Bukit Bundu, melihat jalur lahar dingin gn Semeru.

Azan subuh mulai berkumandang. Aku pun di bangunkan oleh Irvansyah alias Gepeng, temen satu kosan via missedcall. Karena sebelumnya kami udah janjian untuk melakukan perjalanan menuju ke Malang. Sebenernya janjian jam 3 sih, tapi karna aku masih ngebo akhirnya kami baru berangkat setelah subuh.

Rencana hari ini kami ingin ke pergi ke 2 tempat yang ada di perbatasan antara Malang dan Lumajang. Yang pertama ke bukit Bundu dan dilanjutkan ke Tumpak sewu. Dimana ke dua tempat ini berjarak gak terlalu jauh. Perjalanan kami tempuh dari Ngoro sampai ke bukit Bundu sekitar 3 jam bersepeda Motor.

Bukit Bundu berlokasi di ds Purwoharjo kec Ampelgading, Malang. Jalanya searah sebelum PLTA Ampelgading. Disaat kami mau sampai lokasi, kami sempat tersesat. Kami hampir sampai ke PLTA Ampelgading. Sadar jalanan mulai turun, kamipun putar balik. Disaat itulah bukit baru kelihatan dari jalan yang kami lewati. Oh ya, dari jalanan ini kami juga bisa melihat air terjun yang ada di samping kanan. Entah air terjun apa namanya, yang jelas ketinggianya kurang lebih 100 meter.

Foto aku ambil dari jalan menuju ke bukit Bundu

Parkiranya berada di tepian jalan dekat pintu masuk. Jadi untuk mobil hanya muat beberapa aja. Saat itu loket masih tutup. Tanpa pikir panjang, kami langsung trobos aja dengan mengunci ganda sepeda motor agar lebih aman. Ditambah lagi helm kami bawa menuju ke atas. Mumpung gratis, hehe. Eh pas kami balik ternyata udah ada yg jaga. Kamipun akhirnya membayar tiket Rp 10.000 untuk parkir.

Ok, kembali ke perjalan naik.

Tracking ke puncak Bundu ini gak terlalu lama, sekitar 10 – 15 menit sampai di puncak. Kanan kiri di perjalanan naik banyak di tanami kopi, toilet dan kandang kambing. Ya, terdapat juga kandang kambing milik warga disini.

Sampai puncak, lelahnya perjalanan seketika hilang. Pasalnya kami bisa melihat pemandangan indah dari atas sini. Mulai dari gagahnya gunung semeru, hutan dengan tebing tebing yang curam kayak di jurasick park dan yang paling menarik dari puncak Mundu ini adalah view sungai aliran lahar dingin Gunung Semeru. Sungai yang lebar seperti lembah menjadi ciri khas dari panorama puncak Bundu

Layaknya bukit bukit wisata yang ada di Indonesia, di puncak Bundu juga terdapat beberapa Spot . Antara lain, ada spot tangan, spot papan panah, dan meja kursi di pinggir tebing. Di sisi yg lain juga terdapat papan dengan tulisan BUNDU. karena saat kesini masih pagi dan masih tutup, jadi diatas bukit hanya ada kami berdua.

Bukit Bundu dengan latar belakang sungai aliran lahar dingin.

Melanjutkan ke destinasi ke dua, tumpak sewu. Sebelum sampai ke tumpak sewu kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Sebab dari pagi perut belum terisi sama sekali. Hanya roti yang kami beli di Alfamart sebelum sampai di puncak Mundu tadi.

Ini adalah kali ke tiga ku mengunjungi tumpak sewu. Yang pertama saat tumpak sewu baru dibuka di tahun 2015, dan yg kedua disaat bareng2 sama anak anak se desaku, lupa sih tahun berapa. Dan keduanya lewat tiket masuk Malang. Jadi kali ini yg pertama kali lewat dari Lumajang. Sedangkan Gepeng baru pertama kali. Jadi sebenernya Gepeng lah yang nyidam pengen ngajak kesini.

Sampai lokasi kami harus membayar parkir sepeda motor sebesar Rp 5.000 dilanjutkan tiket masuk Rp 10.000 per orang. Disini fasilitasnya lengkap, maklum wisata yang udah tersohor. Setelah membayar tiket masuk, dilanjutkan berjalan kaki turun kebawah kondisi jalan yang udah cor – coran. Diperjalanan kami suguhi ladang salak yang menjadi komoditi warga pronojiwo. Sekitar 5 -10 menit kami akhirnya sampai di view panorama.

Bagus ya. Panoramanya..

Di tempat ini kami bisa melihat keindahan tumpak sewu dari atas beserta gunung Semeru dari kejauhan. Perbedaan jika dari Malang, view dari Lumajang ini terbilang tampak dari depan tumpak sewu. Sedangkan dari Malang, tampak berada di samping

Perbedaan yang lain, saat kami turun dasar air terjun. Dari arah Malang jalur sangat curam dan harus menggunakan tangga, sedangkan dari Lumajang jalurnya tergolong landai. Kami membutuhkan hampir 30 menit untuk sampai ke bawah air terjun. Melewati aliran air yang cukup licin. Jadi harus ekstra hati hati.

Kebetulan sebelum kami kesini atau lebih tepatnya kemarin, tumpak sewu sedang terkena lahar dingin, jadi daun daun di pinggiran sungai yg semula berwana hijau nampak putih terkena banjir bercampur lumpur. Oleh sebab itu pengunjung cuma dibatasi turun sampai jam 15.00 saja. Toh itupun air dari air terjun utama juga nampak masih keruh akibat banjir kemarin.

Spot bawah yang paling banyak dikunjungi wisatawan sih yang sebelah kanan. Naik ke sebuah tebing yang menjorok gitu. Tapi sekarang kami ingin mencari spot yang kurang ramai di kunjungi, yaitu di sebelah kiri. Kami harus menyebrang sungai lagi untuk sampai ke spot ini. Enaknya dari spot ini, hempasan air gak terlalu deras. Jadi lensa kamera bisa lebih lama dalam membidik objek. Meskipun tetep ngelapi jugs sih, tapi setidaknya gak sesering kalo kita berada di sebelah kanan

Harus ekstra hati hati untuk sampai ke titik spot foto ini.

Ok, segitu dulu ceritaku ke bukit Mundu dan Tumpak sewu. Udah dulu ya, ngantuk akutuh..

Explore Jeguran di kaki gunung Lawu

Minggu pagi sekitar jam 7 aku bersama mas Dhanu, kenalan dari Instagram, berencana mengexplore sumber atau mata air yang ada di lereng gunung Lawu.

Rencananya kami akan mengexplore 3 sumber sekaligus. Tapi dalam perjalanan, karena keadaan fisik yang kurang mendukung, nyatanya hanya 2 sumber yang dapat kami kunjungi.

Janjian jam 7 pagi pun molor hingga jam 9. Maklum, jam Indonesia. Karena mas Dhanu bertempat tinggal di Dolopo, Madiun dan aku di Karangjati Ngawi, akhirnya kami putuskan untuk ketemuan di Maospati, Magetan. Sekitar jam 9 kami bertemu , motor mas Dhanu lalu di titipkan di dekat terminal Maospati. Kamipun lanjut berangkat boncengan ke sumber yang pertama.

Namanya sumber Durenan. Bertempat di bumi perkemahan Gendingan. Meskipun bernama Gendingan, bukan berarti berada di kecamatan Gendingan, Ngawi. Melainkan berada di kecamatan Kendal. Lebih tepatnya di desa Sidorejo, kec Kendal, kab Ngawi. Atau di samping SMP 2 Kendal.

Karna kami dari Maospati, jadi kami menuju ke pertigaan PG Purwodadi ke barat. Lalu dari perempatan pasar Simo belok kanan. Menuju ke ds Sidorejo. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa Klik disini

Sampai di Buper (bumi perkemahan) banyak sekali anak anak yang berenang di sini. Memang, di sini terdapat kolam renang. Ada 2 kolam renang, satu sedalam pundak orang dewasa dan satunya lagi untuk anak anak. Tak heran jika banyak anak anak berenang disini, disamping tempatnya gratis.kolam renang bernuansa terbuka, langsung menghadap ke alam tanpa sekatan tembok atau sejenisnya, membuat kolam renang ini indah dan segar untuk di nikmati. Apalagi lokasinya berada di kaki gunung lawu.

Meskipun masuk ke bumi perkemahan Gendingan dan berenang di kolam renangnya gratis, sayang sekali tempat untuk ganti pakaian tidak tersedia. Solusi yang kami lakukan adalah ganti di bangunan toilet yang sudah tidak terpakai, yang gak jauh dari kolam renang. Meskipun gak ada pintunya, tapi cukup aman untuk anak cowok.

Air di kolam ini seperti kurang terawat, itu terlihat dari warna air kolam yang hijau karna banyak lumut dan kotoran lainya, seperti daun daun kering. Meskipun begitu, airnya tetep seger kog.

Selesai berenang kalian bisa beli makan atau sekedar membeli cemilan di warung dekat kolam renang. Ya, di dekat kolam renang bumi perkemahan Gendingam ini memang terdapat warung penjual makanan. Jadi jika kalian laper, bisa beli makanan disini.

Sedikit naik keatas sekitar 50 m terdapat sumber mata air bernama sumber Durenan. Sumber mata air ini sangatlah segar, khas pegunungan. Selain untuk mengairi persawahan, sumber ini kelihatannya juga sangat sakral. Itu terlihat adanya bekas bekas lilin yang ada di sekitran sumber Durenan. Apa mungkin saat kami kesini menepati bulan Suro? Kami juga belum tau pasti.

Berbicra tentang sumber Durenan yang airnya untuk mengairi persawaan, memang di sekitar sumber atau lebih tepatnya di bawah dari sumber Durenan ini terdapat persawahan terasering. Uniknya persawahan ini, jika pada umumnya pematang bertanah liat. Tapi tidak dengan persawahan ini. Sawah disini menggunakan tumpukan batu sebagai pematangnya. Mungkin karena tempat disekitaran sini banyak terdapat bebatuan, jadi dimanfaatkan sebagai pematang sawah. Alhasil terasering disini sangat instagenic banget, seperti persawahan kuno gitu.

Puas minkati dan mengexplore bumi perkemahan Gendingan. Kami lanjutkan menuju ke lokasi ke dua, yaitu sumber Sejok. Kami kembali lagi ke Maospati dan kali ini kami berangkat dengan kendaraan kami masing masing.

Sumber Sejok ini berada di ds Krajan, kec Parang, kab Magetan. Itu sebabnya kami mengendarai kendaraan kami masing masing. Sebab mas Dhanu bisa langsung pulang ke Dolopo tanpa harus ke Maospati terlebih dahulu.

Sebenarnya sumber Sejok ini sudah pernah aku datengin dulu. Tapi sayang, karenan longsor kolam di sumber sejok jadi hilang dan tak berbentuk. Hanya tersisa air sedikit. 6 bulanan dari situ aku dapat kabar bahwa sumber Sejok di rehab lagi dan air dapat menggenang layaknya kolam. Keinginanku untuk kembali remedi kesinipun akhirnya terwujud lagi, yang kali ini bersama mas Dhanu.

Lokasi persis sumber Sejok ini berada sebelum SMP 2 Parang (jika dari arah utara), masuk ke kanan jalan kecil. Dari pertigaan ini sudah gak jauh lagi, mungkin 300 m. Di sumber Sejok ini, sama halnya bumi perkemahan Gendingan, tak ada tiket masuk. Parkir kendaraan pun juga gak jauh dari lokasi. Atau bisa kalian Klik sebelah sini

Karena info terakhir yang aku dapat udah di perbaiki dan dapat untuk jeguran, di benaku kondisinya kembali sama seperti pertama sebelum longsor. Tetapi setelah kami datangi ternyata gak seperti ekspetasiku, meskipun udah di rehab, ternyata gak seperti yang dulu.

Kondisi yang sekarang jauh lebih dangkal dan gak sebiru yang dulu. Kedalaman kolam tinggal sepinggang orang dewasa. Itupun di dasar kolam terdapat endapan pasir gitu. Mungkin itu yang menyebabkan kedalaman sumber berkurang.

Tapi gak apa lah, terlanjur sampai sini, nanggung banget kalo gak sekalian nyebur. Toh airnya juga masih tetep bening. Eh, bagi kalian yang berenang di sumber Sejok ini, tetep patuhi pantangan yang ada ya. Sebab ada beberapa pantangan yang harus kalian hormati. Seperti gak boleh nangkep ikan dan cewek gak boleh mandi atau berenang disini.

Untuk menangkep ikan, memang di sumber Sejok ini terdapat banyak ikan. Kurang tau sih jenis ikan apa. Yang pasti ikan ini kecil dan makan kulit2 mati tubuh kami saat berendam di sumber Sejok ini. Dan untuk cewek gak boleh mandi atau berendam di sumber sejok, kami kurang tau. Sebab di dinding batuan tertancap plakat yang bertuliskan seperti itu.

Selesai berenang, kami lanjut pulang. Kami berpisah di perempatan Gorang gareng. Mas Dhanu ke selatan, aku ke utara.

Dah gitu aja ya..

Explore Probolinggo: Jelajah Ranu Segaran dan Ranu Agung

Ngelanjutin cerita sebelumnya, sehabis dari Air terjun Tirai bidadari, kami lalu menuju ke tempat berikutnya. Yaitu ranu Segaran dan ranu Agung.

Waktu menujukan pukul 12.00 siang, sekeluarnya dari desa Jangkang, kami mampir terlebih dahulu ke warung makan untuk makan siang. Dengan cuma Rp 10.000 kami sudah mendapatkan satu porsi makan “kuli”, ya memang porsinya banyak banget. Sembari makan, kami juga nitip colokan untuk mengisi daya batrai HP dan kamera. Maklum, saat di air terjun dayanya berkurang lebih dari 50 persen.

Serasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju ke ranu Segaran. Cuaca yang mendung membuatku sedikit cemas. Pasalnya view gunung Lemongan bakal ketutup awan. kan sayang banget ya, udah jauh jauh dari Mojokerto, ternyata dapet zonk.

Setelah sampai lokasi dengan membayar parkir Rp 2.000, kami lanjutkan menuju ke tepian Ranu. Bener dugaanku, view gunung Lemongan tertutup oleh mendung. Seketika itu aku jadi gak mood buat foto foto gitu haha. Tapi ya udahlah, emang belum rejeki aja kali ya. Karna memang di dalam sebuah perjalanan yang lebih menarik itu adalah cerita di balik perjalanannya itu sendiri, bukan hasil dari perjalanannya.

Ranu Segaran, sayang gn Lemongan tertutup awan

Karna masih pandemi, pengunjung pun juga masih sepi. Cuma ada kami berdua dan segerombolan orang yang lagi prewedding. Memang, ranu Segaran ini cocok banget buat Prewed. Meskipun pengunjung sepi, tapi tetep rame kok (loh gimana ini). Maksud rame disini bukan rame pengunjung yang sedang berwisata, melainkan rame warga sekitar. Mulai dari yang cari ikan, mencuci pakaian hingga orang orang yang sedang adu balap burung merpati. Ya, disini banyak banget orang orang yang adu burung merpati. Balapan dari ujung ranu ke ujung ranu yg lainya gitu.

Puas dengan ranu Segaran ( sebenernya sih belum puas). Kami lanjut lagi menuju ke ranu Agung, ranu yang gak jauh dari ranu Segaran

Btw lokasi ke dua ranu ini berada di satu desa yaitu desa ranu Agung, kec Tiris kab Probolinggo. Jadi gak lengkap kalo gak mengunjungi kedua tempat ini sekaligus.

Ok, lanjut ke perjalanan. Jalan menuju ke ranu Agung gak begitu sulit, sekitar 10 menit gak jauh dari ranu Segaran. Kali ini kami gak masuk ke Ranu Agung karna memang menurut info yang aku dapat, jika ranu agung masih tutup. Meskipun begitu, memang rencana awal kami ingin mencari spot foto yang viewnya mirip mirip seperti di daerah Maluku gitu.

Bertanyalah kami dengan penduduk sekitar, namanya pak Bambang. Kamipun menunjukan contoh spot foto di instagram yang kami maksud, lalu pak Bambang memberi petunjuk arahnya. Karna beliau takut terjadi apa apa kepada kami, yang memang jalanya itu berbahaya. Akhirnya kami diantar oleh beliau, pak Bambang.

Dan memang, setelah melakukan perjalanan, jalanya begitu ekstrim. Bagaimana tidak, jalan yang kami lalui itu adalah jalan setapak dengan sebelah kanan adalah jurang ranu Agung. Jadi kami harus ekstra hati hati. Setelah sampai di sebuah rumah, kendaraan kami parkir. Kan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Ternyata di lokasi sudah ada anak anak muda yang berada di situ, cukup viral juga tempat ini.

Kamipun lanjutin berjalan kaki lagi ke arah seberang. Tetapi pak Bambang gak ingin ikut, beliau memilih menunggu disini. Sekitar 5 menit berjalan, kamipun sampai di lokasi yang kami maksut.

Disaat kami berada di ranu Segaran tadi kan mendung dan gunung Lemongan tertutup awan kan ya. Tapi syukur, disaat kami berada di Ranu Agung ini, cuaca sore cukup cerah dan gunung Lemongan tampak gagah berada di belakang ranu Agung. Di tambah lagi angin yang bertiup kencang membuat kami berlama lama mengambil gambar di lokasi ini.

Ranu Agung tampak ada di bawah dengan di belakangnya ada gn Lemongan

Setelah selesai dari spot foto ini, kami kembali lagi ke rumahnya pak Bambang. Karna memang helm kami berada di rumah beliau. Apesnya, di tengah perjalanan pulang menuju rumah beliau, ban motor kami kempes habis. Mungkin karna melewati jalananan yang ancur saat ke air terjun Tirai bidadari tadi kali ya. Alhasil kami harus mendorongnya dengan hati hati. Karna memang jalan yang setapak dan berbahaya.

Sampai di rumah pak Bambang, beliaupun meminjam pompa angin milik tetangga untuk membatu memompa ban motor kami. Alhamdulilaah bisa terisi angin dan gak bocor. Pak Bambang dan istripun menawari kami untuk istirahat terlebih dahulu di rumah beliau. Kami pun gak bisa menolak tawaran beliau.

Di tengan obrolan kami dengan pak bambang dan istri, ternyata ban motor yang tadi kami pompa kembali kempes. Waduh, jangan jangan bocor lagi. Karna waktu udah mau mau Magrib, kamipun pamitan degan pak Bambang. Berbekal info tempat tambal ban yang di beritahu oleh pak Bambang, kamipun kembali mendorong montor kami.

Hari semakin gelap, karna waktu itu sudah Magrib. Melawati hutan sengon dan pemakaman, kami mendorong montor sekitar 20 menitan. Mending jika jalan lurus, jalan yang kami lalui naik turun gitu e. Setelah sampai di pertigaan jalan kecamatan, akhirnya ketemulah tukang tambal ban.

Karna sudah tutup, kami pun izin untuk minta tolong ke tukangnya, yang memang lokasi rumahnya ada di sebelah bengkel tersebut. Setelah di cek, ternyata gak ada bekas bocor atau gimana. Mungkin pas aku pompa saat di rumahnya pak Bambang belum terlalu keras, jadi angin kembali keluar lewat sela sela velg kali ya.

Setelah semuanya beres, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Kami turun dari daerah Tiris sekitar habis azan Isa. Alhamdulillah, sampai kos kosan sekitar jam 21.30 dengan keadaan selamat.

Sekian cerita perjalananku ke kab Probolinggo kali ini, khususnya di kec Tiris, jangan lupa baca juga cerita perjalananku yang lainya ya..

Sekian dan terima kasih.. Hehe

Explore Probolinggo: Wisata Baru Air Terjun Purba Tirai Bidadari

Assalamualaikum…

Hoe cah, apa kabs nih.. Di new normal ini udah piknik kemana aja? Objek wisata udah banyak yang buka tau..tapi tetep patuhi protokol kesehatan juga pas berwisata..

Kalo masih bingung, aku punya tempat yang recomend banget. Apalagi buat kalian yang stay di daerah tapal kuda Jatim. Nama tempatnya adalah Air terjun Tirai Bidadari. Lokasinya ada di desa Jangkang, kec Tiris, kab Probolinggo

Nah gini nih, tak ceritain pengalamanku mengunjungi Air Terjun Tirai Bidadari ini..

Aku berangkat bersama Jeri, temen satu kosku sekitar jam 9 pagi dari Ngoro, Mojokerto. Mungkin sekitar 3 jam perjalanan dah sampai lokasi Air Terjun. Karna memang baru pertama kali kesini, pasti aku ngandelin google maps dong. Tau sendiri anak milinials.. Hehe. Tapi entah mengapa ni google ngejerumusin lagi ngerejumusin lagi. Yohh diprank google maps teroooss. Huu

Awalnya sih jalan aman aman aja, melewati jalan desa, naik turun dengan vegetasi tumbuhan yang rapat gitu. Eh.. Lama kelaman jalanya hancur banget. Mending kalo jalan tanah, ini jln aspal second yang tinggal bebatuan coy. Terus ngelewatin desa yang namanya WEDUSAN dan emang, jalanya kayak Wedos tenan!! Haha, becandaan kami saat lewati jalan ini.

Udah lama melewati jalan jelek ini, kok perasaan gak nyampe nyampe. firasatku dah gak beres nih. Apalagi ditengah hutan yang otomatis gak ada sinyal. Untung ada orang yang lewat, kami tanyain deh. Kata orang tersebut kami salah jalan. “Memang bener bisa sampai ke air terjun dengan rute pendek, tapi ya seperti ini jalanya”. Kalo jalan yang lebih enak sehatusnya muter, lewat Ranu Segaran, lanjut orang tersebut. Akhirnya kami disuruh melanjutkan perjalanan lagi, karna memang sudah deket dengan jalan yang lebih layak. Terima kasih mas.. Hehe

10 menit berjalan, akhirnya nemuin jalan yang layak. Tapi gak selang beberapa lama, eh di petunjuk arahnya menuju ke jalan pekarangan gitu. Melewati jalan setapak dengan kebun kebun milik warga sekitar. Ada kopi, sengon, jagung, dll. Jalan setapak ini berjarak 1,1 km. Tapi jalan ini lebih mendingan dari pada jalan yang rusak tadi kami lewati. Oh iya, jika kalian kesini pake mobil, truk, dokar dan apalah itu selain kendaraan roda dua, kendaraan bisa kalian parkir di halaman masjid sebelum gang kecil. Lalu kalian bisa ngojek dengan biaya Rp 20.000 pp.

Setelah sampai, kami disambut sama pengelola wisatanya yang gak lain warga sekitar sendiri. Di tempat ini belum ada Tiket masuk, cuma parkir Rp 2.000 aja. Karna memang Air terjun Tirai Bidadari ini baru dibuka, sekitar bulan Februari yang lalu. Meskipun baru dibuka, diparkiran udah ada warung kok. Jadi yang lupa bawa perbekalan gak usah kawatir deh. Warganya juga baik baik banget. Meraka biasa mengantar pengunjung seperti kami sampai ke lokasi Air terjun. Mungkin kurang lebih 20 menitan, berjalan dengan medan menurun sudah sampai di lokasi air terjun. Btw Bapaknya gak munggut biaya untuk jasa guide ini, tapi jika kalian ingin ngasih uang tips juga monggo..

Air terjun purba tirai bidadari
Sisi lain air terjun, katanya masih ada air terjun lagi di balik tebing

Tonto juga videonya di chanel youtubeku: Air terjun purba tirai bidadari

Sebenernya nama asli air terjun ini adalah Air terjun purba Tirai Bidadari. Kenapa ada sebutan purba? Karna batuan batuan yang ada di air terjun ini di perkirakan berumur ribuan bahkan jutaan tahun. Nah, di bagian dalam batuan batuan tersebut di huni ribuan kelelawar, jadi kalian harus hati hati dengan ranjau atau eek kelelawar yang ada di sekitaran air terjun. Selain eek kelelawar, yang perlu kalian berhatikan juga adalah tentang menggunakan alas kaki. Gunakan alas kaki yang anti selip, sebab batuan batuan disini sangatlah licin.

Mengalir di sepanjang dinding dinding sungai, air terjun ini memiliki sekitar 17 titik mata air yang membentuk air terjun itu sendiri. Gak cuma itu, di atas air terjun ini juga terdapat air terjun lagi dengan kolam dibawahnya yang bisa untuk berenang, tapi gak terlalu deres sih. Jika kalian ingin berenang di kolam yang di atas tersebut, lewatnya bukan dari loket yang tadi kami masuki. Melainkan dari seberang sungai. Oh iya, perlu kalian tau, lokasi air terjun ini memang berada di 2 perbatasan desa. Antara desa Jangkang dan desa Ranugedang. Ada juga sih jalan yang dari Ranugedang, tapi lebih extrime. Makanya kami lebih memilih lewat dari desa Jangkang ini.

Seberes berfoto foto di air terjun, kami lalu menuju ke atas lagi. Ngobrol sebentar dengan pengelolanya, tentang wisata Air terjun Tirai bidadari ini. Setelah itu kami pamitan dan melanjutkan explore tempat yang yang ada di kab Probolinggo, terutama di kec Tiris ini.

Bersambung..

Sendang Gede, Telaga Biru dari Ngawi

Asalamualaikum cah..

Kali ini ceritanya masih ngelanjutin perjalanan dari Ranu Genengan ya. Jika kalian belum membacanya, sok dibaca.. Heha, Klik disini

Dari Ranu Genengan kita lanjut ke Sendang Gede. Lokasinya berada tak jauh dari Ranu Genengan itu sendiri. Di dusun Genengan, ds Bringin, kec Bringin, kab Ngawi. Mungkin sekitar 300 m dari Ranu Genengan, atau sekitar 5 menit perjalanan kaki kearah timur.

Jika kalian masih bingung, aku akan kasih lokasinya. Klik disini, bukan yang atas

Sendang Gede sendiri adalah sebuah sumber mata air yang di keramatkan oleh wagra sekitar. Keunikan sendang ini sendiri adalah airnya yang jernih. tak hanya jernih, tapi juga berwana biru seperti danau kaco di kerinci, sumatra. Jadi kalian gak usah jauh jauh main ke sumatra jika ingin menikmati seperti danau kaco, di Ngawi pun juga ada.

Tapi sayang disaat kami sampai disana, ternyata airnya kotor. Permukaan airnya tertutupi oleh daun daun kering. Daun daun kering ini berasal dari pohon trembesi yang tumbuh di samping sendang. Tau sendiri dong, daun trembesi gimana? Iya, daunya kecil dan banyak di setiap tangkainya. Seperti daun lamptoro lah, tapi sedikit gede. Jadi di semua permukaan air Sendang Gede itu tertutupi oleh daun daun Trembesi gitu. Jadi jelek kan ya, kalo buat foto foto.

Terpaksa kami bersihakan deh Sendang Gedenya. karna takut tenggelam, kami mencari ranting pohon guna membersihkan permukaan air Sendang. Daun daun kering itu kami buang ke saluran pembuangan, menuju ke parit gitu. Sekitar setengah jam membersihkan sendang, daun daun kering itu baru bisa terbuang semua dengan sempurna (dah kayak demian aje), capek juga ternyata. Demi sebuah foto, kami rela membersihkan sendang. Haha, eh iya, itu juga demi memperkenalkan tempat ini juga sih.. Hehe

Eh, di tengah membersihkan Sendang, datanglah kakek kakek dengan bertelanjang dada menghampiri kami, sepertinya kakek ini adalah warga sini. Beliau bertanya kepada kami, maksud dan tujuan kami datang kesini. Kamipun ya jawab jujur aja, buat foto foto, ya kali cari pesugihan.. Haha.

Foto yang belum editan
Foto yang sudah editan

Kalian juga bisa lihat videonya di chanel youtube ku: Telaga biru sendang Gede || Bringin, Ngawi

Dari kakek ini kami banyak memperoleh informasi dari sendang Gede ini. Mulai dari namanya sendiri (sebelumnya kami gak tau nama sendang ini) sampai lokasi penghuni mahluk astral di tempat ini. Oke, mari kita jabarin satu persatu..

Ada sekitar tujuh sendang atau mata air yang ada di sekitaran sini. Dari ketujuh sendang ini, sendang Gede lah yang paling besar mata airnya. Itu sebabnya disebut Sendang Gede, Gede (besar). Tapi sayangnya, dari ketujuh sendang ini ada beberapa yang sudah tidak aktif. Faktor yang mempengaruhinya antara lain karna, sumber yang udah tertutup oleh tanah dan tanaman semak belukar yang sangat banyak

Menurut penuturan kakeknya, sendang Gede ini biasanya di bersihkan saat acara bersih desa, sekitaran bulan Agustus. Warga sekitar rame rame membersihkan sendang dengan cara terjun kedalam sendang. Gak satu atau dua orang saja yang membersihkan, tapi ada seratus orang lebih. Padahal diameter sendang gak begitu luas, tapi bisa muat segitu banyaknya ya.

Tempat ini jika di rawat dan dikembangkan sebagai tempat wisata, saya rasa sangat cocok sekali. Apalagi banyak ditumbuhi pepohonan yang pastinya adem banget kalo buat sekedar nongkrong bareng keluarga. Ditambah air sendang yang sangat biru, uh.. Recomend banget. Paling enggak pembangunan jalan di area sendang lah.

Mungkin itu dulu tulisanku, jangan lupa tonton juga videonya di youtubeku ya.. Hihi

Wasalamualaikum..

Ranu Genengan. Wisata bekas galian, anti Lockdown

Asalamualikum temen temen.

Gimana kabarnya, masih sehat kan? Udah hafal berapa gaya rebahan nih? Haha, bercanda. Lama juga ya gak keluar rumah. Apalagi pemerintah menghimbau untuk tetap #dirumahsaja. Belum lagi semua tempat wisata juga di tutup sampai sekarang, jadi tambah bosen kan dirumah.

Untuk itu aku akan menceritakan perjalanan ku menuju “tempat wisata” yang anti lockdown, anti tutup tutupan klub. Meskipun sebenarnya ini bukan tempat wisata. Hehe. Namanya Ranu Genengan. Ranu Genengan ini berada di dsn Genengan, ds Bringin, kec Bringin, kab Ngawi

Sebenernya, ada banyak nama untuk tempat ini sih. Ada yang menyebutnya wisata Lemah Putih, jurang krowak dan felling goodnya Ngawi. Kalo untuk nama Ranu Genengan sendiri nih emang aku namain sendiri.. Hehe

Aku janjian sama rekan seperjalananku, Triono. Di malam minggu, saat kami sepedaan. Maklum lagi rame ramenya bersepeda. Rencana berangkat pagi banget pun gagal karna aku bangun kesiangan. Wong pulang dari bersepeda aja jam setengah 12 malam, belum lagi laper cari makan. Wes udah lah lupakan.

Singkat cerita kami berangkat jam 8 pagi, yang semula pengen nyunrise pun gagal. Jarak dari rumah sampai lokasi Ranu Genengan ini sekitar 20 menitan pake sepeda motor. Jalanya beraspal kok. Mungkin cuma 500 meter aja yang jalan makadam, itupun udah hampir sampai lokasi

Di lokasi ini sendiri terdapat warung makan. Jadi kalian gak usah kawatir kehausan atau kelaparan. Untuk masuknya pun juga gratis. Perihal lokasi masih aktif sebagai galian atau udah nonaktif itu masih simpang siur ya. Soalnya kata pemilik warung masih bisa ambil tanah dari sini dgn harga harga tanah satu truk gitu, tapi kalo aku lihat gak ada alat berat seperti bego, truk berada di lokasi tuh.

Ok, lanjut.

Habis markir motor di sebelah warung, kami langsung cari spot foto yang menarik. Berjalanlah kami menuju atas. Bentar, tak kasih gambaran sedikit. Tempat galian ini nih luas dan di tengah ada genangan airnya gitu. Kedalamanya sih bermacem macem, ada yang cuma sedengkul dan ada yang kayaknya dalem banget. Meskipun begitu, demi keamanan, plis jangan berenang disini. Malu dong kalo pulang pulang tinggal nama doang.. Haha.

Kembali mencari spot foto yang tadi. Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, akhirnya kami sampai di lokasi spot yang kami tuju. Oh ya, sebaiknya kalian kalo kesini pagi banget, sekitar jam 6 pagi. Wong aku sampai sini jam 8 aja udah panasnya minta ampun. Ada 2 spot yang kami coba explore.

Dan ini adalah foto fotonya.

Spot pertama
Spot kedua

Tetep hati hati ya dalam berfoto. Karna memang ini bukan tempat wisata, jadi jika terjadi apa apa ya gak ada asuransinya. Oh ya, meskipun tempatnya masih sepi, jangan buang sampah sembarangan ya.

Setelah dari sini, kami lanjutkan ke destinasi selanjutnya. Gak jauh sih dari ranu genengan ini. Tapi masih tak simpen dulu tulisanya, tak kasih karbit biar mateng.. Haha.

kalian juga bisa banget liat videonya di chanel youtubeku: ay aik ( https://youtu.be/HN-nJNYR-UY )

Sekian tulisanku kali ini. Wasalamualaikum temen temen.. Hehe

Candi Gapura Lanang, candi tersembunyi di kaki gunung Penanggunagan.


Pernah denger Candi Tetek belahan?. Atau kalian udah pernah kesana mungkin? Candi Tetek belahan ini sebenarnya sebuah pertitraan, dua patung cewek dengan air yang mengalir di teteknya menjadi keunikan candi ini. Itu sebabnya candi ini disebut candi Tetek belahan.


Tapi saya tidak akan menjelaskan candi ini dengan detail. melainkan menceritakan perjalanan saya menuju ke candi Gapura Lanang yang tak jauh dari candi Tetek belahan.
Informasi Candi Gapura Lanang ini saya peroleh dari foto di instagram, dalam foto terlihat seperti candi yang belum banyak orang mengetahuinya. Akhirnya keinginan saya untuk mencari candi tersebut muncul.


Mengajak teman saya Jerry yang berlatar belakang agama Hindhu, membuat kami lebih bersemangat mencari candi tersebut. Perjalanan kami mulai dari kos menuju ke candi Tetek belahan yang berada di ds Wonosunyo, kec Gempol, Pasuruan. Menurut info yang saya dapat, memang candi Gapura Lanang berada tak jauh dari candi Tetek belahan.

Setelah sampai di Candi Tetek belahan, kami lanjutkan lurus menuju keatas. Sadar tak menemukan candi yang kami maksut, akhirnya kami bertanya kepada warga sekitar. Ternyata wargapun juga tak tau candi yang kami maksud. Akhirnya kami kembali menuju ke candi Tetek belahan.


Di sekitaran candi Tetek belahan, kami bertanya kepada seseorang yang sedang mencari rumput. Ternyata candi yang kami maksut terlewati, tapi tak terlalu jauh juga sih. Beliau menunjuk masjid yang terlihat kubahnya dari sini. “pedamu parkiren neng mejid kae mas, trus samping enek gang cilik, nah mlaku metu kono”. “motormu parkir di masjid itu saja mas, lalu sampingnya ada gang, nah jalan lewat situ”.

Akhirnya kami menuju kesana. Dari masjid, kami berjalan kaki melewati kebun warga. Dari sini candi sudah terlihat. Lalu turun melewati sungai kecil dan kembali naik sedikit. Kami sempat kebingungan disini, sebab jalan setapak mulai tak tampak dan berbukit, membuat candi tak terlihat. 10 menit mencari, akhirnya ketemulah candi Gapura lanang tersebut.

Dekat candi terdapat tumpukan batu yang tertata rapi layaknya tembok, tetapi diatas nya tertimbun tanah dengan pohon di atasnya. Masuk kedalam terdapat makam kuno. Kemungkinan makam ini sudah tidak digunakan lagi oleh warga sekitar. Pohon pohon tua yang ada membuat semakin seram suasana. Di tengah pemakaman ini lah berdiri kokoh candi gapura lanang.
Menurut informasi yang saya peroleh. Sebenarnya ada dua candi, candi Gapura lanang dan candi Gapura wadon. Sayangnya kami tidak menuju ke candi Gapura wadon, karena baru mengetahui informasi ini setelah membuat tulisan ini. Jadi kami hanya mengexplore candi Gapura lanang saja.

Menurut artikel yang saya baca sih jarak atar gapura tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter. Struktur gapura terbuat dari batu bata merah, seperti candi candi yang tersebar di daerah Trowulan. Dahulu di sekitar candi juga terdapat kolam yg berfungsi sebagai pertitraan layaknya candi Tetek belahan. Tetapi kolam tersebut sudah tertimbun tanah. Sayang sekali ya.

Untuk videonya bisa dilihat di chanel youtube saya ya..

Ay YUK: Gapura Lanang, candi tersembunyi di kaki gn Penanggungan


Sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat..

Daftar persawahan kece di Trawas, Mojokerto


Jika di Bali ada wisata Tegalalang yang terkenal akan persawahan teraseringnya. Di Mojokerto juga gak mau kalah lo, tepatnya ada di kecamatan Trawas. Parahnya lagi gak cuma satu tempat aja, tapi ada beberapa tempat persawahan yang menarik untuk dikunjungi. Sebagian sudah dikelola oleh warga, namun sebagian belum dikelola. Gak sabar kan lihat tempatnya. Eits, tapi jangan keluar rumah dulu, tetap dirumah untuk menghambat penyebaran virus corona (karena tulisan ini dibuat saat pandemik virus corona berlangsung).



Persawahan villa HMD.
Sebenernya sih ini adalah sebuah villa dengan view sawah. Meskipun tak bermalam di villa, kalian bisa mengunjunginya hanya untuk sekedar berenang saja. Ya, didalam villa ini terdapat kolam renang dengan view langsung persawahan. Selain itu, terdapat juga tempat khusus untuk selfie. Masih ingin cari yang lebih hemat? Ya langsung aja di persawahan yang ada di belakang villa aja, dijamin gratis tak dipungut biaya. Kendaraan bisa diparkir di warung makan sebelah villa. Selain view terasering persawahan, kalian juga bisa melihat kota Mojosari dan sekitarnya. Oh iya lupa, lokasi persawahan ini ada di villa HMD. Ds Seloliman, kec Trawas. Jika dari Mojosari, kalian bisa menuju arah ke Jolotundo. Sebelum sampai Jolotundo terdapat warung makan “lesehan plengkung” disitu ada pertigaan, belok kiri. Sampailah ke villa HMD. Jika belum jelas bisa klik Disini

Persawahan desa Kedungudi.
Terasering persawahan Kedungudi ini berlokasi di pinggir jalan, tepatnya di samping SDN Kedungudi. Kendaraan bisa di parkir di dekat SDN tersebut. Tak ada tiket masuk untuk kesini. Terasering persawahan ditempat ini begitu luas dan indah. Tak heran pengendara biasanya memperlambat kendaraanya hanya untuk melihat keindahan terasering Kedungudi ini. Lebih ke selatan, di seberang jalan terdapat warung-warung yang berjajar. Disaat musim durian tiba, tak jarang warung-warung tersebut juga menjual durian khas Trawas.


Persawahan desa Sendang.
Spot persawahan ini berlatar belakang gunung welirang. Hanya satu spot sih, tapi tempat ini begitu viral di instagram. Waktu yang tepat untuk kesini adalah saat pagi hari antara jam setengah 6 sampai jam 7 pagi. Karena disaat itu gunung welirang terlihat jelas dengan puncak yg di sorot oleh mentari pagi. Lokasinya berada di belakang SMP N 2 Trawas. Belok kiri, setelah melewati jembatan, belok kiri lagi. Dari sini jalan makadam menanjak. Nah, lokasi spotnya tepat kanan jalan setelah jalan menanjak tadi. Jika kurang jelas bisa klik Disini.


Terasering Desa Selotapak.
Lebih keselatan lagi menuju desa Selotapak, terdapat persawahan yang menurutku paling epic. Namanya terasering Selotapak atau terasering Wangan tengah. Dulu tempat ini hanya dikenal oleh para fotografer lanscape. Tapi karena media sosial, membuat tempat ini semakin ramai di kunjungi. Untung penduduk desa sadar akan potensi wisata yang ada, hingga akhirnya di kelola dengan baik oleh penduduk sekitar. Penanggungan yang menjadi latar belakang membuat view terasering selotapak semakin kece. Waktu yang bagus untuk berkunjung kesini adalah saat sore hari, tapi itu kalo musim kemarau. Jika saat musim hujan lebih baik berkunjung di pagi hari, karena kemungkinan Penanggungan tak akan terlihat disore hari karna mendung disaat musim hujan. Lokasi terasering Selotapak ini berada di ds Selotapak, tepatnya dari pertigan samping SDN Selotapak masuk ke gang kecil. Mentok, lalu belok kiri, sampai deh. Kendaraan bisa di parkir di sebelah “sumur” yang ada di pinggir jalan. Jika kurang jelas bisa klik Disini.. Untuk tiket masuknya dulu gratis, ndak tau kalo sekarang.


Persawahan Sumber tekik.
Menuju ke selatan lagi ke arah jalan raya Trawas -Prigen. Kalian bisa mengunjungi Sumber tekik. Sebuah mata air yang di bangun layaknya kolam kecil dengan pohon besar di sebelahnya. Lokasinya berada di ds Trawas. Dari Vanda hotel menuju ketimur sekitar 100 m, masuk gang kecil sebelah bengkel. Ikuti jalan sekitar 300 m, dari atas terlihat gubuk gubuk dibawah. Nah disitu lokasinya. Jika kurang paham bisa klik Disini.
Sebenarnya yang menarik dari tempat ini bukan sumber tekiknya. Melainkan hamparan persawahan dengan gunung Penanggungan di belakangnya. Jika di Bali, mirip dengan bukit Nirwana dengan gunung Agung di belakangnya. Tempat ini sudah di kelola oleh warga, terdapat toilet dan beberapa gubuk untuk berteduh para wisatawan.


Gimana? Tertarik mengunjunginya. Tapi tahan dulu ya. Tunggu hingga wabah covid 19 ini hilang.😊

Memperingati kemerdekaan di puncak terlarang gunung Kelud

Gunung Kelud adalah gunung berapi yang masih aktif, berada di kabupaten Kediri, Jawa Timur. Berjarak sekitar 30 Km ke arah timur kota Kediri. Gunung ini adalah salah satu gunung yang paling aktif yang ada di Indonesia. Terakhir meletus tahun 2014, ketika saya kelas 3 SMA. Sekolah secara mendadak meliburkan kegiatan ajar mengajar karena dampak erupsi gunung Kelud. Nah kali ini saya akan bercerita keseruan saya mengunjungi gunung Kelud…
Karena ingin mengejar Sunrise di gunung Kelud, berangkatlah saya dari kos jam 00:00 tengah malam bersama Jerry. Selain karna ingin mengejar sunrise, kami berangkat tengah malam karna menghindari malam minggu yang jalanan pasti ramai. Alih-alih jalanan sepi, ternyata udara tengah malam sangatlah dingin, meskipun saya menggunakan jaket. Ditambah lagi angin yang kencang di daerah Jombang, semakin membuat dingin ini menjadi-jadi. Setelah sekitar 2 jam berkendara, akhirnya kami sampai di Simpang Lima Gumul atau yang lebih dikenal SLG.
Sampai disini kami langsung membuka bekal nasi yang di bawa Jerry dari kos-kosan, karna perut saya lapar, dari sore belum makan nasi sama sekali. Meskipun sudah memasuki jam 02:00 dini hari, tapi para pengunjung masih ramai. Mungkin karna malam Minggu kali ya.
Oh ya, jika kalian belum tahu SLG (Simpang Lima Gumul) adalah sebuah Monumen di tengah simpang lima dengan tugu di tengahnya, tugu mirip Arc de Triomphe di Perancis membuat SLG menjadi terkenal. SLG juga termasuk salah satu ikon wisata di kabupaten Kediri selain gunung Kelud. Di dinding-dinding monumen terdapat sebuah relief yang menggambarkan tentang sejarah kerajaan Kediri.
Bodohnya kami setelah kami selesai makan, kami lupa tidak bawa air putih. akhirnya Jerry membeli susu hangat di dekat kami berhenti. Setelah menghabiskan susu hangat dan seberes mengambilan foto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke gunung Kelud.
img_20190821_wa0002_f9C.jpg
img_20190822_061106_6ye.jpg
SLG (sumpang lima gumul)
Berjarak kurang lebih 27 Km dari SLG menuju gunung Kelud. Melewati rumah-rumah yang banyak dihisai dengan lampu warna warni. Maklum, saat berkunjung ke gunung Kelud masih dalam hari kemerdekaan RI yang ke 74. Bahkan disalah satu desa yang kami lewati, warga desanya kompak membuat lampu yang yang hanya menyala merah dan putih, layaknya bendera Indonesia. Yang ternyata lampu berwarna merah putih tadi dipasang pada tiang-tiang bendera. Jadi saat siang hari terlihat bendera merah putih, sedangkan malam hari terlihat cahaya merah putih di tiang tersebut. Sungguh kreatif sekali para warga.
img_20190822_055003_Ejw.jpg
Jalan menuju kawasan gunung Kelud.
Sekitar pukul 03:30 kami sampai di gerbang menuju kawasan gunung Kelud. Ternyata gerbang belum dibuka. Kata penjaga gerbangnya, gerbang akan dibuka sekitar pukul 04:30 . Tak ingin menunggu lama di pos penjaga, akhirnya kami mencari mushola terdekat untuk tidur sejenak, lumayan bisa istirahat. Sayapun terbangun ketika qiro’ah sebelum azan subuh berkumandang. Sehabis sholat subuh kami segera secepatnya menuju ke tiket masuk dan treking agar dapat menikmati sunrise. Pikirku..
Ternyata tidak sesuai rencana. Setelah kami sampai di batas akhir parkir mobil pukul 05:00, terdapat gerbang lagi yang masih ditutup. Dengan tulisan di depan gerbang. “BUKA JAM 07:00, TUTUP JAM 16:00” . duh, akhirnya kami gagal mendapatkan sunrise di “puncak” gunung Kelud deh. Kami harus menunggu 2 jam agar gerbang dibuka. Apalagi dingin yang sejak tadi malam, membuat kami untuk terus bergerak agar rasa dingin menjadi berkurang.
Dari batas parkir mobil ini para abang-abang ojek sudah bersiap untuk mengantarkan pengunjung sampai di bibir kawah. Dengan tarif pulang pergi sebesar Rp. 50.000 dan jika rombongan maksimal 4 orang, mendapat harga Rp. 40.000 per orang. Ojek di Kelud sudah sangat terorganisir, para abang ojeknya menggunakan nomer antrian dan parkir dengan rapi menunggu penumpang.
Sebelum gerbang dibuka, para pengunjung sudah ramai berada di parkiran mobil. Maklum hari ini hari Minggu dan bertepatan libur panjang hari kemerdekaan RI. Lama menunggu, kami akhirnya memesan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuh di warung terd
img_20190822_055301_iEK.jpg
Tampak pengunjung menunggu gerbang dibuka.
Pukul 07:00 gerbang baru dibuka. Kami langsung tancap gas menuju batas parkiran motor. Kami cuma bayar parkir Rp.5.000, tanpa membayar tiket masuk. Karna saat kami melewati tiket masuk yang berada setelah gerbang kawasan gunung Kelud, petugas belum menjaga loket. Untuk tiket masuknya sendiri sebenarnya Rp. 10.000 per orang saat hari libur.
Setelah sampai parkiran, kami langsung berjalan menuju ke “puncak” gunung Kelud. Lebih cepat naik ojek sih. Tapi karena alasan keuangan dan abang ojek gak berhenti ditempat yang kami maksud, kami mengurungkan niat kami naik ojek dan memilih untuk jalan kaki. Jarak dari parkiran motor sampai ke bibir kawah sekiar 3 Km, lumayan capek untuk berjalan kaki. Jalur yang kami lewati adalah jalanan cor yang baru setengah jadi. Sebelum sampai bibir kawah, sekitar 30 menit berjalan, kami mengambil keluar dari jalur wisatawan. Menuju sebuah bukit di sebelah kiri. Sebenarnya bukit ini dilarang untuk kunjungi. Itu dapat dilihat dengan adanya pagar pembatas yang sudah setengah roboh. Maafkan kami pak, kami nakal. Untuk dulur-dulur jangan dititru perbuatan kami ya..hehe.
Trekking menuju bukit ini berpasir dan sedikit berbatu. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di puncak. Sampai puncak kami harus melipir ke kiri menuju yang lebih aman, karena area puncak sangatlah curam dan rawan longsor. Terdapat alat perekam aktivitas gunung Kelud di area puncak, itu mungkin sebabnya mengapa area puncak ini tidak di peruntukan bagi wisatawan. Dari puncak kami dapat melihat kawah gunung Kelud yang erupsi tahun 2014 dan tebing Sumbing yang terlihat secara keseluruhan. Terlihat juga puncak gunung Kelud jika mendaki via Tulungrejo ataupun via Karangrejo, Blitar.
img_20190822_062238_xxv.jpg
Jalan setengah cor menuju ke kawah.
img_20190822_062501_wNh.jpg
Persimpangan menuju ke “puncak”.
lrm_export_20190822_054243_9VQ.jpg
View dari puncak.
Selepas berfoto-foto, kami lalu sarapan. Memakan sisa bekal yang tadi malam kami makan di Simpang Lima Gumul. Maklum hemat biyaya..hehe. Selepas sarapan dan perut kenyang, kamipun turun.
img_20190822_171448_jOt.jpg
Menu sarapan.
Turun dari puncak lebih berbahaya. Sebab tanah yang berpasir kasar dan berbatu kecil-kecil membuat gampang selip di sepatu. Pijakan pun kurang stabil, membuat gampang terpeleset. Oleh sebab itu kami lebih berhati-hati dalam menuruni puncak. Setelah sampai bawah, kami melanjutkan menuju ke jalur wisatawan dan menuju dekat kawah. Jalan yang semula setengah cor, sekarang berubah menjadi jalanan yang berkerikil. Enaknya jalanan sudah landai tak menanjak ataupun menurun. Selain ojek, pengguna sepeda juga diperbolehkan sampai ke dekat kawah. Sebelum sampai kawah, kami melewati terowongan yang panjangnya sekitar 100 m, dengan lebar 2,5 m. Terdapat ruangan-ruangan di dalam terowongan, entah apa fungsinya kami tidak tahu.
Keluar dari terowongan, sampailah kami di batas akhir mengunjungi gunung Kelud. Melihat lebih dekat tebing sumbing, memang tebing Sumbing ini mempunyai karakteristik yang khas. Batuan vulkanik bekas letusan membuat tebing sumbing lebih indah. Tapi sayang, fasilitas toilet di sini sangatlah kotor, banyak sampah yang menumpuk ditoilet. Bahkan toilet bisa dikatakan tak layak digunakan. Jadi jika kalian ingin BAB saat berada di sini, mending tahan dulu deh, tahan sampai kembali di parkiran..hehe.
Terdapat pula orang-orang yang sedang melakukan aktivitas clambing di tebing sumbing. Karna kami datang saat masih moment kemerdekaan, kami melihat anak-anak muda mengibarkan bendera merah putih berukuran besar di bukit yang tadi kami naiki. Nah, padahal saat kami naik maupun turun, kami tak menemui anak-anak itu. Lalu dari mana anak-anak itu naik ke bukit itu? Apa mungkin ada jalur yang lain selain jalur yang kami naiki? Tau ah.
Selain foto sendiri, disini juga terdapat jasa pemotretan yang standnya berda di depan terowongan. Terdapat juga pengamen yang hanya duduk di tempat dan jika di kasih uang baru bernyanyi layaknya pengamen-pengamen luar negeri gitu. Bedanya jika di luar negeri mengunakan gitar, di gunung Kelud ini pengamen menggunakan gembrung, alat musik tradisional. Lagu-lagunya pun juga lagu lokal..hehe.
img_20190822_171825_sTY.jpg
Terowongan menuju kawah Kelud.

img_20190822_172318_MXg.jpg
View kawah dari dekat.
img_20190822_172052_gFe.jpg

Clambing di tebing sumbing.

img_20190822_172119_kmO.jpg

Pengibaran bendera di puncak yang kami daki.

img_20190822_173628_sSm.jpg

Pengamen tradisional di area wisata gn. Kelud.

Serasa cukup puas menikmati pesona gunung Kelud, kami akhirnya kembali ke parkiran dan pulang. Eh, karena semaleman kami kurang tidur, kami akhirnya tidur sebentar di mushola yang semalam kami singgahi. Sekitar 1 jam tidur, kami lanjutkan perjalanan pulang. Jam 15:00 Alhamdulillah kami sampai di kos dengan selamat.
Sekian cerita saya mengexplore gunung Kelud. Ambil sisi positifnya dan buang jauh-jauh sisi negatifnya. Sampai jumpa..

7 Tempat menarik yang wajib kalian kunjungi saat berada di Ngoro, Mojokerto.

Kecamatan Ngoro adalah salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Mojokerto. Kecamatan Ngoro berjarak sekitar 10 km dari kecamatan Mojosari (pusat pemerintahan kabupaten Mojokerto). Di kecamatan ini terdapat kawasan industri yang lebih dikenal dengan nama NIP (Ngoro Industrial Park), tak heran jika banyak pendatang dari luar wilayah kabupaten Mojokerto yang tinggal di daerah sekitar NIP untuk mengadu nasib. Selain terkenal dengan kawasan industri, di Ngoro juga terdapat tempat – tempat yang menarik. Apalagi untuk para pekerja pabrik di NIP yang lelah setelah 6 hari bekerja, waktunya menjernihkan pikiran, piknik tipis – tipis melupakan sejenak rutinitas yang ada. Tidak ada salahnya jika kalian datang ke tempat – tempat berikut. Selain jarak yang dekat, tempat- tempat berikut terjangkau di kantong. Ini dia 7 tempat menarik yang wajib dikunjungi di kecamatan Ngoro, kabupaten Mojokerto:
1.CANDI JEDONG.
screenshot_2019_08_09_05_59_38_381_com_PcX.png
Candi Jedong terletak di desa Wotamas jedong kecamatan Ngoro, ditengah perkampungan dilereng gunung Penanggungan. Jika kalian ingin menuju ke candi Jedong, kalian harus masuk kawasan NIP lalu menuju ke desa Wotamas Jedong. Jangan heran jika sebagian pekerja pabrik di kawasan NIP mengenal tempat ini. Candi Jedong adalah candi yang berupa 2 gapura yang berbeda ukuran. Gapura sisi selatan lebih besar dibanding dengan gapura sisi selatan. Kedua gapura terhubung dengan dinding batu bata. Candi ini diperkirakan berdiri pada abad ke 14. Tak ada tiket masuk untuk ke candi Jedong, hanya bayar parkir sepeda motor sebesar Rp. 3000.
2. CANDI BANGKAL.
screenshot_2019_08_09_06_27_08_563_com_7Pf.png
Sama-sama berupa candi, tempat menarik yang wajib dikunjungi di Ngoro selanjutnya adalah candi Bangkal. Terletak di dusun Bangkal, desa Candiharjo, kecamatan Ngoro. Berbeda dengan candi Jedong yang berada di dataran tinggi, candi Bnagkal justru berada di dataran rendah, dipinggir sawah. Candi peninggalan kerajaan Majapahit ini di bangun menggunakan batu bata merah, tak jauh berbeda dengan candi – candi yang ada di daerah Trowulan. Setiap musim panen tiba, warga desa melakukan acara sedekah bumi di area candi, sebagai rasa syukur terhadap pemberian dari sang pencipta. Selain bangunan candi, terdapat pula makam para leluhur desa Candiharjo yang di makamkan di samping candi Bangkal. Tidak ada HTM untuk kesini.
3. SUMBER WULUH.
screenshot_2019_08_09_06_02_16_754_com_7w8.png
screenshot_2019_08_09_06_07_24_292_com_coC.png
Sumber wuluh adalah sebuah sendang atau mata air yang airnya ditampung menyerupai kolam. Sumber wuluh berlokasi di dusun Sidorejo, desa Wonosari, kecamatan Ngoro. Terdapat 2 kolam yang hanya dibatasi oleh sebuah talut. Masing – masing kolam mempunyai karakteristik yang berbeda. kolam pertama sebagai sumber mata air (sendang) dengan pepohonan tua yang rindang di sekitarnya, sedangkan kolam yang ke dua adalah lanjutan dari sendang (kolam pertama) yang areanya lebih luas dan terbuka. Kalian dapat menjumpai banyak ikan – ikan hias warna warni di sumber Wuluh ini. Eits, tidak untuk dipancing lo ya. Tapi hanya boleh dikasih makan saja. Tenang, di lokasi terdapat penjual pakan ikan kok, Cuma Rp. 1000 kalian sudah bisa memberi makan ikan – ikan yang ada disana. Terdapat pula makam sesepuh desa yang di makamkan di dekat sumber Wuluh ini, jadi kalian harus tetap beretika baik saat berkunjung kesini. Setiap satu tahun sekali selalu diadakan acara bedah sumber di sumber Wuluh ini. Untuk tiket masuk, kalian cukup membayar Rp. 2000 untuk parkir.
4. SUMBER GADUNG.
screenshot_2019_08_09_06_05_49_730_com_mNv.png
Selain sumber Wuluh, di Ngoro juga terdapat sumber Gadung yang sudah dikelola terlebih dulu. Berlokasi didesa Watesnegoro kecamatan Ngoro, perbatasan dengan kabupaten Pasuruan. Sumber air disini lebih deras debit airnya. Sama halnya dengan sumber Wuluh, sumber Gadung juga terdapat banyak ikan – ikan. Tapi ikan – ikan disini tak berwana warni, melainkan berwana hitam. Meskipun begitu air di sumber Gadung ini lebih jernih kebiru biruan. Disamping sumber Gadung terdapat tempat yang digunakan mandi dan cuci pakaian warga sekitar. Airnya juga bersumber sendiri, jadi dijamin segar sehabis mandi dari sini. Di depan sumber Gadung terdapat toko yang menjual pakan ikan jika kalian ingin memberi makan ikan – ikan di sumber Gadung. Tidak ada HTM untuk masuk ke sumber Gadung.
5.PUTHUK KEMBANG.
screenshot_2019_08_09_06_04_49_928_com_slQ.png
img_20190809_063640_KfK.jpg
Puthuk kembang adalah sebuah bukit yang berada di lereng gunung penanggungan. Tepatnya berada di desa Kunjorowesi kecamatan Ngoro. Dari Alfamart Manduro masuk ke utara menuju ke desa Kunjorowesi. Dari pertigaan Kunjorowesi belok ke kiri, nah dari sini sudah ada petunjuk arahnya kok. Jika masih bingung, kalian bisa lihat dipencarian google maps dengan kata kunci “puncak phutok kembang”. Tidak ada tiket masuk ke tempat ini, hanya parkir motor sebesar Rp. 5000 di dekat warung. Dari parkiran kalian harus berjalan sekitar 5 menit hingga sampai lokasi. Terdapat spot foto seperti rumah – rumahan, kincir angin bahkan sapu terbang. Tempat ini sangat cocok jika dikunjungi pada malam hari. melihat gemerlap lampu dari atas, seperti layaknya wisata di bukit bintang Jogja ataupun paralayang di Batu, Malang. Tenang, tempatnya buka 24 jam kok.
6.PUTHUK KEMBAR.
screenshot_2019_08_09_06_08_09_397_com_Ol3.png
Kalau tadi Puthuk kembang, sekarang puthuk kembar. Masih berada di desa yang sama, desa Kunjorowesi. Tetapi lokasinya berada di bawah dari puthuk kembang. Jika Puthuk kembang dari pertigaan Kunjorowesi belok ke kiri, Puthuk kembar ini kebalikanya, dari pertigaan Kunjorowesi belok ke kanan. Rutenya lebih singkat dibanding dengan Puthuk kembang, tetapi saat mendekati lokasi jalannya lumayan terjal, harus melewati sungai kecil yang kering. Kalian harus berhati – hati. Jika masih bingung bisa cari lokasinya di google maps dengan kata kunci “puncak phutuk remena kembar wangi”. Dengan membayar parkir Rp. 5000 kalian sudah dapat menikmati view Puthuk kembar. Jika kalian ingin kesini lebih baik disaat matahari terbit, apalagi disaat musim penghujan. Karena saat musim penghujan kalian bisa melihat kabut dibawahnya seperti negeri diatas awan. Dari sini kalian bisa melihat galian – galian tambang sirtu, kawasan NIP, kali porong. Bahkan lumpur panas Lapindo bisa terlihat jika cuaca sangat cerah. Tapi tetap hati – hati ya, pasalnya spot untuk rumah pohon tak ada pembatasnya. Jadi utamakanlah keselamatan kalian.
7. JEMBATAN SUTAM.
lrm_export_20190809_183943_aAb.jpg
Jembatan Sutam adalah jembatan penghubung antara dua wilayah, yakni desa Candiharjo, kecamatan Ngoro, kabupaten Mojokerto dengan desa Tambakrejo, kecamatan Krembung, kabupaten Sidoarjo. Jembatan yang berdiri di atas kali porong ini mempunyai panjang sekitar 170 m. Selain sebagai penghubung antar wilayah, jembatan Sutam ini sangat cocok untuk dijadikan tempat berswafoto. pasalnya jembatan ini terbuat dari kayu yang terapung, dibantu dengan drum plastik dibawahnya. Pemandangan kali porong dan gunung Penanggungan, membuat tempat ini ramai dikunjungi. Kalian harus membayar Rp.4000 untuk berswafoto atau sekedar menyebrang jembatan. Karena pembangunan jembatan ini adalah swadaya dari masyarakat sekitar.
Sebenarnya masih ada satu lagi tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Ngoro, yaitu Ranu Manduro yang berada di desa Manduro. Dulu sempat pernah viral, tapi karena sesuatu hal, tempat ini akhirnya ditutup permanen. Jadi tidak saya tulis dalam tulisan ini.
screenshot_2019_08_09_06_03_09_073_com_pwA.png
Sekian tulisan dari saya, jika kalian kebetulan berada di kecamatan Ngoro atau sedang bekerja di kecamatan Ngoro jangan lupa berkunjung ke tempat – tempat yang sudah saya bahas diatas. Atau malah kalian sudah pernah ke salah satu tempat di atas? Sebutin di Comment dong..
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai