Air terjun Krondonan, Surga tersembunyi di Bojonegoro.

Beberapa waktu yg lalu aku di hubungi salah satu admin explore sidoarjo via DM instagram. Meraka bilang ingin membeli beberapa foto yang aku post di Instagram untuk keperluan membuat majalah. Salah satu foto yang aku kirim adalah air terjun Krondonan di Bojonegoro. Untuk itu, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku mengunjungi Air terjun Krondonan ini.

Sebenernya udah lama juga sih aku ke air terjun ini, sekitar tahun 2017 an kali ya. Dan itupun yang kedua kalinya. Yang pertama gagal karena salah akses masuk dan baru bisa kesampaian setahun seetelahnya.

Berangkat dari rumah bersama temenku,Triono. kami arahkan kendaraan menuju ds Rejuno (perbatasan kabupaten Ngawi -Bojonegoro) melewati hutan jati pegunungan Kendeng. Meskipun hutan jati, tapi akses jalan sudah beraspal, cor, dan paving. Masih ada sedikit jalan rusak sih, tapi gak separah pas pertama kali melewati jalanan ini di akhir tahun 2011.

Lokasi air terjun krondonan ini berada di perbatasan. Antara kecamatan Sekar dan kecamatan Gondang. Akses yang lebih mudah adalah dari desa Krondonan kecamatan Gondang. Itu sebabnya kami harus putar lebih jauh melewati kecamatan Gondang. Karna pengalaman dulu pernah lewat dari Kecamatan Sekar, eh malah gak sampai lokasi karena medan yang ekstrime.

Sampai di desa Krondonan, kami bertanya ke penduduk sekitar tentang lokasi air terjunya. Kendaraan kami parkir di sebuah TK. Karna bangunan TK ini adalah bangunan terakhir untuk sampai ke lokasi air terjun.

Kami mulai berjalan kaki lewat samping TK. Melewati kebun jagung dengan medan yang menurun. Melihat kebun jagung yang sepi, jiwa maling ku mulai bergelora. “Tahan aik, niatmu kesini untuk explore air terjun, bukan mau maling”. Kata lubuk hatiku yang paling dalam.

Sampai dasar sungai kami harus melawan arus menyusuri aliran sungai. Airnya pun juga keruh. Karna bukan dari sumber mata air. Konon, kata temenku yang tinggal di kec Sekar, tempat ini sering menelan korban. Sebab arus di sungai menuju air terjun ini sangat deras. Kami harus berhati hati dalam memilih pijakan batu. selain licin, kadang batu gak terlalu kokoh untuk di buat pijakan.

Gak terlalu lama kami menyusuri sungai, akhirnya kami sampai juga di lokasi air terjun Krondonan.

Debit airnya gak terlalu deras membuat warna air di air terjunya gak terlalu keruh. Struktur bebatuanya khas layaknya gunung kapur, berwana putih kecoklatan. Ketinggian air terjun Krondonan sendiri sekitar 15 sampai 20 meter.

Setelah cukup puas menikmati suasana air terjun, kami lanjut pulang.

Ok sekian cerita kawak dariku. Alhamdulilah, selesai juga tulisane. Sebenere muales banget nulis. Buat nulis yang ini aja butuh waktu berminggu minggu.. Haha

Yauwes, daaaah… 👋👋

Gunung Gajah digapai dengan mudah

Sehari setelah menelusuri peradaban kabupaten Madiun (situs Nglambang dan situs sendang kamal. Aku dan mas Ryan berencana pergi ke Ponorogo. Tepatnya menuju ke gunung Gajah.

Berangkat dari rumah menjelang subuh, kami sempatkan sholat subuh di masjid dekat rumahnya mas Ryan. Seberes sholat, kami langsung berangkat menuju Ponorogo.

Lokasi gunung Gajah sendiri berada di kecamatan Sambit, Ponorogo. Sekitar 25 km ke arah selatan kota Ponorogo. Kami hampir saja salah jalan karena ngikutin Google maps, untung saja akhirnya tanya ke penduduk sekitar.

Gunung Gajah ini aksesnya tergolong mudah. Sebab untuk sampai ke puncak nggak perlu berjalan kaki lama lama. Kendaraan bisa sampai ke atas dekat puncak. Karena memang dilalui jalan penghubung antar desa gitu.

Meskipun gak menguras fisik, kondisi kendaraan harus di perhatikan. Karena 2 km awal kondisi jalanan rusak, jadi tetap harus hati hati. Tetapi setelah itu jalanan mulai mulus, dari mulai yang aspal hingga cor coran. Jika di samain, gunung Gajah ini sama seperti gunung Telomoyo di Jawa tengah, sama sama dapat di akses dengan kendaraan.

Penduduk sekitar menyebut puncak gunung Gajah ini dengan sebutan puncak Kuik. Kalian gak usah kawatir dengan perbekalan, sebab di pinggir jalan deket puncak terdapat beberapa warung. Selain itu juga ada penyewaan alat outdornya juga, jadi jika kalian berniat ngecamp di puncak bisa banget nyewa langsung disini.

Dari atas puncak Kuik, kalian bisa melihat hamparan sawah yang ada di bawah hingga lautan awan, tapi jika kalian beruntung juga sih. Terlihat juga gunung Bayang kaki yang masih di wilayah Ponorogo.

Sedikit turun kebawah dan brasak brasak (tau ah bahasa indonya apa) ada air terjun yang kemungkinan cuma ada pas musim penghujan. Gak cuma satu, air terjun ini ada dua dan itu berdekatan. Uniknya, salah satu air terjun atasnya adalah persawahan teras sering yang pembuangan irigasinya turun langsung menjadi air terjun.

Dan setelah dari situ kami akhirnya pulang deh..

Udah segitu dulu ye..

Wisata sejarah: rumah Dr. Radjiman

Disaat belajar sejarah waktu SD atau SMP sahabat pasti mengenal tokoh pahlawan nasional bernama Dr Radjiman bukan?. Beliau adalah salah satu pahlawan yang jasanya sangat besar dalam membentuk Negara Republik Indonesia. Sebagai ketua  BPUPKI di zaman penjajahan Jepang, beliau kemudian menghabiskan masa tuanya di kabupaten Ngawi. Kali ini sahabat akan aku ajak mengunjungi bekas rumah peninggalan Dr. Radjiman di Ngawi, yang saat ini sebagai bangunan Cagar budaya.

BIOGRAFI SINGKAT.

Dengan nama lengkap Dr.  Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Widiyodiningrat. Beliau lahir di Yogyakarta, 21 April 1879. Setelah lulus sekolah kedokteran di luar negeri, beliau kemudian pulang ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dokter di berbagai daerah di Jawa, tak terkecuali di kec Lawang, Malang (RSJ Dr. Radjiman Widiodiningrat sakarang). Selain sebagai dokter, beliau juga aktif dalam organisasi pergerakan nasional yaitu Budi utomo. Sehingga mengantarkanya sebagai ketua BPUPKI. Setelah kemerdekaan, Dr. Radjiman kemudian menjadi anggota DPR RI. Di masa ini pula beliau pindah dan bertempat tinggal di Ngawi. Beliau selalu pulang pergi Ngawi-Jakarta untuk menghadiri rapat DPR sampai masa tuanya. Beliau wafat di Ngawi, 20 September 1952. Jenazahnya lalu di makamkan di kabupaten Sleman, Yogyakarta.

LOKASI RUMAH DR. RADJIMAN.

Lokasi rumah Dr. Radjiman berada di dsn Dirgo, ds Kauman, kec Widodaren. 30 km dari pusat kota Ngawi. Dari stasiun Walikukun menuju ke arah selatan 50 meter, menuju ke barat, sampai pemakaman umum belok kiri, lurus melewati hutan jati dan sampailah di situs rumah Dr Radjiman. Warga setempat menyebut rumah Dr. Radjiman yang berusia lebih dari satu abad ini dengan sebutan rumah Kanjengan.

MENGHUBUNGI TERLEBIH DAHULU KE PIHAK PENGELOLA.

Jika sahabat ingin mengunjungi Situs rumah Dr. Radjiman ini, sebaiknya sahabat menghubungi pihak pengelola, karena tempat ini tidak selalu dibuka. No yang dapat dihubungi: 085235954755 atas nama Bapak Wagimin selaku ketua RT disana. Rumahnya berada di belakang situs rumah Radjiman. Selain ramah, Bapak Wagimin juga senatiasa menjawab pertanyaan yang sahabat tanyaakan perihal rumah “Kanjengan” ini. Tidak ada tiket masuk ke area rumah Dr. Radjiman ini, Sahabat cukup memberikan uang sukarela kepada Bapak Wagimin selaku penjaga dan perawat Cagar Budaya ini.

ARSITEKTUR RUMAH DR. RADJIMAN.

 Meskipun Situs bangunan rumah Dr. Radjiman ini sudah berumur seratus tahun lebih, bangunannya tetap kokoh berdiri. Pelatarannya begitu luas dengan rumah yang tak terlalu besar. Tampak di depan rumah terdapat patung setengah badan Dr. Radjiman dengan bahan tembaga. Rumah ini terbagi menjadi 3 bangunan.

Bangunan pertama adalah ruangan yang berisikan narasi, cerita tentang perjalanan  tokoh pahlawan Dr. Radjiman. Terbagi menjadi 3 bilik dengan cerita di setiap dindingnya.

Bangunan selanjutnya adalah bangunan yang menjadi tempat kediaman beliau. Ada beberapa ruangan, antara lain. Ruang tamu, kamar tidur dan salah satu yang menarik adalah ruang kosong yang hanya berisi satu lemari kaca di sudut ruangan dan sebilah tongkat Dr. Radjiman yang di letakan di dinding tembok. Ternyata ruangan ini dulunya juga merupakan kamar tidur. Meskipun berusia ratusan tahun, semua perabotan di dalam ruangan masih asli dan sangat terawat.

Bangunan yang terakhir adalah bangunan yang digunan sebagai ‘garasi’ kendaraan pribadi Dr. Radjiman kala itu. Beliau menggunakan delman sebagai alat transportasi. Dalam ‘garasi’ tersebut sekarang terpajang diorama delman dengan dipasangi patung kuda.

Ok, sekian dulu ripiyu wisata kali ini. Jangan lupa baca juga tulisanku yang lainya ya..Siyu nekstems ..

Ranu Genengan. Wisata bekas galian, anti Lockdown

Asalamualikum temen temen.

Gimana kabarnya, masih sehat kan? Udah hafal berapa gaya rebahan nih? Haha, bercanda. Lama juga ya gak keluar rumah. Apalagi pemerintah menghimbau untuk tetap #dirumahsaja. Belum lagi semua tempat wisata juga di tutup sampai sekarang, jadi tambah bosen kan dirumah.

Untuk itu aku akan menceritakan perjalanan ku menuju “tempat wisata” yang anti lockdown, anti tutup tutupan klub. Meskipun sebenarnya ini bukan tempat wisata. Hehe. Namanya Ranu Genengan. Ranu Genengan ini berada di dsn Genengan, ds Bringin, kec Bringin, kab Ngawi

Sebenernya, ada banyak nama untuk tempat ini sih. Ada yang menyebutnya wisata Lemah Putih, jurang krowak dan felling goodnya Ngawi. Kalo untuk nama Ranu Genengan sendiri nih emang aku namain sendiri.. Hehe

Aku janjian sama rekan seperjalananku, Triono. Di malam minggu, saat kami sepedaan. Maklum lagi rame ramenya bersepeda. Rencana berangkat pagi banget pun gagal karna aku bangun kesiangan. Wong pulang dari bersepeda aja jam setengah 12 malam, belum lagi laper cari makan. Wes udah lah lupakan.

Singkat cerita kami berangkat jam 8 pagi, yang semula pengen nyunrise pun gagal. Jarak dari rumah sampai lokasi Ranu Genengan ini sekitar 20 menitan pake sepeda motor. Jalanya beraspal kok. Mungkin cuma 500 meter aja yang jalan makadam, itupun udah hampir sampai lokasi

Di lokasi ini sendiri terdapat warung makan. Jadi kalian gak usah kawatir kehausan atau kelaparan. Untuk masuknya pun juga gratis. Perihal lokasi masih aktif sebagai galian atau udah nonaktif itu masih simpang siur ya. Soalnya kata pemilik warung masih bisa ambil tanah dari sini dgn harga harga tanah satu truk gitu, tapi kalo aku lihat gak ada alat berat seperti bego, truk berada di lokasi tuh.

Ok, lanjut.

Habis markir motor di sebelah warung, kami langsung cari spot foto yang menarik. Berjalanlah kami menuju atas. Bentar, tak kasih gambaran sedikit. Tempat galian ini nih luas dan di tengah ada genangan airnya gitu. Kedalamanya sih bermacem macem, ada yang cuma sedengkul dan ada yang kayaknya dalem banget. Meskipun begitu, demi keamanan, plis jangan berenang disini. Malu dong kalo pulang pulang tinggal nama doang.. Haha.

Kembali mencari spot foto yang tadi. Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, akhirnya kami sampai di lokasi spot yang kami tuju. Oh ya, sebaiknya kalian kalo kesini pagi banget, sekitar jam 6 pagi. Wong aku sampai sini jam 8 aja udah panasnya minta ampun. Ada 2 spot yang kami coba explore.

Dan ini adalah foto fotonya.

Spot pertama
Spot kedua

Tetep hati hati ya dalam berfoto. Karna memang ini bukan tempat wisata, jadi jika terjadi apa apa ya gak ada asuransinya. Oh ya, meskipun tempatnya masih sepi, jangan buang sampah sembarangan ya.

Setelah dari sini, kami lanjutkan ke destinasi selanjutnya. Gak jauh sih dari ranu genengan ini. Tapi masih tak simpen dulu tulisanya, tak kasih karbit biar mateng.. Haha.

kalian juga bisa banget liat videonya di chanel youtubeku: ay aik ( https://youtu.be/HN-nJNYR-UY )

Sekian tulisanku kali ini. Wasalamualaikum temen temen.. Hehe

Candi Gapura Lanang, candi tersembunyi di kaki gunung Penanggunagan.


Pernah denger Candi Tetek belahan?. Atau kalian udah pernah kesana mungkin? Candi Tetek belahan ini sebenarnya sebuah pertitraan, dua patung cewek dengan air yang mengalir di teteknya menjadi keunikan candi ini. Itu sebabnya candi ini disebut candi Tetek belahan.


Tapi saya tidak akan menjelaskan candi ini dengan detail. melainkan menceritakan perjalanan saya menuju ke candi Gapura Lanang yang tak jauh dari candi Tetek belahan.
Informasi Candi Gapura Lanang ini saya peroleh dari foto di instagram, dalam foto terlihat seperti candi yang belum banyak orang mengetahuinya. Akhirnya keinginan saya untuk mencari candi tersebut muncul.


Mengajak teman saya Jerry yang berlatar belakang agama Hindhu, membuat kami lebih bersemangat mencari candi tersebut. Perjalanan kami mulai dari kos menuju ke candi Tetek belahan yang berada di ds Wonosunyo, kec Gempol, Pasuruan. Menurut info yang saya dapat, memang candi Gapura Lanang berada tak jauh dari candi Tetek belahan.

Setelah sampai di Candi Tetek belahan, kami lanjutkan lurus menuju keatas. Sadar tak menemukan candi yang kami maksut, akhirnya kami bertanya kepada warga sekitar. Ternyata wargapun juga tak tau candi yang kami maksud. Akhirnya kami kembali menuju ke candi Tetek belahan.


Di sekitaran candi Tetek belahan, kami bertanya kepada seseorang yang sedang mencari rumput. Ternyata candi yang kami maksut terlewati, tapi tak terlalu jauh juga sih. Beliau menunjuk masjid yang terlihat kubahnya dari sini. “pedamu parkiren neng mejid kae mas, trus samping enek gang cilik, nah mlaku metu kono”. “motormu parkir di masjid itu saja mas, lalu sampingnya ada gang, nah jalan lewat situ”.

Akhirnya kami menuju kesana. Dari masjid, kami berjalan kaki melewati kebun warga. Dari sini candi sudah terlihat. Lalu turun melewati sungai kecil dan kembali naik sedikit. Kami sempat kebingungan disini, sebab jalan setapak mulai tak tampak dan berbukit, membuat candi tak terlihat. 10 menit mencari, akhirnya ketemulah candi Gapura lanang tersebut.

Dekat candi terdapat tumpukan batu yang tertata rapi layaknya tembok, tetapi diatas nya tertimbun tanah dengan pohon di atasnya. Masuk kedalam terdapat makam kuno. Kemungkinan makam ini sudah tidak digunakan lagi oleh warga sekitar. Pohon pohon tua yang ada membuat semakin seram suasana. Di tengah pemakaman ini lah berdiri kokoh candi gapura lanang.
Menurut informasi yang saya peroleh. Sebenarnya ada dua candi, candi Gapura lanang dan candi Gapura wadon. Sayangnya kami tidak menuju ke candi Gapura wadon, karena baru mengetahui informasi ini setelah membuat tulisan ini. Jadi kami hanya mengexplore candi Gapura lanang saja.

Menurut artikel yang saya baca sih jarak atar gapura tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter. Struktur gapura terbuat dari batu bata merah, seperti candi candi yang tersebar di daerah Trowulan. Dahulu di sekitar candi juga terdapat kolam yg berfungsi sebagai pertitraan layaknya candi Tetek belahan. Tetapi kolam tersebut sudah tertimbun tanah. Sayang sekali ya.

Untuk videonya bisa dilihat di chanel youtube saya ya..

Ay YUK: Gapura Lanang, candi tersembunyi di kaki gn Penanggungan


Sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat..

Reunian kita: malam tahun baru di paralayang Ngawi

Dari Sumber sendang, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, yaitu paralayang yang berada di kab Ngawi. Langit yang semula mendung, kini berganti hujan. Hujan yang tidak menentu membuat kami beberapa kali berteduh. Terhitung saat melintasi di Kendal dan di Jogorogo.

Belum sampai di lokasi, kami terlebih dahulu mengambil tenda yang udah saya sewa kapan hari. Lokasinya berada di jalan yang searah menuju air terjun pengantin.

Perut yang sudah lapar memaksa kami untuk berhenti di warung makan yang berada di sekitaran Ngrambe. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan.

Pinter pinter cari tempat,lokasi ini berada di belakang warung yang kami singgahi.

Lokasi bukit paralayang sendiri berada di gunung Gede, desa wonosari, kec Sine. jika dari Sine, ambil arah ke wisata watu Jonggol. Dari pertigaan ke Watu jonggol masih lurus sampai pasar Wonosari. Dari sini ambil arah ke kiri, hingga sampai pertigaan. Dari pertigaan ambil kanan ke jalan cor-coran. Nah, ikuti jalan sampai menemukan plang ke paralayang. Jalanya dari sini berubah jadi jalan tanah. Meskipun jalanya susah, tetapi pemandangannya begitu indah.Atau bisa klik disini untuk lokasi mapsnya.

Kanan kiri jalan berupa hamparan kebun teh. Memang, jika di tarik garis lurus, lokasi Paralayang ini dekat dengan Kebun teh Jamus. Mungkin masih satu pengelola kali ya.

Jam 16.00 kami sudah sampai lokasi. Untung hujan yang mengguyur kami saat masih di perjalanan sudah reda, sehingga kami bisa mendirikan tenda. Tak lama setelah tenda berdiri, hujanpun kembali turun.

Bodohnya setelah sampai lokasi, kami lupa tidak membeli perbekalan terlebih dahulu. Jangankan roti atau sejenisnya, air mineral pun lupa membelinya. Untung adiknya Eng membawa roti kecil satu bungkus dan dua buah pir. Itupun saya hanya memakan 2 3 gigitan. Tapi gak papalah, itung-itung puasa di malam pergantian tahun 😁😁.

Hujan rintik- rintik yang gak reda- reda membuat tidur lebih awal. Sekitar jam 23.00, kami terbangun karena mendengar segrombolan motor yang datang. Ternyata mereka juga ingin merayakan tahun baru disini.

Mereka lebih terorganisir dan niat sekali dengan perayaan tahun baru ini, mulai dari kembang api dan alat panggangan. Gak seperti kami yang gak membawa apa-apa 🙈🙈.

Disaat detik- detik pergantian tahun, kembang api mulai terlihat di bawah. Begitu pula di balik bukit, kembang api terdengar begitu meriah. Mungkin lokasinya berada di paralayang Segoro Gunung, Jenawi, Karanganyar. Memang lokasi ini perbatasan langsung dengan kab Karanganyar.

Setelah jam pergantian tahun selesai, sekitar jam 01.00 anak-anak yang baru datang tadi kembali turun. Mungkin meraka anak-anak sekitar sini.

Pagi telah datang, dan kabut yang masih menyelimuti bukit membuat kami enggan beranjak dari tenda. Setelah kami keluar tenda, ternyata masih ada satu tenda dengan satu motor dengan plat nomor merah. Disaat kami berfoto-foto, meraka keluar dari tenda. Ternyata meraka adalah anggota dari paralayang Ngawi yang ingin terbang di hari itu. Tetapi angin yang kurang menentu membuat meraka membatalkan penerbangannya.

Oh iya, bukit paralayang ini juga bakal digunakan untuk Even Festival paralayang dan liga Jatim seri 1, merebutkan piala bupati Ngawi Open 2020. Acara di selenggarakan pada Februari 2020.

Kamipun turun dari bukit, tapi terjadi satu masalah dengan motornya Eng, ban nya bocor. Akhirnya kami mencari tambal ban yang berada di sekitar desa Wonosari. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Reunian kita: Sumber Sendang (sendang Growong), tempat ciblon anyar dan instagenic di Magetan.

Libur tahun baru kali ini masih ngeblank mau kemana. Sebenarnya sih udah males kemana mana, soalnya pasti jalanan rame, begitu pula dengan tempat wisatanya. Tapi saya tau tempat- tempat tersembunyi yang jarang banget di kunjungi oleh wisatawan. Ok, akhirnya saya menghubungi Feri dan Eng untuk pergi ke tempat-tempat ini, itung- itung reunian saat saya masih kerja di Surabaya. Eng yang semula berada di Bojonegoro, setelah saya hubungi langsung meluncur ke rumah mertuanya yang berada di kec Bendo, Magetan. Saya dan Feri janjian di pertigaan patung Maospati untuk bersama sama menuju ke Bendo. Di sana Eng mengajak adiknya. Akhirnya kami ber empat menuju ketempat yang ingin kami kunjungi ini.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Sumber Sendang atau sendang Growong. Lokasinya berada di dusun Growong, ds Sumbersawit, kec Sidorejo, Magetan. Bermodalkan maps dan bertanya warga sekitar akhirnya kami sampai di lokasi. Meskipun harus ada tragedi putar balik akibat perbaikan jembatan.

Jika kalian dari kota, kalian bisa ambil arah menuju ke Sarangan. Belok kanan jika sampai di pertigaan Sidorejo (ke arah ring road barat). Menuju pertigaan ds Sidokerto, lalu belok kiri ambil jalan menuju ds Sumber sawit. Jika kurang jelas kalian bisa klik lokasinya disini.

Tidak ada tiket masuk di tempat ini. Tapi sayangnya juga tidak ada lahan parkir untuk kendaraan, apalagi untuk roda empat, mungkin bisa di titipin di rumah warga. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan dekat dengan lokasi. Setelah kendaraan di parkir, kami langsung turun menuju lokasi. Ya, memang lokasinya berada di bawah jalanan desa.

Saat itu ada ibu- ibu yang sedang memandikan anaknya. Beliau bertanya kepada saya. “Ngerti nggon iki soko endi mas?, (tahu tempat ini dari mana mas?)”. Pertanyaan yang sulit bagi saya untuk penanya orang tua. Akhirnya saya jawab aja ” Saking HP bu. ( dari HP bu )”.

Oh iya sampai lupa. Sumber Sendang ini adalah sumber mata air yang airnya di tampung dalam kolam. Kolamnya sendiri baru di bangun sekitar satu tahun yang lalu. Info ini pun saya dapat dari ibu – ibu yang memandikan anaknya tadi. Kolam nya dibangun layaknya kolam renang pada umumnya dengan ubin di dalamnya. Berlatar pohon dan batuan besar dekat mata air, serta alam yang indah membuat sumber sendang ini sangat instagenic. Tak hanya itu, air kolam pun juga sangat segar, karena airnya berasal dari mata air pegunungan asli.

Sumber sendang ini biasanya dilalui penduduk sekitar untuk mencari rumput atau berladang. Anak- anak dusun pun sering mandi atau sekedar berenang di kolam ini. Gak terlalu dalam kok, kedalamannya mulai dari perut sampai dada orang dewasa.

Selain sebagai tampungan air, Sumber sendang sendiri juga digunakan sebagai pengairan untuk pertanian yang ada di sekitarnya. Gak menutup kemungkinan, bakal menjadi tempat wisata yang ada di kab Magetan. Melihat begitu indah alam disekitarnya. Asal jangan Ngikutin tempat wisata yang latah akan cat warna warni aja, jyjyk aku tuh.🙈🙈

Tapi sayangnya tempat ini belum dilengkapi toilet atau tempat ganti baju yang layak. Ada sih, tapi dindingnya hanya setinggi perut orang dewasa aja, itupun juga sempit, harus bergantian saat ganti. Jadi bagi cewek-cewek yang ingin kesini, mungkin bisa menuju ke atas, izin ke kamar mandi warga sekitar untuk ganti baju selepas berenang kesini.

Kamipun gak masalah dengan hal itu. sebab, ya kami cowok-cowok semua.

Oh iya, ini nih penampakan Sumber Sendang/Sendang Growong nya..

Melihatnya aja udah adem kan.? Apalagi kalo udah nyebur.. Brrrr, jadi puret deh🙈🙈.

Kata penduduk sekitar, di sekitaran situ selain Sumber sendang, terdapat dua mata air lagi, . Tapi tidak seperti sumber sendang ini yang sudah di bangub kolam. Tapi saya lupa sih nama-nama sumbernya..😁😁

Selesai berenang karena sudah kedinginan banget, kami ganti pakaian dan menuju tempat berikutnya. Toh langit mulai gelap. Padahal baru sekitar jam 1 siang.

Bersambung…

Akibat mendaki gunung Wayang.

Rencana ke Ranu Regulo pun batal setelah rekan seperjalanan saya, jerry berbeda sift kerja dengan saya. Akhirnya saya menghubungi mas Welly untuk membuat opsi ke 2. Bukan lagi ke Ranu Regulo, tetapi ke persawahan di Pamotan, Dampit, Malang. Tapi ternyata mas Welly sudah ada janjian dengan temanya yang udah berencana sejak 2 Minggu yanag lalu. Mereka akan menuju ke gunung Wayang yang berada di Lumajang. Karna persawahan Pamotan dan gunung Wayang satu arah, kenapa gak sekalian ke persawahan Pamotan terlebih dahulu, baru ke gunung Wayang, pendapatku. Tetapi pendapat itu ditolak oleh mas Welly. Dia tidak enak dengan temanya yang udah terlanjur janjian. Akhirnya sayapun ikut rencana mas Welly.

Jam 03.00 dini hari, saya berangkat dari kos menuju ke Malang, kos-kosan mas Welly. Kami berangkat ber enam. Saya, mas welly, mas Robby, mas Adrian dan sepasang suami istri, sebut saja mas Budi dan mbak Ani (karena saya lupa namanya..hehe). jam 05.00 kami baru berangkat dari Malang. Memang niatnya tidak berburu sunrise di puncak gunung Wayang. Jadi kami berkendara dengan tidak tergesa gesa.

Setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampailah di gunung Wayang. Lokasinya berada di ds Sumber wuluh, kec Kalipuro, Lumajang. Untuk tiket masuknya sebesar Rp. 5.000 dan parkir kendaraan Rp 2.000. Disamping tiket masuk ini terdapat pos pantau aktifitas vulkanik gunung Semeru. Ya, memang gunung wayang ini adalah spot yang cocok untuk melihat gagahnya gunung semeru dari ketinggian.

Medan pertama adalah turunan dengan jalan yang sudah dicor. Tapi setelah itu tanjakan demi tanjakan sudah menanti didepan. Dari tanjakan – tanjakan ini medannya yg semula dicor berganti dengan tanah. Karena mas Budi tidak kuat menanjak, kami sering berhenti sejenak untuk beristirahat. Sekitar 30 menit mendaki, akhirnya sampai juga di puncak gunung Wayang. Memang sih, gunung Wayang ini tidak terlalu tinggi, cuma 987 mdpl.

Di atas puncak terdapat spot – spot selfie seperti tempat- tempat tempat wisata lainya. Prahu prahuan, pintu doraemon, dan sepeda ontel masih menjadi ciri khasnya. terdapat juga area camping yang bisa menampung sekitar sepuluh tenada. Selain itu, juga ada mushola kecil. Jadi gak usah kawatir jika ingin menunaikan ibadah sholat.

Difoto sama mas Budi.

Sejatinya gunung wayang ini adalah spot untuk melihat sunset. Jadi kami keliru saat datang kesini. Yang seharusnya datang saat sore hari, tapi kami malah berkunjung pas pagi hari.

Dirasa cukup berswafoto, kami kembali turun kebawah dan segera menuju ketempat destinasi selanjutnya. Perut yang sudah mulai kekoploan (keroncongan) membawa kami ke tempat makan. Oh iya, btw rumah makan yang kami tempati adalah duduk lesehan.

Jadi setelah makan dan berdiskusi tentang destinasi yang ingin kami kunjungi selanjutnya. Tiba tiba kaki mas budi tidak kuat untuk berdiri. Setiap mau berdiri selalu jatuh. tapi kata beliau tak ada rasa sakit di bagian kakinya. Akhirnya kami menunggu sampai sekitar satu jam di warung tersebut agar mas budi bisa berdiri seperti semula. Tapi setelah menunggu satu jam, kondisinya tidak berubah. Kakinya masih tidak bisa untuk berdiri. Pikiran saya sudah mulai kemana mana. Mulai dari yang stroke lah, ketempelan penunggu gunung wayang lah, kesantetlah..ah pikiranku

kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke destinasi selanjutnya dan kembali pulang saja. Toh, kesehatan lebih penting dari pada harus bersenang senang. Mas Budi yang belum bisa berdiri pun akhirnya dibonceng oleh mbak Ani, istrinya.

Kami berpisah di kos kosan mas Welly. Mas Budi dan mbak Ani juga nggak pulang ke Surabaya, melainkan ke Gempol di rumah mas Adrian. Menurut kabar, keesokan harinya mas Budi sudah bisa berjalan seperti sedia kala..syukur Alhamdulillah.

Susur Pronojiwo: maraton air terjun.

Sehabis kami dari coban Sriti. Rencana selanjutnya adalah mencari tempat peristirahatan yang dekat dengan tempat yang kami akan kunjungi besoknya, yaitu desa oro-oro ombo. Terjadilah drama tersesat dalam perjalanan saat mencari tempat peristirahatan.

Kesesatan itu membawa kami di sebuah tempat yang instagramable. Sebuah hutan dengan jalan cor lurus menanjak memaksa kami untuk berhenti sejenak untuk sekedar mengambil foto. Tempat ini mirip seperti hutan pinus Kragilan yang ada di Magelang. Meskipun jalannya kecil, tapi banyak truk pengangkut pasir yang berlalu lalang. Ternyata, tempat ini bersebelahan langsung dengan pertamtambangan pasir. Jadi kami harus tetap waspada saat truk sedang lewat jalan ini. Untuk lokasinya (klik disini).

Hari mulai gelap. Kami pun kembali mencari tempat untuk kami bermalam. Saat magrib tiba, sampailah kami di sebuah masjid di desa Sumber urip, desa yang berdekatan dengan desa Oro oro ombo. Kami berencana untuk mermalam di masjid itu dengan melapor ke pengurus masjid. KTP kami di tahan untuk sekedar berjaga-jaga. Di saat kami akan tidur datanglah pak Rohman, warga yang juga pengurus masjid itu. Dia menyuruh kami untuk tidur di rumahnya yang tak jauh dari masjid. Akhirnya kami menuruti perintah beliau dan menuju ke rumah pak Rohman. Setelah kami ngobrol dengan beliau, ternyata ia takut kalo terjadi apa-apa kepada kami. Sebab saat itu sedang panas-panasnya pemilihan Presiden, takutnya warga sekitar mencurigai kami sebagai mata-mata dari salah satu capres, pikir pak Rohman. jadi kami disuruh menghinap di rumah beliau.

Azan subuh berkumandang, dan setelah kami sholat subuh di masjid dan mengambil KTP. kami berpamitan kepada istri pak Rohman (berhubung pak Rohman sedang pergi ada urusan). Beliau melarang kami untuk pergi karena sedang dibuatkan sarapan. Karena kami memaksa untuk pergi, akhirnya kami disuruh sarapan sisa tadi malam yang kami makan. Setelah itu kami berpamitan menuju desa Oro oro ombo. Terima kasih bapak dan ibu Rohman atas tumpangan dan makanannya, semoga selalu diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah.

Jarak desa Sumber urip ke desa Oro oro ombo memang tak begitu jauh. Yang membuat kami lama adalah mencari spot foto jalanan yang viral beredar di sosial media. Memang di google maps tidak tercantum lokasi tersebut. Lokasi ini adalah sebuah jalan lurus yang seakan akan menuju ke gunung Semeru, dengan kanan kiri berupa persawahan. Gunung Semeru nampak gagah di depan sana dengan kepulan asap dari kawah jonggring saloko menjadikan tempat ini menarik. Jika kalian ingin kesana dan tidak tau lokasinya , bisa (klik disini).

Serasa cukup puas berada di ds Oro oro ombo, kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yaitu coban kapas biru.

Coban yang dulu pernah saya kunjungi di akhir tahun 2015 ini berlokasi di dsn Mulyoharjo ds Pronojiwo kec Pronojiwo. Tempat ini di buka ditahun yang sama disaat saya pertama kali kesini, jadi banyak yang berubah ketika kami sampai di coban Kapas biru. Mulai dari lahan parkir, toilet hingga kondisi jalan menuju ke lokasi air terjun.

Salah satu yang baru saya tahu setelah kembali lagi ke coban kapas biru ini adalah sumber air dari aliran Kapas biru ini adalah dari coban Sumber telu yang berada di atasnya.

Jalurnya tetap seperti dulu, membuat ngosngosan pernafasan. Tapi tetep, setelah sampai di air terjun rasa capek berubah ketika melihat keindahan air terjun. Motif tebingnya tetap membuat terpesona ketika melihatnya . Tidak ada pengunjung lain saat kami sampai lokasi air terjun, pasalnya hari itu hari senin, hari masuk kerja. Si Tesar aja rela bolos kuliah demi perdolanan ini..haha

Setelah puas menikmati pesona coban Kapas biru, akhirnya kami kembali. Jalan menuju ke pintu masuk lebih menguras tenaga, karena jalanya menanjak. Beda banget saat kami berangkat, karena jalan yang menurun.

Setelah sampai tempat parkir kami istirahat sebentar karena kecepekan. Setelah itu kami lanjut lagi menuju tempat wisata berikutnya, yaitu coban kabut pelangi. Lokasinya tak begitu jauh dari coban kapas biru sekitar 10 menit perjalanan.

Sampai di loket kapas biru kami lupa membeli minuman. karena tidak ada warung di loket masuk, akhirnya kami putar balik menuju warung terdekat untuk membeli air mineral. Tiket masuk menuju coban Kabut pelangi ini sama seperti di coban Kapas biru dan coban Sriti, yaitu Rp. 15.000 untuk 2 orang sudah termasuk parkir.

Track pertama masih berupa jalan cor dengan rumah rumah warga di sekitarnya. Berubah kemudian dengan perkebunan salak di kanan kiri jalan setapak. Berpapasan kami dengan pengunjung lain yang mulai naik menuju ke tempat parkir, nampak sekali raut wajahnya kecapekan. Wah, apakah mungkin jalurnya begitu jauh?. Benar saja, ternyata jalurnya memang jauh, sekitar 30 menit perjalanan. Tampak di tengah perjalanan terlihat coban Sriti dari kejauhan. Setelah menuruni sungai, selanjutnya jalur belok ke kanan, turun menyusuri sungai. Sungai ini tak begitu deras alirannya.

Akhirnya sampailah kami di coban Kabut pelangi di ujung sungai. Dinamakan Kabut pelangi karena, jika beruntung terlihatlah pelangi akibat pembiasan cahaya dari kabut yang dihasilkan dari air terjun.

Berbeda dengan Kapas biru yang mempunyai dinding yang berwarna kecokelatan, dinding Coban kabut pelangi justru berwarna hijau karena tertutup lumut. Tinggi air terjun ini sekitar 100 m dengan keunikan ujungnya yang tumpul. Hati-hati jika berada di lokasi air terjun, sebab batuan licin akibat ditumbuhi lumut.

Tips untuk mengambil gambar di coban Kabut pelangi ini adalah bawalah pembersih lensa. karena hempasan kabut air terjun membuat lensa menjadi basah dan hasil foto tidak akan bagus. Jika tidak ingin ribet, pakailah kamera HP yang lensanya tak begitu besar, sehingga kabut tak banyak mempengaruhi hasil jepretan.

Setelah puas menikmati coban Kabut pelangi, kami akhirnya kembali. Jalan yang menanjak kembali harus kami lalui. Kami sangat kelelahan, sebab sebelumnya sudah tracking ke coban Kapas biru. Rencana ingin menuju Tumpak sewu pun kami batalkan. Akibat dari maraton coban ini sandal si Tesar jadi putus, di perjalanan pulang dari coban ini, kasihan si tesar..

Sekian cerita perjalanan kami maraton coban di Pronojiwo. Semoga bermanfaat dan terhibur..

Susur pronojiwo: mencoba jalur baru coban Sriti.

Banyak sekali potensi alam yang ada di kabupaten Lumajang. Terlebih daerah yang berada di lereng gunung Semeru, sebut saja kecamatan Pronojiwo. Kecamatan yang perbatasan langsung dengan kabupaten Malang ini mempunyai banyak potensi alam. Mulai dari gunung, air terjun, danau bahkan sampai candi. Nah kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengunjungi beberapa wisata yang ada di kecamatan Pronojiwo, kabupaten Malang.

Minggu pagi saya belum kepikiran dolan ke suatu tempat. Terbesit dipikiran saya, ke coban Sriti. Masalahnya sahabat-sahabat saya tak ada yang mau diajak kesana dengan berbagai alasan. Ada yang sibuk sendiri lah, ada yang ngabarinya mendadak lah. Banyak deh alasanya. Hingga ada salah satu sahabat saya, Tesar namanya. Dia mau dengan ajakan saya.
Selepas sarapan, sayapun langsung menuju ke Malang, menjemput Tesar. Karana saya tak tahu rumahnya, kami pun ketemuan di Alun-alun Malang. Selepas semuanya beres, sekitar pukul 11: 00, kami pun mulai berangkat dari tempat tinggal Tesar.
Dari Malang kota sampai ke kecamatan Pronojiwo berjarak sekitar 60 Km atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Semula jalan yang kami lalui jalanan datar, hingga sampai kecamatan Dampit jalanan mulai naik turun khas pegunungan. Hampir mendekati kecamatan Pronojiwo, kendaraan banyak didominasi truk pengangkut pasir. Memang, kecamatan Pronojiwo dan kecamatan – kecamatan di sekitarnya banyak penambangan pasir. Pasir diambil dari kali aliran lahar dingin gunung Semeru. Pasir daerah ini memang berkualitas bagus. Tak heran jika kabupaten Lumajang terkenal akan pasirnya. Oke, lanjut ke cerita…
Sebelum sampai di coban Sriti kami sempatkan mampir di rumah makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Sambil makan, saya menghubungi mas saiful, kenalan saya yang membuka jalur coban Sriti bersama warga desanya. Seberes makan kami lanjut perjalanan.
Sampailah kami di pertigaan setelah jembatan Prinojiwo lalu belok ke selatan. Dari pertigaan ini sudah ada petunjuk arahnya kok. Jaraknya pun sudah dekat, sekitaran 1 Km dari pertigaan. Setelah sampai di lokasi, motor kami parkir di rumah warga di seberang pintu masuk coban sriti. Tiket masuk Rp. 15.000 untuk 2 orang sudah termasuk parkir. Oh iya, lokasi pintu masuk coban sriti ini berada di dusun jogokereng, desa Tamanayu, kecamatan Pronojiwo.
Di pintu masuk terlihat 2 orang yang sedang bersantai. Meraka memberikan kami buah salak untuk perbekalan dijalan menuju coban Sriti, kamipun melanjutkan perjalanan. Setelah itu saya mengabari mas saiful via chat, bahwa kami sudah dalam perjalanan turun. Tak pernah melihat mas saiful sebelumnya, ternyata orang yang memberi salak di depan pintu masuk itu adalah mas saiful sendiri. Berhubung dia baru saja dari coban sriti, kami canggung untuk minta mengantarkannya, akhirnya kami hanya turun berdua.
Jalur pertama adalah perkebunan salak milik warga sekitar. Belok ke kiri melewati sungai kecil dan setelah itu berganti dengan melipir di pinggiran tebing yang hanya berpagar bambu, membuat kami harus tetap berhati hati. Sampai disini kami disambut dengan ratusan kalong ( kekelawar besar). Jika kalong di daerah lain beraktivitas saat malam hari, berbeda dengan kalong disini. Kalong yang berada di sekitaran coban Sriti ini malah beraktivitas pada siang hari.
img_20190827_074601_y8n.jpg

jalur baru menuju ke coban Sriti.

Sampai dibawah tampak aliran sungai glidik yang berwarna keruh kecoklatan. Maklum, di atas adalah terdapat aktivitas pertambangan pasir. Jadi jika aktivitas pertambangan berhenti, maka warna air pun juga menjadi jernih.
Sebelum jalur baru lewat desa Tamanayu ini dibangun, para pengunjung biasanya lewat melalui coban kapas biru. Dari coban kapas biru sampai ke coban sriti kalian harus menyeberangi delapan aliran sungai yang aliranya deras. Lebih berbahaya lagi di saat musim penghujan, sebab lahar dingin dari gunung semeru tiba-tiba bisa datang menerjang. Itu mengapa warga desa membuat jalur baru menuju coban sriti dengan akses yang lebih mudah melalui desa Tamanayu ini. Oh iya,saat kami mengunjungi coban Sriti ini, jalur baru dibuka sekitar 1 minggu yang lalu (akhir bulan April 2019).
img_20190827_075242_4Lw.jpg

Keindahan coban Sriti (c) prasetia bayu.

img_20190827_081914_gk5.jpg

Penampakan coban Sriti jika di zoom

Disebut coban sriti karena berada di bawah gunung kukusan sriti. Ada juga yang menyebutnya coban wolu karena harus menyeberangi delapan (wolu) aliran sungai. Coban sriti sendiri mempunyai ketinggian sekitar 120 m dengan dilingkari tebing setinggi kurang lebih 150 m, menjadikan salah satu coban tertinggi di Indonesia. Coban Sriti mempunyai dua aliran air, membuat air terjun ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Tidak disarankan untuk mendekati coban karena alirannya begitu deras. memandanginya dari kejauhan saja sudah basah kuyup akibat hembusan airnya yang begitu deras, apa lagi jika mendekat . Karena dalam dan aliranya begitu deras, jangan sekali kali menyeberang melewati kali. Waktu yang paling cocok untuk mengunjungi coban Sriti ini adalah saat siang hari sekitar pukul 12:00 hingga pukul 16:00 sore hari.
img_20190827_080300_Ifb.jpg

Pakaian basah kuyup akibat hembusan air terjun

Sekitar 30 menit kami di lokasi sendirian, datanglah mas Saiful dengan mengantarkan para pengunjung lain. Lebih tepatnya wanita-wanita berhijab. Karna kawatir terjadi yang tidak diinginkan sebab jalur belum 100% jadi. Saran kami, gunakan pakain yang sesuai dengan kondisi medan, pakaian yang membuat tubuh lebih leluasa dalam bergerak. Dan juga gunakanlah alas kaki yang anti selip, sebab jalanannya berupa tanah licin dengan jurang di sampingnya.
Sampai dibawah, para cewek-cewek ini memasak mie instan dan kopi yang mereka bawa dari atas, kamipun di beri sebagain sebagai tanda perkenalan dari mereka. Kami seakan tak mau meninggalkan tempat ini karena keindahan coban Sriti. Berhubung waktu sudah sore, kami pun kembali ke atas dan pamitan kepada mas Saiful.
img_20190827_080853_gwp.jpg

Para ledies sedang memasak

Buruan rencanakan kunjunganmu ke coban Sriti. Eits tapi ingat, buanglah sampah pada tempatnya dan jangan membuat vandalisme di coban Sriti. Jadikan coban Sriti tetap indah tanpa sampah dan coretan, teman.
Bersambung…
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai