Sehabis kami dari coban Sriti. Rencana selanjutnya adalah mencari tempat peristirahatan yang dekat dengan tempat yang kami akan kunjungi besoknya, yaitu desa oro-oro ombo. Terjadilah drama tersesat dalam perjalanan saat mencari tempat peristirahatan.
Kesesatan itu membawa kami di sebuah tempat yang instagramable. Sebuah hutan dengan jalan cor lurus menanjak memaksa kami untuk berhenti sejenak untuk sekedar mengambil foto. Tempat ini mirip seperti hutan pinus Kragilan yang ada di Magelang. Meskipun jalannya kecil, tapi banyak truk pengangkut pasir yang berlalu lalang. Ternyata, tempat ini bersebelahan langsung dengan pertamtambangan pasir. Jadi kami harus tetap waspada saat truk sedang lewat jalan ini. Untuk lokasinya (klik disini).

Hari mulai gelap. Kami pun kembali mencari tempat untuk kami bermalam. Saat magrib tiba, sampailah kami di sebuah masjid di desa Sumber urip, desa yang berdekatan dengan desa Oro oro ombo. Kami berencana untuk mermalam di masjid itu dengan melapor ke pengurus masjid. KTP kami di tahan untuk sekedar berjaga-jaga. Di saat kami akan tidur datanglah pak Rohman, warga yang juga pengurus masjid itu. Dia menyuruh kami untuk tidur di rumahnya yang tak jauh dari masjid. Akhirnya kami menuruti perintah beliau dan menuju ke rumah pak Rohman. Setelah kami ngobrol dengan beliau, ternyata ia takut kalo terjadi apa-apa kepada kami. Sebab saat itu sedang panas-panasnya pemilihan Presiden, takutnya warga sekitar mencurigai kami sebagai mata-mata dari salah satu capres, pikir pak Rohman. jadi kami disuruh menghinap di rumah beliau.
Azan subuh berkumandang, dan setelah kami sholat subuh di masjid dan mengambil KTP. kami berpamitan kepada istri pak Rohman (berhubung pak Rohman sedang pergi ada urusan). Beliau melarang kami untuk pergi karena sedang dibuatkan sarapan. Karena kami memaksa untuk pergi, akhirnya kami disuruh sarapan sisa tadi malam yang kami makan. Setelah itu kami berpamitan menuju desa Oro oro ombo. Terima kasih bapak dan ibu Rohman atas tumpangan dan makanannya, semoga selalu diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah.
Jarak desa Sumber urip ke desa Oro oro ombo memang tak begitu jauh. Yang membuat kami lama adalah mencari spot foto jalanan yang viral beredar di sosial media. Memang di google maps tidak tercantum lokasi tersebut. Lokasi ini adalah sebuah jalan lurus yang seakan akan menuju ke gunung Semeru, dengan kanan kiri berupa persawahan. Gunung Semeru nampak gagah di depan sana dengan kepulan asap dari kawah jonggring saloko menjadikan tempat ini menarik. Jika kalian ingin kesana dan tidak tau lokasinya , bisa (klik disini).

Serasa cukup puas berada di ds Oro oro ombo, kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yaitu coban kapas biru.
Coban yang dulu pernah saya kunjungi di akhir tahun 2015 ini berlokasi di dsn Mulyoharjo ds Pronojiwo kec Pronojiwo. Tempat ini di buka ditahun yang sama disaat saya pertama kali kesini, jadi banyak yang berubah ketika kami sampai di coban Kapas biru. Mulai dari lahan parkir, toilet hingga kondisi jalan menuju ke lokasi air terjun.
Salah satu yang baru saya tahu setelah kembali lagi ke coban kapas biru ini adalah sumber air dari aliran Kapas biru ini adalah dari coban Sumber telu yang berada di atasnya.
Jalurnya tetap seperti dulu, membuat ngosngosan pernafasan. Tapi tetep, setelah sampai di air terjun rasa capek berubah ketika melihat keindahan air terjun. Motif tebingnya tetap membuat terpesona ketika melihatnya . Tidak ada pengunjung lain saat kami sampai lokasi air terjun, pasalnya hari itu hari senin, hari masuk kerja. Si Tesar aja rela bolos kuliah demi perdolanan ini..haha

Setelah puas menikmati pesona coban Kapas biru, akhirnya kami kembali. Jalan menuju ke pintu masuk lebih menguras tenaga, karena jalanya menanjak. Beda banget saat kami berangkat, karena jalan yang menurun.
Setelah sampai tempat parkir kami istirahat sebentar karena kecepekan. Setelah itu kami lanjut lagi menuju tempat wisata berikutnya, yaitu coban kabut pelangi. Lokasinya tak begitu jauh dari coban kapas biru sekitar 10 menit perjalanan.
Sampai di loket kapas biru kami lupa membeli minuman. karena tidak ada warung di loket masuk, akhirnya kami putar balik menuju warung terdekat untuk membeli air mineral. Tiket masuk menuju coban Kabut pelangi ini sama seperti di coban Kapas biru dan coban Sriti, yaitu Rp. 15.000 untuk 2 orang sudah termasuk parkir.
Track pertama masih berupa jalan cor dengan rumah rumah warga di sekitarnya. Berubah kemudian dengan perkebunan salak di kanan kiri jalan setapak. Berpapasan kami dengan pengunjung lain yang mulai naik menuju ke tempat parkir, nampak sekali raut wajahnya kecapekan. Wah, apakah mungkin jalurnya begitu jauh?. Benar saja, ternyata jalurnya memang jauh, sekitar 30 menit perjalanan. Tampak di tengah perjalanan terlihat coban Sriti dari kejauhan. Setelah menuruni sungai, selanjutnya jalur belok ke kanan, turun menyusuri sungai. Sungai ini tak begitu deras alirannya.

Akhirnya sampailah kami di coban Kabut pelangi di ujung sungai. Dinamakan Kabut pelangi karena, jika beruntung terlihatlah pelangi akibat pembiasan cahaya dari kabut yang dihasilkan dari air terjun.
Berbeda dengan Kapas biru yang mempunyai dinding yang berwarna kecokelatan, dinding Coban kabut pelangi justru berwarna hijau karena tertutup lumut. Tinggi air terjun ini sekitar 100 m dengan keunikan ujungnya yang tumpul. Hati-hati jika berada di lokasi air terjun, sebab batuan licin akibat ditumbuhi lumut.

Tips untuk mengambil gambar di coban Kabut pelangi ini adalah bawalah pembersih lensa. karena hempasan kabut air terjun membuat lensa menjadi basah dan hasil foto tidak akan bagus. Jika tidak ingin ribet, pakailah kamera HP yang lensanya tak begitu besar, sehingga kabut tak banyak mempengaruhi hasil jepretan.
Setelah puas menikmati coban Kabut pelangi, kami akhirnya kembali. Jalan yang menanjak kembali harus kami lalui. Kami sangat kelelahan, sebab sebelumnya sudah tracking ke coban Kapas biru. Rencana ingin menuju Tumpak sewu pun kami batalkan. Akibat dari maraton coban ini sandal si Tesar jadi putus, di perjalanan pulang dari coban ini, kasihan si tesar..
Sekian cerita perjalanan kami maraton coban di Pronojiwo. Semoga bermanfaat dan terhibur..