Tuban, salah satu kabupaten yang berada paling ujung barat provinsi Jawa timur. Tuban disebut juga kota wali karna di kabupaten ini terdapat beberapa makam wali. Antara lain sunan Bonang, Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi (pra walisongo) dan masih banyak lagi. Bertolak belakang dengan sebutan kota wali, Tuban juga mempunyai sebutan kota tuak (sejenis minuman beralkohol). Kenapa disebut kota tuak? Karna daerah Tuban banyak di tumbuhi pohon lontar/ siwalan yg digunakan sebagai bahan baku pembuatan tuak.
Pariwisata Tuban juga tak kalah menarik. Antara lain, air terjun nglirip, pantai sowan, goa akbar dan masih banyak lagi. Nah kali ini saya bersama rekan saya aris rahmat akan mengexplore kabupaten Tuban.
Berangat dari Ngoro sekitar jam 08:00 menuju kos-kosan Aris di Sidoarjo. Rute yang saya ambil adalah krian, lamongan. Sampai lamongan kami berhenti di pinggir jalan untuk membeli makanan, khasnya Lamongan dong yaitu nasi Boran. Nasi Boran ini seperti nasi pecel pada umumnya, yang membedakan adalah penjualannya dengan cara di gendong menggunkan boranan (anyaman bambu) dan berjualan di trotoar- trotoar jalan. Jadi kami makan berhadapan langsung dengan para pengguna jalan gitu. Seberes makan kami lanjutkan kembali perjalanan menuju Tuban. Melewati Babat dan sampailah di kabupaten Tuban. Benar saja sampai wilayah Tuban banyak di tumbuhi pohon Lontar. Sore hari sekitar jam 16: 30 sampailah kami di pantai cemara, berada di barat tak jauh dari kota. Sebenarnya pantai cemara ini tak ada dalam daftar explore kami, dikarenakan udah mau malam, kami putuskan untuk berhenti sejenak nikmat sunset di pantai ini, meski sebenarnya lagi mendung. Toh pantai ini berada di pinggir jalan pantura. Saat berada di pantai ini, keadaan sepi sekali, hanya ada kami berdua dan seorang pedagang cilok. Kurangnya kesadaran pengunjung untuk membuang sampah di pada temeepatnya membuat pantai cemara ini sedikit terkotori.

Dirasa lelah telah hilang, kami lanjutkan perjalanan kami menuju daftar pantai yang kami sebenarnya ingin tuju. Yaitu pantai Remen.
Pantai ini mempunyai karakteristik yang begitu unik. Pasalnya terdapat semacam danau yang berada di bibir pantai. Yang sebenarnya kami gak bisa liat sih karna sampai pantai Remen ini udah malam. Sebelum sampai pantai, kami kehujanan. Kamipun berteduh di pos kampling arah menuju pantai remen. Dirasa udah reda kamipun melanjutkan perjalanan. Kanan kiri jalan tak jauh dari pantai Remen banyak ditanami jagung. Setanpun mulai mengambil perananya disini, ia perintahkan saya untuk mencuri beberapa jagung dari kebun tersebut. Dan sayapun menyuruh aris buat mengambilnya..😅😅
Sesampainya di pantai tak ada pengunjung yang berada disana (yaiyalah, kan malam hari). Hanya ada kami dan seorang nelayan yang mencari ikan. Si bapak nelayan ini lalu nyamperin kami berdua, menanyakan mau ngapain kesini?. Mau bakar – bakar pak, jawabku. Si nelayan lalu kembali ke bibir pantai buat mencari ikan lagi. Setelah itu saya mulai mencari kayu bakar untuk membakar jagung yang sudah kami “curi” tadi. Pak nelayanpun menyempatkan juga buat membatu saya untuk mencari kayu bakar. Api telah menyala dan jagungpun kami bakar. Sialnya, jagung yang kami “curi” adalah jagung yang udah tua. Jadi rasanya tak begitu nikmat. Meskipun begitu tetap kami makan. Tak berselang lama, pak nelayan kembali menghamipiri kami.
“Eh buat bakar jagung to mas? ” tanya pak nelayan.
“Iya pak, tapi jagungnya udah tua- tua” jawabku.
” kalo ngambil yang sebelah kanan jalan aja mas, masih muda- muda disana. Jangan yg kiri jalan” sahut pak nelayan.
Sayapun meng”iya”kannya. Setelah itu pak nelayan kembali pergi mencari ikan lagi. Selang tak berapa lama kami langsung beres – beres untuk melanjutkan perjalanan. Karna Pak nelayan mungkin tau kalo jagung ini jagung curian dari kebun dekat pantai. Sambil ngomongin kejadian itu dijalan, membuat saya jadi malu sendiri. Tolong jangan ditiru ya perbuatan kami ini. 😁😁


Sampai kota Tuban, kami sempatkan menikmati suasana kota dengan ngopi di pesisir laut. Setelah kopi habis, kami lanjutkan perjalanan menuju daerah rangel. Mencari masjid untuk bermalam, berhentilah kami di masjid yang masih setengah jadi pembangunanya. Izin dengan pengurus masjid yang kebetulan juga bertempat tinggal di dekat masjid dan kami diizinkan. Sayangnya nyamuknya begitu banyak membuat kami tak bisa tidur..
Bersambung..
Satu komentar pada “Explore Tuban (part 1): salah curi jagung.”