Banyak sekali potensi alam yang ada di kabupaten Lumajang. Terlebih daerah yang berada di lereng gunung Semeru, sebut saja kecamatan Pronojiwo. Kecamatan yang perbatasan langsung dengan kabupaten Malang ini mempunyai banyak potensi alam. Mulai dari gunung, air terjun, danau bahkan sampai candi. Nah kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengunjungi beberapa wisata yang ada di kecamatan Pronojiwo, kabupaten Malang.
Minggu pagi saya belum kepikiran dolan ke suatu tempat. Terbesit dipikiran saya, ke coban Sriti. Masalahnya sahabat-sahabat saya tak ada yang mau diajak kesana dengan berbagai alasan. Ada yang sibuk sendiri lah, ada yang ngabarinya mendadak lah. Banyak deh alasanya. Hingga ada salah satu sahabat saya, Tesar namanya. Dia mau dengan ajakan saya.
Selepas sarapan, sayapun langsung menuju ke Malang, menjemput Tesar. Karana saya tak tahu rumahnya, kami pun ketemuan di Alun-alun Malang. Selepas semuanya beres, sekitar pukul 11: 00, kami pun mulai berangkat dari tempat tinggal Tesar.
Dari Malang kota sampai ke kecamatan Pronojiwo berjarak sekitar 60 Km atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Semula jalan yang kami lalui jalanan datar, hingga sampai kecamatan Dampit jalanan mulai naik turun khas pegunungan. Hampir mendekati kecamatan Pronojiwo, kendaraan banyak didominasi truk pengangkut pasir. Memang, kecamatan Pronojiwo dan kecamatan – kecamatan di sekitarnya banyak penambangan pasir. Pasir diambil dari kali aliran lahar dingin gunung Semeru. Pasir daerah ini memang berkualitas bagus. Tak heran jika kabupaten Lumajang terkenal akan pasirnya. Oke, lanjut ke cerita…
Sebelum sampai di coban Sriti kami sempatkan mampir di rumah makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Sambil makan, saya menghubungi mas saiful, kenalan saya yang membuka jalur coban Sriti bersama warga desanya. Seberes makan kami lanjut perjalanan.
Sampailah kami di pertigaan setelah jembatan Prinojiwo lalu belok ke selatan. Dari pertigaan ini sudah ada petunjuk arahnya kok. Jaraknya pun sudah dekat, sekitaran 1 Km dari pertigaan. Setelah sampai di lokasi, motor kami parkir di rumah warga di seberang pintu masuk coban sriti. Tiket masuk Rp. 15.000 untuk 2 orang sudah termasuk parkir. Oh iya, lokasi pintu masuk coban sriti ini berada di dusun jogokereng, desa Tamanayu, kecamatan Pronojiwo.
Di pintu masuk terlihat 2 orang yang sedang bersantai. Meraka memberikan kami buah salak untuk perbekalan dijalan menuju coban Sriti, kamipun melanjutkan perjalanan. Setelah itu saya mengabari mas saiful via chat, bahwa kami sudah dalam perjalanan turun. Tak pernah melihat mas saiful sebelumnya, ternyata orang yang memberi salak di depan pintu masuk itu adalah mas saiful sendiri. Berhubung dia baru saja dari coban sriti, kami canggung untuk minta mengantarkannya, akhirnya kami hanya turun berdua.
Jalur pertama adalah perkebunan salak milik warga sekitar. Belok ke kiri melewati sungai kecil dan setelah itu berganti dengan melipir di pinggiran tebing yang hanya berpagar bambu, membuat kami harus tetap berhati hati. Sampai disini kami disambut dengan ratusan kalong ( kekelawar besar). Jika kalong di daerah lain beraktivitas saat malam hari, berbeda dengan kalong disini. Kalong yang berada di sekitaran coban Sriti ini malah beraktivitas pada siang hari.
jalur baru menuju ke coban Sriti.
Sampai dibawah tampak aliran sungai glidik yang berwarna keruh kecoklatan. Maklum, di atas adalah terdapat aktivitas pertambangan pasir. Jadi jika aktivitas pertambangan berhenti, maka warna air pun juga menjadi jernih.
Sebelum jalur baru lewat desa Tamanayu ini dibangun, para pengunjung biasanya lewat melalui coban kapas biru. Dari coban kapas biru sampai ke coban sriti kalian harus menyeberangi delapan aliran sungai yang aliranya deras. Lebih berbahaya lagi di saat musim penghujan, sebab lahar dingin dari gunung semeru tiba-tiba bisa datang menerjang. Itu mengapa warga desa membuat jalur baru menuju coban sriti dengan akses yang lebih mudah melalui desa Tamanayu ini. Oh iya,saat kami mengunjungi coban Sriti ini, jalur baru dibuka sekitar 1 minggu yang lalu (akhir bulan April 2019).
Keindahan coban Sriti (c) prasetia bayu.
Penampakan coban Sriti jika di zoom
Disebut coban sriti karena berada di bawah gunung kukusan sriti. Ada juga yang menyebutnya coban wolu karena harus menyeberangi delapan (wolu) aliran sungai. Coban sriti sendiri mempunyai ketinggian sekitar 120 m dengan dilingkari tebing setinggi kurang lebih 150 m, menjadikan salah satu coban tertinggi di Indonesia. Coban Sriti mempunyai dua aliran air, membuat air terjun ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Tidak disarankan untuk mendekati coban karena alirannya begitu deras. memandanginya dari kejauhan saja sudah basah kuyup akibat hembusan airnya yang begitu deras, apa lagi jika mendekat . Karena dalam dan aliranya begitu deras, jangan sekali kali menyeberang melewati kali. Waktu yang paling cocok untuk mengunjungi coban Sriti ini adalah saat siang hari sekitar pukul 12:00 hingga pukul 16:00 sore hari.
Pakaian basah kuyup akibat hembusan air terjun
Sekitar 30 menit kami di lokasi sendirian, datanglah mas Saiful dengan mengantarkan para pengunjung lain. Lebih tepatnya wanita-wanita berhijab. Karna kawatir terjadi yang tidak diinginkan sebab jalur belum 100% jadi. Saran kami, gunakan pakain yang sesuai dengan kondisi medan, pakaian yang membuat tubuh lebih leluasa dalam bergerak. Dan juga gunakanlah alas kaki yang anti selip, sebab jalanannya berupa tanah licin dengan jurang di sampingnya.
Sampai dibawah, para cewek-cewek ini memasak mie instan dan kopi yang mereka bawa dari atas, kamipun di beri sebagain sebagai tanda perkenalan dari mereka. Kami seakan tak mau meninggalkan tempat ini karena keindahan coban Sriti. Berhubung waktu sudah sore, kami pun kembali ke atas dan pamitan kepada mas Saiful.
Para ledies sedang memasak
Buruan rencanakan kunjunganmu ke coban Sriti. Eits tapi ingat, buanglah sampah pada tempatnya dan jangan membuat vandalisme di coban Sriti. Jadikan coban Sriti tetap indah tanpa sampah dan coretan, teman.
Bersambung…