambang dan istri, ternyata ban motor yang tadi kami pompa kembali kempes. Waduh, jangan jangan bocor lagi. Karna waktu udah mau mau Magrib, kamipun pamitan degan pak Bambang. Berbekal info tempat tambal ban yang di beritahu oleh pak Bambang, kamipun kembali mendorong montor kami.

Hari semakin gelap, karna waktu itu sudah Magrib. Melawati hutan sengon dan pemakaman, kami mendorong montor sekitar 20 menitan. Mending jika jalan lurus, jalan yang kami lalui naik turun gitu e. Setelah sampai di pertigaan jalan kecamatan, akhirnya ketemulah tukang tambal ban.

Karna sudah tutup, kami pun izin untuk minta tolong ke tukangnya, yang memang lokasi rumahnya ada di sebelah bengkel tersebut. Setelah di cek, ternyata gak ada bekas bocor atau gimana. Mungkin pas aku pompa saat di rumahnya pak Bambang belum terlalu keras, jadi angin kembali keluar lewat sela sela velg kali ya.

Setelah semuanya beres, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Kami turun dari daerah Tiris sekitar habis azan Isa. Alhamdulillah, sampai kos kosan sekitar jam 21.30 dengan keadaan selamat.

Sekian cerita perjalananku ke kab Probolinggo kali ini, khususnya di kec Tiris, jangan lupa baca juga cerita perjalananku yang lainya ya..

Sekian dan terima kasih.. Hehe

Explore Probolinggo: Wisata Baru Air Terjun Purba Tirai Bidadari

Assalamualaikum…

Hoe cah, apa kabs nih.. Di new normal ini udah piknik kemana aja? Objek wisata udah banyak yang buka tau..tapi tetep patuhi protokol kesehatan juga pas berwisata..

Kalo masih bingung, aku punya tempat yang recomend banget. Apalagi buat kalian yang stay di daerah tapal kuda Jatim. Nama tempatnya adalah Air terjun Tirai Bidadari. Lokasinya ada di desa Jangkang, kec Tiris, kab Probolinggo

Nah gini nih, tak ceritain pengalamanku mengunjungi Air Terjun Tirai Bidadari ini..

Aku berangkat bersama Jeri, temen satu kosku sekitar jam 9 pagi dari Ngoro, Mojokerto. Mungkin sekitar 3 jam perjalanan dah sampai lokasi Air Terjun. Karna memang baru pertama kali kesini, pasti aku ngandelin google maps dong. Tau sendiri anak milinials.. Hehe. Tapi entah mengapa ni google ngejerumusin lagi ngerejumusin lagi. Yohh diprank google maps teroooss. Huu

Awalnya sih jalan aman aman aja, melewati jalan desa, naik turun dengan vegetasi tumbuhan yang rapat gitu. Eh.. Lama kelaman jalanya hancur banget. Mending kalo jalan tanah, ini jln aspal second yang tinggal bebatuan coy. Terus ngelewatin desa yang namanya WEDUSAN dan emang, jalanya kayak Wedos tenan!! Haha, becandaan kami saat lewati jalan ini.

Udah lama melewati jalan jelek ini, kok perasaan gak nyampe nyampe. firasatku dah gak beres nih. Apalagi ditengah hutan yang otomatis gak ada sinyal. Untung ada orang yang lewat, kami tanyain deh. Kata orang tersebut kami salah jalan. “Memang bener bisa sampai ke air terjun dengan rute pendek, tapi ya seperti ini jalanya”. Kalo jalan yang lebih enak sehatusnya muter, lewat Ranu Segaran, lanjut orang tersebut. Akhirnya kami disuruh melanjutkan perjalanan lagi, karna memang sudah deket dengan jalan yang lebih layak. Terima kasih mas.. Hehe

10 menit berjalan, akhirnya nemuin jalan yang layak. Tapi gak selang beberapa lama, eh di petunjuk arahnya menuju ke jalan pekarangan gitu. Melewati jalan setapak dengan kebun kebun milik warga sekitar. Ada kopi, sengon, jagung, dll. Jalan setapak ini berjarak 1,1 km. Tapi jalan ini lebih mendingan dari pada jalan yang rusak tadi kami lewati. Oh iya, jika kalian kesini pake mobil, truk, dokar dan apalah itu selain kendaraan roda dua, kendaraan bisa kalian parkir di halaman masjid sebelum gang kecil. Lalu kalian bisa ngojek dengan biaya Rp 20.000 pp.

Setelah sampai, kami disambut sama pengelola wisatanya yang gak lain warga sekitar sendiri. Di tempat ini belum ada Tiket masuk, cuma parkir Rp 2.000 aja. Karna memang Air terjun Tirai Bidadari ini baru dibuka, sekitar bulan Februari yang lalu. Meskipun baru dibuka, diparkiran udah ada warung kok. Jadi yang lupa bawa perbekalan gak usah kawatir deh. Warganya juga baik baik banget. Meraka biasa mengantar pengunjung seperti kami sampai ke lokasi Air terjun. Mungkin kurang lebih 20 menitan, berjalan dengan medan menurun sudah sampai di lokasi air terjun. Btw Bapaknya gak munggut biaya untuk jasa guide ini, tapi jika kalian ingin ngasih uang tips juga monggo..

Air terjun purba tirai bidadari
Sisi lain air terjun, katanya masih ada air terjun lagi di balik tebing

Tonto juga videonya di chanel youtubeku: Air terjun purba tirai bidadari

Sebenernya nama asli air terjun ini adalah Air terjun purba Tirai Bidadari. Kenapa ada sebutan purba? Karna batuan batuan yang ada di air terjun ini di perkirakan berumur ribuan bahkan jutaan tahun. Nah, di bagian dalam batuan batuan tersebut di huni ribuan kelelawar, jadi kalian harus hati hati dengan ranjau atau eek kelelawar yang ada di sekitaran air terjun. Selain eek kelelawar, yang perlu kalian berhatikan juga adalah tentang menggunakan alas kaki. Gunakan alas kaki yang anti selip, sebab batuan batuan disini sangatlah licin.

Mengalir di sepanjang dinding dinding sungai, air terjun ini memiliki sekitar 17 titik mata air yang membentuk air terjun itu sendiri. Gak cuma itu, di atas air terjun ini juga terdapat air terjun lagi dengan kolam dibawahnya yang bisa untuk berenang, tapi gak terlalu deres sih. Jika kalian ingin berenang di kolam yang di atas tersebut, lewatnya bukan dari loket yang tadi kami masuki. Melainkan dari seberang sungai. Oh iya, perlu kalian tau, lokasi air terjun ini memang berada di 2 perbatasan desa. Antara desa Jangkang dan desa Ranugedang. Ada juga sih jalan yang dari Ranugedang, tapi lebih extrime. Makanya kami lebih memilih lewat dari desa Jangkang ini.

Seberes berfoto foto di air terjun, kami lalu menuju ke atas lagi. Ngobrol sebentar dengan pengelolanya, tentang wisata Air terjun Tirai bidadari ini. Setelah itu kami pamitan dan melanjutkan explore tempat yang yang ada di kab Probolinggo, terutama di kec Tiris ini.

Bersambung..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai