Bukit Bundu, melihat jalur lahar dingin gn Semeru.

Azan subuh mulai berkumandang. Aku pun di bangunkan oleh Irvansyah alias Gepeng, temen satu kosan via missedcall. Karena sebelumnya kami udah janjian untuk melakukan perjalanan menuju ke Malang. Sebenernya janjian jam 3 sih, tapi karna aku masih ngebo akhirnya kami baru berangkat setelah subuh.

Rencana hari ini kami ingin ke pergi ke 2 tempat yang ada di perbatasan antara Malang dan Lumajang. Yang pertama ke bukit Bundu dan dilanjutkan ke Tumpak sewu. Dimana ke dua tempat ini berjarak gak terlalu jauh. Perjalanan kami tempuh dari Ngoro sampai ke bukit Bundu sekitar 3 jam bersepeda Motor.

Bukit Bundu berlokasi di ds Purwoharjo kec Ampelgading, Malang. Jalanya searah sebelum PLTA Ampelgading. Disaat kami mau sampai lokasi, kami sempat tersesat. Kami hampir sampai ke PLTA Ampelgading. Sadar jalanan mulai turun, kamipun putar balik. Disaat itulah bukit baru kelihatan dari jalan yang kami lewati. Oh ya, dari jalanan ini kami juga bisa melihat air terjun yang ada di samping kanan. Entah air terjun apa namanya, yang jelas ketinggianya kurang lebih 100 meter.

Foto aku ambil dari jalan menuju ke bukit Bundu

Parkiranya berada di tepian jalan dekat pintu masuk. Jadi untuk mobil hanya muat beberapa aja. Saat itu loket masih tutup. Tanpa pikir panjang, kami langsung trobos aja dengan mengunci ganda sepeda motor agar lebih aman. Ditambah lagi helm kami bawa menuju ke atas. Mumpung gratis, hehe. Eh pas kami balik ternyata udah ada yg jaga. Kamipun akhirnya membayar tiket Rp 10.000 untuk parkir.

Ok, kembali ke perjalan naik.

Tracking ke puncak Bundu ini gak terlalu lama, sekitar 10 – 15 menit sampai di puncak. Kanan kiri di perjalanan naik banyak di tanami kopi, toilet dan kandang kambing. Ya, terdapat juga kandang kambing milik warga disini.

Sampai puncak, lelahnya perjalanan seketika hilang. Pasalnya kami bisa melihat pemandangan indah dari atas sini. Mulai dari gagahnya gunung semeru, hutan dengan tebing tebing yang curam kayak di jurasick park dan yang paling menarik dari puncak Mundu ini adalah view sungai aliran lahar dingin Gunung Semeru. Sungai yang lebar seperti lembah menjadi ciri khas dari panorama puncak Bundu

Layaknya bukit bukit wisata yang ada di Indonesia, di puncak Bundu juga terdapat beberapa Spot . Antara lain, ada spot tangan, spot papan panah, dan meja kursi di pinggir tebing. Di sisi yg lain juga terdapat papan dengan tulisan BUNDU. karena saat kesini masih pagi dan masih tutup, jadi diatas bukit hanya ada kami berdua.

Bukit Bundu dengan latar belakang sungai aliran lahar dingin.

Melanjutkan ke destinasi ke dua, tumpak sewu. Sebelum sampai ke tumpak sewu kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Sebab dari pagi perut belum terisi sama sekali. Hanya roti yang kami beli di Alfamart sebelum sampai di puncak Mundu tadi.

Ini adalah kali ke tiga ku mengunjungi tumpak sewu. Yang pertama saat tumpak sewu baru dibuka di tahun 2015, dan yg kedua disaat bareng2 sama anak anak se desaku, lupa sih tahun berapa. Dan keduanya lewat tiket masuk Malang. Jadi kali ini yg pertama kali lewat dari Lumajang. Sedangkan Gepeng baru pertama kali. Jadi sebenernya Gepeng lah yang nyidam pengen ngajak kesini.

Sampai lokasi kami harus membayar parkir sepeda motor sebesar Rp 5.000 dilanjutkan tiket masuk Rp 10.000 per orang. Disini fasilitasnya lengkap, maklum wisata yang udah tersohor. Setelah membayar tiket masuk, dilanjutkan berjalan kaki turun kebawah kondisi jalan yang udah cor – coran. Diperjalanan kami suguhi ladang salak yang menjadi komoditi warga pronojiwo. Sekitar 5 -10 menit kami akhirnya sampai di view panorama.

Bagus ya. Panoramanya..

Di tempat ini kami bisa melihat keindahan tumpak sewu dari atas beserta gunung Semeru dari kejauhan. Perbedaan jika dari Malang, view dari Lumajang ini terbilang tampak dari depan tumpak sewu. Sedangkan dari Malang, tampak berada di samping

Perbedaan yang lain, saat kami turun dasar air terjun. Dari arah Malang jalur sangat curam dan harus menggunakan tangga, sedangkan dari Lumajang jalurnya tergolong landai. Kami membutuhkan hampir 30 menit untuk sampai ke bawah air terjun. Melewati aliran air yang cukup licin. Jadi harus ekstra hati hati.

Kebetulan sebelum kami kesini atau lebih tepatnya kemarin, tumpak sewu sedang terkena lahar dingin, jadi daun daun di pinggiran sungai yg semula berwana hijau nampak putih terkena banjir bercampur lumpur. Oleh sebab itu pengunjung cuma dibatasi turun sampai jam 15.00 saja. Toh itupun air dari air terjun utama juga nampak masih keruh akibat banjir kemarin.

Spot bawah yang paling banyak dikunjungi wisatawan sih yang sebelah kanan. Naik ke sebuah tebing yang menjorok gitu. Tapi sekarang kami ingin mencari spot yang kurang ramai di kunjungi, yaitu di sebelah kiri. Kami harus menyebrang sungai lagi untuk sampai ke spot ini. Enaknya dari spot ini, hempasan air gak terlalu deras. Jadi lensa kamera bisa lebih lama dalam membidik objek. Meskipun tetep ngelapi jugs sih, tapi setidaknya gak sesering kalo kita berada di sebelah kanan

Harus ekstra hati hati untuk sampai ke titik spot foto ini.

Ok, segitu dulu ceritaku ke bukit Mundu dan Tumpak sewu. Udah dulu ya, ngantuk akutuh..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai