









Clambing di tebing sumbing.
Pengibaran bendera di puncak yang kami daki.
Pengamen tradisional di area wisata gn. Kelud.










Clambing di tebing sumbing.
Pengibaran bendera di puncak yang kami daki.
Pengamen tradisional di area wisata gn. Kelud.
Setelah gagalnya sampai puncak gunung kelud tahun lalu, karna kabut. Niatan kembali kesana mulai terbesit kembali. Kalo dulu naik via tulungrejo, kini saya mencoba naik via karangrejo. Yang notabene masih sepi dan tak sefamiliar via tulungrejo.
Akhirnya saya menghubungi ferry buat jadi tim pendakian. Tapi kami tidak berangkat bersama sama. Ferry berangkat dari ngawi, dan saya sendiri dari mojokerto. Kami bertemu di pare, kediri. Karna bulan puasa, kami beristirahat di masjid sekitaran pare cukup lama. Itung itung nunggu matahari tergelincir, biar gak terlalu panas.
Sekitar jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju desa karangrejo, kec garum. Sampai desa karangrejo kami kembali beristirahat di masjid, sambil menunggu azan magrib. Selesai sholat, kami mencari makan dan perbekalan buat pendakian nanti malam. Karna kami belum tahu basecamenya, sehabis berbuka puasa kami langsung mencari jalan menuju basecame. Dengan alasan, jika kami mendadak cari jalan ke basecame pas tengah malam, otomatis warga lokal sudah pada tidur dan jalanan sepi. Akhirnya kami mencari tempatnya saat waktu sholat tarawih tiba. Ketemulah penjual cilok, kata beliau malah gak ada pendakian ke kelud lewat karangrejo! Kami langsung syok mendengar itu. Ah, mungkin penjual ciloknya kurang piknik, pikirku. Kamipun tidak menyerah. Mencari cari, ketemulah seorang pemuda habis tarawih. Ia nunjukin jalanya menuju basecame, terima kasih kisana. Dirasa yakin jalanya (karna jalanya tinggal satu, tak ada pertigaan atau perempatan lagi) kami akhirnya kembali lagi ke masjid yang kami singgahi sore tadi. Cari takjil gratisan karna malam ini lailatul qodar , yg biasanya di masjid – masjid pada rame, pikirku. Tapi ini kok sepi ya? Cuma ada 4 orang di masjid. Tapi tak apalah, emang gak rejeki. Sambil nungguin tengah malam buat start pendakian, Kamipun mengobrol santai dengan orang – orang masjid disana.
Sekitar jam 23.00, kami mulai menuju basecame. Di tengah perjalanan, ada sedikit masalah terjadi. Rantai motornya si ferry loss, tapi alhamdulillah bisa di perbaiki. Jalanan mulai rusak dan tak beraspal, melewati kebun tebu yang luas. Motor kami titipkan di basecame, dengan mengunci ganda serta menggembok cakram, agar lebih aman.
Lokasibasecame karangrejo
Pendakian gunung kelud via karangrejo ini memakan waktu kira- kira 3-4 jam. Setiap pos terdapat shetler, meskipun sudah tak berbentuk. Hutan mendominasi dari pos 1 sampai pos 5.

Pos 2 ke pos 3 ( saat perjalanan pulang)
sasampainya di pos 5 kami istirahat sebentar. Dari pos 5 menuju puncak butak kelud, vegetasi berganti. dari hutan ke rumput ilalang. Mlipir, naik turun bukit adalah track yg harus dilalui dari pos 5 menuju puncak butak kelud ini. Hati- hati! Saat kami melewati trek ini, jalurnya tidak begitu jelas. Ditambah pendakian dilakukan pas malam hari. Jalur makin lama makin curam, bahkan harus memakai tangga ( udah tersedia kok).

Tangga yang udah di pasang oleh warga.
15 menit sebelum sampai puncak butak track berubah menjadi berpasir. jalan 2 langkah, mrosot 1 langkah. Sampai- sampai si ferry saya tinggal jauh di belakang. Mirip seperti summit attack semeru (walaupun saya belum pernah ke semeru 😁). Oh ya, puncak butak sendiri hanyalah puncak bayangan. Puncak sebenarnya masih harus mlipir ke kanan.
Sampai puncak butak jam 03.00. pas sahur. Akhirnya kami sahur disana. Makan bekal yang kami beli di desa karangrejo kemarin sore. Meskipun hanya brengkes pindang yg gak ada “pindangnya”, cuma bumbu doang. Tapi gak apa apa, tetep syukuri. Dari pada perut gak keisi. Sehabis sahur, karna tidak membawa tenda, kami membuat bivak kecil- kecilan dari ranting pohon disekitar. Abis itu tidur, ngumpulin tenaga buat summit attack keesokan hari. Ya gak tidur juga sih, cuma rebahan sebentar.

Bivak kecil-kecilan.

Sunrise dari puncak butak gn. Kelud
Sekitar jam 05.00 sunrise sudah nampak di balik gunung. Kami mulai summit attack. Semula jalanan menurun dan selanjutnya menanjak sampai akhirnya harus “panjat tebing”. Itulah alesan kenapa kami tidak summit attack pas dini hari, karna tracknya yang sangat curam.
Sampai di puncak, tampak kawah gunung kelud yang berwarna hijau tosca. Matahari terik sekali hari itu. Sebenernya puncaknya masih ada di atas tebing, tapi tak disarankan keatas tanpa peralatan khusus.

Track menuju puncak

Tampak kawah.

Ferry dan plang.
Habis itu kami turun. Sampai basecame sekitar jam 10.00. Kami langsung pulang. Saya tak kembali ke Mojokerto, melainkan pulang kampung ke Ngawi bersama ferry. Sampai Ngawi sekitar jam 17.00. Dan alhamdulillah selamat sampai tujuan 😊😊