



















Tak jauh dari kediaman Jerry kami langsung melesat ke Djawatan. Berlokasi di ds Djawatan kec Cluring, Kab Banyuwangi. Berada di pinggir jalan raya, menjadikan Djawatan mudah ditemuka. Tempat ini sebenarnya adalah tempat penimbunan kayu berkwalitas bagus, dikelola langsung oleh pihak Perhutani. Tapi kini banyak dikunjungi wisatawan karna keindahanya. Berlatar belakang pohon – pohon trembesi yang diselimuti tumbuhan benalu menjadikan Djawatan unik, layaknya lokasi film-film Hollywood. Memang, Djawatan pernah menjadi lokasi film horor Indonesia yang berjudul “Kafir”.
Banyak wisatawan lokal maupun mencanegara datang kesini untuk mengabadikan moment indah. Apalagi untuk acara prewedding yang bertemakan alam. Dengan harga tiket sebesar Rp. 5.000 dan parkir Rp. 2.000 tentu cukup murah untuk menikmati kesegaran Oksigen yang di produksi dari daun – daun pohon trembesi (cie anak biologi).
Ada beberapa rumah pohon yang digunakan sebagai penunjang swafoto kalian. Tapi tetap harus hati – hati, sebab sebagian dari rumah pohon banyak yang rapuh. Terdapat pula kereta mini dan delman untuk berkeliling di area Djawatan, tetapi saya kira pengunjung lebih banyak yang menggunakan delman dari pada kereta mini. Untuk ongkos naiknya kami kurang tahu, karna kami tak menaiki ke dua kendaraan itu.
Sedang asik – asiknya berswafoto, rintikan air hujan mulai turun. Pengunjung mulai berhamburan mencari tempat berteduh, tak terkecuali kami. Hingga akhirnya kami berteduh di tenda warung diarea Djawatan. Tapi gak enak juga kalo gak pesan makanan. kamipun pesan mie cup dan secangkir kopi. Itung – itung sambil nunggu hujan reda. Disaat hujan, pesona Djawatan semakin kece, kabut – kabut tipis menyelimuti pohon-pohon trembesi yang bernuansa “angker” ini.


Setelah hujan reda, kami melanjutkan berswafoto kembali. Tanah yang basah membuat kami untuk berhati – hati dalam berjalan agar tak terperosok dalam lumpur. Selang tak beberapa lama, kami menyudahi berkeliling Djawatan dan menuju ke destinasi selanjutnya.
Menuju kembali ke barat, ke arah kec Songgon. Destinasi selanjutnya yang akan kami explore adalah air terjun Lider. Mendung yang tak juga cerah Memaksa kami untuk semakin mengegas lebih cepat kendaraan kami. Rintikan hujanpun datang, tapi kami tak peduli. Kami tetap melaju tanpa berhenti, tanpa menggunakan jas hujan. Dan syukurlah akhirnya hujan berhenti. Masalah satu selesai, datang masalah lagi. Jalan yang tadinya mulus beraspal kini mulai rusak. Kami dituntut untuk lebih berhati hati dalam berkendara. Semakin kesini semakin rusak, hingga pada akhirnya hanya batu ditata sedemikian rupa. Yang awalnya melewati pemukiman warga, berubah menjadi hutan pinus di kanan kiri jalan.
Jalanan yang tak kunjung bagus membawa kami di sebuah perkampungan kecil. Berhentilah kami untuk membeli air mineral dan plastik. Kenapa membeli plastik? Guna untuk membungkus HP dan kamera agar tidak basah saat kehujanan. Orang kampung disini kemungkinan menggunakan bahasa Madura, karena disaat saya membeli air mineral dengan menggunakan bahasa jawa, si penjual terlihat bingung. Dan ketika saya berganti menggunakan bahasa Indonesia, penjualnya baru mengerti.

Kembali melanjutkan perjalanan… Jalanan masih didominasi jalan rusak, tapi kini berganti kebun tebu di kanan kiri jalan. Karna terlalu berat medanya, tak jarang saya harus turun dari motor agar motor lebih enakan dalam melaju. Sempat terbesit di pikiran, tidak mungkin jika mobil masuk ke tempat wisata ini karena medan yang sulit. Setelah kami sampai di parkiran, kami kaget melihat ada mobil diparkir di loket masuk air terjun Lider. Sempat bertanya kepada 2 orang pengunjung dari Bali yang juga baru sampai sebelum kami. Meraka juga kaget jika ada mobil yang bisa sampai sini. Usul punya usul, ternyata jalur yang kami lewati salah. Yang seharusnya kami belok ke kiri, jalan yang lebih bagus. Kami malah ikut jalur kanan yang jalanya sempit dan menanjak. Ah yasudahlah, syukur sudah sampai disini. Meskipun harus kembali dengan jalan yg sama hancurnya. Oh iya, saat sampai disini tak ada pentugas tiket yang menjaganya. Jadi kami free untuk masuk ke air terjun Lider ini.
Sebelum memulai perjalanan. Terlebih dahulu saya menggunakan jas hujan untuk berjaga – jaga jika kehujanan saat di tengah perjalanan (walaupun saya lepas di tengah perjalanan karna gerah 😁). Medan yang kami lewati pertama adalah menuruni tebing menuju ke dasar sungai. Sampai di dasar sungai selanjutnya kami menelusuri sungai tersebut. Kami harus menyebrang, mlipir pinggiran sungai beberapa kali. Seperti treking di coban Jodo. Tenang, sungainya dangkal dengan arus yg tak begitu deras. Pihak pengelola wisata juga sudah mempersiapkan tali penyebrangan agar mempermudah pengunjung dalam menyeberang sungai. Sampai di air terjun Lider sudah ada 4 orang pengunjung yang mengendarai mobil yang kami temui di parkiran atas tadi.
Saya kira air terjun Lider ini berasal dari nama Leader yang artinya pemimpin dalam bahasa Inggris. Ternyata bukan, air terjun Lider berasal dari tempat air terjun ini berada, yaitu di blok Lider. Berada di lereng gunung Raung, persisnya lokasi ini berada di dsn Sragi, ds Sumber arum, kec Songgon, kab Banyuwangi. Tinggi air terjun Lider sekitar 60 m, menjadikan air terjun Lider yang tertinggi di Banyuwangi. Debit air yang deras membuat siapa saja yang mendekat akan basah kuyup terhempas hembusan air dari air terjun Lider. Di kanan kiri air terjun utama terdapat aliran – aliran air terjun kecil yang menambah exsotis air terjun ini. Meskipun air terjun Lider sulit di jangkau dan belum ramai pengunjung, akan tetapi kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya sangatlah rendah. Terbukti ketika berada di sana, kami melihat banyak sampah – sampah berserakan tidak dibuang pada tempatnya.
Sedang asyik – asyiknya berfoto, hujan kembali turun meskipun tidak deras. Untung ada warung kosong berada di dekat air terjun. Kami ber 8 ( 4 orang yang naik mobil, 2 orang dari bali,dan kami berdua) akhirnya berteduh dalam warung, menunggu hujan reda. Setelah hujan reda kami melanjutkan kembali berfoto – foto.


Selang tak berapa lama, serasa cukup mengexplore air terjun Lider, kami ber delapan kembali menuju atas, ke tiket masuk. Takut jika sungai banjir dan kami masih berada di bawah. Kan gak lucu jika seharusnya ingin bersenang – senang saat liburan, eh malah harus bercucuran air mata karena kejebak banjir ( lebei amat).
Sampai diatas kami harus dihadapkan jalanan yang rusak kembali. Maafkan aku ya motor, karenaku kamu menjadi menderita.
Selanjutnya, menuju destinasi yang sudah mendunia di Banyuwangi yaitu kawah ijen. Dari air terjun Lider menuju ke kawah ijen cukuplah jauh, sekitar 70 km. Memutar melewati kota Banyuwangi. Didalam perjalanan kami sempat berdiskusi ingin mengunjungi destinasi yang sekiranya satu arah dengan kawah Ijen . GWD (grand watu dodol) atau pantai Boom yang keduanya berada tak jauh dari kota. Tapi setelah dipikir – pikir karna terlalu lelah dan ingin sejenak istirahat, akhirnya kami metiadakan kunjungan itu.
Akhirnya kami sampai dikota Banyuwangi sore hari sekitar pukul 17:30. Sholat Magrib terlebih dahulu di masjid Agung Baiturrahman (masjid besar Banyuwangi). Selagi saya sholat, jerry menunggu di serambi masjid. Setelah selesai, kami berjalan kaki menuju ke taman Sritanjung yang berada di seberang masjid untuk mencari makan. Maklum, dari tadi pagi perut cuma keganjel mie cup yang kami beli di Djawatan. Saat makan, jerry mengeluh sakit. Waduh, padahal nanti malam bakalan trekking kawah Ijen. Tahan Jeerr..
Karena takut kemalaman, setelah makan, kami langsung menuju ke paltuding, pos pertama menuju kawah Ijen. Sekitar 1 jam berkendara, melewati hutan yang minim penerangan, yang terlihat di depan hanyalah marka jalan. Semakin mendekati pos paltuding udara semakin dingin. Sebelum sampai, terdapat pemberhentian guna menarik uang asuransi sebesar Rp.2.000. Kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang berkelok, sepi dan kanan kiri hutan yang lebat menjadikan perjalanan ini terasa lama. Ingin rasanya sampai pos paltuding dan menghangatkan tubuh di depan api unggun.
Dan sampailah kami di pos paltuding sekitar pukul 20:00, yang kami kira sudah jam 22:00, maklum di jalanan sangatlah gelap. Setelah itu kami langsung menuju warung yang pernah saya singgahi. Rasa dingin hilang setelah kami menghangatkan tubuh di depan api unggun. Mencoba untuk tidur tapi rasa-rasanya saya tak bisa tidur. Tapi Jerry malah bisa tidur dengan posisi duduk di depan api unggun, mungkin dia sangat lelah. Berjam jam menunggu loket buka, sekitar pukul 01:00 dini hari, akhirnya kami putuskan memesan maknan terlebih dahulu. Mengisi perut dahulu sebelum berangkat trekking. Mie telor pake nasi menjadi andalan kami. Jika dilihat dari warung yang kami singgahi, seharusnya jam 01:00 loket sudah ramai, kok ini sepi-sepi amat ya?. Akhirnya kami putuskan untuk melihat kedalam. Ternyata loketnya pindah, loket pindah di bangunan yang agak masuk kedalam. Padahal dulu pas saya pertama kesini berada depan gerbang pintu masuk, jadi terlihat dari warung-warung kalo loket sudah buka.
Untuk tiketnya kami habis Rp.20.000 itu sudah termasuk parkir. Seberes mengurus tiket, kami langsung mulai trekking. Jalur trekkingnya tetap sama seperti dulu, saat pertama kali saya kesini. Yang membedakan kali ini adalah toilet-toilet yang sudah berdiri di jalur pendakian. Dulu saat saya kesini, toilet memang dalam proses pengerjaan. Tapi sayangnya karena toilet yang kurang terawat, menjadikan toilet sangat kotor. Banyaknya sampah yang dibuang didalam toilet menjadi kendala utama. Saya yang semula ingin buang air di toilet pun tak jadi karna toilet kotar dan bau. Mohon dengan kesadaran dari para pengunjung agar merawat fasilitas yang sudah disediakan pemerintah. Tidak hanya di kawah ijan saja, tapi di seluruh wisata dan tempat-tempat lain di Indonesia, mohon dirawat bersama.
Jalan yang semula menanjak akhirnya menjadi landai, itu artinya kami sudah dekat dengan puncak. Di bagian kanan jalan pun sekarang sudah dipasangi pagar, meskipun masih sebagian. Ini berguna agar pengunjung tak terlalu mengambil ke kanan saat trekking pada malam hari.
Disaat naik keatas ini banyak sekali yang menawarkan penyewaan masker, tapi kami selalu menghindar dari tawaran itu. Puncaknya saat kami mau turun ke kawah. Kami ditakut-takuti oleh penyewa masker, tidak boleh menuju ke kawah tanpa menggunakan standard masker yang ada. Benar saja, seorang orang tua dengan membawa anak kecil yang ingin menuju kebawah akhirnya kembali lagi karna tidak menyewa masker. Akhirnya kami menyewa masker dengan menegonya, dari yang semula Rp.50.000 2 orang menjadi Rp.40.000 2 orang. Toh kami menyewa masker ini karna Jerry lagi tak enak badan dan demi keselamatan juga.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kebawah. Jalan menuju kebawah sempit, jadi jika berpapasan dengan penambang belerang kita diharuskan untuk mendahulukan para penambang. Sekitar 30 menit kami trekking menuju ke kwah Ijen, akhirnya sampai juga. Tapi sayang, tak muncul tanda – tanda api birunya.
Sedang asyiknya menungggu api birunya muncul, eh si Jerry malah kembali tidur. Enak banget nih orang bisa tidur di tempat ginian. Karna saya juga kesal dengan api biru yang gak muncul -muncul, akhirnya saya juga ikut tiduran saja.. Tak menghiraukan para pengunjung yang lalu lalang diatas kami, kami tetap melanjutkan tidur di “kasur empuk” ini, meskipun cuma rebahan dan memejamkan mata doang.
Seberkas sinar matahari mulai menyinari kawah. Kami mulai bergerak lebih mendekati sumber belerang untuk melihat para penambang mengambil bongkahan belerang dari dalam perut bumi. Selain menambang, para penambang juga membuat kerajian dari belerang, mencetaknya berbentuk karakter-karakter lucu, lalu menjualnya ke pengunjung yang ada disitu.
Matahari yang semakin keatas, kamipun akhirnya kembali menuju keatas juga, saat perjalanan keatas, beberapa kali kami berhenti untuk mengambil gambar. Sayang, kawah yang tertutup asap belerang membuat pemandanga sedikit tersamarkan. Tapi tak apalah..


Setelah sampai diatas, kami mengambil arah kekiri menuju spot sunrise di bekas bangunan Belanda. Sebelum sampai di bekas bangunan Belanda, kami berhenti di salah satu spot yang cukup terkenal di dunia perInstagraman. Tempat ini berada setelah hutan mati. Jadi tempat ini berupa tanah yang menjorok ke arah kawah. Kami diharuskan untuk berhati-hati dalam mengambil foto ditempat ini, karena berhadapan langsung dengan tebing kawah. Lebih baik mementingkan keselamatan dari pada sebuah foto.
Seberes dari tempat ini, kami lalu menuju bekas bangunan Belanda untuk menikmati mentari pagi. Gak saya sebut sunrise karena matahari udah menyengat sekali 😅. Sambil menikmati mentari pagi, kami mengeluarakan perbekalan berupa roti yang kami beli saat masih berada di kota. Mentari pagi, sarapan roti dan pemandangan kawah membuat kami betah berada disini. Apalagi kalo ada kopi dan colokan. Ingin deh rasanya buat rumah di atas sini 😁.

Seberes dari puncak kami akhirnya kembali menuju ke pos paltuding. Saat perjalanan ke bawah, kami terpencar. Saya berada didepan dan Jerry ada di belakang, terpaut jauh sekali. Tapi karena saya kebelet buang air kecil, akhirnya saya berhenti dan “menghilang” dari jalur trekking. Seberes buang air kecil, saya melanjutkan perjalanan kembali.. Sampailah saya di gerbang teket pintu masuk paltuding. Saya berhenti tepat di stopan masuk penyobekan tiket, dengan dalih menunggu Jerry yang masih di belakang. Sekitar 30 menit saya menunggu, pikiranku malah kemana-mana. Apa mungkin Jerry tersesat? Padahal jalur sangatlah jelas dan ramai. Lalu saya berfikiran untuk menuju ke warung yang sempat saya dan Jerry singgahi tadi malam. Dan ternyata benar, si Jerry sudah ada di sana. Yaelah, kirain belum balik..
Seberes Jerry beli cindramata, kami langsung pulang melewati Bondowoso. Karena sangat kecapekan dalam perjalanan, akhirnya kami berhenti dan istirahat di Arak-arak, sebuah tempat di Bondowoso yang menawarkan pemandangan Pantura dari ketinggian. Disini terdapat banyak monyet yang berkeliaran. Yang semula ingin istirahatpun, malah memberi makan si monyet-monyet ini. Dengan membeli kacang dipedagang sekitar tempat wisata dengan harga Rp. 2.000 per ikat. Setelah kacang habis, kami baru mulai tidur di mushola yang ada di sana. Takut barang bawaan di ambil monyet, kami dekapi aja saat kami tertidur.

Kami terbangun setelah sekitar satu jam tidur, kami melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan dari Arak-arak, Bondowoso sampai ke Mojokerto masihlah jauh. Saat tiba di daerah Bangil, Pasuruan, cuaca tidak mendukung. Hujan turun dan kamipun berhenti untuk memakai jas hujan. Meskipun sampai kos gak hujan sama sekali, tapi kami tetap bersyukur bisa mengexplore Banyuwangi dan kembali dengan selamat.
Pesan yang bisa saya ambil dari berpetualang di Banyuwangi ini adalah ketika saya bertemu dangan para penambang belerang di kawah Ijen. Meraka rela bertaruh nyawa demi rejeki yang tak seberapa. Mendengar batuk para penambang karena menghirup asap belerang, belum lagi mata yang perih akibat paparan langsung dari asap yang dihasilkan. Membuat saya berfikir, sudah beryukurkah kita?. Kita sering melihat keatas, melihat yang lebih baik dari kita. Sedangkan masih banyak yang tak seberuntung kita. Maka, bersyukurlah selagi masih mendapat rejeki,Meskipun kecil nilainya.
Sekian petualang saya di Banyuwangi. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, maapin Aik ya. Jangan lupa baca cerita petualangan saya yang lainya..
Kabupaten Banyuwangi memang mempunyai banyak sekali tempat pariwisata yang cukup terkenal. Pariwisatanya bisa dibilang bertaraf nasioal bahkan ada yang tembus internasional. Mulai dari gunung sampai pantainya menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa bagi kabupaten Banyuwangi. Kabupaten yang mendapat julukan sunrise of java ini mempunyai budaya dan tradisi yang identik. Ada tari Gandrung, tari Gandrung ini di tarikan oleh penari wanita dan Gandrung sewu menjadi event tahunan yang selalu diadakan oleh pemerintah kab Banyuwangi. Ada lagi suku Osing, suku asli Banyuwangi ini mempunyai dialek yang berbeda dengan suku jawa pada umumnya. Dengan desanya desa wisata adat suku Osing Kamiren yang berlokasi di ds Kamiren, kec Glagah, kab Banyuwangi.
Tapi saya tidak akan menceritakan kebudayaan kabupaten Banyuwangi secara lengkap dan menyeluruh, melainkan akan menceritakan pengalaman saya berpertualang di “bumi Blambangan” ini. Yuk markicab (mari kita cabut..)
Bermula dari tawaran Jerry yang mengajak pulang ke kampung halamananya, Banyuwangi. Sayapun mengiyakan tawaran itu. Berangkatlah kami berdua sekitar pukul 03.00 dini hari dari kos-kosan Ngoro, Mojokerto menuju Banyuwangi, dengan mata yang masih mengantuk mengendarai sepeda motor. Untung saja saya di bonceng Jerry, kalo nyetir sendiri ya inalilahi 😁. Jam 07.00 pagi kami sudah sampai di Jember, berhentilah kami dirumah makan untuk sarapan. Tak lama berselang, datanglah saudaranya jerry yang kebetulan bekerja tak jauh dari rumah makan yg kami singgahi. Mungkin jerry sudah menghubunginya terlebih dahulu. Kamipun saling mengobrol sampai tak terasa hari semakin siang. Kamipun cabut dari tempat itu untuk lanjut perjalanan.
Saya pikir dari Jember menuju tempat tinggal jerry di Banyuwangi tinggal sedikit lagi. Ternyata tidak, kurang lebih masih 2,5 – 3 jam lagi perjalanan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Kami harus melewati alas gumitir yang begitu macet dikarenakan jalanan yang naik turun gunung dan juga sempit. Uniknya, di setiap tikungan terdapat para pengemis, yang saya kira itu para pengatur lalu lintas, ternyata bukan. Alas Gumitir ini berada di perbatasan antara kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.

Sekitar pukul 10:00 pagi akhirnya kami sampai di kediamanya Jerry. Di ds Sambimulyo kec Bangorejo, satu arah menuju destinasi pertama yang ingin kami kunjungi. Sampai disana kami langsung makan dan istirahat, maklum perjalanan jauh. Sekitar pukul 13:00 siang kami berangkat menuju destinasi pertama kita.
Pantai Lampon. Pantai ini berada di ds Kesilir, kec Pesanggaran . Jarak dari rumah Jerry sampai ke pantai Lampon tergolong dekat, itu mengapa menjadi alasan kami untuk yang pertama mengunjungi tempat ini. Oh iya, karna mayoritas daerah sini petani buah, tak heran kalo saat kami berangkat ke pantai Lampon, kanan kiri jalan banyak terhampar kebun jeruk dan kebun buah naga. Sampai di pantai kami langsung menuju bibir pantai, melihat para nelayan mencari ikan dengan jaring di pinggiran pantai. Garis pantainya panjang dan terdapat gumuk pasir seperti di pantai Parangtritis Jogja. Ombak yang besar mengharuskan berhati hati untuk berenang di pantai ini. Pohon – pohon kelapa di sisi barat pantai menjadi ciri khas dari pantai Lampon. Binatang ternak seperti sapi banyak di gembalakan di area pohon kelapa ini. Konon kata si jerry, dulu area pantai selatan Banyuwangi meliputi pantai Lampon ini pernah diterjang tsunami, ombaknya sampai ke pemukiman warga yang berada tak jauh dari pantai. Selain untuk tempat wisata, pantai Lampon juga digunakan untuk latihan Marinir, tak heran jika di pintu masuk terdapat gerbang selamat datang TNI AL.


Puas menikmati suasana pantai Lampon, kami menuju tempat berikutnya. Tak jauh dari pantai Lampon ada pantai Pulau merah
Pulau merah. Berjarak kurang lebih 18 km dari pantai Lampon, Pulau Merah menjadi destinasi selanjutnya. Melawati pertambangan emas yang berada di gunung Tumpang pitu, dan saya baru tahu di pulau Jawa terdapat pertambangan emas yang ternyata letaknya di dekat pantai Pulau merah. Pertambangan ini penuh dengan pro dan konrta. Pasalnya hutan di gunung Tumpang pitu menjadi habis dan tak hijau lagi. Bukan hanya itu, limbah yang dihasilkannya juga juga mencemari daerah sekitarnya, tak terkecuali Pulau merah dan pantai Lampon itu sendiri. Next, kembali ke cerita..
Sampai di pantai dengan membayar tiket Rp. 10.000 per orang. Motor kami parkir tepat di depan pulau yang menjadi icon pantai Pulau merah. Sayangnya kami tidak bisa menyebrang ke pulaunya karna air laut saat itu sedang pasang. Lokasi pulau Merah sendiri berada di ds Sumberagung kec Pesanggaran. Didekat pantai terdapat sebuah pura yang saat hari besar umat Hindhu pura ini sangat ramai dikunjungi untuk beribadah. Pulau Merah sangat cocok untuk menikmati sunset. Disaat sunset itulah pantai ini menjadi kemerah – merahan tak terkecuali pulau yang ada di dekatnya. Itu mengapa disebut pantai pulau Merah. Tidak hanya sunset yang mempesona, pasir di pulau Merah juga sangatlah lembut. Tak heran, banyak anak – anak yang datang kesini untuk sekedar bermain pasir. Tidak seperti pantai Lampon, yang mempunyai ombak yang ganas. Ombak di pulau Merah tak begitu ganas (sekitaran dekat pulau), jadi cocok digunakan untuk berenang. Tapi ingat, harus tetap hati – hati. Ketika matahari mulai meninggalkan cahayanya, kami juga ikut meninggalkan pulau Merah. Saatnya kembali ke rumahnya jerry untuk beristirahat.


Sampainya di rumah jerry, sayapun beristirahat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Tapi tidak dengan jerry. Sehabis ia makan malam, ia lalu pergi kerumah temanya. Maklum, teman lama yang jarang ketemu. Sempat diajaknya, tapi saya menolaknya dengan alasan ingin beristirahat. Dan ternyata jerry menginap di rumah temenya dan baru pulang pagi harinya..
Keesokan harinya sebelum memulai berpetualang. Saya diajak berkeliling di daerah sekitar rumahnya. Berhentilah kami di bendungan Watu kemloso. Bendungan gerak ini membendung sungai yang berhilir di dekat pantai Lampon. Berada di desa Barurejo kec Siliragung. Dari bendungan yang di cat warna warni ini terlihat juga gunung Raung yang satu garis lurus dengan sungai. Dekat bendungan terdapat warung kopi. Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung kesini. Sayangnya saat kami kesini tak ada yang membawa alat perekam gambar, jadi ya gak foto – foto. Setelah itu kami kembali ke rumah Jerry untuk prepare perjalanan selanjutnya.
Sebelum berangkat menuju ke tempat berikutanya, kami berpamitan terlebih dahulu ke keluarganya Jerry. Pasalnya, kami tidak akan kembali ke sini. Kami akan langsung kembali ke Mojokerto setelah menyelesaikan petualangan mengexplore Banyuwangi.
Bersambung…
Ngelanjutin cerita yang kemarin mengexplore kabupaten Tuban. Oh ya, yang belum baca part 1 nya bisa di baca di Explore Tuban (part1): salah curi jagung.
Nah, karna banyak nyamuk kami tak bisa tidur nyenyak. Alhasil kami bangun sebelum azan subuh berkumandang. Salutnya saya, jamaah sholat subuh di masjid ini masih begitu banyak, tak kalah banyaknya ketika sholat magrib kayak masjid – masjid pada umumnya. Sehabis subuh kami kembali tiduran, kali ini pindah di gazebo depan masjid. Nanggung, buat balas dendam yang semalam gak bisa tidur. Toh destinasi selanjutnya udah deket dari masjid ini. Fajar mulai kelihatan dari ufuk timur, perjalanan kami lanjutkan.
Bukit rangel, sebuah tambang bukit kapur yang menawarkan pemandangan yang indah. Sejatinya bukit ini bukanlah tempat wisata, melaikan tambang batu kapur yang digunakan untuk bahan bangunan. Disini terdapat galian yang masih aktif di tambang dan ada bekas galian yang sudah tidak aktif. Saat kami sampai dikawasan, bersamaan pula dengan para pekerja yang baru sampai ditambang. Salah satu pekerja memberitahu kami agar jangan terlalu minggir ke bibir tebing. Ada benarnya juga sih pekerja tambang itu, karna bisa membahayakan diri sendiri. Selain itu kami harus berhati hati dalam berkendara di kawasan pertambangan, karna banyak truk yang berlalu lalang mengangkut batu kapur. Kecamatan Rengel memang salah satu penyumbang batu kapur (gamping) terbesar di kabupaten Tuban, tak heran penduduknya mayoritas bekerja sebagai penambang batu gamping.


Perut yang mulai kelaparan membuat kami keluar dari area pertambangan. Akhirnya kami menuju pasar rangel yang tak jauh dari area pertambangan untuk mencari sarapan. Dengan harga 10 ribu satu porsi beserta minumnya membuat perut kenyang.Merasa belum puas menikmati kawasan rangel, sehabis sarapan kami kembali berkeliling menikmati kawasan rengel. Kali ini dari pasar kami naik perbukitan menuju ke utara pasar. Benar saja, pemandangan disini lebih indah. Hamparan kebun jagung yang hijau diantara tebing batu kapur khas rangel, dengan cahaya mentari di pagi hari membuat damai dihati, kami berhenti sejenak untuk sekedar mengabadikan moment yang indah ini.


Kembali melanjutkan perjalanan lebih keatas, kami berhenti diatas bukit dengan pemandangan kecamatan Rangel dibawahnya. Nampak bengawan solo, sungai terpanjang di jawa terlihat dari sini. Memang kecamatan rangel ini berada di perbatasan antara kabupaten Bojonegoro dengan bengawan solo sebagai pembatas antar wilayahnya. Di tambah lagi kabut tipis menyelimuti membuat pemandangan semakin lebih syahdu. Kami juga melihat para penambang batu gamping yg akan memulai bekerja. Berbeda dengan yang kami temui sebelumnya, karakteristik batuan gamping disini lebih padat dan tidak rapuh. Jadi pembuatan batu batanya langsung dibuat ditempat, dengan cara di gergaji membentuk batu bata pada umumnya.


Setelah puas berada di kawasan Rangel, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke destinasi selanjutnya.
Luweng wareng adalah sebuah lubang rasaksa yang berada di dalam tanah. Itu kenapa tempat ini disebut luweng wareng (lubang rasaksa). Mungkin bisa disebut goa vertikal seperti goa joblang di jogja kali ya. Diameter tengah goa ini sekitar 60 meter dan kedalaman sekitar 50 meter. Berlokasi di ds Jowarsari, kec Grabagan. Tak ada HTM untuk ke luweng wareng ini. Motor kami titipkan di mushola terdekat. Menelusuri perkebunan jagung, sampailah kami di bibir goa. Memang sekeliling goa banyak ditanami jagung, karna sedang musimnya kali ya. Didalam goa ditumbuhi berbagai pepohonan, tetapi petani juga bercocok tanam di dalam goa tersebut. entah turun lewat mana, karna kami tidak berusaha untuk turun kebawah. Menurut artikel yang pernah saya baca, goa ini biasanya digunakan untuk panjat tebing anak anak pecinta alam. Karna keunikan Luweng wareng ini, jika dilihat dari atas seperti lubang raksasa bekas meteor jatuh seperti yang terdapat di Arizona, Amerika Serikat.


Melanjutkan perjalanan selanjutnya, kami menuju daerah Semanding. Lebih tepatnya di ds Prunggahan kulon kec Semanding. Lokasi yang kami kunjungi selanjutnya ini masih berupa goa lagi, namanya goa Kancing. Tidak seperti goa Luweng wareng, goa Kancing ini lebih tepat kalo disebut sumur. Mempunyai kedalaman sekitar 3-5 meter, yang berada di atas bukit. Tapi jangan salah, meskipun begitu goa Kancing ini memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, disekitar goa terdapat 2 batu yang saling berhadapan, menyerupai sepasang kekasih. Tak ada HTM untuk berkunjung kesini. Pengunjungpun juga tak ada karna pas kami kesini matahari lagi terik teriknya. Memang sebenarnya goa kancing ini cocok untuk menikmati sunset ataupun sunrise. Uniknya lagi jika kita melihat goa kancing ini dari arah jalanan, pemandanganya itu mirip seperti Ramang ramang di Maros, Sulawesi selatan.


Berhubung cuaca semakin panas, kami putuskan untuk mengakhiri trip mengexplore Tuban kali ini. Saatnya pulang karna besoknya kami udah mulai beraktifitas seperti biasanya.
Pesan yang bisa saya petik saat explore Tuban kali ini ialah, disaat mencuri jagung milik pak nelayan di pantai Remen. Mengapa? Karna kebaikan pak nelayan, ia malah memberitahukan jagung mana yang lebih muda. Padahal ia memberitahukanya ke “pencurinya”. Dengan kata lain.
“Berbuat baiklah kepada setiap orang. Meskipun orang itu jahat kepada kita”
Sekian cerita saya mengexplore kabupaten Tuban kali ini, terima kasih udah mau mampir. 😊😊
Tuban, salah satu kabupaten yang berada paling ujung barat provinsi Jawa timur. Tuban disebut juga kota wali karna di kabupaten ini terdapat beberapa makam wali. Antara lain sunan Bonang, Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi (pra walisongo) dan masih banyak lagi. Bertolak belakang dengan sebutan kota wali, Tuban juga mempunyai sebutan kota tuak (sejenis minuman beralkohol). Kenapa disebut kota tuak? Karna daerah Tuban banyak di tumbuhi pohon lontar/ siwalan yg digunakan sebagai bahan baku pembuatan tuak.
Pariwisata Tuban juga tak kalah menarik. Antara lain, air terjun nglirip, pantai sowan, goa akbar dan masih banyak lagi. Nah kali ini saya bersama rekan saya aris rahmat akan mengexplore kabupaten Tuban.
Berangat dari Ngoro sekitar jam 08:00 menuju kos-kosan Aris di Sidoarjo. Rute yang saya ambil adalah krian, lamongan. Sampai lamongan kami berhenti di pinggir jalan untuk membeli makanan, khasnya Lamongan dong yaitu nasi Boran. Nasi Boran ini seperti nasi pecel pada umumnya, yang membedakan adalah penjualannya dengan cara di gendong menggunkan boranan (anyaman bambu) dan berjualan di trotoar- trotoar jalan. Jadi kami makan berhadapan langsung dengan para pengguna jalan gitu. Seberes makan kami lanjutkan kembali perjalanan menuju Tuban. Melewati Babat dan sampailah di kabupaten Tuban. Benar saja sampai wilayah Tuban banyak di tumbuhi pohon Lontar. Sore hari sekitar jam 16: 30 sampailah kami di pantai cemara, berada di barat tak jauh dari kota. Sebenarnya pantai cemara ini tak ada dalam daftar explore kami, dikarenakan udah mau malam, kami putuskan untuk berhenti sejenak nikmat sunset di pantai ini, meski sebenarnya lagi mendung. Toh pantai ini berada di pinggir jalan pantura. Saat berada di pantai ini, keadaan sepi sekali, hanya ada kami berdua dan seorang pedagang cilok. Kurangnya kesadaran pengunjung untuk membuang sampah di pada temeepatnya membuat pantai cemara ini sedikit terkotori.

Dirasa lelah telah hilang, kami lanjutkan perjalanan kami menuju daftar pantai yang kami sebenarnya ingin tuju. Yaitu pantai Remen.
Pantai ini mempunyai karakteristik yang begitu unik. Pasalnya terdapat semacam danau yang berada di bibir pantai. Yang sebenarnya kami gak bisa liat sih karna sampai pantai Remen ini udah malam. Sebelum sampai pantai, kami kehujanan. Kamipun berteduh di pos kampling arah menuju pantai remen. Dirasa udah reda kamipun melanjutkan perjalanan. Kanan kiri jalan tak jauh dari pantai Remen banyak ditanami jagung. Setanpun mulai mengambil perananya disini, ia perintahkan saya untuk mencuri beberapa jagung dari kebun tersebut. Dan sayapun menyuruh aris buat mengambilnya..😅😅
Sesampainya di pantai tak ada pengunjung yang berada disana (yaiyalah, kan malam hari). Hanya ada kami dan seorang nelayan yang mencari ikan. Si bapak nelayan ini lalu nyamperin kami berdua, menanyakan mau ngapain kesini?. Mau bakar – bakar pak, jawabku. Si nelayan lalu kembali ke bibir pantai buat mencari ikan lagi. Setelah itu saya mulai mencari kayu bakar untuk membakar jagung yang sudah kami “curi” tadi. Pak nelayanpun menyempatkan juga buat membatu saya untuk mencari kayu bakar. Api telah menyala dan jagungpun kami bakar. Sialnya, jagung yang kami “curi” adalah jagung yang udah tua. Jadi rasanya tak begitu nikmat. Meskipun begitu tetap kami makan. Tak berselang lama, pak nelayan kembali menghamipiri kami.
“Eh buat bakar jagung to mas? ” tanya pak nelayan.
“Iya pak, tapi jagungnya udah tua- tua” jawabku.
” kalo ngambil yang sebelah kanan jalan aja mas, masih muda- muda disana. Jangan yg kiri jalan” sahut pak nelayan.
Sayapun meng”iya”kannya. Setelah itu pak nelayan kembali pergi mencari ikan lagi. Selang tak berapa lama kami langsung beres – beres untuk melanjutkan perjalanan. Karna Pak nelayan mungkin tau kalo jagung ini jagung curian dari kebun dekat pantai. Sambil ngomongin kejadian itu dijalan, membuat saya jadi malu sendiri. Tolong jangan ditiru ya perbuatan kami ini. 😁😁


Sampai kota Tuban, kami sempatkan menikmati suasana kota dengan ngopi di pesisir laut. Setelah kopi habis, kami lanjutkan perjalanan menuju daerah rangel. Mencari masjid untuk bermalam, berhentilah kami di masjid yang masih setengah jadi pembangunanya. Izin dengan pengurus masjid yang kebetulan juga bertempat tinggal di dekat masjid dan kami diizinkan. Sayangnya nyamuknya begitu banyak membuat kami tak bisa tidur..
Bersambung..
Dahulu kala di selatan gunung kendeng terdapat sebuah kerajaan yang begitu makmur. Rakyatnya hidup sejahtera. dipimpin oleh seorang Ratu. Ratu ini mempunyai abdi dalem – abdi dalem yang setia.
Di suatu hari salah satu abdi dalem (perempuan) sedang menumbuk padi di lesung, dengan kaki diangkat satu di atas lesung. Tak sengaja “mani” si abdi dalem ini keluar dan jatuh di lantai, dimakanlah “mani” ini oleh ayam yg ada di sekelilingnya. Ayam ini akhirnya bertelur dan mengengkrami telurnya di tempat penampungan beras kerajaan, tanpa sepengetahuan siapapun.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, abdi dalem selalu terheran dengan kejadian aneh yg ada di lumbung beras kerajaan. Pasalnya setiap beras diambil selalu tak berkurang dan malah tambah banyak. Si abdi dalem akhirnya melaporkan kejadian itu ke sang ratu. Dengan inisiatif sang ratu, lumbung itu di geledah. Hingga akhirnya menemukan sebuah ular yang besar hasil dari engkraman ayam yang kapan hari bertelur. Anehnya ular ini bisa berbicara layaknya manusia. Sang ratu pun merawat ular itu.
Hari demi hari ular itu semakin besar dan bisa dikatakan menjadi raksasa. Karna tak ingin membahayakan penduduknya, sang ratu akhirnya membawanya ke perbukitan sebelah utara kerajaan dan menacapkanya 2 buah kayu di kepala dan ekor si ular. Sang ratu berkata, “jangan makan apapun sekalipun ada makanan di dalam mulutmu”. Dan ditinggalah sendirian si ular raksasa di perbukitan itu.
Berberapa tahun setelahnya. Ada 10 anak kecil yg mencari rumput di sekitaran bukit itu. Sedang asiknya mencari rumput datanglah hujan yang deras, akhirnya anak-anak itu berteduh di sebuah goa. Karna ada satu anak yg mempunyai penyakit kulit, anak itu tidak di bolehkan berteduh didalam goa. Alhasil anak itu tidak masuk goa dan tetap kehujanan. Bersamaan dengan itu, mulut goa itu tiba- tiba menutup dengan sendirinya. Ternyata goa itu adalah mulut ular raksasa milik sang ratu beberapa tahun yg lalu. Melihat kejadian itu, si bocah yang berpenyakit kulit akhirnya berlari ketakutan menuju ke desa. Hingga akhirnya goa itu dinamakan goa lawa oleh penduduk sekitar.
Dongeng di atas selalu diceritakan dari ibu saya disaat mau tidur diwaktu saya masih kecil. Tetapi goa lawa ini baru bisa saya explore setelah saya sudah gede dan bekerja, padahal jarak dari rumah ke goa lawa gak terlalu jauh.
Saya mengunjungi goa lawa ini bersama mail, teman sekampung. Goa lawa ini terletak di kawasan waduk Pondok, ds Dero, kec Bringin, kab Ngawi. Kalian bisa masuk melewati gerbang selamat datang waduk, lalu masuk ada pertigaan ke kiri bertuliskan dsn goa lawa. Atau rute yang kedua, yaitu dari pertigaan dsn goa lawa masih lurus, sebelum sampai di pertigaan bendungan, ada jalan menuju kolam renang. Dari kolam renang, goa lawa udah deket. Rute ke dua ini terbilang lebih dekat, tapi sebelum sampai goa, jalannya sangat ekstrim. Jika masih bingung, bisa lihat di maps (klik disini)
Tak ada HTM untuk kesini. Motor bisa parkir dekat mulut goa. Tinggi goa sekitar 3 meter dan lebar sekitar 6 meter. Setelah masuk, kita disambut ratusan kekelawar penghuni goa. Itu mengapa goa ini disebut goa lawa (goa kekelawar). Terdapat lubang lubang di atas goa, membuat goa ini tak begitu gelap. Salah satu lubang di tumbuhi akar pohon yang membuat goa lebih exksotis. Semakin ke dalam goa, semakin sempit dan gelap. Udara pengap pun tak dapat terelakan. Konon mitos yang beredar, goa ini berujung di daerah gunung Pandan, Saradan Madiun.



Serasa cukup mengexplore goa lawa, kamipun pulang. Karna hari juga udah mulai sore.
Sekian mitos dan perjalan saya menelusuri goa lawa. Semoga bermanfaat..😊
Pujon. Salah satu kecamatan di kabupaten malang raya ini menawarkan bentang alam yang luar biasa. Tetapi pujon tak begitu ramai seperti Batu, kecamatan yg berada di sebelah timurnya.
Di pujon sendiri terdapat sebuah desa bernama desa Pujon Kidul. Ya, sebuah desa yang berada di selatan pusat kecamatan ini mulai menggeliat perekonomianya. Mulai dari sektor pertanian, pertenakan dan yg menjadi unggulan dari desa ini adalah sektor pariwisata.karna geografis desa berada di pegunungan. Pemerintah desa memaksimalkan potensi alamnya, menjadikan pujon kidul sebagai desa percontohan di Indonesia yg banyak dikunjungi wisatawan .
Salah satunya dengan dibukanya cafe sawah. Sebuah tempat makan yang mengusung alam sebagai latar belakangnya. Menjadikan cafe sawah sebagai ikon utama dasa pujon kidul. Tak heran jika akhir pekan atau weekend banyak pengunjung yang datang ketempat ini. Mobil mobil memadati jalanan desa, membuat desa pujon kidul ramai, tak jarang sedikit macet. Dari pertumbuhan desa pujon kidul yg begitu cepat, membuat pemudanya tak lagi merantau bekerja di luar daerah, apalagi yang menganggur. Mereka banyak mengembangkan desanya sendiri mulai dari, mengatur lalu lintas jalanan desa, pengelola cafe hingga pemandu wisata.
Selain cafe sawah, desa pujon kidul juga terdapat wisasata edukasi, wisata outbound dan wisata alam. Nah, kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya bersama teman saya jerry mengexplore wisata alam pujon kidu, yaitu air terjun. Di desa ini terdapat beberapa air terjun yg begitu menarik..
Kami berangkat dari kos Ngoro Mojokerto menuju pujon malang via cangar, karna rute ini lebih cepat dibandingkan lewat jalan nasional malang – surabaya. Sedikit salah jalan, akhirnya sampai juga di desa pujon kidul. Karna kurangnya petunjuk arah, kami sesekali bertanya dengan penduduk sekitar perihal lokasi yang ingin kami kunjungi.
Sebelum sampai di parkiran, sekitar 1 km jalanan mulai tidak bersahabat. Dominasi jalan tanah menjadi masalah utama menuju parkiran. Di pinggiran jalan tak jarang kami menemui peternak lebah madu. sepertinya sedang panen saat kami lewat.

Sampai parkiran, kami sempatkan untuk membeli gorengan dan air mineral untuk pembekalan. Sebenernya parkiran ini adalah parkiran untuk 2 coban sekaligus, yaitu coban sumber pitu dan coban buntung.
Tempat parkiran ini lebih di kenal dgn parkiran ke coban sumber pitu. Tapi kami tak ingin ke coban sumber pitu, melainkan hanya ingin ke coban buntung. setelah membayar tiket seharga 25k untuk 2 orang 1 montor, kami langsung tracking menuju coban buntung.
Jika ingin ke coban buntung, dari parkiran kita harus turun ke bawah. Melewati kebun sayur warga dan hutan pinus. Saya harus memakai masker karna debu debu berterbangan akibat kemarau panjang. Kami tracking sekitar 20 menit hingga sampai ke lokasi. tak terlalu melelahkan, karna jalanan yang landai.


Coban buntung atau coban manan ini tak seramai coban sumber pitu, coban ini tergolong sepi. Saat kami kesini, tak ada pengunjung lain selain kami berdua. Dinamakan coban buntung karna jalan menuju lokasi hanya ada satu saja dan buntu. Selepas puas menikmati pesona coban buntung, kami kembali menuju parkiran.
Rencananya kami ingin langsung balik, tapi setelah dipikir pikir nanggung juga kalo gak sekalian ke coban sumber pitu. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sumber pitu.
Tracking menuju sumber pitu ini begitu menguras tenaga. Beda dengan coban buntung yg jalanya landai, sumber pitu ini jalananya menanjak. Debu dan tanjakan yg panjang menjadi masalah utama menuju coban. Sesekali kami beristirahat untuk memulihakan tenaga. Selanjutnya kami melewati bekas hutan terbakar yang sangat instagramable, kamipun berhenti di area hutan tersebut untuk sekedar berfoto foto.

Sebenarnya ada 3 coban dalam lokasi ini. Sumber siji, sumber pitu dan sumber telu.
Sumber siji atau sumber satu. Sesuai namanya coban ini hanya ada satu aliran, tapi debit dari coban ini yang paling besar dari coban lainya. Menuju keatasnya lagi ada sumber pitu. Jaraknya dekat, dari sumber siji pun, sumber pitu udah kelihatan. Tetapi jalan menuju sumber pitu ini sangatlah menanjak. Bahkan harus menggunakan alat bantu tali tambang untuk sampai kesana. Hanya saya saja yang menuju ke sumber pitu, rekan saya jerry hanya menunggu di sumber siji. Karna saat itu mendung dan mau hujan, saya tak lama lama berada di sumber pitu. Akhirnya saya kembali turun dan tak melanjutkan menuju coban yang paling atas, sumber telu.

Sumber siji

Sumber pitu
Kamipun bergegas turun. Mengingat mau hujan, kami akhirnya langsung pulang. Tapi tetap saja di perjalanan pulang kami tetap kehujanan. Sebenernya sih gak perjalanan pulang . tapi ngelanjutin ke tempat berikutnya, yaitu waduk selorejo di ngantang. Berhubung ceritanya gak terlalu seru saya skip aja yah..😂😂. Tapi tenang, ini saya kasih penampakanya waduk selorejonya.

Dan pada akhirnya kami pulang kembali diguyur hujan disaat pulang. Ditambah jalanan kota batu yang begitu macet membuat saya frustasi. Karna hari sudah petang, kami tidak mengambil jalur via cangar seperti semula, melainkan jalan nasional malang – surabaya.
Sekian cerita saya berpetualang di daerah pujon kidul dan sekitarnya. Semoga bermanfaat..🙂🙂
Malang, kabupaten dengan banyak wisata ini memang tak henti- hentinya memperlihatkan pesonanya. Mulai dari wisata alam, taman rekreasi dan masih banyak lagi. Kali ini saya dan jerry akan mengexplore salah satu dari wisata alam yang ada di malang.
Coban jodo. Coban ini berada di dsn bendolawang, ds ngadirejo, kec jabung. Sebenarnya ada dua jalur masuk untuk menuju coban jodo ini. Dari jabung sendiri, dan ada yang dari tumpang. Wisatawan yg berasal dari arah surabaya (utara) lebih recomend lewat jabung. Itu sebabnya kami memilih lewat sini (jabung).
Berangkat dari kos sekitar jam 3.30 pagi. Sampai coban jodo sekitar jam 05.00. Gerbang masih tertutup, begitu pula loketnya. Motor saya parkir disebelah loket. Tak lupa saya kunci ganda, mengingat belum ada yang jaga. Kami langsung turun kebawah. Trek pertama memang jalanan setapak menuju kebawah jurang. Sampai dibawah, aliran sungai menyambut kami. Nah, dari sinilah percabangan antara jalur jabung dan jalur tumpang. Jalur tumpag berada di seberang sungai. Kami diharuskan menelusuri pinggiran sungai hingga sampai ke air terjun pertama.
Coban kricik. Sesuai dengan namanya, coban ini memiliki aliran air yang tak begitu deras. Cuma gemricik air yang mengalir dari atas tebing. Tapi jangan salah, meskipun tak begitu deras tapi coban ini cukup tinggi. Melanjutkan perjalanan ke coban selanjutnya, kami tidak berhenti di coban ini. Coban selanjutnya adalah coban singo
Coban singo/ coban arema. Coban ini memiliki 2 tingkat, tingkat pertama sekitar 10 meteran dan tingkat ke 2 sekitar 3 meteran saja. Kenapa dinamakan coban singo? Mungkin karna tingkat ke 2 nya memiliki 2 aliran yg menyerupai taring singa.

Kembali melanjutkan perjalanan, coban berikutnya adalah coban suko.
Coban suko. berada di tengah aliran sungai, coban ini bertolak belakang dengan coban kricik yg tinggi tapi berdebit air sedikit. Coban suko ini justru berdebit deras tetapi tak begitu tinggi, cuma sekitar 6 meteran

Lanjut ke coban berikutnya. Kami harus melipir ke kanan dari coban suko ini. Medan tetap harus menyusuri sungai. Sebelum sampai coban selanjutnya, coban cinde. Kami diharuskan menyebrang sungai dengan melewati pohon tumnang.
Sebelas dua belas dengan coban kricik. Coban cinde ini juga tinggi, tapi debit airnya lebih besar dari pada coban kricik.

Dari coban cinde ini, coban utama yaitu coban jodo sudah terlihat.
Coban jodo. Coban ini yg menjadi tujuan utama jika ingi berkunjung kesini. Tinggi dan berdebit air besar, menjadikan coban jodo ini lebih menarik dari pada coban- coban sebelumnya. Hempasan air tak akan terelakan tatkala kami mendekat ke coban ini. Alhasil pakaian kami basah kuyub. Keunikan dari coban ini. jika di foto dari sudut yg berbeda, seperti berada di coban lain. Padahal masih satu tempat.

dari sebelah kiri.

dari depan
Saat kami berada disini, suasana begitu tenang. Sepi belum ada pengunjung membuat kami betah berada disini. Hempasan air begitu terasa saat kami mendekat ke air terjun. Puas menikmati coban jodo ini kami langsung kembali ke parkiran.
Di parkiran ternyata sudah ada penjaga tiket. Kami terpaksa mengeluarkan uang utuk bayar tiket. Cuma 25k untuk 2 orang 1 motor. Cukup murah, karna satu tiket sudah mendapatkan banyak air terjun.
Kami lanjutkan ke tempat berikutnya, menuju coban pelangi yg tak jauh dari sini, Coban pelangi. Coban ini berada di taman nasional bromo tengger semeru (TNBTS), lebih tepatnya di ds ngadas, poncokusumo, Malang. Coban pelangi memang tak jauh dari coban jodo, itu sebabnya kami sekalian menuju ke coban pelangi.
Tiket masuk ke coban pelangi ini sebesar 35k untuk 2 orang dan 1 motor lalu dilanjutkan berjalan kaki sekitar 1km. Di pertengahan jalan, kami tertarik dengan persimpangan jalan menuju sebuah bukit. Untuk kebukit ini kami harus membayar lagi sebesar 10k utuk 1 orang dan dapat 1 botol air mineral. Di tebing bukit terdapat tulisan “coban pelangi” yg terbuat dari tanaman hias. Dari atas bukit bisa melihat hamparan hutan TNBTS dan juga coban pelangi itu sendiri. Puas diatas bukit, kami turun kebawah menuju dasar air terjun.

Sampai di lokasi, hempusan air menyapa kami, padahal jaraknya masih jauh. Batu yg licin dengan lumut- lumut menyambut kami di kala kami semakin mendekat. Dari sini kami berkenalan dengan @nafilufil, @intansfitri dan kawan- kawan. Pengunjung yg ramai membuat kami tak berlama lama berada di sana. Akhirnya kami pergi meninggalkan lokasi menuju parkiran.

Perut yg tak bisa diajak kompromi membuat kami membeli bakso di sekitaran loket masuk. Lumayan buat ganjel perut. Sehabis kenyang kami kembali pulang menuju Mojokerto.
Sekian cerita perjalanan saya mengexplore coban jodo dan coban pelangi.
Terima kasih..😊😊
gunung lawu. Gunung yang berada di perbatasan jawa timur dan jawa tengah ini menyimpan pesona yang begitu indah, tak terkecuali bagian selatan gunung lawu itu sendiri. Bentang alam berupa pegunungan terhampar mulai dari karanganyar, magetan, ponorogo, wonogiri dan pacitan. Pegunungan di daerah ini tergolong minim sumber air, alias gersang. Tak heran jika musim kemarau daerah ini kesulitan air bersih.
Nah, kali ini saya dan rekan saya, triono. Akan mengexplore beberapa tempat menarik di sekitaran pegunungan selatan ini, terutama untuk bukit -bukitnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah bukit besek.
Berangkat dari rumah pukul 03.00 dini hari, berharap kami mendapat sunrise. google maps masih menjadi andalan kami sebagai petunjuk arah. di tengah perjalanan, bensin mulai menipis. SPBU masih jauh, kamipun mencari bensin eceran. Karna masih dini hari, toko penjual bensin eceranpun masih tutup semua. Akhirnya kami memberanikan diri untuk mengetuk pintu toko penjual bensin yg masih tutup. Syukur, akhirnya bahan bakar terisi penuh dan kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalanan yg semula enak berubah menjadi jalanan hancur. Belum lagi drama tersesatnya kami karna dekat lokasi wisata minim petunjuk arah. Alhasil kami tanya- tanya ke penduduk lokal.
Sampai parkiran,kami sedikit bergegas mulai berjalan keatas. Di tengah perjalanan menuju keatas, diberi tahu warga yg sedang menyapu halaman rumahnya, bahwa kami salah jalur. Seharusnya kami ambil arah samping parkiran. Akhirnya kami kembali dan berlari menuju lokasi. Untunglah, jalan yg kami lalui tergolong datar dan gak nanjak. Baru kali ini saya treking di bukit yg jalanya datar gak nanjak. Malah bisa di bilang turun kali ya. Dan Alhamdulillah, sampai lokasi masih dapat sunrise.

Bukit besek ini berlokasi di desa bugelan, kec kismantoro, kab Wonogiri. Selain trakingnya yg datar, cuma membutuhkan waktu 5 -10 menit. Keunikan yg lain dari bukit ini adalah karakteristik berupa tumpukan batu di puncaknya. tumpukan batu itu menyerupai besek, Itu mengapa bukit ini dinamakan bukit besek. Tak jarang di atas batu- batu di bukit Besek ini digunakan warga sekitar untuk menjemur hasil bumi warga sekitar, seperti temulawak dan lain sebagainya.
Tiket untuk masuk sendiri masih free alias gratis. Meskipun begitu, kita wajib menjaga kelestariannya dengan cara tidak membuang sampah sebarangan serta tidak melakukan vandalisme.
Tips bagi yang ingin kesini. Kesinilah saat pagi hari ketika matahari terbit, dan saat musim penghujan. Karna diwaktu waktu itulah disaat viewnya lagi mantul (mantap betul). Puas menikmati keindahan bukit besek, kami melanjutkan perjalanan kembali ke destinsi yang kedua. Kali ini bukan di wisata alam, melainkan wisata edukasi. yaitu monumen jendral sudirman yang berada di kab Pacitan.
Dari bukit besek menuju monumen jendral sudirman tergolong dekat. Karna kedua tempat ini berada diantara perbatasan. Untuk lokasi monumen jendral sudirman sendiri berada di desa pakisbaru, kec nawangan, kab Pacitan. Komplek monumen ini berdiri kokoh patung jendral Sudirman membawa tongkat dgn tinggi sekitar 8 m. Terdapat 3 tingkat tangga menuju patungnya. Masing-masing tingkatan memiliki 17 8 dan 45 anak tangga. Tau sendiri lah filosofinya. Monumen ini memperingti bahwa di tempat ini dulu sang jendral pernah singgah untuk melakukan perang griliya.
Terdapat beberapa fasilitas yang berada di kompleks monumen ini, antara lain. Ruangan audio visual, perpustakaan, diorama dan lain-lain. Disetiap temboknya terdapat relief-relief yg menggambarkan tentang jalanya perang griliya yg di lakukan jendral sudirman, sampai meletusnya serangan umum 1 maret di jogja.

Karna sampai tempat ini siang hari bolong, cuaca panas terik pun tak terhindarkan. Jika kalian ingin kesini usahakan saat pagi atau sore hari, karna disaat itulah cuaca sangat mendukung. Untuk biyaya masuknya gratis, mungkin karna pas kami kesini gak ada yang penjaganya kali ya. Sehabis puas mengelilingi kompleks monumen, kami kembali melanjutkan menuju tempat selanjutnya.
Bukit cumbri. Ya, sebagian dari kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan bukit yang satu ini. Tapi, sebelum sampai lokasi kami sempatkan untuk makan di perbatasan ponorogo dan wonogiri. Tampak di seberang jalan terlihat beberapa polisi yang mengatur lalu lintas, maklum hari itu menjelang malam pergantian tahun 1 suro, yg notabene masyarakat sekitar madiun ponorogo merayakan malam pergantian tahun baru islam ini dgn grebeg suronya. Sehabis makan kami langsung jalan. Belum 5 meter berjalan, kami di panggil pak polisi yg berjaga tadi. Wah, melakukan kesalahan apa kami?, pikirku. Ternyata pak polisi ingin membuat dokumentasi dlm kegiatan tersebut, dan kami yg di jadikan modelnya. Untunglah..😁😁
Setelah selesai, kami langsung tancap gas menuju ds temon pagerukir, kec sampung, kab ponorogo sebagai basecame untuk menuju bukit cumbri. Sebenarnya ada dua jalur sih untuk sampai ke puncak bukit cumbri. Dari ponorogo ini sendiri dan dari ds biting, kec purwantoro, kab wonogiri. Karna bukit ini menjadi perbatasan antara ponorogo dan wonogiri. Kami memilih dari ponorogo, karna jalurnya gak terlalu panjang. Sesampainya di basecame, kami menyempatkan diri untuk tidur sejenak di mushola dekat basecame, toh matahari masih terik-teriknya.
Sekitar pukul 3 sore disaat anak- anak kecil mulai berangkat ngaji, kamipun juga mulai berangkat tracking. Musim kemarau membuat tanah berdebu. Sekitar 30 menit kami tracking, sampailah di puncak gunung cumbri.

Tidak ada orang selain kami berdua yg berada di puncak. Memang, musim kemarau tak seindah saat musim penghujan. Bukit- bukit yang banyak di tumbuhi pohon jati yg hijau di kala musim penghunjan, mulai merontokan daunya dan kering disaat musim kemarau. Angin kencang tak henti- hentinya menerpa kami. Bekas kebakaran semak-semak ada dimana- mana. Tapi tetap kami syukuri, karna di setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing.
Matahari mulai tenggelam, kami memutuskan untuk turun dari puncak. Disaat kami turun, berpapasanlah dengan pengunjung lain yg baru ingin naik. Mungkin mereka ingin menghabiskam malam 1 suronya di puncak. Sampai basecame, bergegaslah kami untuk pulang. Sebab setiap malam 1 suro jalanan ponorogo madiun rawan sekali macet.
Itu tadi cerita dari saya mengexplore kawasan selatan gunung lawu. Sekian cerita dari saya, Terima kasih.
Wisata heritage. Kalian pernah dengar gak sih wisata heritage?. Ya, heritage sendiri adalah tempat yg dianggap mempunyai nilai sejarah yg tinggi di suatu tempat.
Di Ngawi sendiri juga gak mau kalah. ada beberapa wisata Heritage yg wajib kalian kunjungi. Antara lain: Benteng pendem yg udah terkenal seantero galaksi bima sakti. rumah KRT Radjiman widyoningkrat, ketua BPUPKI. monumen Suryo, tempat meninggalnya gubernur jatim pertama. musium trinil, tempat ditemukanya fosil manusia purba pertama didunia.
Tapi kali ini saya tidak akan membahas tempat- tempat yg ada diatas,melainkan tempat- tempat yg belum banyak dikunjungi. toh tempat- tempat diatas sudah banyak yg membahasnya di berbagai platform. Yuk kita mulai saja ceritanya.
Berangkat bersama rekan saya, triono. sepeda motor saya arahkan ke destinasi heritage pertama, yaitu omah watu
Omah watu atau rumah batu tergolong wisata baru di Ngawi. Bisa dibilang wisata keajaiban di Ngawi sih, dari pada wisata heritage.

Omah watu berada di ds Hargomulyo kec ngrambe ini mempunyai keunikan tersendiri, pasalnya rumah ini semua bagianya terbuat dari batu dan uniknya lagi, hampir 90% tanpa menggunakan semen. Semacam kayak keajaiban dunia yg di miliki candi Borobudur kan?. Pemiliknya bernama mbah sarengat/ Hartomo. Beliau sendirilah yg membuat rumah ini. Rumah ini pun belum mempunyai atap karna beliau meninggal dunia sebelum bangunan ini selesai. Untuk tiket masuknya sendiri cuma 5k/ orang dan parkir 2k/motor. Disamping omah watu ini juga terdapat kebun bunga krisan yg instagramable, pas banget buat foto- foto sama pasangan. Maaf gak ada fotonya di kebun bunga, wong saya gak punya pasangan..😅😅
Abis dari kebun bunga, kami melanjutkan ke destinasi yg kedua, bukan wisata heritage sih. Melainkan wisata alam yg tidak jauh dari omah watu ini.
Air terjun teleng.
Air terjun ini masuk pada kawasan bumi perkemahan selo ondo ds Ngrayudan kec Jogorogo Ngawi. Montor kami parkir di kawasan selo ondo yang terkenal akan festival grafitasi buminya. Selanjutnya kami mengikuti aliran sungai untuk sampai ke air terjun. Dari parkiran sampai air terjun membutuhkan waktu yang lama, kurang lebih sekitar 20an menit. Belum lagi saat mengambil jalur yang salah akibat kurangnya petunjuk arah. 10 meter sebelum air terjun utama, kami udah disuguhkan air terjun air terjun kecil yg bersumber dari mata air langsung. Rasa capek seketika hilang terkena percikan air terjun.

Air terjun ini berdebit deras jika musim penghujan datang, dan berdebit kecil bahkan tak ada airnya jika musim kemarau. Tapi walaupun begitu air terjun ini mempunyai daya tarik tersendiri. Sebenarnya sih ada 2 jalur untuk sampai ke air terjun ini. Pertama dari selo ondo sendiri. Dan yg kedua dari taman hutan segawen yg berada tepat di atas air terjun teleng. Puas menikmati pesona air terjun teleng, kami langsung kembali, karna waktu sudah sore.
Karna jalan searah dengan rumah. sebelum pulang ke rumah, kami sempatkan ke tempat selanjutnya yaitu kepatihan lama.
Kepatihan lama sendiri adalah bangunan tua yang berada di pusat kota Ngawi. Tepatnya di jln patiunus kelurahan ketanggi kec Ngawi kab Ngawi. Bangunan ini memiliki sejarah yang besar bagi kab Ngawi. Pasalnya bangunan ini dulu adalah kantor kepatihan yg ada di ngawi. Bahkan pahlawan HOS Cokroaminoto, raja jawa tanpa mahkota, pernah bekerja disini sebagai juru tulis. Beliau keluar karna melihat ketidak sewenang wenanganya Belanda kepada kaum pribumi. Tempat ini rencanya akan di restorasi karena bangunannya udah tidak terawat, banyak semak belukar tumbuh tinggi. Next, mungkin tempat ini akan jadi heritage kedua setelah benteng van den bosh.

Tempat ini cocok banget di datengin pas waktu sunset ataupun sunrise. Karna langit mulai gelap kami pun pulang.
Itulah beberapa wisata “heritage” yg ada di Ngawi. Selamat berwisata di negeri Ngawi Ramah..