Gunung Gajah digapai dengan mudah

Sehari setelah menelusuri peradaban kabupaten Madiun (situs Nglambang dan situs sendang kamal. Aku dan mas Ryan berencana pergi ke Ponorogo. Tepatnya menuju ke gunung Gajah.

Berangkat dari rumah menjelang subuh, kami sempatkan sholat subuh di masjid dekat rumahnya mas Ryan. Seberes sholat, kami langsung berangkat menuju Ponorogo.

Lokasi gunung Gajah sendiri berada di kecamatan Sambit, Ponorogo. Sekitar 25 km ke arah selatan kota Ponorogo. Kami hampir saja salah jalan karena ngikutin Google maps, untung saja akhirnya tanya ke penduduk sekitar.

Gunung Gajah ini aksesnya tergolong mudah. Sebab untuk sampai ke puncak nggak perlu berjalan kaki lama lama. Kendaraan bisa sampai ke atas dekat puncak. Karena memang dilalui jalan penghubung antar desa gitu.

Meskipun gak menguras fisik, kondisi kendaraan harus di perhatikan. Karena 2 km awal kondisi jalanan rusak, jadi tetap harus hati hati. Tetapi setelah itu jalanan mulai mulus, dari mulai yang aspal hingga cor coran. Jika di samain, gunung Gajah ini sama seperti gunung Telomoyo di Jawa tengah, sama sama dapat di akses dengan kendaraan.

Penduduk sekitar menyebut puncak gunung Gajah ini dengan sebutan puncak Kuik. Kalian gak usah kawatir dengan perbekalan, sebab di pinggir jalan deket puncak terdapat beberapa warung. Selain itu juga ada penyewaan alat outdornya juga, jadi jika kalian berniat ngecamp di puncak bisa banget nyewa langsung disini.

Dari atas puncak Kuik, kalian bisa melihat hamparan sawah yang ada di bawah hingga lautan awan, tapi jika kalian beruntung juga sih. Terlihat juga gunung Bayang kaki yang masih di wilayah Ponorogo.

Sedikit turun kebawah dan brasak brasak (tau ah bahasa indonya apa) ada air terjun yang kemungkinan cuma ada pas musim penghujan. Gak cuma satu, air terjun ini ada dua dan itu berdekatan. Uniknya, salah satu air terjun atasnya adalah persawahan teras sering yang pembuangan irigasinya turun langsung menjadi air terjun.

Dan setelah dari situ kami akhirnya pulang deh..

Udah segitu dulu ye..

Argo Munung, bekas galian jadi tempat wisata dan wisata baru Cekok mondol|Ngawi

Alhamdulillah, hari raya Idul adha libur kerja 3 hari. Jarang jarang sih bisa libur panjang gini, meskipun pas tahun baru islam besok gak libur karna udah di ganti di hari raya Idul adha ini, tetep syukuri. Karna Idul adha libur panjang, aku sempetin buat pulang kampung ke Ngawi. Pulang kerja jam 11 malam, aku langsung berangkat . Dan sampai rumah sekitar menjelang subuh.

Sesuai judul yang udah aku tulis di atas, kali ini aku akan ajak mengunjungi suatu tempat di daerah Ngawi, bernama Argo munung. Lokasinya berada di ds Karangupito, kec Kendal, kab Ngawi.

Bersama temanku Mega, kami udah merencanakan pergi ke Argo munung ini kapan kapan hari. Syukur bisa terlaksana, karna biasaya aku kalo ngerencanaain pergi ke suatu tempat, ujung ujungnya pasti gagal.

Rencana semula berangkat jam 6 pagi akhirnya harus molor jadi 8 pagi. Karna banyak pekerjaan yang gak terduga duga. Seperti harus ke makam orang tua dulu dan benerin motor. Jadi kami baru bisa jalan sekitar jam 8 pagi

Jarak dari rumah ke lokasi wisata Argo munung sekitar 50 km atau 1 jam perjalanan. Tapi kalo dari pusat kota Ngawi sampai ke Argo munung sekitar 30 km an. Jalannya cukup enak kok. Mungkin hanya jalan masuk ke lokasinya aja yang belum memadai, sekitar 300 m menuju ke lokasi Argo munung masih berupa makadam. Selebihnya sudah bagus.

Tidak ada retribusi masuk ke Argo munung ini. Cuma ditarik parkir 3k untuk sepeda motor dan 5k untuk mobil. Parkirnya pun juga luas, mungkin bisa menampung 10 hingga 15 mobil.

Argo munung sediri dahulu adalah lahan bekas galian batu yang kurang terawat. Atas inisiatif dari para pokdarwis (kelompok sadar wisata) desa Karanggupito, tempat yang dahulu bekas galian diubah menjadi sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Apalagi dari tempat ini, perekonomian warga desa Karanggupito dapat terangkat melalui penjualan souvenir penarikan karcis dan lain sebagainya.

Ada hal hal yang menarik di area wisata Argo munung itu sendiri. Atara lain adalah taman bermain, bukit bukit berbatu dan kolam renang. Fasilitasnya pun juga terbilang lengkap, mulai dari gazebo, pendopo, warung makan dan toilet. Dan berikut ini akan aku jelasin satu persatu.

Taman bermain. Di taman bermain Argo munung ini memang gak terlalu lengkap. Tapi cukup lah kalo untuk dapat nyenengin anak anak. Mulai dari jungkat jungkit, ayunan, hingga prosotan ada disini.

Kolam renang. Ini salah satu icon dari Argo munung itu sendiri, yaitu kolam renang.uniknya, kolam renang ini gak berbentuk persegi, melainkan berbentuk seperti motif bekas kaki t-reks gitu. Kedalamanya sekitar 2 m jadi gak bisa buat berenang untuk anak anak. Meskipun gak bisa buat anak anak, sebenernya semenjak adanya pandemi, kolam renang ini udah gak di perbolehkan untuk berenang bagi siapapun juga sih. Sangat sayang sekali ya..

Bukit bukit berbatu. Tempat yang satu ini menjadi tujuan muda mudi buat berswafoto. Terdapat setidaknya 3 spot foto yang ada di bukit bukit berbatu ini. Jalan naik menuju ke bukit berbatu ini juga sudah tertata rapi, di lengkapi tangga yang juga terbuat dari batu. Di atasnya juga tersedia tempat duduk buat nyantai. Dari bukit ini, kalian bisa melihat gagahnya gunung Lawu dan hamparan alam yang ada di bawah.

Fasilitas yang tersedia di Argo munung ini antara lain ada gazebo. Ada beberapa gazebo disini, cocok di gunakan untuk bersantai bersama keluarga. Lalu ada pendopo, jika kalian mempunyai perkumpulan yg ingin melakukan rapat atau sebagainya, di pendopo ini dapat digunakan. Tapi sebelumnya izin dulu.

Argo munung ini buka 24 jam. Jadi selain siang, kalian juga bisa melihat indahnya suasana di malam hari. Gak cuma itu, kalian juga bisa ngecame di lokasi Argo munung ini.

Setelah puas dengan Argo munung. Kami lanjutkan menuju ke destinasi selanjutnya, yaitu Cekok dodol

Cekok dodol adalah sebuah mata air yang berada tidak jauh dari Argo munung. Lokasinya berada di ds kec Kendal. Tempat yang satu ini belum banyak orang yang tau. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa Klik disini untuk lokasi persisnya.

Cekok dodol mempunyai sebuah mata air yang di tampung dan dialirkan ke kolam kolam yang ada di dekatnya dengan menggunanakan pipa besi. Ada 3 kolam di area cekok dodol ini. 1 kolam untuk kolam irigasi bagi persawahan sekitar dan 2 kolam lagi untuk kolam renang.

Sayangnya Cekok dodol ini belum seratus persen rampung digarap. Jadi saat kami kesini belum ada tiket masuknya. Tapi kedepaanya menurut info yang aku dapat, cekok dodol ini akan serius digarap pemkab Ngawi. Sehingga kedepannya akan menjadi destinasi andalan dari kecamatan kendal dan kabupaten Ngawi.

Udah segitu dulu ya cerita kali ini. Tak bobok dulu.. Mikummm..

Reunian kita: Sumber Sendang (sendang Growong), tempat ciblon anyar dan instagenic di Magetan.

Libur tahun baru kali ini masih ngeblank mau kemana. Sebenarnya sih udah males kemana mana, soalnya pasti jalanan rame, begitu pula dengan tempat wisatanya. Tapi saya tau tempat- tempat tersembunyi yang jarang banget di kunjungi oleh wisatawan. Ok, akhirnya saya menghubungi Feri dan Eng untuk pergi ke tempat-tempat ini, itung- itung reunian saat saya masih kerja di Surabaya. Eng yang semula berada di Bojonegoro, setelah saya hubungi langsung meluncur ke rumah mertuanya yang berada di kec Bendo, Magetan. Saya dan Feri janjian di pertigaan patung Maospati untuk bersama sama menuju ke Bendo. Di sana Eng mengajak adiknya. Akhirnya kami ber empat menuju ketempat yang ingin kami kunjungi ini.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Sumber Sendang atau sendang Growong. Lokasinya berada di dusun Growong, ds Sumbersawit, kec Sidorejo, Magetan. Bermodalkan maps dan bertanya warga sekitar akhirnya kami sampai di lokasi. Meskipun harus ada tragedi putar balik akibat perbaikan jembatan.

Jika kalian dari kota, kalian bisa ambil arah menuju ke Sarangan. Belok kanan jika sampai di pertigaan Sidorejo (ke arah ring road barat). Menuju pertigaan ds Sidokerto, lalu belok kiri ambil jalan menuju ds Sumber sawit. Jika kurang jelas kalian bisa klik lokasinya disini.

Tidak ada tiket masuk di tempat ini. Tapi sayangnya juga tidak ada lahan parkir untuk kendaraan, apalagi untuk roda empat, mungkin bisa di titipin di rumah warga. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan dekat dengan lokasi. Setelah kendaraan di parkir, kami langsung turun menuju lokasi. Ya, memang lokasinya berada di bawah jalanan desa.

Saat itu ada ibu- ibu yang sedang memandikan anaknya. Beliau bertanya kepada saya. “Ngerti nggon iki soko endi mas?, (tahu tempat ini dari mana mas?)”. Pertanyaan yang sulit bagi saya untuk penanya orang tua. Akhirnya saya jawab aja ” Saking HP bu. ( dari HP bu )”.

Oh iya sampai lupa. Sumber Sendang ini adalah sumber mata air yang airnya di tampung dalam kolam. Kolamnya sendiri baru di bangun sekitar satu tahun yang lalu. Info ini pun saya dapat dari ibu – ibu yang memandikan anaknya tadi. Kolam nya dibangun layaknya kolam renang pada umumnya dengan ubin di dalamnya. Berlatar pohon dan batuan besar dekat mata air, serta alam yang indah membuat sumber sendang ini sangat instagenic. Tak hanya itu, air kolam pun juga sangat segar, karena airnya berasal dari mata air pegunungan asli.

Sumber sendang ini biasanya dilalui penduduk sekitar untuk mencari rumput atau berladang. Anak- anak dusun pun sering mandi atau sekedar berenang di kolam ini. Gak terlalu dalam kok, kedalamannya mulai dari perut sampai dada orang dewasa.

Selain sebagai tampungan air, Sumber sendang sendiri juga digunakan sebagai pengairan untuk pertanian yang ada di sekitarnya. Gak menutup kemungkinan, bakal menjadi tempat wisata yang ada di kab Magetan. Melihat begitu indah alam disekitarnya. Asal jangan Ngikutin tempat wisata yang latah akan cat warna warni aja, jyjyk aku tuh.πŸ™ˆπŸ™ˆ

Tapi sayangnya tempat ini belum dilengkapi toilet atau tempat ganti baju yang layak. Ada sih, tapi dindingnya hanya setinggi perut orang dewasa aja, itupun juga sempit, harus bergantian saat ganti. Jadi bagi cewek-cewek yang ingin kesini, mungkin bisa menuju ke atas, izin ke kamar mandi warga sekitar untuk ganti baju selepas berenang kesini.

Kamipun gak masalah dengan hal itu. sebab, ya kami cowok-cowok semua.

Oh iya, ini nih penampakan Sumber Sendang/Sendang Growong nya..

Melihatnya aja udah adem kan.? Apalagi kalo udah nyebur.. Brrrr, jadi puret dehπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Kata penduduk sekitar, di sekitaran situ selain Sumber sendang, terdapat dua mata air lagi, . Tapi tidak seperti sumber sendang ini yang sudah di bangub kolam. Tapi saya lupa sih nama-nama sumbernya..😁😁

Selesai berenang karena sudah kedinginan banget, kami ganti pakaian dan menuju tempat berikutnya. Toh langit mulai gelap. Padahal baru sekitar jam 1 siang.

Bersambung…

Akibat mendaki gunung Wayang.

Rencana ke Ranu Regulo pun batal setelah rekan seperjalanan saya, jerry berbeda sift kerja dengan saya. Akhirnya saya menghubungi mas Welly untuk membuat opsi ke 2. Bukan lagi ke Ranu Regulo, tetapi ke persawahan di Pamotan, Dampit, Malang. Tapi ternyata mas Welly sudah ada janjian dengan temanya yang udah berencana sejak 2 Minggu yanag lalu. Mereka akan menuju ke gunung Wayang yang berada di Lumajang. Karna persawahan Pamotan dan gunung Wayang satu arah, kenapa gak sekalian ke persawahan Pamotan terlebih dahulu, baru ke gunung Wayang, pendapatku. Tetapi pendapat itu ditolak oleh mas Welly. Dia tidak enak dengan temanya yang udah terlanjur janjian. Akhirnya sayapun ikut rencana mas Welly.

Jam 03.00 dini hari, saya berangkat dari kos menuju ke Malang, kos-kosan mas Welly. Kami berangkat ber enam. Saya, mas welly, mas Robby, mas Adrian dan sepasang suami istri, sebut saja mas Budi dan mbak Ani (karena saya lupa namanya..hehe). jam 05.00 kami baru berangkat dari Malang. Memang niatnya tidak berburu sunrise di puncak gunung Wayang. Jadi kami berkendara dengan tidak tergesa gesa.

Setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampailah di gunung Wayang. Lokasinya berada di ds Sumber wuluh, kec Kalipuro, Lumajang. Untuk tiket masuknya sebesar Rp. 5.000 dan parkir kendaraan Rp 2.000. Disamping tiket masuk ini terdapat pos pantau aktifitas vulkanik gunung Semeru. Ya, memang gunung wayang ini adalah spot yang cocok untuk melihat gagahnya gunung semeru dari ketinggian.

Medan pertama adalah turunan dengan jalan yang sudah dicor. Tapi setelah itu tanjakan demi tanjakan sudah menanti didepan. Dari tanjakan – tanjakan ini medannya yg semula dicor berganti dengan tanah. Karena mas Budi tidak kuat menanjak, kami sering berhenti sejenak untuk beristirahat. Sekitar 30 menit mendaki, akhirnya sampai juga di puncak gunung Wayang. Memang sih, gunung Wayang ini tidak terlalu tinggi, cuma 987 mdpl.

Di atas puncak terdapat spot – spot selfie seperti tempat- tempat tempat wisata lainya. Prahu prahuan, pintu doraemon, dan sepeda ontel masih menjadi ciri khasnya. terdapat juga area camping yang bisa menampung sekitar sepuluh tenada. Selain itu, juga ada mushola kecil. Jadi gak usah kawatir jika ingin menunaikan ibadah sholat.

Difoto sama mas Budi.

Sejatinya gunung wayang ini adalah spot untuk melihat sunset. Jadi kami keliru saat datang kesini. Yang seharusnya datang saat sore hari, tapi kami malah berkunjung pas pagi hari.

Dirasa cukup berswafoto, kami kembali turun kebawah dan segera menuju ketempat destinasi selanjutnya. Perut yang sudah mulai kekoploan (keroncongan) membawa kami ke tempat makan. Oh iya, btw rumah makan yang kami tempati adalah duduk lesehan.

Jadi setelah makan dan berdiskusi tentang destinasi yang ingin kami kunjungi selanjutnya. Tiba tiba kaki mas budi tidak kuat untuk berdiri. Setiap mau berdiri selalu jatuh. tapi kata beliau tak ada rasa sakit di bagian kakinya. Akhirnya kami menunggu sampai sekitar satu jam di warung tersebut agar mas budi bisa berdiri seperti semula. Tapi setelah menunggu satu jam, kondisinya tidak berubah. Kakinya masih tidak bisa untuk berdiri. Pikiran saya sudah mulai kemana mana. Mulai dari yang stroke lah, ketempelan penunggu gunung wayang lah, kesantetlah..ah pikiranku

kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke destinasi selanjutnya dan kembali pulang saja. Toh, kesehatan lebih penting dari pada harus bersenang senang. Mas Budi yang belum bisa berdiri pun akhirnya dibonceng oleh mbak Ani, istrinya.

Kami berpisah di kos kosan mas Welly. Mas Budi dan mbak Ani juga nggak pulang ke Surabaya, melainkan ke Gempol di rumah mas Adrian. Menurut kabar, keesokan harinya mas Budi sudah bisa berjalan seperti sedia kala..syukur Alhamdulillah.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai