Explore Probolinggo: Jelajah Ranu Segaran dan Ranu Agung

Ngelanjutin cerita sebelumnya, sehabis dari Air terjun Tirai bidadari, kami lalu menuju ke tempat berikutnya. Yaitu ranu Segaran dan ranu Agung.

Waktu menujukan pukul 12.00 siang, sekeluarnya dari desa Jangkang, kami mampir terlebih dahulu ke warung makan untuk makan siang. Dengan cuma Rp 10.000 kami sudah mendapatkan satu porsi makan “kuli”, ya memang porsinya banyak banget. Sembari makan, kami juga nitip colokan untuk mengisi daya batrai HP dan kamera. Maklum, saat di air terjun dayanya berkurang lebih dari 50 persen.

Serasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju ke ranu Segaran. Cuaca yang mendung membuatku sedikit cemas. Pasalnya view gunung Lemongan bakal ketutup awan. kan sayang banget ya, udah jauh jauh dari Mojokerto, ternyata dapet zonk.

Setelah sampai lokasi dengan membayar parkir Rp 2.000, kami lanjutkan menuju ke tepian Ranu. Bener dugaanku, view gunung Lemongan tertutup oleh mendung. Seketika itu aku jadi gak mood buat foto foto gitu haha. Tapi ya udahlah, emang belum rejeki aja kali ya. Karna memang di dalam sebuah perjalanan yang lebih menarik itu adalah cerita di balik perjalanannya itu sendiri, bukan hasil dari perjalanannya.

Ranu Segaran, sayang gn Lemongan tertutup awan

Karna masih pandemi, pengunjung pun juga masih sepi. Cuma ada kami berdua dan segerombolan orang yang lagi prewedding. Memang, ranu Segaran ini cocok banget buat Prewed. Meskipun pengunjung sepi, tapi tetep rame kok (loh gimana ini). Maksud rame disini bukan rame pengunjung yang sedang berwisata, melainkan rame warga sekitar. Mulai dari yang cari ikan, mencuci pakaian hingga orang orang yang sedang adu balap burung merpati. Ya, disini banyak banget orang orang yang adu burung merpati. Balapan dari ujung ranu ke ujung ranu yg lainya gitu.

Puas dengan ranu Segaran ( sebenernya sih belum puas). Kami lanjut lagi menuju ke ranu Agung, ranu yang gak jauh dari ranu Segaran

Btw lokasi ke dua ranu ini berada di satu desa yaitu desa ranu Agung, kec Tiris kab Probolinggo. Jadi gak lengkap kalo gak mengunjungi kedua tempat ini sekaligus.

Ok, lanjut ke perjalanan. Jalan menuju ke ranu Agung gak begitu sulit, sekitar 10 menit gak jauh dari ranu Segaran. Kali ini kami gak masuk ke Ranu Agung karna memang menurut info yang aku dapat, jika ranu agung masih tutup. Meskipun begitu, memang rencana awal kami ingin mencari spot foto yang viewnya mirip mirip seperti di daerah Maluku gitu.

Bertanyalah kami dengan penduduk sekitar, namanya pak Bambang. Kamipun menunjukan contoh spot foto di instagram yang kami maksud, lalu pak Bambang memberi petunjuk arahnya. Karna beliau takut terjadi apa apa kepada kami, yang memang jalanya itu berbahaya. Akhirnya kami diantar oleh beliau, pak Bambang.

Dan memang, setelah melakukan perjalanan, jalanya begitu ekstrim. Bagaimana tidak, jalan yang kami lalui itu adalah jalan setapak dengan sebelah kanan adalah jurang ranu Agung. Jadi kami harus ekstra hati hati. Setelah sampai di sebuah rumah, kendaraan kami parkir. Kan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Ternyata di lokasi sudah ada anak anak muda yang berada di situ, cukup viral juga tempat ini.

Kamipun lanjutin berjalan kaki lagi ke arah seberang. Tetapi pak Bambang gak ingin ikut, beliau memilih menunggu disini. Sekitar 5 menit berjalan, kamipun sampai di lokasi yang kami maksut.

Disaat kami berada di ranu Segaran tadi kan mendung dan gunung Lemongan tertutup awan kan ya. Tapi syukur, disaat kami berada di Ranu Agung ini, cuaca sore cukup cerah dan gunung Lemongan tampak gagah berada di belakang ranu Agung. Di tambah lagi angin yang bertiup kencang membuat kami berlama lama mengambil gambar di lokasi ini.

Ranu Agung tampak ada di bawah dengan di belakangnya ada gn Lemongan

Setelah selesai dari spot foto ini, kami kembali lagi ke rumahnya pak Bambang. Karna memang helm kami berada di rumah beliau. Apesnya, di tengah perjalanan pulang menuju rumah beliau, ban motor kami kempes habis. Mungkin karna melewati jalananan yang ancur saat ke air terjun Tirai bidadari tadi kali ya. Alhasil kami harus mendorongnya dengan hati hati. Karna memang jalan yang setapak dan berbahaya.

Sampai di rumah pak Bambang, beliaupun meminjam pompa angin milik tetangga untuk membatu memompa ban motor kami. Alhamdulilaah bisa terisi angin dan gak bocor. Pak Bambang dan istripun menawari kami untuk istirahat terlebih dahulu di rumah beliau. Kami pun gak bisa menolak tawaran beliau.

Di tengan obrolan kami dengan pak bambang dan istri, ternyata ban motor yang tadi kami pompa kembali kempes. Waduh, jangan jangan bocor lagi. Karna waktu udah mau mau Magrib, kamipun pamitan degan pak Bambang. Berbekal info tempat tambal ban yang di beritahu oleh pak Bambang, kamipun kembali mendorong montor kami.

Hari semakin gelap, karna waktu itu sudah Magrib. Melawati hutan sengon dan pemakaman, kami mendorong montor sekitar 20 menitan. Mending jika jalan lurus, jalan yang kami lalui naik turun gitu e. Setelah sampai di pertigaan jalan kecamatan, akhirnya ketemulah tukang tambal ban.

Karna sudah tutup, kami pun izin untuk minta tolong ke tukangnya, yang memang lokasi rumahnya ada di sebelah bengkel tersebut. Setelah di cek, ternyata gak ada bekas bocor atau gimana. Mungkin pas aku pompa saat di rumahnya pak Bambang belum terlalu keras, jadi angin kembali keluar lewat sela sela velg kali ya.

Setelah semuanya beres, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Kami turun dari daerah Tiris sekitar habis azan Isa. Alhamdulillah, sampai kos kosan sekitar jam 21.30 dengan keadaan selamat.

Sekian cerita perjalananku ke kab Probolinggo kali ini, khususnya di kec Tiris, jangan lupa baca juga cerita perjalananku yang lainya ya..

Sekian dan terima kasih.. Hehe

Akibat mendaki gunung Wayang.

Rencana ke Ranu Regulo pun batal setelah rekan seperjalanan saya, jerry berbeda sift kerja dengan saya. Akhirnya saya menghubungi mas Welly untuk membuat opsi ke 2. Bukan lagi ke Ranu Regulo, tetapi ke persawahan di Pamotan, Dampit, Malang. Tapi ternyata mas Welly sudah ada janjian dengan temanya yang udah berencana sejak 2 Minggu yanag lalu. Mereka akan menuju ke gunung Wayang yang berada di Lumajang. Karna persawahan Pamotan dan gunung Wayang satu arah, kenapa gak sekalian ke persawahan Pamotan terlebih dahulu, baru ke gunung Wayang, pendapatku. Tetapi pendapat itu ditolak oleh mas Welly. Dia tidak enak dengan temanya yang udah terlanjur janjian. Akhirnya sayapun ikut rencana mas Welly.

Jam 03.00 dini hari, saya berangkat dari kos menuju ke Malang, kos-kosan mas Welly. Kami berangkat ber enam. Saya, mas welly, mas Robby, mas Adrian dan sepasang suami istri, sebut saja mas Budi dan mbak Ani (karena saya lupa namanya..hehe). jam 05.00 kami baru berangkat dari Malang. Memang niatnya tidak berburu sunrise di puncak gunung Wayang. Jadi kami berkendara dengan tidak tergesa gesa.

Setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampailah di gunung Wayang. Lokasinya berada di ds Sumber wuluh, kec Kalipuro, Lumajang. Untuk tiket masuknya sebesar Rp. 5.000 dan parkir kendaraan Rp 2.000. Disamping tiket masuk ini terdapat pos pantau aktifitas vulkanik gunung Semeru. Ya, memang gunung wayang ini adalah spot yang cocok untuk melihat gagahnya gunung semeru dari ketinggian.

Medan pertama adalah turunan dengan jalan yang sudah dicor. Tapi setelah itu tanjakan demi tanjakan sudah menanti didepan. Dari tanjakan – tanjakan ini medannya yg semula dicor berganti dengan tanah. Karena mas Budi tidak kuat menanjak, kami sering berhenti sejenak untuk beristirahat. Sekitar 30 menit mendaki, akhirnya sampai juga di puncak gunung Wayang. Memang sih, gunung Wayang ini tidak terlalu tinggi, cuma 987 mdpl.

Di atas puncak terdapat spot – spot selfie seperti tempat- tempat tempat wisata lainya. Prahu prahuan, pintu doraemon, dan sepeda ontel masih menjadi ciri khasnya. terdapat juga area camping yang bisa menampung sekitar sepuluh tenada. Selain itu, juga ada mushola kecil. Jadi gak usah kawatir jika ingin menunaikan ibadah sholat.

Difoto sama mas Budi.

Sejatinya gunung wayang ini adalah spot untuk melihat sunset. Jadi kami keliru saat datang kesini. Yang seharusnya datang saat sore hari, tapi kami malah berkunjung pas pagi hari.

Dirasa cukup berswafoto, kami kembali turun kebawah dan segera menuju ketempat destinasi selanjutnya. Perut yang sudah mulai kekoploan (keroncongan) membawa kami ke tempat makan. Oh iya, btw rumah makan yang kami tempati adalah duduk lesehan.

Jadi setelah makan dan berdiskusi tentang destinasi yang ingin kami kunjungi selanjutnya. Tiba tiba kaki mas budi tidak kuat untuk berdiri. Setiap mau berdiri selalu jatuh. tapi kata beliau tak ada rasa sakit di bagian kakinya. Akhirnya kami menunggu sampai sekitar satu jam di warung tersebut agar mas budi bisa berdiri seperti semula. Tapi setelah menunggu satu jam, kondisinya tidak berubah. Kakinya masih tidak bisa untuk berdiri. Pikiran saya sudah mulai kemana mana. Mulai dari yang stroke lah, ketempelan penunggu gunung wayang lah, kesantetlah..ah pikiranku

kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke destinasi selanjutnya dan kembali pulang saja. Toh, kesehatan lebih penting dari pada harus bersenang senang. Mas Budi yang belum bisa berdiri pun akhirnya dibonceng oleh mbak Ani, istrinya.

Kami berpisah di kos kosan mas Welly. Mas Budi dan mbak Ani juga nggak pulang ke Surabaya, melainkan ke Gempol di rumah mas Adrian. Menurut kabar, keesokan harinya mas Budi sudah bisa berjalan seperti sedia kala..syukur Alhamdulillah.

Memperingati kemerdekaan di puncak terlarang gunung Kelud

Gunung Kelud adalah gunung berapi yang masih aktif, berada di kabupaten Kediri, Jawa Timur. Berjarak sekitar 30 Km ke arah timur kota Kediri. Gunung ini adalah salah satu gunung yang paling aktif yang ada di Indonesia. Terakhir meletus tahun 2014, ketika saya kelas 3 SMA. Sekolah secara mendadak meliburkan kegiatan ajar mengajar karena dampak erupsi gunung Kelud. Nah kali ini saya akan bercerita keseruan saya mengunjungi gunung Kelud…
Karena ingin mengejar Sunrise di gunung Kelud, berangkatlah saya dari kos jam 00:00 tengah malam bersama Jerry. Selain karna ingin mengejar sunrise, kami berangkat tengah malam karna menghindari malam minggu yang jalanan pasti ramai. Alih-alih jalanan sepi, ternyata udara tengah malam sangatlah dingin, meskipun saya menggunakan jaket. Ditambah lagi angin yang kencang di daerah Jombang, semakin membuat dingin ini menjadi-jadi. Setelah sekitar 2 jam berkendara, akhirnya kami sampai di Simpang Lima Gumul atau yang lebih dikenal SLG.
Sampai disini kami langsung membuka bekal nasi yang di bawa Jerry dari kos-kosan, karna perut saya lapar, dari sore belum makan nasi sama sekali. Meskipun sudah memasuki jam 02:00 dini hari, tapi para pengunjung masih ramai. Mungkin karna malam Minggu kali ya.
Oh ya, jika kalian belum tahu SLG (Simpang Lima Gumul) adalah sebuah Monumen di tengah simpang lima dengan tugu di tengahnya, tugu mirip Arc de Triomphe di Perancis membuat SLG menjadi terkenal. SLG juga termasuk salah satu ikon wisata di kabupaten Kediri selain gunung Kelud. Di dinding-dinding monumen terdapat sebuah relief yang menggambarkan tentang sejarah kerajaan Kediri.
Bodohnya kami setelah kami selesai makan, kami lupa tidak bawa air putih. akhirnya Jerry membeli susu hangat di dekat kami berhenti. Setelah menghabiskan susu hangat dan seberes mengambilan foto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke gunung Kelud.
img_20190821_wa0002_f9C.jpg
img_20190822_061106_6ye.jpg
SLG (sumpang lima gumul)
Berjarak kurang lebih 27 Km dari SLG menuju gunung Kelud. Melewati rumah-rumah yang banyak dihisai dengan lampu warna warni. Maklum, saat berkunjung ke gunung Kelud masih dalam hari kemerdekaan RI yang ke 74. Bahkan disalah satu desa yang kami lewati, warga desanya kompak membuat lampu yang yang hanya menyala merah dan putih, layaknya bendera Indonesia. Yang ternyata lampu berwarna merah putih tadi dipasang pada tiang-tiang bendera. Jadi saat siang hari terlihat bendera merah putih, sedangkan malam hari terlihat cahaya merah putih di tiang tersebut. Sungguh kreatif sekali para warga.
img_20190822_055003_Ejw.jpg
Jalan menuju kawasan gunung Kelud.
Sekitar pukul 03:30 kami sampai di gerbang menuju kawasan gunung Kelud. Ternyata gerbang belum dibuka. Kata penjaga gerbangnya, gerbang akan dibuka sekitar pukul 04:30 . Tak ingin menunggu lama di pos penjaga, akhirnya kami mencari mushola terdekat untuk tidur sejenak, lumayan bisa istirahat. Sayapun terbangun ketika qiro’ah sebelum azan subuh berkumandang. Sehabis sholat subuh kami segera secepatnya menuju ke tiket masuk dan treking agar dapat menikmati sunrise. Pikirku..
Ternyata tidak sesuai rencana. Setelah kami sampai di batas akhir parkir mobil pukul 05:00, terdapat gerbang lagi yang masih ditutup. Dengan tulisan di depan gerbang. “BUKA JAM 07:00, TUTUP JAM 16:00” . duh, akhirnya kami gagal mendapatkan sunrise di “puncak” gunung Kelud deh. Kami harus menunggu 2 jam agar gerbang dibuka. Apalagi dingin yang sejak tadi malam, membuat kami untuk terus bergerak agar rasa dingin menjadi berkurang.
Dari batas parkir mobil ini para abang-abang ojek sudah bersiap untuk mengantarkan pengunjung sampai di bibir kawah. Dengan tarif pulang pergi sebesar Rp. 50.000 dan jika rombongan maksimal 4 orang, mendapat harga Rp. 40.000 per orang. Ojek di Kelud sudah sangat terorganisir, para abang ojeknya menggunakan nomer antrian dan parkir dengan rapi menunggu penumpang.
Sebelum gerbang dibuka, para pengunjung sudah ramai berada di parkiran mobil. Maklum hari ini hari Minggu dan bertepatan libur panjang hari kemerdekaan RI. Lama menunggu, kami akhirnya memesan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuh di warung terd
img_20190822_055301_iEK.jpg
Tampak pengunjung menunggu gerbang dibuka.
Pukul 07:00 gerbang baru dibuka. Kami langsung tancap gas menuju batas parkiran motor. Kami cuma bayar parkir Rp.5.000, tanpa membayar tiket masuk. Karna saat kami melewati tiket masuk yang berada setelah gerbang kawasan gunung Kelud, petugas belum menjaga loket. Untuk tiket masuknya sendiri sebenarnya Rp. 10.000 per orang saat hari libur.
Setelah sampai parkiran, kami langsung berjalan menuju ke “puncak” gunung Kelud. Lebih cepat naik ojek sih. Tapi karena alasan keuangan dan abang ojek gak berhenti ditempat yang kami maksud, kami mengurungkan niat kami naik ojek dan memilih untuk jalan kaki. Jarak dari parkiran motor sampai ke bibir kawah sekiar 3 Km, lumayan capek untuk berjalan kaki. Jalur yang kami lewati adalah jalanan cor yang baru setengah jadi. Sebelum sampai bibir kawah, sekitar 30 menit berjalan, kami mengambil keluar dari jalur wisatawan. Menuju sebuah bukit di sebelah kiri. Sebenarnya bukit ini dilarang untuk kunjungi. Itu dapat dilihat dengan adanya pagar pembatas yang sudah setengah roboh. Maafkan kami pak, kami nakal. Untuk dulur-dulur jangan dititru perbuatan kami ya..hehe.
Trekking menuju bukit ini berpasir dan sedikit berbatu. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di puncak. Sampai puncak kami harus melipir ke kiri menuju yang lebih aman, karena area puncak sangatlah curam dan rawan longsor. Terdapat alat perekam aktivitas gunung Kelud di area puncak, itu mungkin sebabnya mengapa area puncak ini tidak di peruntukan bagi wisatawan. Dari puncak kami dapat melihat kawah gunung Kelud yang erupsi tahun 2014 dan tebing Sumbing yang terlihat secara keseluruhan. Terlihat juga puncak gunung Kelud jika mendaki via Tulungrejo ataupun via Karangrejo, Blitar.
img_20190822_062238_xxv.jpg
Jalan setengah cor menuju ke kawah.
img_20190822_062501_wNh.jpg
Persimpangan menuju ke “puncak”.
lrm_export_20190822_054243_9VQ.jpg
View dari puncak.
Selepas berfoto-foto, kami lalu sarapan. Memakan sisa bekal yang tadi malam kami makan di Simpang Lima Gumul. Maklum hemat biyaya..hehe. Selepas sarapan dan perut kenyang, kamipun turun.
img_20190822_171448_jOt.jpg
Menu sarapan.
Turun dari puncak lebih berbahaya. Sebab tanah yang berpasir kasar dan berbatu kecil-kecil membuat gampang selip di sepatu. Pijakan pun kurang stabil, membuat gampang terpeleset. Oleh sebab itu kami lebih berhati-hati dalam menuruni puncak. Setelah sampai bawah, kami melanjutkan menuju ke jalur wisatawan dan menuju dekat kawah. Jalan yang semula setengah cor, sekarang berubah menjadi jalanan yang berkerikil. Enaknya jalanan sudah landai tak menanjak ataupun menurun. Selain ojek, pengguna sepeda juga diperbolehkan sampai ke dekat kawah. Sebelum sampai kawah, kami melewati terowongan yang panjangnya sekitar 100 m, dengan lebar 2,5 m. Terdapat ruangan-ruangan di dalam terowongan, entah apa fungsinya kami tidak tahu.
Keluar dari terowongan, sampailah kami di batas akhir mengunjungi gunung Kelud. Melihat lebih dekat tebing sumbing, memang tebing Sumbing ini mempunyai karakteristik yang khas. Batuan vulkanik bekas letusan membuat tebing sumbing lebih indah. Tapi sayang, fasilitas toilet di sini sangatlah kotor, banyak sampah yang menumpuk ditoilet. Bahkan toilet bisa dikatakan tak layak digunakan. Jadi jika kalian ingin BAB saat berada di sini, mending tahan dulu deh, tahan sampai kembali di parkiran..hehe.
Terdapat pula orang-orang yang sedang melakukan aktivitas clambing di tebing sumbing. Karna kami datang saat masih moment kemerdekaan, kami melihat anak-anak muda mengibarkan bendera merah putih berukuran besar di bukit yang tadi kami naiki. Nah, padahal saat kami naik maupun turun, kami tak menemui anak-anak itu. Lalu dari mana anak-anak itu naik ke bukit itu? Apa mungkin ada jalur yang lain selain jalur yang kami naiki? Tau ah.
Selain foto sendiri, disini juga terdapat jasa pemotretan yang standnya berda di depan terowongan. Terdapat juga pengamen yang hanya duduk di tempat dan jika di kasih uang baru bernyanyi layaknya pengamen-pengamen luar negeri gitu. Bedanya jika di luar negeri mengunakan gitar, di gunung Kelud ini pengamen menggunakan gembrung, alat musik tradisional. Lagu-lagunya pun juga lagu lokal..hehe.
img_20190822_171825_sTY.jpg
Terowongan menuju kawah Kelud.

img_20190822_172318_MXg.jpg
View kawah dari dekat.
img_20190822_172052_gFe.jpg

Clambing di tebing sumbing.

img_20190822_172119_kmO.jpg

Pengibaran bendera di puncak yang kami daki.

img_20190822_173628_sSm.jpg

Pengamen tradisional di area wisata gn. Kelud.

Serasa cukup puas menikmati pesona gunung Kelud, kami akhirnya kembali ke parkiran dan pulang. Eh, karena semaleman kami kurang tidur, kami akhirnya tidur sebentar di mushola yang semalam kami singgahi. Sekitar 1 jam tidur, kami lanjutkan perjalanan pulang. Jam 15:00 Alhamdulillah kami sampai di kos dengan selamat.
Sekian cerita saya mengexplore gunung Kelud. Ambil sisi positifnya dan buang jauh-jauh sisi negatifnya. Sampai jumpa..

Remidi kelud: malam Lailatul qodar di hutan

Setelah gagalnya sampai puncak gunung kelud tahun lalu, karna kabut. Niatan kembali kesana mulai terbesit kembali. Kalo dulu naik via tulungrejo, kini saya mencoba naik via karangrejo. Yang notabene masih sepi dan tak sefamiliar via tulungrejo.

Akhirnya saya menghubungi ferry buat jadi tim pendakian. Tapi kami tidak berangkat bersama sama. Ferry berangkat dari ngawi, dan saya sendiri dari mojokerto. Kami bertemu di pare, kediri. Karna bulan puasa, kami beristirahat di masjid sekitaran pare cukup lama. Itung itung nunggu matahari tergelincir, biar gak terlalu panas.

Sekitar jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju desa karangrejo, kec garum. Sampai desa karangrejo kami kembali beristirahat di masjid, sambil menunggu azan magrib. Selesai sholat, kami mencari makan dan perbekalan buat pendakian nanti malam. Karna kami belum tahu basecamenya, sehabis berbuka puasa kami langsung mencari jalan menuju basecame. Dengan alasan, jika kami mendadak cari jalan ke basecame pas tengah malam, otomatis warga lokal sudah pada tidur dan jalanan sepi. Akhirnya kami mencari tempatnya saat waktu sholat tarawih tiba. Ketemulah penjual cilok, kata beliau malah gak ada pendakian ke kelud lewat karangrejo! Kami langsung syok mendengar itu. Ah, mungkin penjual ciloknya kurang piknik, pikirku. Kamipun tidak menyerah. Mencari cari, ketemulah seorang pemuda habis tarawih. Ia nunjukin jalanya menuju basecame, terima kasih kisana. Dirasa yakin jalanya (karna jalanya tinggal satu, tak ada pertigaan atau perempatan lagi) kami akhirnya kembali lagi ke masjid yang kami singgahi sore tadi. Cari takjil gratisan karna malam ini lailatul qodar , yg biasanya di masjid – masjid pada rame, pikirku. Tapi ini kok sepi ya? Cuma ada 4 orang di masjid. Tapi tak apalah, emang gak rejeki. Sambil nungguin tengah malam buat start pendakian, Kamipun mengobrol santai dengan orang – orang masjid disana.

Sekitar jam 23.00, kami mulai menuju basecame. Di tengah perjalanan, ada sedikit masalah terjadi. Rantai motornya si ferry loss, tapi alhamdulillah bisa di perbaiki. Jalanan mulai rusak dan tak beraspal, melewati kebun tebu yang luas. Motor kami titipkan di basecame, dengan mengunci ganda serta menggembok cakram, agar lebih aman.

Lokasibasecame karangrejo

Pendakian gunung kelud via karangrejo ini memakan waktu kira- kira 3-4 jam. Setiap pos terdapat shetler, meskipun sudah tak berbentuk. Hutan mendominasi dari pos 1 sampai pos 5.

Pos 2 ke pos 3 ( saat perjalanan pulang)

sasampainya di pos 5 kami istirahat sebentar. Dari pos 5 menuju puncak butak kelud, vegetasi berganti. dari hutan ke rumput ilalang. Mlipir, naik turun bukit adalah track yg harus dilalui dari pos 5 menuju puncak butak kelud ini. Hati- hati! Saat kami melewati trek ini, jalurnya tidak begitu jelas. Ditambah pendakian dilakukan pas malam hari. Jalur makin lama makin curam, bahkan harus memakai tangga ( udah tersedia kok).

Tangga yang udah di pasang oleh warga.

15 menit sebelum sampai puncak butak track berubah menjadi berpasir. jalan 2 langkah, mrosot 1 langkah. Sampai- sampai si ferry saya tinggal jauh di belakang. Mirip seperti summit attack semeru (walaupun saya belum pernah ke semeru 😁). Oh ya, puncak butak sendiri hanyalah puncak bayangan. Puncak sebenarnya masih harus mlipir ke kanan.

Sampai puncak butak jam 03.00. pas sahur. Akhirnya kami sahur disana. Makan bekal yang kami beli di desa karangrejo kemarin sore. Meskipun hanya brengkes pindang yg gak ada “pindangnya”, cuma bumbu doang. Tapi gak apa apa, tetep syukuri. Dari pada perut gak keisi. Sehabis sahur, karna tidak membawa tenda, kami membuat bivak kecil- kecilan dari ranting pohon disekitar. Abis itu tidur, ngumpulin tenaga buat summit attack keesokan hari. Ya gak tidur juga sih, cuma rebahan sebentar.

Bivak kecil-kecilan.

Sunrise dari puncak butak gn. Kelud

Sekitar jam 05.00 sunrise sudah nampak di balik gunung. Kami mulai summit attack. Semula jalanan menurun dan selanjutnya menanjak sampai akhirnya harus “panjat tebing”. Itulah alesan kenapa kami tidak summit attack pas dini hari, karna tracknya yang sangat curam.

Sampai di puncak, tampak kawah gunung kelud yang berwarna hijau tosca. Matahari terik sekali hari itu. Sebenernya puncaknya masih ada di atas tebing, tapi tak disarankan keatas tanpa peralatan khusus.

Track menuju puncak

Tampak kawah.

Ferry dan plang.

Habis itu kami turun. Sampai basecame sekitar jam 10.00. Kami langsung pulang. Saya tak kembali ke Mojokerto, melainkan pulang kampung ke Ngawi bersama ferry. Sampai Ngawi sekitar jam 17.00. Dan alhamdulillah selamat sampai tujuan 😊😊

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai