Ngelanjutin cerita yang kemarin mengexplore kabupaten Tuban. Oh ya, yang belum baca part 1 nya bisa di baca di Explore Tuban (part1): salah curi jagung.
Nah, karna banyak nyamuk kami tak bisa tidur nyenyak. Alhasil kami bangun sebelum azan subuh berkumandang. Salutnya saya, jamaah sholat subuh di masjid ini masih begitu banyak, tak kalah banyaknya ketika sholat magrib kayak masjid – masjid pada umumnya. Sehabis subuh kami kembali tiduran, kali ini pindah di gazebo depan masjid. Nanggung, buat balas dendam yang semalam gak bisa tidur. Toh destinasi selanjutnya udah deket dari masjid ini. Fajar mulai kelihatan dari ufuk timur, perjalanan kami lanjutkan.
Bukit rangel, sebuah tambang bukit kapur yang menawarkan pemandangan yang indah. Sejatinya bukit ini bukanlah tempat wisata, melaikan tambang batu kapur yang digunakan untuk bahan bangunan. Disini terdapat galian yang masih aktif di tambang dan ada bekas galian yang sudah tidak aktif. Saat kami sampai dikawasan, bersamaan pula dengan para pekerja yang baru sampai ditambang. Salah satu pekerja memberitahu kami agar jangan terlalu minggir ke bibir tebing. Ada benarnya juga sih pekerja tambang itu, karna bisa membahayakan diri sendiri. Selain itu kami harus berhati hati dalam berkendara di kawasan pertambangan, karna banyak truk yang berlalu lalang mengangkut batu kapur. Kecamatan Rengel memang salah satu penyumbang batu kapur (gamping) terbesar di kabupaten Tuban, tak heran penduduknya mayoritas bekerja sebagai penambang batu gamping.


Perut yang mulai kelaparan membuat kami keluar dari area pertambangan. Akhirnya kami menuju pasar rangel yang tak jauh dari area pertambangan untuk mencari sarapan. Dengan harga 10 ribu satu porsi beserta minumnya membuat perut kenyang.Merasa belum puas menikmati kawasan rangel, sehabis sarapan kami kembali berkeliling menikmati kawasan rengel. Kali ini dari pasar kami naik perbukitan menuju ke utara pasar. Benar saja, pemandangan disini lebih indah. Hamparan kebun jagung yang hijau diantara tebing batu kapur khas rangel, dengan cahaya mentari di pagi hari membuat damai dihati, kami berhenti sejenak untuk sekedar mengabadikan moment yang indah ini.


Kembali melanjutkan perjalanan lebih keatas, kami berhenti diatas bukit dengan pemandangan kecamatan Rangel dibawahnya. Nampak bengawan solo, sungai terpanjang di jawa terlihat dari sini. Memang kecamatan rangel ini berada di perbatasan antara kabupaten Bojonegoro dengan bengawan solo sebagai pembatas antar wilayahnya. Di tambah lagi kabut tipis menyelimuti membuat pemandangan semakin lebih syahdu. Kami juga melihat para penambang batu gamping yg akan memulai bekerja. Berbeda dengan yang kami temui sebelumnya, karakteristik batuan gamping disini lebih padat dan tidak rapuh. Jadi pembuatan batu batanya langsung dibuat ditempat, dengan cara di gergaji membentuk batu bata pada umumnya.


Setelah puas berada di kawasan Rangel, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke destinasi selanjutnya.
Luweng wareng adalah sebuah lubang rasaksa yang berada di dalam tanah. Itu kenapa tempat ini disebut luweng wareng (lubang rasaksa). Mungkin bisa disebut goa vertikal seperti goa joblang di jogja kali ya. Diameter tengah goa ini sekitar 60 meter dan kedalaman sekitar 50 meter. Berlokasi di ds Jowarsari, kec Grabagan. Tak ada HTM untuk ke luweng wareng ini. Motor kami titipkan di mushola terdekat. Menelusuri perkebunan jagung, sampailah kami di bibir goa. Memang sekeliling goa banyak ditanami jagung, karna sedang musimnya kali ya. Didalam goa ditumbuhi berbagai pepohonan, tetapi petani juga bercocok tanam di dalam goa tersebut. entah turun lewat mana, karna kami tidak berusaha untuk turun kebawah. Menurut artikel yang pernah saya baca, goa ini biasanya digunakan untuk panjat tebing anak anak pecinta alam. Karna keunikan Luweng wareng ini, jika dilihat dari atas seperti lubang raksasa bekas meteor jatuh seperti yang terdapat di Arizona, Amerika Serikat.


Melanjutkan perjalanan selanjutnya, kami menuju daerah Semanding. Lebih tepatnya di ds Prunggahan kulon kec Semanding. Lokasi yang kami kunjungi selanjutnya ini masih berupa goa lagi, namanya goa Kancing. Tidak seperti goa Luweng wareng, goa Kancing ini lebih tepat kalo disebut sumur. Mempunyai kedalaman sekitar 3-5 meter, yang berada di atas bukit. Tapi jangan salah, meskipun begitu goa Kancing ini memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, disekitar goa terdapat 2 batu yang saling berhadapan, menyerupai sepasang kekasih. Tak ada HTM untuk berkunjung kesini. Pengunjungpun juga tak ada karna pas kami kesini matahari lagi terik teriknya. Memang sebenarnya goa kancing ini cocok untuk menikmati sunset ataupun sunrise. Uniknya lagi jika kita melihat goa kancing ini dari arah jalanan, pemandanganya itu mirip seperti Ramang ramang di Maros, Sulawesi selatan.


Berhubung cuaca semakin panas, kami putuskan untuk mengakhiri trip mengexplore Tuban kali ini. Saatnya pulang karna besoknya kami udah mulai beraktifitas seperti biasanya.
Pesan yang bisa saya petik saat explore Tuban kali ini ialah, disaat mencuri jagung milik pak nelayan di pantai Remen. Mengapa? Karna kebaikan pak nelayan, ia malah memberitahukan jagung mana yang lebih muda. Padahal ia memberitahukanya ke “pencurinya”. Dengan kata lain.
“Berbuat baiklah kepada setiap orang. Meskipun orang itu jahat kepada kita”
Sekian cerita saya mengexplore kabupaten Tuban kali ini, terima kasih udah mau mampir. 😊😊