Explore Banyuwangi (part 1)

Kabupaten Banyuwangi memang mempunyai banyak sekali tempat pariwisata yang cukup terkenal. Pariwisatanya bisa dibilang bertaraf nasioal bahkan ada yang tembus internasional. Mulai dari gunung sampai pantainya menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa bagi kabupaten Banyuwangi. Kabupaten yang mendapat julukan sunrise of java ini mempunyai budaya dan tradisi yang identik. Ada tari Gandrung, tari Gandrung ini di tarikan oleh penari wanita dan Gandrung sewu menjadi event tahunan yang selalu diadakan oleh pemerintah kab Banyuwangi. Ada lagi suku Osing, suku asli Banyuwangi ini mempunyai dialek yang berbeda dengan suku jawa pada umumnya. Dengan desanya desa wisata adat suku Osing Kamiren yang berlokasi di ds Kamiren, kec Glagah, kab Banyuwangi.

Tapi saya tidak akan menceritakan kebudayaan kabupaten Banyuwangi secara lengkap dan menyeluruh, melainkan akan menceritakan pengalaman saya berpertualang di “bumi Blambangan” ini. Yuk markicab (mari kita cabut..)

Bermula dari tawaran Jerry yang mengajak pulang ke kampung halamananya, Banyuwangi. Sayapun mengiyakan tawaran itu. Berangkatlah kami berdua sekitar pukul 03.00 dini hari dari kos-kosan Ngoro, Mojokerto menuju Banyuwangi, dengan mata yang masih mengantuk mengendarai sepeda motor. Untung saja saya di bonceng Jerry, kalo nyetir sendiri ya inalilahi 😁. Jam 07.00 pagi kami sudah sampai di Jember, berhentilah kami dirumah makan untuk sarapan. Tak lama berselang, datanglah saudaranya jerry yang kebetulan bekerja tak jauh dari rumah makan yg kami singgahi. Mungkin jerry sudah menghubunginya terlebih dahulu. Kamipun saling mengobrol sampai tak terasa hari semakin siang. Kamipun cabut dari tempat itu untuk lanjut perjalanan.

Saya pikir dari Jember menuju tempat tinggal jerry di Banyuwangi tinggal sedikit lagi. Ternyata tidak, kurang lebih masih 2,5 – 3 jam lagi perjalanan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Kami harus melewati alas gumitir yang begitu macet dikarenakan jalanan yang naik turun gunung dan juga sempit. Uniknya, di setiap tikungan terdapat para pengemis, yang saya kira itu para pengatur lalu lintas, ternyata bukan. Alas Gumitir ini berada di perbatasan antara kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.

Sekitar pukul 10:00 pagi akhirnya kami sampai di kediamanya Jerry. Di ds Sambimulyo kec Bangorejo, satu arah menuju destinasi pertama yang ingin kami kunjungi. Sampai disana kami langsung makan dan istirahat, maklum perjalanan jauh. Sekitar pukul 13:00 siang kami berangkat menuju destinasi pertama kita.

Pantai Lampon. Pantai ini berada di ds Kesilir, kec Pesanggaran . Jarak dari rumah Jerry sampai ke pantai Lampon tergolong dekat, itu mengapa menjadi alasan kami untuk yang pertama mengunjungi tempat ini. Oh iya, karna mayoritas daerah sini petani buah, tak heran kalo saat kami berangkat ke pantai Lampon, kanan kiri jalan banyak terhampar kebun jeruk dan kebun buah naga. Sampai di pantai kami langsung menuju bibir pantai, melihat para nelayan mencari ikan dengan jaring di pinggiran pantai. Garis pantainya panjang dan terdapat gumuk pasir seperti di pantai Parangtritis Jogja. Ombak yang besar mengharuskan berhati hati untuk berenang di pantai ini. Pohon – pohon kelapa di sisi barat pantai menjadi ciri khas dari pantai Lampon. Binatang ternak seperti sapi banyak di gembalakan di area pohon kelapa ini. Konon kata si jerry, dulu area pantai selatan Banyuwangi meliputi pantai Lampon ini pernah diterjang tsunami, ombaknya sampai ke pemukiman warga yang berada tak jauh dari pantai. Selain untuk tempat wisata, pantai Lampon juga digunakan untuk latihan Marinir, tak heran jika di pintu masuk terdapat gerbang selamat datang TNI AL.

Puas menikmati suasana pantai Lampon, kami menuju tempat berikutnya. Tak jauh dari pantai Lampon ada pantai Pulau merah

Pulau merah. Berjarak kurang lebih 18 km dari pantai Lampon, Pulau Merah menjadi destinasi selanjutnya. Melawati pertambangan emas yang berada di gunung Tumpang pitu, dan saya baru tahu di pulau Jawa terdapat pertambangan emas yang ternyata letaknya di dekat pantai Pulau merah. Pertambangan ini penuh dengan pro dan konrta. Pasalnya hutan di gunung Tumpang pitu menjadi habis dan tak hijau lagi. Bukan hanya itu, limbah yang dihasilkannya juga juga mencemari daerah sekitarnya, tak terkecuali Pulau merah dan pantai Lampon itu sendiri. Next, kembali ke cerita..

Sampai di pantai dengan membayar tiket Rp. 10.000 per orang. Motor kami parkir tepat di depan pulau yang menjadi icon pantai Pulau merah. Sayangnya kami tidak bisa menyebrang ke pulaunya karna air laut saat itu sedang pasang. Lokasi pulau Merah sendiri berada di ds Sumberagung kec Pesanggaran. Didekat pantai terdapat sebuah pura yang saat hari besar umat Hindhu pura ini sangat ramai dikunjungi untuk beribadah. Pulau Merah sangat cocok untuk menikmati sunset. Disaat sunset itulah pantai ini menjadi kemerah – merahan tak terkecuali pulau yang ada di dekatnya. Itu mengapa disebut pantai pulau Merah. Tidak hanya sunset yang mempesona, pasir di pulau Merah juga sangatlah lembut. Tak heran, banyak anak – anak yang datang kesini untuk sekedar bermain pasir. Tidak seperti pantai Lampon, yang mempunyai ombak yang ganas. Ombak di pulau Merah tak begitu ganas (sekitaran dekat pulau), jadi cocok digunakan untuk berenang. Tapi ingat, harus tetap hati – hati. Ketika matahari mulai meninggalkan cahayanya, kami juga ikut meninggalkan pulau Merah. Saatnya kembali ke rumahnya jerry untuk beristirahat.

Sampainya di rumah jerry, sayapun beristirahat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Tapi tidak dengan jerry. Sehabis ia makan malam, ia lalu pergi kerumah temanya. Maklum, teman lama yang jarang ketemu. Sempat diajaknya, tapi saya menolaknya dengan alasan ingin beristirahat. Dan ternyata jerry menginap di rumah temenya dan baru pulang pagi harinya..

Keesokan harinya sebelum memulai berpetualang. Saya diajak berkeliling di daerah sekitar rumahnya. Berhentilah kami di bendungan Watu kemloso. Bendungan gerak ini membendung sungai yang berhilir di dekat pantai Lampon. Berada di desa Barurejo kec Siliragung. Dari bendungan yang di cat warna warni ini terlihat juga gunung Raung yang satu garis lurus dengan sungai. Dekat bendungan terdapat warung kopi. Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung kesini. Sayangnya saat kami kesini tak ada yang membawa alat perekam gambar, jadi ya gak foto – foto. Setelah itu kami kembali ke rumah Jerry untuk prepare perjalanan selanjutnya.

Sebelum berangkat menuju ke tempat berikutanya, kami berpamitan terlebih dahulu ke keluarganya Jerry. Pasalnya, kami tidak akan kembali ke sini. Kami akan langsung kembali ke Mojokerto setelah menyelesaikan petualangan mengexplore Banyuwangi.

Bersambung…

avatar Tidak diketahui

Penulis: risalahwongkawak

tak ingin menua tanpa cerita.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai