Remidi kelud: malam Lailatul qodar di hutan

Setelah gagalnya sampai puncak gunung kelud tahun lalu, karna kabut. Niatan kembali kesana mulai terbesit kembali. Kalo dulu naik via tulungrejo, kini saya mencoba naik via karangrejo. Yang notabene masih sepi dan tak sefamiliar via tulungrejo.

Akhirnya saya menghubungi ferry buat jadi tim pendakian. Tapi kami tidak berangkat bersama sama. Ferry berangkat dari ngawi, dan saya sendiri dari mojokerto. Kami bertemu di pare, kediri. Karna bulan puasa, kami beristirahat di masjid sekitaran pare cukup lama. Itung itung nunggu matahari tergelincir, biar gak terlalu panas.

Sekitar jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju desa karangrejo, kec garum. Sampai desa karangrejo kami kembali beristirahat di masjid, sambil menunggu azan magrib. Selesai sholat, kami mencari makan dan perbekalan buat pendakian nanti malam. Karna kami belum tahu basecamenya, sehabis berbuka puasa kami langsung mencari jalan menuju basecame. Dengan alasan, jika kami mendadak cari jalan ke basecame pas tengah malam, otomatis warga lokal sudah pada tidur dan jalanan sepi. Akhirnya kami mencari tempatnya saat waktu sholat tarawih tiba. Ketemulah penjual cilok, kata beliau malah gak ada pendakian ke kelud lewat karangrejo! Kami langsung syok mendengar itu. Ah, mungkin penjual ciloknya kurang piknik, pikirku. Kamipun tidak menyerah. Mencari cari, ketemulah seorang pemuda habis tarawih. Ia nunjukin jalanya menuju basecame, terima kasih kisana. Dirasa yakin jalanya (karna jalanya tinggal satu, tak ada pertigaan atau perempatan lagi) kami akhirnya kembali lagi ke masjid yang kami singgahi sore tadi. Cari takjil gratisan karna malam ini lailatul qodar , yg biasanya di masjid – masjid pada rame, pikirku. Tapi ini kok sepi ya? Cuma ada 4 orang di masjid. Tapi tak apalah, emang gak rejeki. Sambil nungguin tengah malam buat start pendakian, Kamipun mengobrol santai dengan orang – orang masjid disana.

Sekitar jam 23.00, kami mulai menuju basecame. Di tengah perjalanan, ada sedikit masalah terjadi. Rantai motornya si ferry loss, tapi alhamdulillah bisa di perbaiki. Jalanan mulai rusak dan tak beraspal, melewati kebun tebu yang luas. Motor kami titipkan di basecame, dengan mengunci ganda serta menggembok cakram, agar lebih aman.

Lokasibasecame karangrejo

Pendakian gunung kelud via karangrejo ini memakan waktu kira- kira 3-4 jam. Setiap pos terdapat shetler, meskipun sudah tak berbentuk. Hutan mendominasi dari pos 1 sampai pos 5.

Pos 2 ke pos 3 ( saat perjalanan pulang)

sasampainya di pos 5 kami istirahat sebentar. Dari pos 5 menuju puncak butak kelud, vegetasi berganti. dari hutan ke rumput ilalang. Mlipir, naik turun bukit adalah track yg harus dilalui dari pos 5 menuju puncak butak kelud ini. Hati- hati! Saat kami melewati trek ini, jalurnya tidak begitu jelas. Ditambah pendakian dilakukan pas malam hari. Jalur makin lama makin curam, bahkan harus memakai tangga ( udah tersedia kok).

Tangga yang udah di pasang oleh warga.

15 menit sebelum sampai puncak butak track berubah menjadi berpasir. jalan 2 langkah, mrosot 1 langkah. Sampai- sampai si ferry saya tinggal jauh di belakang. Mirip seperti summit attack semeru (walaupun saya belum pernah ke semeru 😁). Oh ya, puncak butak sendiri hanyalah puncak bayangan. Puncak sebenarnya masih harus mlipir ke kanan.

Sampai puncak butak jam 03.00. pas sahur. Akhirnya kami sahur disana. Makan bekal yang kami beli di desa karangrejo kemarin sore. Meskipun hanya brengkes pindang yg gak ada “pindangnya”, cuma bumbu doang. Tapi gak apa apa, tetep syukuri. Dari pada perut gak keisi. Sehabis sahur, karna tidak membawa tenda, kami membuat bivak kecil- kecilan dari ranting pohon disekitar. Abis itu tidur, ngumpulin tenaga buat summit attack keesokan hari. Ya gak tidur juga sih, cuma rebahan sebentar.

Bivak kecil-kecilan.

Sunrise dari puncak butak gn. Kelud

Sekitar jam 05.00 sunrise sudah nampak di balik gunung. Kami mulai summit attack. Semula jalanan menurun dan selanjutnya menanjak sampai akhirnya harus “panjat tebing”. Itulah alesan kenapa kami tidak summit attack pas dini hari, karna tracknya yang sangat curam.

Sampai di puncak, tampak kawah gunung kelud yang berwarna hijau tosca. Matahari terik sekali hari itu. Sebenernya puncaknya masih ada di atas tebing, tapi tak disarankan keatas tanpa peralatan khusus.

Track menuju puncak

Tampak kawah.

Ferry dan plang.

Habis itu kami turun. Sampai basecame sekitar jam 10.00. Kami langsung pulang. Saya tak kembali ke Mojokerto, melainkan pulang kampung ke Ngawi bersama ferry. Sampai Ngawi sekitar jam 17.00. Dan alhamdulillah selamat sampai tujuan 😊😊

Watu jengger, pesona dari gunung Anjasmoro

Bukit watu jengger atau gunung joko munjung adalah sebuah bukit di lereng gunung anjasmoro, dengan ketinggian 1100 mdpl. gunung ini cocok buat pendakian tipis-tipis atau hanya sekedar camcer (camping ceria).

Oleh karena itu, saya dan rian, teman satu kerja. berkeinginan mengunjungi tempat ini. Niat brangkat jam 4 habis subuh pun harus molor jadi jam 5 pagi. Ya karna si rian juga masih molor.

Berbekal google maps, motor saya arahkan ke dusun nawangan, desa tawangrejo, kecamatan jatirejo, Mojokerto. Sebenarnya terdapat 2 rute pendakian, dari desa rejosari dan desa tawangrejo. Tapi kami lebih memilih lewat jalur tawangrejo, karena jalur ini yang lebih ramai dan familiar.

Perjalanan dari ngoro sampai ke desa tawangrejo memakan waktu kurang lebih 1 jam. 3 km sebelum dusun nawangan, jalanan mulai hanjur parah.

Parkiran berada di rumah warga, sebelah kanan setelah pertigaan. Dengan harga 5k, kami langsung trakcing. Jika kalian lupa bawa perbekalan, tenang saja. Dekat parkiran ada toko kok, jadi nggak takut kelaparan di tengah jalan.

Medan pertama berupa jalan setapak, dengan kebun warga di kanan kiri jalan. Sekitar 15 menit berjalan, sampailah kami di pos tiket masuk. Saya kira tiket masuknya jadi satu dengan parkiran, ternyata tidak. Dengan membayar tiket 10 ribu per orang, kita diwajibkan mengisi biodata. Pengelola tiket memang berasal dari pihak tahura Suryo sendiri.

Setelah melewati kebun warga yg mayoritas di tanami jagung dan ketela pohon, jalur berganti dengan hamparan hutan pinus. Tampak bekas ban sepeda motor berada di tengah-tengah traking. Mungkin digunakan warga utk pendistribusian barang-barang yg dijual di warung. Ya, di pertengahan jalan menuju puncak memang terdapat bagunan semi permanen untuk jualan warga sekitar. Namun saat kami kesana warung-warung itu tutup, padahal saat itu pas weekend. Yang otomatis banyak pengunjungnya.

Sampai camp B9, kita sudah dapat melihat pemandangan gugusan gunung anjasmoro. Sesuai namanya, tempat ini dapat digunakan untuk mendirikan tenda, dengan muat 3-4 tenda. B9 sendiri singkatan dari bukit 900 ( bukit dengan ketingian 900mpdl ). Cukup ramai juga sih pas kami berada disini. Dari sini tinggal satu tanjakan lagi hingga sampai ke puncak watu jengger, selebihnya jalanan landai.

Dari camp B9 sampai puncak watu jengger sendiri memakan waktu cuma 15 menit. Dipuncak kami bertemu dengan mas agus zunaidi bersama temanya, mereka berasal dari surabya. Uniknya, mereka niat dari surabaya ke watu jengger bawa kursi. Otomatis kami meminjam kursinya buat foto-foto. Udah kaya sutradara yang shoting di alam gitu 😁. Oh ya sampai lupa, kenapa kok dinamakan bukit watu jengger? Mungkin karena bukitnya berbentuk lancip seperti jengger ayam kali ya..

Muka-muka belum mandii..πŸ˜ͺ

Jangan lupa sarapan, kesehatanmu lo yan..😁😁

Semakin siang kabut mulai datang dan menutupi pemandangan. Kami pun memutuskan segera turun, dan berpisah dengan mas agus yg masih asik berfoto-foto. Sebelum sampai parkiran, kami harus laporan kembali ke pihak loketnya. Abis itu pulang deh..

Wasalamualaikun

Explore Bondowoso (part 2) : Merilekskan otot di air panas Blawan

Dari pos paltuding, motor saya arahkan menuju bondowoso. Melewati hutan dan perkebunan kopi. Baru 10 menit berkendara, sayapun berhenti utuk mengganti pakaian yang belum ganti sejak kemarin. Setelah ganti sayapun lanjut gas menuju destinasi selanjutnya, yaitu ke kawah wurung

Kawah wurung sendiri adalah sebuah bukit yang berbukit bukit.. πŸ˜ͺ?. Sesampainya di pertigaan menuju kawah wurung, saya berhenti lagi untuk sekedar mengambil gambar. Lanjoot.. awalnya jalanan cor mulus, sampai di permukiman warga jalanan mulai banyak yg berlubang. Hingga mau sampai di lokasi kawah wurung, jalanan mulai ancur parah. mungkin namanya sudah bukan jalan lagi kali ya. jika kalian kesini, saya saranin jangan pake motor matic kayak saya, mending pake trail atau lebih enakan lagi naik kuda aja kali ya 😁😁.

Biyaya masuk, bayar tiket dan parkir motor 7k. tanpa pikir panjang saya langsung naik keatas bukit. Di tengah perjalanan naik, terdapat tulisan kawah wurung macam kayak tulisan holiwut di amerika gitu. Sampai puncak terdapat menara pandang yang cukup tinggi sekitar 15an meterlah, tapi saya tdk naik ke bawah eh keatas soalnya penuh orang. Cuaca mulai tak bersahabat, mendung mulai datang. Maklum februari, hujan sehari hari. Sayapun mulai mengambil gambar seperlunya.

berkenalanlah saya dengan mas zul pengunjung dari Surabaya. Kita saling barter (motoin satu sama lain ). Dirasa cukup, saya langsung turun. rencana sih ingin sekalian ke jabal krimit, yg berada di sebrang kawah wurung. Tapi niat itu saya urungkan. Ya karna cuaca dan pekanbaru, eh medanya yang naudubilahminjalik..

Di tengah perjalanan saya turun, hujanpun juga ikut turun. Kenapa ngikut ngikut sih ni hujan, diatas dulu napa.. Sayapun berjalan lebih cepat, secepat berlari..hingga langkah saya berhenti di rumah rumah kecil di bawah bukit. Entah itu penginapan ataupun apalah, yang penting badan ini tak kehujanan. Sembari menunggu hujan reda sayapun menyibukan diri untuk menunggu hujan reda (apa sih?). Hujanpun reda, dan saya kembali melanjutkan perjalanan.

Awalnya sih habis ke kawah wurung langsung bablas pulang ke mojokerto, tapi setelah saya melewati pertigaan menuju ke air terjun belawan, pikiran sayapun mobal. Kenapa gak kesini aja sekalian? Yaudah putar balik aja menuju ke air terjun..

Air terjun belawan ini adalah air yang terjun kebawah. nenek nenek saltopun juga tahu lah! (Informasi unfaedah). Maksutnya air terjun yang terjun kebawah tanah gitu, berasal dari aliran sungai yg bersumber dari kawah ijen. Jadi rasa airnya pahit, katanya sih, wong saya gak nyicipin. Mungkin orang sini gak pernah minum kopi kali ya. ambil air langsung dari sungai lalu minum deh, rasanya kan udah pahit😁😁. Air terjun ini juga masuk dalam salah satu spot di pidiyo wonderful indonesia: a visual journey . tapi pas sampai sini pengunjungnya sepi, cuma ada satu bus travel sama saya sendiri. Untuk biyaya masuknya cuma 7k, itu udah termasuk parkir motor dan pemandian air panas. Ya, di samping tempat parkir terdapat pemandian air panasnya. Jalanan ke air terjun belawan ini udah enak, cuma membutuhkan watktu 5 menitan sampai ke air terjun. Tapi bisa jadi 1 jam jika sambil merangkak..

Sampai di air terjun, ternyata rombongan naik bus travel yg saya temui di parkiran adalah rombongan yg saya temui di puncak ijen tadi pagi. Tapi saat saya datang, mereka udah mau meninggalkan lokasi. Tanpa pikir panjang sayapun memintanya buat fotoin saya. Maklum jomblo, eh single travel maksudnya.

Abis itu mereka meninggalkan saya seorang diri. 10an menit saya dilokasi, menikmati hempasan air dari air terjun belawan seorang diri. membuat saya lebih rileks, meninggalkan sejenak beban hidup yg ada. Habis merilekskan pikiran, ganti merilekskan otot otot yang tegang dipemandian air panasnya.

Pemandian air panas ini cocok banget, apalagi yang habis mendaki ijen dan kawah wurung. Iseng iseng bertanya kpd si cewek tour guidesnya, yg kebetulan juga beredam di pemandian. Ia bercerita bahwa ia memandu wisatawan dari india. rombongan wisatawan cuma ambil paket ijen sama blawan aja, abis itu pulang ke surabaya. Udah sebatas itu aja sih obrolanya. Sesekali datang laki laki menemui si tour guidnya. Saya pikir si cowok ini sopirnya, karna obrolan mereka berdua begitu akrab gitu. Baru tahu setelah saya ganti pakaian di kamar mandi, si cowok ini ternyata penjaga pemandiaanya.

Setelah puas di pemandian, saya melanjutkan perjalanan pulang ke mojokerto. Hutan dan perkebunan kopi kembali saya lewati, tak jarang perkampungan warga. Nah pas lewat perkampungan warga ini, hujan belum turun. Lah saat udah lewati perkmampungan dan mulai hutan di kanan kiri, disaat itulah hujan lebat turun. Langsung deh saya putar balik menuju perkampungan yg belum jauh dari situ buat neduh. Disaat berteduh ini, saya sempat bertanya pada warga. kenapa rumah rumah di kawasan sempol begitu selaras dan hampir sama gitu?, ternyata rumah rumah itu milik PT yang mengelola perkebunan kopi disana. Rumah rumah itu lalu di tempati para petani yg bekerja di perkebunan kopi itu.

Setelah hujan reda sayapun lanjutin perjalanan . Belum sampai jalan raya bondowoso – situbondo, ngantuk mulai menyerang mata ini, maklum sedari malam gak tidur. sayapun akhirnya berhenti di mushola dan tidur disana sampai ashar. Abis itu lanjutin perjalanan lagi dgn pelan pelan, soalnya jalanan yg licin abis hujan. Sampai wonosari berhenti lagi di masjid, karna hujan lagi. Dan akhirnya saya putusin buat bermalam di sini, menunggu buat keesokan harinya.

Awalnya saya tak izin ke takmirnya. Nah pas pak takmir tahu kalo saya ingin bermalam dimasjid akhirnya beliau menyuruh saya buat tidur di dalam kantor takmirnya. dan yang membuat saya lebih tenang lagi, montor saya juga di suruh buat masuk ke dalam kantor takmirnya, biar aman… Azan subuh udah berkumandang, sayapun ikut subuhan. Setelah itu dilanjut qultum. Lucunya bahasa yg dibuat qultum adalah bahasa madura yang otomatis saya gak paham babarblas. Setelah selesai dilanjut ngobrol bebas di emperan kantor takmir, bersama para pengurus masjid. ngobrolnya ya gak jauh jauh soal agama sih. Ditemani kopi dan tape khas bondowoso membuat enggan kembali ke mojokerto. Setelah orang orang udah bubaran sayapun juga ikutan izin pamit. Terima kasih pak takmir atas tumpanganya.. Sayapun lanjutin perjalan ini menuju mojokerto. Sekitar jam 10.30 sampai kos kosan dgn selamat . Terimakasih Bondowoso untuk alam dan orang orangnya..😊

Explore Bondowoso part 1: ijenan neng ijen (sendirian ke ijen)

Februari 2018 saya travelling ke gunung ijen. Gunung yg terletak di antara kab banyuwangi dan bondowoso. Gunung ini sangatlah unik. Bagaimana tidak, dipuncaknya aja terdapat danau asam terbesar didunia serta fenomena blue fire yg hanya ada 2 didunia. Itulah mengapa keinginan saya untuk pergi kesini baru tercapai saat liburan imlek kemarin. Meskipun gak libur kayak yang lain yang libur 3 hari. Sekarang ganti cari patner buat pergi kesana. Secara pengumuman liburnya ini mendadak, otomatis saya ngabarin temen temen ya mendadak juga. Ada yang saya DM di instagram, chat di whatsapp sampai inbok di facebook, dan hasilnya nihil. Alesanya macem mecem, ya karna ngajakinnya mendadak dan ada yang urusan masing masing gitu. Alhasil saya pun pergi ke ijen sendirian. Btw ini adalah kali pertama saya single travel dan sensasinya sangat berbeda dgn traveling bareng temen temen.
Saya berangkat menggunakan motor dari ngoro mojokerto sehabis jumatan, sekitar jam 1an siang. Menempuh jarak 235km, rute yang saya lalui adalah gempol – bangil – pasuruan – probolinggo – besuki (situbondo?) – jalur arak arak – bondowoso – sempol – ijen. Ada cerita saat melewati jalur pantura ini. Saat pas di pantai bentar probolinggo, di situ ada seseorang yang mau nyebrangi perempuan. Yang biki saya kaget karna berpapasan, hapir di todong dengan sebilah sabit gitu, karna reflek ya saya nikung menjauh menghindari bapak yg nyebrangin bawa sabit tadi. Tp itu entah halusinasi saya atau kah beneran bawa sabit. Padahal di dekat situ ada pos polisi dan hari masih siang. Mana mungkin ada begal pas siang hari bolong..? Tau ah gelap. Oke lanjut.. Menjelang magrib saya sempatkan makan dulu, ya karna dari siang gak keisi ini perut. Abis itu magriban dan lanjut lagi jalan. Oh ya, saat itu cuaca juga lagi gak mendukung. Secara saya menggunakan maps mode satelit, jadi kelihatan mana daerah pemukiman mana daerah hutan. Hujan rintik gak henti henti dan hari semakin gelap. Pikiranku mulai kacau karna sebentar lagi lewati hutan yg panjang, sekitar 30km’an lah. Lalu saya berhenti di masjid di pemukiman terakhir sebelum hutan. Sembari ganti jas hujan saya terus berfikir, mau lanjut atau nunggu hujan reda nih. Dan fixs langsung lanjut aja mumpung masih sore. Syukurlah keluar dari dalam masjid hujanya reda. Dalam keadaan masih pake jas hujan, saya langsung aja gas. Bayangin, naik motor nerabas hutan lebat sejauh 30an km, abis hujan pula tambah kabut yg menambah mencekam suasana kayak di pilem pilem horor gitu. yg tadinya jam 7 malem terasa kaya jam 11 malem.. Sereeemm
Ada 3 stopan sebelum sampai pos paltuding (tiket masuk kawah ijen), semacam pos perhutani gitu. Jadi di setiap stopan itu saya harus ngisi daftar hadir sebelum lanjut jalan. Bayar seihklasnya (gak bayar juga gpp). Dan sampai pos paltudingnya jam 19.45 menit. Saya langsung di sapa sama para pemilik kios buat ikut nimbrung ngangetin badan di perapian.

Dari sini saya kenal sama anak anak dari jember yang udah datang duluan. Mereka ber4 tapi saya lupa nama namanya, emang gak kenalan juga sih..πŸ˜„πŸ˜„. Nunggu loketnya buka jam setengah 1 malam, saya sempetin buat tidur di emperan bangunan yang ada di sekitaran loket. Saya gak bisa tidur karna ademnya minta ampun. Wong mulut kalo ngeluarin udara udah kayak ngeluarin asap vapor kok πŸ˜„. Jam 11.30 saya dan temen temen yg dari jember kembali ke perapian lagi. Makan dulu sebelum tracking buat nambah tenaga.
Berbekal roti dan air mineral yang saya beli di perjalanan tadi siang. saya mulai tracking pukul 01.00, ya karna loketnya mulai buka jam 12.30.
Oh yaa, untuk tiket masuknya 5k satu orang dan 5k buat parkir motor. Tergolong cukup murah buat wisata yang udah tersohor didunia. Jalurnya enak. 1 km pertama gak terlalu berat, 1 km berikutnya nanjak, terus terakhir udah mau puncak udah datar. Di sepanjang perjalanan mulai pembangunan sana sini. dari wc umum dan gazebo buat istirahat para pengunjug. Dan yg bikin pro kontra para nitijen di sosmed adalah pembangunan wc di puncak ijen, menurut kalian bagaimana? Setuju atau tidak?

pembanguna wc umum di jalur pendakian ijen. Foto saya ambil pas perjalanan turun..

Di tengah perjalanan langkah saya di hentikan oleh para penyewa masker tabung ( kayak masker untuk pengambar graviti di tembok gitu). Dengan harga sewa 25k sayapun menolaknya. Dgn alesan meminimalisir budget. Tp kalo kalian tak tahan akan bau asap belerang lebih baik nyewa aja yah. Kesehatanmu lo dekk πŸ˜„πŸ˜„. Habis sampai puncak saya harus turun lagi ke dasar kawah sejauh 700 meter guna liat api birunya azula πŸ˜„πŸ˜„ (yg gak pernah liat serial avatar aang pasti gak ngerti). Sampai dasar kawah sekitar jam 03.00 dini hari. dan wow, api birunya emang bener bener biru teman, gak di edit sama sekali. Meskipun gak sekeren di sosmed sih, yg banyak apinya. mungkin karna cuaca?.
Dan karna anak anak jember udah ketinggal jauh, ya akhirnya saya cari orang buat fotoin saya berlatarkan blue fire. Bertemulah dengan rombongan dari Sidoarjo. Perlu kalian ketauhi. janganlah kalian menyoroti blue fireya dengan senter kalian, karna bisa kalah cahaya si blue firenya dengan cahaya senter. Alhasil blue firenya gak akan kelihatan. Yang paling penting, jangan sampai mendekati blue firenya ( naik ke tebing deket blue fire) kalo kalian gak ingin di teriakin ama petugasnya untuk turun. Itu terjadi kepada saya juga sih πŸ˜„πŸ˜„, maapkeun saya pak..

Nooh.. Yang disenteri di atas itu disuruh turun sama petugas.
Sambil nunggu matahari terbit, saya masih gak beranjak dari tempat ini buat nikmatin pesona blue firenya. Di temani tembang berbahasa osing yang di nyanyikan para penambang belerang sampai sampai terdengar di seluruh kawasan kawah ijen yg membuat bulu kuduku merinding.
Kadang sesekali asepnya ke arah pengunjung. Tips untuk menghindarinya adalah. Berbalik badan atau berlindung di balik batu, atau bisa tiduran sambil tutupi seluruh wajah pake buff. Karna tidak cuma hidung aja yg terkena dampak. tapi mata juga bisa, kayak perih perih gimana gitu. Itu sih yang saya lakuin pas asapnya menyerang hatiku, eh diriku πŸ˜„πŸ˜„. Blue fire sendiri hilang ketika matahari mulai kelihatan. Sekitar jam 05.30an lah.
Setelah cerah saya pun berfoto foto di bibir danaunya, bertemulah saya sama anak anak dari surabaya dan banyuwangi sendiri. Saling tukar menukar kontak dan kami saling jatuh hati. eh enggak ding, orang lakik semua kita πŸ˜„πŸ˜„.

Sekitar jam 06.00 saya naik dari kawah menuju puncak. Sedikit informasi teman teman. Jika kalian ingin nikmati spot sunrise lebih baik menuju bangunan yang ada sehabis hutan hutan yang ada di puncaknya, karna matahari sekitar jam 06.00-07.00 itu masih terhalang oleh gunung merapi di samping gunung ijen itu sendiri.

Dari puncak kita bisa melihat gunung raung, gunung ranti, kawah wurung, taman nasional baluran beserta selat balinya dan jelas gunung merapi yang tepat lebih atas dari gunung ijen itu sendiri. Di puncak ini juga saya bertemu dengan rombongan dari pamekasan. Karna cuma ada saya dan rombongan ini jadi tak suruh fotoin deh mereka. Gini nih kalo single travell πŸ˜„πŸ˜„.
Jam 08.00 sayapun mulai turun menuju paltuding. Di perjalanan turun saya banyak di tawarin jasa β€œtaksi ijen” (semacam grobak sodor yg dimodif buat pengunjung gitu). Dengan biyaya 50k untuk turun. Gak tau ya untuk naiknya brp, apakah sama atau beda harga.

gunung ranti terlihat saat turun dari ijen.

Sampai paltuding istirahat, tidur tiduran sekitar setengah jam lebih. Abis itu saya langsung pergi meninggalkan ijen menuju destinasi selanjutnya..

Bersambung..

Dua wisata alam baru di Ngawi

Asalamualaikumm.
Nih aku mau nyritain pengalamanku dolan ke 2 tempat wisata di ngawi yang tergolong masih baru bin anyir. Air terjun semua sih, sebut saaja air terjun dung ampel dan air terjun sojopan 😁😁. Mereka berdua ini sama- sama berada di ngawi bagian utara, lebih tepatnya di pegunungan kendeng. Oke, tanpa basa basi kita mulai petualanganya. Lets goo
Dari rumah cuma berdua, aku dan mas tri berangkat sekitar jam 11 siang. Mungkin karna pagi itu mengdung grimis gitu ya jadi brangkatnya agak siangan dan karna deket dari rumah juga sih. Air terjun pertama yang kami datengin yaitu air terjun dung ampel yang terletak di dsn grenjeng ds gunung sari kec kasreman. Berbekal info dari IG (di kirimin denah lokasi sama warga sekitar) jadi di perjalanan kami gk sering bertanya sama warga.. Makasih lo ya mas warga dsn grenjeng atas kiriman denah lokasinya..πŸ˜„πŸ˜„. Kalo kalian dari kota ngawi, arahkan kendaraan kalian ke kec padas, trus sampai pertigaan menuju desa pacing ke utara (jalan menuju waduk kedung bendo), lurus ke utara terus, sebelum perempatan waduk ada pertigaan (tikungan) kalo ke kanan ke waduk, nah kalian ambil yang ke kiri dari situ udah deket kok. Tinggal nglewati 2 jembatan trus belok kiri ke jalan setapak gitu, udah sampai deh..oh iya akses kesini kondisi jalanya ada yang ancur ada yang bagus. Tp tenang montor mobil masih bisa lewat kok. Btw pas kesana belum ada loket masuk dan biyaya parkir masih free.
ini nih tak kasih gambar denahnya kalo kalian masih bingung..

ini denah yang di kirimin warga sekitar. Makasih om..

dan ini versi google mapsnya.

loc air terjun dung ampel (Kalo kurang jelas bisa cari di gugel mep dgn kata kunci β€œair terjun dung ampel”)

Dari parkiran ke air terjunya gak jauh-jauh amat kok, lewat ladang dan sawah warga trus nyebrang sungai lalu turun. Nyampe deh.. Tingginya sekitar 4 meteran dan di bawah air terjunya bisa buat berenang, meski keruh sih.. Nih tak kasih penampakanya..cekidot..

Air terjun dung ampel

Abis dari air terjun ini kami trus ke waduk kedung bendo. Udah gak jauh kok dari sini. Istirahat sebentar sambil ngliatin orang mancing cus langsung balik dan lanjutin destinasi yang selanjutnya.
Yaps, grojogan sojopan. Tempatnya di dsn kaliuluh ds kenongorejo kec bringin. Lebih tepatnya di utara waduk pondok, anak ngawi pasti tau lah waduk pondok. air terjun sojopan ini juga bermuara ke bendungan waduk pondok. Kalian bisa ambil 2 rute perjalanan. lewat muter waduk pondok atau bisa nyebrang waduk, kami pas kesana milih muter waduk . Kalo muter waduk emang jalanya enak sih, tp pas masuk ds dampit sampai ke kenongorejonya jalan hanjur parah. Jadi lebih baik nyebrang waduk pake prahu. Jalanya kalo di bandingin ke air terjun dung ampel lebih sulitan ke sini, mending pake motor manual aja kalo kalian kesini. Nih langsung tak kasih lokasi via gugel mep nya, soalnya kalo tak tulis malah jadi panjang kali lebar kali tinggii..πŸ˜„πŸ˜„.

Nah di situ lah tempatnya,..

loc air terjun sojopan

Inget, pas udah sampai hamparan ladang yg berbukit bukit mending tanya warga sekitar( rumah terakhir) karna jalanya udah jalan setapak gitu. Tapi udah gak jauh kok dari situ, tetep hati hati ya..oke ini dia penampakan air terjun sojopan

Air terjun sojopan.

Karna ke 2 wisata ini masih tergolong baru jadi kalo kesini jangan kotorin tempatnya dan jangan lakuin vandalisme. Dan untuk pemerintah ngawi bisa buatin akses yang layak menuju ke kedua tempat wisata ini, biar makin maju daerahnya..😁😁
Ok, matur nuwun udah mampir dan baca tulisanku ini. Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum..😊😊

Nama yg bagus ( gn arjuno) untuk tanjakan yg asu

Assalamualikum…
Lama nih gak nyoret- nyoret. Pada kangen gak nih? Pastinya enggak ya..πŸ˜„πŸ˜„, udah saya bedek..
Oke kali ini aku akan nyritain perjalananku ke gunung arjuno welirang. Gak perjalanan juga sih, tapi mendaki. Eh.. Kalo mendaki kok gimana gitu ya, wong akunya gak pendaki kok..ah sembarang lah mau nyebut apaan..πŸ˜„πŸ˜„.
Waktu itu pas libur 3 hari. Oke fiks aku, eng dan bruno berkinginan ke arjuno. Pertama sih ngajak anak- anak pabrik. Tapi pada gak mau semua, yaudah cuma 3 orang aja. Tapi si bruno masih was was, wong dianya googling pantangan. salah satunya gak boleh ganjil…Biar bruno tetep ikut, aku dan eng terus membujuk rayu si bruno. Alhasil maulah si bruno..yeeeee 😍😍.
Malam minggu kami brangkat dari surabaya pake motor. Eh belum keluar dari surabaya udah ujan aja nih jalanan. Perasaanku udah gak enak nih. Kamipun neduh dan lanjut jalan lagi setelah ujan sedikit reda. Sebelum sampai tretes (pos pendakian arjuno welirang) kami mampir dulu ke tempat penyewaan tenda di sidoarjo. Kami nyewanya 3 hari, trus kata penyewanya β€œopo gak kurang mas nanjak 2 gunung 3 hari?” Tak jawab aja β€œcukup mas” padahal belum erti jalur dan medannya..πŸ˜„πŸ˜„. Trus di saranin lewat kebun teh purwosari karena teket masuknya gak berpatokan sama perharinya, turun kapan aja harganya tetep sama. Beda yang lewat tretes, yang biyaya parkirnya dihitung perhari. Tapi kami ngotot pengen liwat tretes. Selain deket dengan surabaya juga bisa langsung summit 2 bahkan 4 gunung langsung. Oh iya, rencananya sih kepingin summit 4 puncak sekaligus. arjuno welirang kembar 1 kemar 2. eh karna sesuatu hal , jadi cuma 2 puncak aja yg kesampaian.
Oke lanjut lagi, sesampainya di tretes kami cari makan dulu. Abis makan langsung ke basecame. Setelah proses pendaftaran kamipun langsung aja nanjak. Waktu itu jam 12 malam di temani rintik2 hujan. Dengan trek awal jln paving yg semakin keatas semakin kecil dan hilang. Tapi langsung ketemu jalan paving luas lagi dan belok ke kiri. Trus ada warung, sebenernya itu pos pet bocor tapi kami mutusin jalan terus. Dan mulai loyo di sebuah bangunan. Sudah gk kepake gitu. Mungkin tiket masuk jaman dulu kali ya. Setalah badan fit kami putusin jalan lagi,tapi sedikit seok2 sih ..πŸ˜„πŸ˜„. Di tengah perjalanan belum sampai pos kokopan kami putusakan untuk istirahat lagi. Eh malah ketiduran di tengah jalan, hampir 1 jam tidur disitu..πŸ˜„πŸ˜„. Bayangin. tengah malam, hujan rintik rintik,di tengah hutan, trus beralaskan batu2. Kok bisanya tidur gitu lo ya..haga. La kebangunya itu ada pendaki yang lewat dan omong permisi gitu. Yah kita bangun trus lanjut jalan lagi πŸ˜„πŸ˜„. Sampai kokopan jam 3 pagi. Kami sempetin hangatin dgn masak energen, trus tidur lagi deh. Bedanya sekarang tidurnya di bangunan semi permanen(warung ). Eh udah pagi. Si pemilik warung juga udah bangun, lah kok malah kami di marah2in dan di usir gitu…sial lagi sial lagi..emang salah kita juga sih..πŸ˜„πŸ˜„.
Sebelum lanjut ke pondokan kami ngisi perut dulu, udah kenyang lanjut nanjak lagiii..

Jalur bahis kokopan menuju pondokan. Dgn view penanggungan di belakangnya.

Terus berjalan terus berjalan *logat dorry nemo, eh kok gak samapi sampai gini ya. Baru berjalan 10 menit, istirahatnya 15 menit. Saking capeknya. Si bruno pas lagi istirahat malah ketiduran lagi. Padahal tadi malem udah tidur meskipun gk nyenyak, dasar keboo..πŸ˜„πŸ˜„.

Lelapnya si bruno .πŸ˜‚πŸ˜‚.

Hampir 30 menit bruno tertidur. Lah gak jalan2 nih kalo gini. Trus kami bangunin. β€œNdang ayo no” sahutku. Meskipun dikit2 istirahat akhirnya sampai juga di pondokan. Btw jalur dari kokopan sampai pondokan ini emang terkenal dengan tanjakan yang melelahkan. Jadi gak salah kalo jalur ini di sebut janjakan β€œasu”, la emang tanjakanya tanah asu tenan..πŸ˜„πŸ˜„.
Oh iya sampai pondokan aja jam 12 siang. 6 jam hanya lewati 1 pos, ampun deh..😡😡. Lalu kami langsung diriin tenda. Terus beli makan. Yaps, di sini juga ada yg jual makanan mekipun lauknya sederhana. Niatnya sih langsung summit welirang, tp brunonya gak mau ikut, yaudah aku dan eng aja yang summit. Dari pondokan ini traking 2 jam untuk sampai ke puncak welirang. Lah jlalah mak bedunduk kok sampai puncak malah berkabut badai gitu. Cari2 paklat tanda puncaknya ya gak ketemu juga, emang karna berkabut ini. Ah yang penting sekitar udah gak ada gundukan tanah yg lebih tinggi itulah yg jadi patokan puncaknya..πŸ˜„πŸ˜„.

β€œPuncak” welirang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜„

Karna takut keracunan belerang kami putuskan untuk turun ke pondokan. Eh belum sampai pondokan malah kehujan. Sampai tenda jam 4 sore langsung tepar, istirahat buat traking besok pagi ke puncak ogal agil gunung arjuno…(keesokan harinya…)
Mentari udah bersinar, tapi badan masih males buat gerak. Emang sih niatnya gk ngejar sunset, jadi ya males malesan sampai pagi. sekitar jam 7 pagi kami baru mulai traking, nah kaki udah terasa berat aja ini. Tanpa basabasi, sehabis sarapan langsung berangkat. Jalur yg kami lewati ini udah beda sama jalur basecame menuju pondokan, lebih sempit dan nanjak di area alas lali jiwo. Dari pondokan sampai puncak sendiri kita bakal ngelewati lembah kidang (semacam sabana gitu), alas lali jiwo (trek yg bikin kembang kempis idung) pasar dieng (tanah yg berhantu) trus sampai puncak ogal agil deh. Sampai puncak jam 11 siang. Yg bikin terkejutnya aku, ternyata anak anak mapala SMA ku juga muncak kesini. Tapi mereka lewat jalur malang. Wah kok bisa ketemu gini ya..πŸ˜„πŸ˜„. Tak berapa lama pembina mapala sekaligus guru sejarahku waktu SMA sampai juga di puncak. Lalu tak deketin, eh malah gak kenal ama muridnya dulu..πŸ˜’πŸ˜’, dan pada akhirnya kamipun ngobrol sebentar. Trus lanjut Selfie selfie karna itu fardhu ain..πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„. Jam 1 siang rombonganku turun, sampai pondokan jam 3 sore. Beli makanan di pondoka trus berkemas lanjut turun ke basecame. Lah pas turun ini si eng kena cedera kaki. Jadi perjalanan turun ini terasa lama biyanget, padahal ya gak banyak istirahat cuma jalanya pelan pelan gitu. Lah sampai basecame nya hampir larut malam. Krn bikin males trek ini kami beri nama aja jalan turun ini dgn sebutan turunan aras arasen(males malesan)..πŸ˜„πŸ˜„. Sedikit cerita nih pas turun. Sehabis kokopan kan udah larut sore. Rencana sih mau istirahat di bangunan bekas yang pas pertama nanjak buat kami berhenti. Eh pas sampai di sana denger suara sulingan yg nyaring sekali. Wah gak beres nih. Gak jadi istirahat disana deh kami. Dan pada hari berikutnya si eng di ceritain temennya yg pernah muncak ke sana, bahwa pernah melihat pocong di tempat itu. horor juga tempatnya ya…tapi alhamdulillah bisa selamat sampai rumah. Karna puncak sebenarnya adalah selamat sampai rumah(kos) masing..(skip..skip..skip..) Taraaaa…dan sampailah kita di basecame lagi..πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„
Terima kasih untuk bro broku. @agung.b.cahyono (eng) dan @ferian_eko( bruno). Kapan kita turu ngalas meneh? Katisen bareng? πŸ˜„πŸ˜„.
.
oh ya hampir lupa. Ini nih foto2nya..cekidot..

Pondokan dari kejahuan(arah ke puncak ogalagil)

Lembah kidang (karna dulu banyak kijang yg cari makan disini)

Alas lali jiwo. Mitosnya kalo denger gamelan bakalan tersesat gitu.

Pasar dien(pasar setan) faktanya di sini tempat kuburan pendaki dulu dan terdapat pal batas malang pasuruan. Btw pasar dieng ini tingginya hampir sama lo dengan puncak ogal agil

puncak ogal agil (3339mdpl) dari kejahuan nampak gagahnyanya semeru..

Bonus 1 foto lagi..πŸ˜„πŸ˜„

jalur menuju puncak welirang. Selain pendaki, para penambang belerang juga lewat sini.

Oke, cukup segitu aja ya ceritaku ke arjuno, jgn lupa baca ceritaku yg lainya..
kalo ada salah salah kata maapin aik ya..terima kasihh sudah mampir..😊😊😊

Kabud kelud

Halo gaes ketemu lagi sama aku. Kali ini aku mau nyritain pendakiaanku ke gunung kelud. Gunung kelud sendiri berada di antara 2 kabupaten yaitu kabupaten kediri ama kabupaten blitar. Kalo dari kabupaten Kediri sendiri bisa bisa menggunakan montor samai atasnya, tapi belum bisa sampai ke kawahnya karna masih dilarang. Kalo lewat blitar sih harus traking selama kurang lebih 3 5 jam an, tergantung fisik masing masing juga sih. Tapi itu semua terbayarkan oleh indahnya kawah gunung kelud yg berarna ijo ke greentea2an, kalo gk kabut (fk). Pertama sih kami mau nanjak berdua aja sama si eng, tapi karna si hendrik sama feri ngikut beserta rombongan para betina ya fixs kami berangkat beeerrr..tiktoktiktok ( masih ngitung) delapan orang. Nih aku kenalin satu satu, ada aku sendiri, agung eng, hendri tewe, ferian Bruno, mbk isbi(atun), mbk ikeh berbie, mbk rika si caca marica, mbk rumi si nitacubi. Udaah kan lengkap ber 8. Oke deh berangkat kita…
Dari Surabaya berangkat pas isya bawa motor. Kami ambil arah ke malang, wlingi lalu tulungrejo (desa terakir menuju ke gunung kelud). Lah tapi di tengah perjalanan tepatnya di gempol si ferian jatoh dari motor, tapi gpp sih. Abis itu kami putuskan istirahat dulu di pom bensin, kurang lebih 1jam an lah. Lanjut lagi perjalanan. Ampe malang kami berhenti lagi untuk ngisi perut yang kosong. Dianterin sama temenya hendri yg kebetuln kuliah di malang. Kami d bawa ke stasiun malang buat makanya (mungkin yang lain udah tutup, soalnya malam juga sih). Selesai makan kam lanjut lagi perjalanan, soalnya molor dari perkiraan..heege, bisa jam indonesa. Sampai tulungrejo jam 3 dinihari, pas di parkiran ada 3 orang di pos jaga, kami tanya2 kirain penjaganya, eh gak taunya pendaki yang mau daki kelud juga. Sekitar jam 4an pagi si penjaga basecame dating, pak wardi namanya. Lalu aku ngurus pendaftaran.dan biayanya 15k per orang, itu udah termasuk parkir, tiket masuk serta transport pake mobil pickup ke awal pendakian. Perlu kalian tau kalau rumah pak wardi sampai awal pendakian iu masih sangat jauh.
Abis subuh kami mulai pendakian. Masih gelap sih, alhasih senter hp kami nyalakan. Oh ya, saran aja kalo mau mendaki gunung kelu. Pakailah celana panjang, agar gak ke serang lintah, btw lintah lintah di saana banyak. Jadi secara gak sadar tuu lintah udah nancep aja di kulit kalian. Mbk ikeh aja jadi korbanya, jadi hati hati ya gaes.

noh mbk ike keserang lintah, padahal udah pake celana panjang.

Di sepanjang jalurnya kanan kiri adalah jurang. Di pos 2 cahaya mulai menampakan sinarnya. Di sini juga terdapat shelter buat berteduh para pendaki. Kami lanjut jalan lagi. Dan sampailah kami di pos 3, di sini puncak udah keliatan. Dan tempat ini juga adalah tempat paling afdol buat ndiriin tenda, meski Cuma muat sekitar 5 tenda. Abis itu nurunin punggung naga, dan sampai batas vegetasi, kabut angin badai mulai kenceng. Aduh persaanku udah gk enak nih. Kami isterahat dulu di sini, sambil nungguin badai reda. Abis udah reda tapi kabutnya kok masih tebel banget. Yaudah lanjut ngetrack lgi. Tapi mbk rumi sam mbk ike udah gak kuat lagi, jadi mereka nungguin kami di sana.. Tpi sampai atas malah kabut semakin tebel, mungki jarak pandangya Cuma 5meteran. Akhirnya kami turun lagii, tnpa bisa nikmatin pemandanga kawah keludnya. sampai di bawah, si pak wardi baru cerita mitosnya kalo kita teriak teriak di atas bakalan dateng kabut dan bisa bisa kabutnya makin tebel..lah, kenapa gak bilang dari awal mendki pak..adeehhh..oke deh nih foto2nya, meski gak layak buat di tonton, hege.. buat syarat ngelog aja sih, ok deh, cekidoot..

jalur naga, kanan kiri jurang..

Batas vegetasi

ya cuma sampai sini doang, gak sampai kawah.

oke, tengkyu ya udah mampir di bloggku. saran ku, baca lagi tulisanku yang lain, meskipun gak bagus bagus amat sih, dan maaf kalo ada salah salah kata ya gaes..
siyuuuu…

Lost in dieng part 2: mendaki gunung prau

nih nglanjutin ceritaku mbonek ke dieng beberapa waktu yang lalu.. nah abis dapet tumpangan tidur di warung yang rumayan anget. Kamipun bangun sekitar jam setengah 2 malam. dan sebelumnya kami udah cerita ke penjaga warungnya kalo sekitar jam segitu mau mendaki gunung prau. ya jadi pintu rumah si penjaga warungnya sengaja gak di kunci gitu. acungin jempol deh sama ibuk penjaga warungnya. padahal barru aja kenal sama kami, tapi udah kayak saudara yang lama gak ketemu, saling percaya gitu.
oke lanjut ke alur cerita, jadi setengah 2an malam kami kebangun dan ngrapiin bantal serta sellimut. terus langsung meluncur ke basecame gunung prau via patak banteng . btw warung tempat kami menginap sama basecame patak banteng itu deket, seekitar 500meteran lah. Sampai di basecame teernyata disaana udah banyak yang mau muncak. Oh ya kami rencana hanya mau tiktok aja naik ke gunung praunya. Pas di pos perizinaan kamipun di sarankan menitipkan kentrung yg kami bawa di pos perizinan. Btw kami kedieng ini emang bawa kentrung sih..hege. trus sama petugasnya kalo mau tik tok disaranin branggkat jam setengah 3 aja. Karena sampai puncaknya yang singkat jadi pas sampai puncak pas munculnya sunrise. Tapi kami abaikan saran petugas. Pikirku kami mau jalan pelan pelan aja, paling sampai puncak molor.
Abis mendaftar kamipun menunggu jam 2, karna masih lama kami sempatkan buat berapi di warung deket basecame, rumayan buat nangkal yang dingin dingin. Jampun udah menujukan jam 2, kami mulai deh pendakian gunung prau. Pertama nanjak nanjak aja kami udah tersesat tipis tipis. yang seharusnya ambil arah kanan ke rumah warga, eh ami ambil arah kiri kke perkebuna warga. Yaudah akhirnya kami kembali ketempat semula. Lah pas juga bareng banyak rombongan, yang pas itu ada didepan kita. La karena rombongan depan kita sering istirahat mulu, kami di izinin nyalip duluan. Perlu kalian tau nama nama posnya itu ada : seibu tangga, sikut dewo, cacingan, bukit teletabis serta view poin buat ngecame serta ngliatin sunrise gitu..
Nah pas di cacingan angin kabut mulai kenceng kencengnya tuh. Sampai puncak aja masih gelap gulita, sekitar jam 4 pagi kalo gak salah. Kog gak mncul muncul nih sunrise. 3jam kami hanya muter muter sekitaran situ saja. Dalam keadanan kecewa kamipun turun di temani angin serta kabut yang masih aja kenceng. Sekitar jam 8an angi mulai tenang serta kabut mulai hilang. Mungkin karna keadaan kami udah di baawah kali ya. Sialnya lagi pas turun senddalku putus. Mau gak mau akupun nyeker sampai bawah. Sampai bawah trus aku beli ssandal jepit..
Gitu deh pokoknya memang keberuntungan gak selalu berpihak pada kita, emang lagi musim hujan juga sih. Jadi ya sering kabut gitu. Oh ya sebelum balik ke ngawi kami sempatkan dulu beli mie makanan khas dieng serta minuman purwaceng. Dan ini nih foto fotonya

puncak yang badai dan berkabut

turun di pos cacingan yang masih berkabut

nyeker. karna sandalku putus pas di atas..

Udah gitu aja tulisanku dari dieng, sorry kalo ada salah salah kata yang nggak berkenan di hati kalian gaes.
Tengkyu udah mau mampir di blogku yaa … siyuuu ..

Lost in dieng part 1

Dieng, daratan tinggi di pulau jawa. Tepatnya di jawa tenga, perbatasan antara wonosobo dan banjarnegara. Menurut info yang aku dapet sih dieng merupakan daratan berpenghuni tertinggi di indonesia dan nomer dua di dunia setelah dataran tinggi tibet di daerah pegunungan himalaya sono, tingginya aja rata2 1700an mdpl. Nggak heran kalo pas musim kemarau suhunya pas malem bisa sampai 0 derajat. Dan biyasanya turunlah upas embun, semacem embun membeku kali ya, btw upas embun ini bisa buat taneman petani jelek.
Ok, kali ini aku akan nyritain perjalananku bersama eng ke dieng. Mumpung libur panjang natal dan tahun baru kami sempatkan ngetrip jauh dulu kali ya, sebelum pulang kerumah masing2. Btw libur panjangku kali ini sekitar 2 mingguan. jadi puas2in aja liburanya, gk di kejar waktu gitu. Aku mulai aja kali ya critanya.
Berangkat dari surabaya sore hari naik bus sugeng rahayu jurusan jogja.kami turun gk di terminal giwangan (terminal jogja) tp malah di pertigaan ring road timur jurusan magelang. Dgn asumsi kalo sampai giwangan masih harus muter lagi. Wah ternya tempat kami turun itu gak ada bus yang lewat ke magelang. Karena eh karena hari belum pagi, jam tanganku masih menunjukan jam 2.30 dini hari. Kami tunggu2 di pertigaan itu datanglah seseorang yg juga bermaksud menunggu bus liwat. Si orang itu trus bercerita kalo dia dari ngawi mau ke secang, la tapi karena uangnya jatuh saat turun dari bus dan tinggal 20 ribu(kalo gk salah). Dia lalu berniat menjual hpnya ke saya, tapi tak tolak… 30 menitan kami bertiga menunggu, datang seseorang yg nawarin ojek mobil menuju ke terminal jombor(sub terminal jogja) si orang ngawi tadi lalu minta bantuan kami agar mau membayar setengahnya dari ojek mobilnya tadi. Ok deh mas, saya batu. Lah pas di dalem mobil si mas2nya itu di depan sama si sopirnya, cerita2 yg di alamin semalem. Pada akhirnya sopir itu nasehatin serta ngasih bantuan agar bisa sampe secang.
Lah kog malah nyritain orang lain yak..hege, ok kita lanjut ke topik pembahasan aja deh. Abis sampai jombor kami langsung oper bus ke magelang pake bus mustika, naikpin masih pagj sekitar jam 5an. Jam setengah 7 kami sampai magelang dan oper bus lagi menuju wonosobo pake bus kecebong jaya. Nah di bus yang satu ini perjalanannya so lama banget, jaraknya yg jauh dan ngetimenya yg lama adalah faktor lamanya perjalanan pake bus ini. Tp semua itu terbayarkan setelah liat megahnya gunung sindoro sumbing yg berada di kanan dan kiri kami. Yak seperti gambar2 yg biasanya kita buat pas waktu Tk, dua gunung dgn jalan di tengahnya. Semacam itu lah pokoknya. Udah sampai di wonosobo kami oper lagi, kali ini naik angkot menuju kauman. Sebenarnya sih ada yg bisa langsung ke dieng, tp itu tergantung kuota dan biasanya nunggu full, tp kami lebih memilih naik yg dari kauman krn gk harus nunggu full. Abis sampai kauman kami oper lagi ke jurusan dieng. Kami sampai dieng sekitar jam 10an pagi. Kami gak tau harus mulai dari mana. Tapi si perut yang menjawabnya, alhasil kami cari makan deket2 situ saja, sambil cari sarung tangan secara udaranya udah mulai dingin.
Kuy kita mulai perjalanan kita, destinasi pertama. Yg deket dari jalan raya situ, yaps bukit petak sembilan. Bukit ini menampilkan view telaga warna dan pangilon, sama sih kyk di batu ratapan angin. Tp kalo di petak sembilan viewnya ngambil dari sisi yg berbeda. Untuk tiketnya juga lebih murah dari destinasi wisata kawasan dieng yang lain. Mungkin karna tempat baru kali ya. Dari atas bukit terdapat rumah2an pohon gitu. Ini gw kasih photonya aja biar gk penasaran
bukit petak sembilan, tp sayang telaga pangilon sama telaga warna ketutup kabut.

Bukit petak sembilan

Abis ke petak sembilan, kami lanjut ke batu ratapan angin. Yuk jalan.. oh ya kami kesono jalan kaki juga. jauh sih, tapi apa boleh buat, namanya juga mbonek..hege . Di bukit ini sendiri banyak pilihan, mulai flaying fox yg kononya flaying fox tertinggi di indonesia raya ini, jembatan merah putih, foto bareng burung hantu, foto di gardu pandang yg ada tulisannya ratapan angin dan yg paling umum ya foto di batunya ratapan angin itu. Tapi Di setiap spot yg gw sebutin tadi masih bayar lagi, kecuali dedengkotnya si batu ratapan angin itu sendiri. Dan kami sih milih jembatan merah putihnya. Itupun kami gk tau kalo naik kesitu bayar lagi, ya kepaksa ngrogoh pengeluaran tak terduga..hege , nih photonya jembatan merah putihnya

jembatan merah putih, padahal warnanya merah biru..

Abis dari ratapan angin kami meluncur lagi ke dastinasi berikutnya. Yaitu komplek candi dieng, jalan lagi jalan lagi. Untung di tengah jalan ada yg mau ngasih tumpangan, alhamduliliaah.. udah nyampe di candinya, kami akhirnya bayar tiket terusan ke kawah sikidang juga. Btw wilayah candi ini udah wilayah perbatasan antara wonosobo dan banjarnegara. Dalam komplek ini terdapat beberapa candi, antara lain: candi gatotkaca, arjuna, srikandi dll. Di tempat ini juga biyasanya di gunakan untuk acara DCF (dieng cultur festival) sebuah acara tahunan di dieng yg byasanya di lakui pas bln agustus. Di tempat ini byasanya upacar pemotongan rambut gimbal serta pelepasan lampion di adain. So pas acara ini banyak wisatawan yang berkunjung ke dieng, dan ini adalah salah satu cara agar mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar. Nih langsung gw kasih photonya aja gaes, padahal gak pas acara DCF lo tapi pengunjungnya itu ruame pol..cekidot..

tuh rame kan..(abaikan bapak2 teroris.. ).

Lanjoot.. abis di percandian dieng kami langsung meluncur ke tempat yg telah tertera di dalam tiket terusan tadi, yaps kawah sikidang. Dari sini kami harus jalan lagi, di tengah perjalanan ada yg godain kami siapa lagi kalo bukan bapak2 tukang ojek. Tp kami menolaknya mentah2. Dgn alasan pasti ada mobil lewat yg boleh kami tumpangin, tp itu di ngomong di dalem ati sih.. . Benar saja ada yg ngasih tumpangan setelah di rayu sama bapak2nya tadi. Oke, meloncor kitaaa..

tengkyu mas2nya udah boleh di tumpangin .

Sampai di kawah sikidang lah kog si eng gak mod ke kawahnya, alhasil ya cuma poto2 di tulisannya aja. Abis itu langsung cabut..

gak sampai ke kawahnua gaes .

abis puass main di kawah sikidang trus kami lanjutin ke desa sembunga, tempat dimana bukit sikunir dan telaga cebong berada.
Btw, ds sembungan ini adalah ds tertinggi di pulau jawa. Ketinggianya mencapai 2300mdpl. Gak heran kalo jam 3 sore disini kabut udah tebal banget. Dan pas kesinilah perjalanan terberat kami.
Kenapa bisa dikatakan berat? Karna jarak dari kawah sikidang sampai ds sembungan ini lumayan jauh 5km jalan kaki dg medan yg naik turu. ya iya lah, namanya juga daerah pegunungan. Belum lagi kami harus berburu dengan waktu, karna langit semakin gelap. Alhasil ditengah perjalanan di tengah perkebunan warga yg notabene nggak ada rumah untuk berteduh. hujanpun mulai datang. Kami berlari dengan harapan ada perumahan warga di depan sana. Tp rencana tuhan berkehendak lain, datang mobil bak terbuka milik petani yng kebetulan ingin ke telaga kecebong, akhirnya kami ikut nebeng sampai telaga. Beruntungnya lagi kami tak di kenankan tarif masuk ke telaga karna β€œgak ketahuan” sama penjaga tiket. Awalnya sih gak ketahuan, tp setelah mobilnya melewati gerbang tiket si penjaga tiketnya tahu, kamipun diteriaki tapi kami nggak nggubris. Untung saja kami gak di kejar..πŸ˜€πŸ˜€. Sesampainya di telaga cebong kami langsung naik saja ke bukit sikunir. Sepi sih, bahkan hanya kami berdua yg naik ke bukit. Memang bukit sikunir ini rame pas saat pagi hari melihat golden sunrise. Hanya butuh waktu 30menitan unuk sampai ke atas, dari atas bukit kita bisa melihat telaga kecebong dan ds sembungan dari keatas. Jalanya naik sudah tertata baik.

Jalan tikus dari kawah sikidang menuju ds sembungan. Melewati pipa pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Telaga kecebong dan desa sembungan jika dilihat dari bukit sikunir

Puas berada di atas bukit kamipun turun, timbul satu masalah dimana bagaimana caranya agar kami bisa sampai ke jalan utama dieng dengan cepat. Masalahnya hari itu udah mulai petang. Tapi emang rejeki nggak kemana, sampai di bawah ada mobil bak terbuka lagi yg ingin pulang. Beruntungnya lagi kami diantarkan sampai ke jalan raya. Diperjalanan kami menyamar sebagai petani sekitar dgn cara memakai β€œcapil” untuk melabuhi penjaga loket agar tak ketahuan..πŸ˜‚πŸ˜‚.
Sesampainya di tempat kami cari masjid untuk bersih bersih diri, karna sedari perjalan kami diguyur hujan. Sehabis hujan reda, kami keluar dari masjid dan mrncari warung makan. Di warung makan itu kami ngobrol ngalor ngidul sama penjualnya, sampai akhirnya kami disurung tidur disitu saja. Dikasih slimut sama bantal pula. Trimakasih ya buk, tau aja kalo kami kedinginan. Pukul 12 malam kami keluar dari warung itu tanpa sepengetahuan si pemilik warung ya tau sendiri jam segitu udah tidur. Toh kami udah omong kalo jam setengah 2 malam kami izin pamit buat pendakian gn.prau. Singkat cerita kami keluar dari warung itu dan berjalan kaki menuju basecame gn.prau yg tk jauh dari warung tadi..

Bersambung…

Hampir mati di gunung Merbabu

November 2016 aku muncak ke gunung merbabu. Berangkat dari kos jam 19.00. aku, eng, zaki sama fery berangkat menggunakan motor menuju terminal bungur. Kala itu hari kamis, mumpung libur akhir bulan 2 hari kami putuskan untuk nanjak ke gununug merbabu. Kami berangkat ke boyolali naik bus sugeng jurusan solo, oper lagi ke boyolali. Sampai boyolali jam 03.00 dini hari dan masih harus ngambil dome yg kapan hari kami pesan. baru kami berangkat ke selo dgn bus mini, desa ini adalah pos untuk 2 pendakian gunung yaitu merbabu dan merapi. Sampai pasar selo kami cari makan dulu. Abis itu jalan kaki menuju basecame, eh ternyata jauh banget. Kita aja baru beberapa langkah jalan udah main istirahat aja. Ini sama aja basecamnya di warung yg tadi kita buat sarapan haga. Pas kita lagi istirahat di jalan tiba2 ada warga yg nawarin tumpangan ke kita gitu. Dgn di boncengin motornya kita di tawarin mau lewat gancik (basecame baru) atau yg besecame lama. Dan kami putuskan lewat gancik aja, kebetulan basecam gancik dekat dengan rumahnya mas2 tadi. Memang rumahnya masnya itu dibuat untk resarea para pendaki gitu. Sebelum kami daki, kami istirahat dulu di rumah masnya plus mandi. Tau gak, air disana tu super duper dingin banget, sampai2 mandi aja tubuhku ngluwarin asep, keren gk tuh. Okeh abis teris full energi kami. Kami siap memulai pendakian.berangkat jam 09.00pagi. Dgn trek masih berupa jalan cor menuju gardu pandang gancik jalanya udah nanjak aja broh.

Selain buat basecame pendakian, gancik juga di buat sebagai tempat wisata. Perbedaan basecame gancik sama basecame pendakian selo lama hanyalah dari pos 1 dan 2 saja, setelaah itu pos 3 berada di jalur yang sama yaitu batu tulis. Sedikit cerita di perjalanan dari pos 1 ke pos 2. Pas gue jalan dgn mendengarkan mp3 dari hp, tiba2 pendaki depan gue joget2 sendiri gitu dengar mp3 gue. Mungkin karna lagunya campursari didi kempot kali ya. Jadi si pendaki itu bisa nikmatin musik yg gue play haga. Oke lanjut ke perjalanan.

Sedikit info ya, kalo pendakian merbabu via gancik ini terdapat beberapa pos. Yaitu pos 1 ( dgn vegetasi hutan lindung ) pos 2 ( vegetasi tumbuhan perdu dgn tinggi rata2 3 meter), bukit teletubies (batas vegetasi dari hutan ke padang savana), pos 3 atau batu tulis ( bertemunya jalur gancik dan jalur pendakian merbabu lama), pos 4 (sabana 1), pos 5 ( sabana 2), watu lumpang, puncak gunung merbabu.

Dari sekian banyak pos. Menurut gue yg paling lama nanjaknya ya dari batu tulis ke sabana 1.

Dan kami sedikit ragu ketika sampai di sabana 1 menuju sabana 2. Anginya itu loh kuwenceng banget, jadi ketar ketir gitu. Tp karna tekad kita yg kuat ya akhirnya sampai juga di sabana 2 dan dengan cuaca yg tak mendukung kami bangun tenda, sulit lo bangun tenda dgn angin kuwenceng itu, hampir setengah jam dah mbangunya. Oh ya kami sampai sabana 2 jam 3sorean. Dari kita sampai hingga mau summit pas dini hari angin2nya gk berhenti kenceng2 nya. Pas malemnya kita kyk di taruh dalam lemari es bersuhu minus 0Β°c , la kenapa.? Karena kami tidur gak pake matras alias beralas tanah yg amat dingin. Sampai2 tidur aja gk bisa,pengen2 cepet pagi deh.

Oke, jam 3 dini hari kami masak, dan taraaa. Masakan kita gak jadi, nasi kita belum mateng, dan tetep kita makan. (Sakit sakit dah perut lo haga) abis selesai masak kami trus summit jam 4 dan sampai puncak jam setengah 6. Dan apa yg terjadi ? Viewnya gk keliatan gaes. Merapinya ketutup awan dan itu terjadi hingga jam 7 dan kabut semakin tebel. Ok karena ngeburu waktu dan kami harus kembali kerja besok akhirnya kami turun jam 7 dari puncak, gue saranin kalo ke merbabu jangan musim penghujan ya, nantinya ya kyk kami, dapat zonk. Dan saking terburu2 gue malah jatoh hingga muka gue babak belur, kejadian itu pas jalur dari puncak ke watu lumpang. Mungkin juga faktor sepatu gue yg udah aus dan angin yg begitu kenceng. Untung di batu lumpang ada air di liangnya, gue buat bersihin muka gue aja yg blepotan kena tanah. Di perjalanan turun pun kendala mesih menimpa kami, persediaan airnya abis, matih nih. Dan kami turun dgn terpisah pisah, gua pun yg hati2 untuk turun akhirnya sampai di bawah yg terakhir hege. gak papa lah, yg penting selamat.

Sampe gancik lagi jam 10 pagi dan karena masih ngisi perut dulu akhirnya kami berangkat kesurabaya jam setengah 2 siang, molor apa yg kita rencanain. Ok akhirnya sampai puncak yg sesungguhnya, yaitu kos2an. Hege, sampai kos jam 1 malam. Langsung tepar. Dan besoknya kami mulai mburuh lagi ..oke makasih udah mau mapir di blogku yang kumuh ini.

Oh ya, ini nih foto2nya..

Basecame gancik

Track dari batu tulis ke sabana 1

Sabana 2

Puncak kenteng songo.

Dari pendakian ini saya belajar. Bahwa keselamatan adalah puncak yang utama. Mengalahkan kecepatan dan keterburu buruan..

Oke, trimakasih udah baca blogku..πŸ˜‰πŸ˜‰

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai