Rencana ke Ranu Regulo pun batal setelah rekan seperjalanan saya, jerry berbeda sift kerja dengan saya. Akhirnya saya menghubungi mas Welly untuk membuat opsi ke 2. Bukan lagi ke Ranu Regulo, tetapi ke persawahan di Pamotan, Dampit, Malang. Tapi ternyata mas Welly sudah ada janjian dengan temanya yang udah berencana sejak 2 Minggu yanag lalu. Mereka akan menuju ke gunung Wayang yang berada di Lumajang. Karna persawahan Pamotan dan gunung Wayang satu arah, kenapa gak sekalian ke persawahan Pamotan terlebih dahulu, baru ke gunung Wayang, pendapatku. Tetapi pendapat itu ditolak oleh mas Welly. Dia tidak enak dengan temanya yang udah terlanjur janjian. Akhirnya sayapun ikut rencana mas Welly.
Jam 03.00 dini hari, saya berangkat dari kos menuju ke Malang, kos-kosan mas Welly. Kami berangkat ber enam. Saya, mas welly, mas Robby, mas Adrian dan sepasang suami istri, sebut saja mas Budi dan mbak Ani (karena saya lupa namanya..hehe). jam 05.00 kami baru berangkat dari Malang. Memang niatnya tidak berburu sunrise di puncak gunung Wayang. Jadi kami berkendara dengan tidak tergesa gesa.
Setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampailah di gunung Wayang. Lokasinya berada di ds Sumber wuluh, kec Kalipuro, Lumajang. Untuk tiket masuknya sebesar Rp. 5.000 dan parkir kendaraan Rp 2.000. Disamping tiket masuk ini terdapat pos pantau aktifitas vulkanik gunung Semeru. Ya, memang gunung wayang ini adalah spot yang cocok untuk melihat gagahnya gunung semeru dari ketinggian.
Medan pertama adalah turunan dengan jalan yang sudah dicor. Tapi setelah itu tanjakan demi tanjakan sudah menanti didepan. Dari tanjakan – tanjakan ini medannya yg semula dicor berganti dengan tanah. Karena mas Budi tidak kuat menanjak, kami sering berhenti sejenak untuk beristirahat. Sekitar 30 menit mendaki, akhirnya sampai juga di puncak gunung Wayang. Memang sih, gunung Wayang ini tidak terlalu tinggi, cuma 987 mdpl.
Di atas puncak terdapat spot – spot selfie seperti tempat- tempat tempat wisata lainya. Prahu prahuan, pintu doraemon, dan sepeda ontel masih menjadi ciri khasnya. terdapat juga area camping yang bisa menampung sekitar sepuluh tenada. Selain itu, juga ada mushola kecil. Jadi gak usah kawatir jika ingin menunaikan ibadah sholat.



Difoto sama mas Budi.
Sejatinya gunung wayang ini adalah spot untuk melihat sunset. Jadi kami keliru saat datang kesini. Yang seharusnya datang saat sore hari, tapi kami malah berkunjung pas pagi hari.
Dirasa cukup berswafoto, kami kembali turun kebawah dan segera menuju ketempat destinasi selanjutnya. Perut yang sudah mulai kekoploan (keroncongan) membawa kami ke tempat makan. Oh iya, btw rumah makan yang kami tempati adalah duduk lesehan.
Jadi setelah makan dan berdiskusi tentang destinasi yang ingin kami kunjungi selanjutnya. Tiba tiba kaki mas budi tidak kuat untuk berdiri. Setiap mau berdiri selalu jatuh. tapi kata beliau tak ada rasa sakit di bagian kakinya. Akhirnya kami menunggu sampai sekitar satu jam di warung tersebut agar mas budi bisa berdiri seperti semula. Tapi setelah menunggu satu jam, kondisinya tidak berubah. Kakinya masih tidak bisa untuk berdiri. Pikiran saya sudah mulai kemana mana. Mulai dari yang stroke lah, ketempelan penunggu gunung wayang lah, kesantetlah..ah pikiranku
kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke destinasi selanjutnya dan kembali pulang saja. Toh, kesehatan lebih penting dari pada harus bersenang senang. Mas Budi yang belum bisa berdiri pun akhirnya dibonceng oleh mbak Ani, istrinya.
Kami berpisah di kos kosan mas Welly. Mas Budi dan mbak Ani juga nggak pulang ke Surabaya, melainkan ke Gempol di rumah mas Adrian. Menurut kabar, keesokan harinya mas Budi sudah bisa berjalan seperti sedia kala..syukur Alhamdulillah.