Sendang Gede, Telaga Biru dari Ngawi

Asalamualaikum cah..

Kali ini ceritanya masih ngelanjutin perjalanan dari Ranu Genengan ya. Jika kalian belum membacanya, sok dibaca.. Heha, Klik disini

Dari Ranu Genengan kita lanjut ke Sendang Gede. Lokasinya berada tak jauh dari Ranu Genengan itu sendiri. Di dusun Genengan, ds Bringin, kec Bringin, kab Ngawi. Mungkin sekitar 300 m dari Ranu Genengan, atau sekitar 5 menit perjalanan kaki kearah timur.

Jika kalian masih bingung, aku akan kasih lokasinya. Klik disini, bukan yang atas

Sendang Gede sendiri adalah sebuah sumber mata air yang di keramatkan oleh wagra sekitar. Keunikan sendang ini sendiri adalah airnya yang jernih. tak hanya jernih, tapi juga berwana biru seperti danau kaco di kerinci, sumatra. Jadi kalian gak usah jauh jauh main ke sumatra jika ingin menikmati seperti danau kaco, di Ngawi pun juga ada.

Tapi sayang disaat kami sampai disana, ternyata airnya kotor. Permukaan airnya tertutupi oleh daun daun kering. Daun daun kering ini berasal dari pohon trembesi yang tumbuh di samping sendang. Tau sendiri dong, daun trembesi gimana? Iya, daunya kecil dan banyak di setiap tangkainya. Seperti daun lamptoro lah, tapi sedikit gede. Jadi di semua permukaan air Sendang Gede itu tertutupi oleh daun daun Trembesi gitu. Jadi jelek kan ya, kalo buat foto foto.

Terpaksa kami bersihakan deh Sendang Gedenya. karna takut tenggelam, kami mencari ranting pohon guna membersihkan permukaan air Sendang. Daun daun kering itu kami buang ke saluran pembuangan, menuju ke parit gitu. Sekitar setengah jam membersihkan sendang, daun daun kering itu baru bisa terbuang semua dengan sempurna (dah kayak demian aje), capek juga ternyata. Demi sebuah foto, kami rela membersihkan sendang. Haha, eh iya, itu juga demi memperkenalkan tempat ini juga sih.. Hehe

Eh, di tengah membersihkan Sendang, datanglah kakek kakek dengan bertelanjang dada menghampiri kami, sepertinya kakek ini adalah warga sini. Beliau bertanya kepada kami, maksud dan tujuan kami datang kesini. Kamipun ya jawab jujur aja, buat foto foto, ya kali cari pesugihan.. Haha.

Foto yang belum editan
Foto yang sudah editan

Kalian juga bisa lihat videonya di chanel youtube ku: Telaga biru sendang Gede || Bringin, Ngawi

Dari kakek ini kami banyak memperoleh informasi dari sendang Gede ini. Mulai dari namanya sendiri (sebelumnya kami gak tau nama sendang ini) sampai lokasi penghuni mahluk astral di tempat ini. Oke, mari kita jabarin satu persatu..

Ada sekitar tujuh sendang atau mata air yang ada di sekitaran sini. Dari ketujuh sendang ini, sendang Gede lah yang paling besar mata airnya. Itu sebabnya disebut Sendang Gede, Gede (besar). Tapi sayangnya, dari ketujuh sendang ini ada beberapa yang sudah tidak aktif. Faktor yang mempengaruhinya antara lain karna, sumber yang udah tertutup oleh tanah dan tanaman semak belukar yang sangat banyak

Menurut penuturan kakeknya, sendang Gede ini biasanya di bersihkan saat acara bersih desa, sekitaran bulan Agustus. Warga sekitar rame rame membersihkan sendang dengan cara terjun kedalam sendang. Gak satu atau dua orang saja yang membersihkan, tapi ada seratus orang lebih. Padahal diameter sendang gak begitu luas, tapi bisa muat segitu banyaknya ya.

Tempat ini jika di rawat dan dikembangkan sebagai tempat wisata, saya rasa sangat cocok sekali. Apalagi banyak ditumbuhi pepohonan yang pastinya adem banget kalo buat sekedar nongkrong bareng keluarga. Ditambah air sendang yang sangat biru, uh.. Recomend banget. Paling enggak pembangunan jalan di area sendang lah.

Mungkin itu dulu tulisanku, jangan lupa tonton juga videonya di youtubeku ya.. Hihi

Wasalamualaikum..

Ranu Genengan. Wisata bekas galian, anti Lockdown

Asalamualikum temen temen.

Gimana kabarnya, masih sehat kan? Udah hafal berapa gaya rebahan nih? Haha, bercanda. Lama juga ya gak keluar rumah. Apalagi pemerintah menghimbau untuk tetap #dirumahsaja. Belum lagi semua tempat wisata juga di tutup sampai sekarang, jadi tambah bosen kan dirumah.

Untuk itu aku akan menceritakan perjalanan ku menuju “tempat wisata” yang anti lockdown, anti tutup tutupan klub. Meskipun sebenarnya ini bukan tempat wisata. Hehe. Namanya Ranu Genengan. Ranu Genengan ini berada di dsn Genengan, ds Bringin, kec Bringin, kab Ngawi

Sebenernya, ada banyak nama untuk tempat ini sih. Ada yang menyebutnya wisata Lemah Putih, jurang krowak dan felling goodnya Ngawi. Kalo untuk nama Ranu Genengan sendiri nih emang aku namain sendiri.. Hehe

Aku janjian sama rekan seperjalananku, Triono. Di malam minggu, saat kami sepedaan. Maklum lagi rame ramenya bersepeda. Rencana berangkat pagi banget pun gagal karna aku bangun kesiangan. Wong pulang dari bersepeda aja jam setengah 12 malam, belum lagi laper cari makan. Wes udah lah lupakan.

Singkat cerita kami berangkat jam 8 pagi, yang semula pengen nyunrise pun gagal. Jarak dari rumah sampai lokasi Ranu Genengan ini sekitar 20 menitan pake sepeda motor. Jalanya beraspal kok. Mungkin cuma 500 meter aja yang jalan makadam, itupun udah hampir sampai lokasi

Di lokasi ini sendiri terdapat warung makan. Jadi kalian gak usah kawatir kehausan atau kelaparan. Untuk masuknya pun juga gratis. Perihal lokasi masih aktif sebagai galian atau udah nonaktif itu masih simpang siur ya. Soalnya kata pemilik warung masih bisa ambil tanah dari sini dgn harga harga tanah satu truk gitu, tapi kalo aku lihat gak ada alat berat seperti bego, truk berada di lokasi tuh.

Ok, lanjut.

Habis markir motor di sebelah warung, kami langsung cari spot foto yang menarik. Berjalanlah kami menuju atas. Bentar, tak kasih gambaran sedikit. Tempat galian ini nih luas dan di tengah ada genangan airnya gitu. Kedalamanya sih bermacem macem, ada yang cuma sedengkul dan ada yang kayaknya dalem banget. Meskipun begitu, demi keamanan, plis jangan berenang disini. Malu dong kalo pulang pulang tinggal nama doang.. Haha.

Kembali mencari spot foto yang tadi. Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, akhirnya kami sampai di lokasi spot yang kami tuju. Oh ya, sebaiknya kalian kalo kesini pagi banget, sekitar jam 6 pagi. Wong aku sampai sini jam 8 aja udah panasnya minta ampun. Ada 2 spot yang kami coba explore.

Dan ini adalah foto fotonya.

Spot pertama
Spot kedua

Tetep hati hati ya dalam berfoto. Karna memang ini bukan tempat wisata, jadi jika terjadi apa apa ya gak ada asuransinya. Oh ya, meskipun tempatnya masih sepi, jangan buang sampah sembarangan ya.

Setelah dari sini, kami lanjutkan ke destinasi selanjutnya. Gak jauh sih dari ranu genengan ini. Tapi masih tak simpen dulu tulisanya, tak kasih karbit biar mateng.. Haha.

kalian juga bisa banget liat videonya di chanel youtubeku: ay aik ( https://youtu.be/HN-nJNYR-UY )

Sekian tulisanku kali ini. Wasalamualaikum temen temen.. Hehe

Candi Gapura Lanang, candi tersembunyi di kaki gunung Penanggunagan.


Pernah denger Candi Tetek belahan?. Atau kalian udah pernah kesana mungkin? Candi Tetek belahan ini sebenarnya sebuah pertitraan, dua patung cewek dengan air yang mengalir di teteknya menjadi keunikan candi ini. Itu sebabnya candi ini disebut candi Tetek belahan.


Tapi saya tidak akan menjelaskan candi ini dengan detail. melainkan menceritakan perjalanan saya menuju ke candi Gapura Lanang yang tak jauh dari candi Tetek belahan.
Informasi Candi Gapura Lanang ini saya peroleh dari foto di instagram, dalam foto terlihat seperti candi yang belum banyak orang mengetahuinya. Akhirnya keinginan saya untuk mencari candi tersebut muncul.


Mengajak teman saya Jerry yang berlatar belakang agama Hindhu, membuat kami lebih bersemangat mencari candi tersebut. Perjalanan kami mulai dari kos menuju ke candi Tetek belahan yang berada di ds Wonosunyo, kec Gempol, Pasuruan. Menurut info yang saya dapat, memang candi Gapura Lanang berada tak jauh dari candi Tetek belahan.

Setelah sampai di Candi Tetek belahan, kami lanjutkan lurus menuju keatas. Sadar tak menemukan candi yang kami maksut, akhirnya kami bertanya kepada warga sekitar. Ternyata wargapun juga tak tau candi yang kami maksud. Akhirnya kami kembali menuju ke candi Tetek belahan.


Di sekitaran candi Tetek belahan, kami bertanya kepada seseorang yang sedang mencari rumput. Ternyata candi yang kami maksut terlewati, tapi tak terlalu jauh juga sih. Beliau menunjuk masjid yang terlihat kubahnya dari sini. “pedamu parkiren neng mejid kae mas, trus samping enek gang cilik, nah mlaku metu kono”. “motormu parkir di masjid itu saja mas, lalu sampingnya ada gang, nah jalan lewat situ”.

Akhirnya kami menuju kesana. Dari masjid, kami berjalan kaki melewati kebun warga. Dari sini candi sudah terlihat. Lalu turun melewati sungai kecil dan kembali naik sedikit. Kami sempat kebingungan disini, sebab jalan setapak mulai tak tampak dan berbukit, membuat candi tak terlihat. 10 menit mencari, akhirnya ketemulah candi Gapura lanang tersebut.

Dekat candi terdapat tumpukan batu yang tertata rapi layaknya tembok, tetapi diatas nya tertimbun tanah dengan pohon di atasnya. Masuk kedalam terdapat makam kuno. Kemungkinan makam ini sudah tidak digunakan lagi oleh warga sekitar. Pohon pohon tua yang ada membuat semakin seram suasana. Di tengah pemakaman ini lah berdiri kokoh candi gapura lanang.
Menurut informasi yang saya peroleh. Sebenarnya ada dua candi, candi Gapura lanang dan candi Gapura wadon. Sayangnya kami tidak menuju ke candi Gapura wadon, karena baru mengetahui informasi ini setelah membuat tulisan ini. Jadi kami hanya mengexplore candi Gapura lanang saja.

Menurut artikel yang saya baca sih jarak atar gapura tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter. Struktur gapura terbuat dari batu bata merah, seperti candi candi yang tersebar di daerah Trowulan. Dahulu di sekitar candi juga terdapat kolam yg berfungsi sebagai pertitraan layaknya candi Tetek belahan. Tetapi kolam tersebut sudah tertimbun tanah. Sayang sekali ya.

Untuk videonya bisa dilihat di chanel youtube saya ya..

Ay YUK: Gapura Lanang, candi tersembunyi di kaki gn Penanggungan


Sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat..

Daftar persawahan kece di Trawas, Mojokerto


Jika di Bali ada wisata Tegalalang yang terkenal akan persawahan teraseringnya. Di Mojokerto juga gak mau kalah lo, tepatnya ada di kecamatan Trawas. Parahnya lagi gak cuma satu tempat aja, tapi ada beberapa tempat persawahan yang menarik untuk dikunjungi. Sebagian sudah dikelola oleh warga, namun sebagian belum dikelola. Gak sabar kan lihat tempatnya. Eits, tapi jangan keluar rumah dulu, tetap dirumah untuk menghambat penyebaran virus corona (karena tulisan ini dibuat saat pandemik virus corona berlangsung).



Persawahan villa HMD.
Sebenernya sih ini adalah sebuah villa dengan view sawah. Meskipun tak bermalam di villa, kalian bisa mengunjunginya hanya untuk sekedar berenang saja. Ya, didalam villa ini terdapat kolam renang dengan view langsung persawahan. Selain itu, terdapat juga tempat khusus untuk selfie. Masih ingin cari yang lebih hemat? Ya langsung aja di persawahan yang ada di belakang villa aja, dijamin gratis tak dipungut biaya. Kendaraan bisa diparkir di warung makan sebelah villa. Selain view terasering persawahan, kalian juga bisa melihat kota Mojosari dan sekitarnya. Oh iya lupa, lokasi persawahan ini ada di villa HMD. Ds Seloliman, kec Trawas. Jika dari Mojosari, kalian bisa menuju arah ke Jolotundo. Sebelum sampai Jolotundo terdapat warung makan “lesehan plengkung” disitu ada pertigaan, belok kiri. Sampailah ke villa HMD. Jika belum jelas bisa klik Disini

Persawahan desa Kedungudi.
Terasering persawahan Kedungudi ini berlokasi di pinggir jalan, tepatnya di samping SDN Kedungudi. Kendaraan bisa di parkir di dekat SDN tersebut. Tak ada tiket masuk untuk kesini. Terasering persawahan ditempat ini begitu luas dan indah. Tak heran pengendara biasanya memperlambat kendaraanya hanya untuk melihat keindahan terasering Kedungudi ini. Lebih ke selatan, di seberang jalan terdapat warung-warung yang berjajar. Disaat musim durian tiba, tak jarang warung-warung tersebut juga menjual durian khas Trawas.


Persawahan desa Sendang.
Spot persawahan ini berlatar belakang gunung welirang. Hanya satu spot sih, tapi tempat ini begitu viral di instagram. Waktu yang tepat untuk kesini adalah saat pagi hari antara jam setengah 6 sampai jam 7 pagi. Karena disaat itu gunung welirang terlihat jelas dengan puncak yg di sorot oleh mentari pagi. Lokasinya berada di belakang SMP N 2 Trawas. Belok kiri, setelah melewati jembatan, belok kiri lagi. Dari sini jalan makadam menanjak. Nah, lokasi spotnya tepat kanan jalan setelah jalan menanjak tadi. Jika kurang jelas bisa klik Disini.


Terasering Desa Selotapak.
Lebih keselatan lagi menuju desa Selotapak, terdapat persawahan yang menurutku paling epic. Namanya terasering Selotapak atau terasering Wangan tengah. Dulu tempat ini hanya dikenal oleh para fotografer lanscape. Tapi karena media sosial, membuat tempat ini semakin ramai di kunjungi. Untung penduduk desa sadar akan potensi wisata yang ada, hingga akhirnya di kelola dengan baik oleh penduduk sekitar. Penanggungan yang menjadi latar belakang membuat view terasering selotapak semakin kece. Waktu yang bagus untuk berkunjung kesini adalah saat sore hari, tapi itu kalo musim kemarau. Jika saat musim hujan lebih baik berkunjung di pagi hari, karena kemungkinan Penanggungan tak akan terlihat disore hari karna mendung disaat musim hujan. Lokasi terasering Selotapak ini berada di ds Selotapak, tepatnya dari pertigan samping SDN Selotapak masuk ke gang kecil. Mentok, lalu belok kiri, sampai deh. Kendaraan bisa di parkir di sebelah “sumur” yang ada di pinggir jalan. Jika kurang jelas bisa klik Disini.. Untuk tiket masuknya dulu gratis, ndak tau kalo sekarang.


Persawahan Sumber tekik.
Menuju ke selatan lagi ke arah jalan raya Trawas -Prigen. Kalian bisa mengunjungi Sumber tekik. Sebuah mata air yang di bangun layaknya kolam kecil dengan pohon besar di sebelahnya. Lokasinya berada di ds Trawas. Dari Vanda hotel menuju ketimur sekitar 100 m, masuk gang kecil sebelah bengkel. Ikuti jalan sekitar 300 m, dari atas terlihat gubuk gubuk dibawah. Nah disitu lokasinya. Jika kurang paham bisa klik Disini.
Sebenarnya yang menarik dari tempat ini bukan sumber tekiknya. Melainkan hamparan persawahan dengan gunung Penanggungan di belakangnya. Jika di Bali, mirip dengan bukit Nirwana dengan gunung Agung di belakangnya. Tempat ini sudah di kelola oleh warga, terdapat toilet dan beberapa gubuk untuk berteduh para wisatawan.


Gimana? Tertarik mengunjunginya. Tapi tahan dulu ya. Tunggu hingga wabah covid 19 ini hilang.😊

Reunian kita: malam tahun baru di paralayang Ngawi

Dari Sumber sendang, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, yaitu paralayang yang berada di kab Ngawi. Langit yang semula mendung, kini berganti hujan. Hujan yang tidak menentu membuat kami beberapa kali berteduh. Terhitung saat melintasi di Kendal dan di Jogorogo.

Belum sampai di lokasi, kami terlebih dahulu mengambil tenda yang udah saya sewa kapan hari. Lokasinya berada di jalan yang searah menuju air terjun pengantin.

Perut yang sudah lapar memaksa kami untuk berhenti di warung makan yang berada di sekitaran Ngrambe. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan.

Pinter pinter cari tempat,lokasi ini berada di belakang warung yang kami singgahi.

Lokasi bukit paralayang sendiri berada di gunung Gede, desa wonosari, kec Sine. jika dari Sine, ambil arah ke wisata watu Jonggol. Dari pertigaan ke Watu jonggol masih lurus sampai pasar Wonosari. Dari sini ambil arah ke kiri, hingga sampai pertigaan. Dari pertigaan ambil kanan ke jalan cor-coran. Nah, ikuti jalan sampai menemukan plang ke paralayang. Jalanya dari sini berubah jadi jalan tanah. Meskipun jalanya susah, tetapi pemandangannya begitu indah.Atau bisa klik disini untuk lokasi mapsnya.

Kanan kiri jalan berupa hamparan kebun teh. Memang, jika di tarik garis lurus, lokasi Paralayang ini dekat dengan Kebun teh Jamus. Mungkin masih satu pengelola kali ya.

Jam 16.00 kami sudah sampai lokasi. Untung hujan yang mengguyur kami saat masih di perjalanan sudah reda, sehingga kami bisa mendirikan tenda. Tak lama setelah tenda berdiri, hujanpun kembali turun.

Bodohnya setelah sampai lokasi, kami lupa tidak membeli perbekalan terlebih dahulu. Jangankan roti atau sejenisnya, air mineral pun lupa membelinya. Untung adiknya Eng membawa roti kecil satu bungkus dan dua buah pir. Itupun saya hanya memakan 2 3 gigitan. Tapi gak papalah, itung-itung puasa di malam pergantian tahun 😁😁.

Hujan rintik- rintik yang gak reda- reda membuat tidur lebih awal. Sekitar jam 23.00, kami terbangun karena mendengar segrombolan motor yang datang. Ternyata mereka juga ingin merayakan tahun baru disini.

Mereka lebih terorganisir dan niat sekali dengan perayaan tahun baru ini, mulai dari kembang api dan alat panggangan. Gak seperti kami yang gak membawa apa-apa 🙈🙈.

Disaat detik- detik pergantian tahun, kembang api mulai terlihat di bawah. Begitu pula di balik bukit, kembang api terdengar begitu meriah. Mungkin lokasinya berada di paralayang Segoro Gunung, Jenawi, Karanganyar. Memang lokasi ini perbatasan langsung dengan kab Karanganyar.

Setelah jam pergantian tahun selesai, sekitar jam 01.00 anak-anak yang baru datang tadi kembali turun. Mungkin meraka anak-anak sekitar sini.

Pagi telah datang, dan kabut yang masih menyelimuti bukit membuat kami enggan beranjak dari tenda. Setelah kami keluar tenda, ternyata masih ada satu tenda dengan satu motor dengan plat nomor merah. Disaat kami berfoto-foto, meraka keluar dari tenda. Ternyata meraka adalah anggota dari paralayang Ngawi yang ingin terbang di hari itu. Tetapi angin yang kurang menentu membuat meraka membatalkan penerbangannya.

Oh iya, bukit paralayang ini juga bakal digunakan untuk Even Festival paralayang dan liga Jatim seri 1, merebutkan piala bupati Ngawi Open 2020. Acara di selenggarakan pada Februari 2020.

Kamipun turun dari bukit, tapi terjadi satu masalah dengan motornya Eng, ban nya bocor. Akhirnya kami mencari tambal ban yang berada di sekitar desa Wonosari. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Reunian kita: Sumber Sendang (sendang Growong), tempat ciblon anyar dan instagenic di Magetan.

Libur tahun baru kali ini masih ngeblank mau kemana. Sebenarnya sih udah males kemana mana, soalnya pasti jalanan rame, begitu pula dengan tempat wisatanya. Tapi saya tau tempat- tempat tersembunyi yang jarang banget di kunjungi oleh wisatawan. Ok, akhirnya saya menghubungi Feri dan Eng untuk pergi ke tempat-tempat ini, itung- itung reunian saat saya masih kerja di Surabaya. Eng yang semula berada di Bojonegoro, setelah saya hubungi langsung meluncur ke rumah mertuanya yang berada di kec Bendo, Magetan. Saya dan Feri janjian di pertigaan patung Maospati untuk bersama sama menuju ke Bendo. Di sana Eng mengajak adiknya. Akhirnya kami ber empat menuju ketempat yang ingin kami kunjungi ini.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Sumber Sendang atau sendang Growong. Lokasinya berada di dusun Growong, ds Sumbersawit, kec Sidorejo, Magetan. Bermodalkan maps dan bertanya warga sekitar akhirnya kami sampai di lokasi. Meskipun harus ada tragedi putar balik akibat perbaikan jembatan.

Jika kalian dari kota, kalian bisa ambil arah menuju ke Sarangan. Belok kanan jika sampai di pertigaan Sidorejo (ke arah ring road barat). Menuju pertigaan ds Sidokerto, lalu belok kiri ambil jalan menuju ds Sumber sawit. Jika kurang jelas kalian bisa klik lokasinya disini.

Tidak ada tiket masuk di tempat ini. Tapi sayangnya juga tidak ada lahan parkir untuk kendaraan, apalagi untuk roda empat, mungkin bisa di titipin di rumah warga. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan dekat dengan lokasi. Setelah kendaraan di parkir, kami langsung turun menuju lokasi. Ya, memang lokasinya berada di bawah jalanan desa.

Saat itu ada ibu- ibu yang sedang memandikan anaknya. Beliau bertanya kepada saya. “Ngerti nggon iki soko endi mas?, (tahu tempat ini dari mana mas?)”. Pertanyaan yang sulit bagi saya untuk penanya orang tua. Akhirnya saya jawab aja ” Saking HP bu. ( dari HP bu )”.

Oh iya sampai lupa. Sumber Sendang ini adalah sumber mata air yang airnya di tampung dalam kolam. Kolamnya sendiri baru di bangun sekitar satu tahun yang lalu. Info ini pun saya dapat dari ibu – ibu yang memandikan anaknya tadi. Kolam nya dibangun layaknya kolam renang pada umumnya dengan ubin di dalamnya. Berlatar pohon dan batuan besar dekat mata air, serta alam yang indah membuat sumber sendang ini sangat instagenic. Tak hanya itu, air kolam pun juga sangat segar, karena airnya berasal dari mata air pegunungan asli.

Sumber sendang ini biasanya dilalui penduduk sekitar untuk mencari rumput atau berladang. Anak- anak dusun pun sering mandi atau sekedar berenang di kolam ini. Gak terlalu dalam kok, kedalamannya mulai dari perut sampai dada orang dewasa.

Selain sebagai tampungan air, Sumber sendang sendiri juga digunakan sebagai pengairan untuk pertanian yang ada di sekitarnya. Gak menutup kemungkinan, bakal menjadi tempat wisata yang ada di kab Magetan. Melihat begitu indah alam disekitarnya. Asal jangan Ngikutin tempat wisata yang latah akan cat warna warni aja, jyjyk aku tuh.🙈🙈

Tapi sayangnya tempat ini belum dilengkapi toilet atau tempat ganti baju yang layak. Ada sih, tapi dindingnya hanya setinggi perut orang dewasa aja, itupun juga sempit, harus bergantian saat ganti. Jadi bagi cewek-cewek yang ingin kesini, mungkin bisa menuju ke atas, izin ke kamar mandi warga sekitar untuk ganti baju selepas berenang kesini.

Kamipun gak masalah dengan hal itu. sebab, ya kami cowok-cowok semua.

Oh iya, ini nih penampakan Sumber Sendang/Sendang Growong nya..

Melihatnya aja udah adem kan.? Apalagi kalo udah nyebur.. Brrrr, jadi puret deh🙈🙈.

Kata penduduk sekitar, di sekitaran situ selain Sumber sendang, terdapat dua mata air lagi, . Tapi tidak seperti sumber sendang ini yang sudah di bangub kolam. Tapi saya lupa sih nama-nama sumbernya..😁😁

Selesai berenang karena sudah kedinginan banget, kami ganti pakaian dan menuju tempat berikutnya. Toh langit mulai gelap. Padahal baru sekitar jam 1 siang.

Bersambung…

Akibat mendaki gunung Wayang.

Rencana ke Ranu Regulo pun batal setelah rekan seperjalanan saya, jerry berbeda sift kerja dengan saya. Akhirnya saya menghubungi mas Welly untuk membuat opsi ke 2. Bukan lagi ke Ranu Regulo, tetapi ke persawahan di Pamotan, Dampit, Malang. Tapi ternyata mas Welly sudah ada janjian dengan temanya yang udah berencana sejak 2 Minggu yanag lalu. Mereka akan menuju ke gunung Wayang yang berada di Lumajang. Karna persawahan Pamotan dan gunung Wayang satu arah, kenapa gak sekalian ke persawahan Pamotan terlebih dahulu, baru ke gunung Wayang, pendapatku. Tetapi pendapat itu ditolak oleh mas Welly. Dia tidak enak dengan temanya yang udah terlanjur janjian. Akhirnya sayapun ikut rencana mas Welly.

Jam 03.00 dini hari, saya berangkat dari kos menuju ke Malang, kos-kosan mas Welly. Kami berangkat ber enam. Saya, mas welly, mas Robby, mas Adrian dan sepasang suami istri, sebut saja mas Budi dan mbak Ani (karena saya lupa namanya..hehe). jam 05.00 kami baru berangkat dari Malang. Memang niatnya tidak berburu sunrise di puncak gunung Wayang. Jadi kami berkendara dengan tidak tergesa gesa.

Setelah berkendara selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampailah di gunung Wayang. Lokasinya berada di ds Sumber wuluh, kec Kalipuro, Lumajang. Untuk tiket masuknya sebesar Rp. 5.000 dan parkir kendaraan Rp 2.000. Disamping tiket masuk ini terdapat pos pantau aktifitas vulkanik gunung Semeru. Ya, memang gunung wayang ini adalah spot yang cocok untuk melihat gagahnya gunung semeru dari ketinggian.

Medan pertama adalah turunan dengan jalan yang sudah dicor. Tapi setelah itu tanjakan demi tanjakan sudah menanti didepan. Dari tanjakan – tanjakan ini medannya yg semula dicor berganti dengan tanah. Karena mas Budi tidak kuat menanjak, kami sering berhenti sejenak untuk beristirahat. Sekitar 30 menit mendaki, akhirnya sampai juga di puncak gunung Wayang. Memang sih, gunung Wayang ini tidak terlalu tinggi, cuma 987 mdpl.

Di atas puncak terdapat spot – spot selfie seperti tempat- tempat tempat wisata lainya. Prahu prahuan, pintu doraemon, dan sepeda ontel masih menjadi ciri khasnya. terdapat juga area camping yang bisa menampung sekitar sepuluh tenada. Selain itu, juga ada mushola kecil. Jadi gak usah kawatir jika ingin menunaikan ibadah sholat.

Difoto sama mas Budi.

Sejatinya gunung wayang ini adalah spot untuk melihat sunset. Jadi kami keliru saat datang kesini. Yang seharusnya datang saat sore hari, tapi kami malah berkunjung pas pagi hari.

Dirasa cukup berswafoto, kami kembali turun kebawah dan segera menuju ketempat destinasi selanjutnya. Perut yang sudah mulai kekoploan (keroncongan) membawa kami ke tempat makan. Oh iya, btw rumah makan yang kami tempati adalah duduk lesehan.

Jadi setelah makan dan berdiskusi tentang destinasi yang ingin kami kunjungi selanjutnya. Tiba tiba kaki mas budi tidak kuat untuk berdiri. Setiap mau berdiri selalu jatuh. tapi kata beliau tak ada rasa sakit di bagian kakinya. Akhirnya kami menunggu sampai sekitar satu jam di warung tersebut agar mas budi bisa berdiri seperti semula. Tapi setelah menunggu satu jam, kondisinya tidak berubah. Kakinya masih tidak bisa untuk berdiri. Pikiran saya sudah mulai kemana mana. Mulai dari yang stroke lah, ketempelan penunggu gunung wayang lah, kesantetlah..ah pikiranku

kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke destinasi selanjutnya dan kembali pulang saja. Toh, kesehatan lebih penting dari pada harus bersenang senang. Mas Budi yang belum bisa berdiri pun akhirnya dibonceng oleh mbak Ani, istrinya.

Kami berpisah di kos kosan mas Welly. Mas Budi dan mbak Ani juga nggak pulang ke Surabaya, melainkan ke Gempol di rumah mas Adrian. Menurut kabar, keesokan harinya mas Budi sudah bisa berjalan seperti sedia kala..syukur Alhamdulillah.

Susur Pronojiwo: maraton air terjun.

Sehabis kami dari coban Sriti. Rencana selanjutnya adalah mencari tempat peristirahatan yang dekat dengan tempat yang kami akan kunjungi besoknya, yaitu desa oro-oro ombo. Terjadilah drama tersesat dalam perjalanan saat mencari tempat peristirahatan.

Kesesatan itu membawa kami di sebuah tempat yang instagramable. Sebuah hutan dengan jalan cor lurus menanjak memaksa kami untuk berhenti sejenak untuk sekedar mengambil foto. Tempat ini mirip seperti hutan pinus Kragilan yang ada di Magelang. Meskipun jalannya kecil, tapi banyak truk pengangkut pasir yang berlalu lalang. Ternyata, tempat ini bersebelahan langsung dengan pertamtambangan pasir. Jadi kami harus tetap waspada saat truk sedang lewat jalan ini. Untuk lokasinya (klik disini).

Hari mulai gelap. Kami pun kembali mencari tempat untuk kami bermalam. Saat magrib tiba, sampailah kami di sebuah masjid di desa Sumber urip, desa yang berdekatan dengan desa Oro oro ombo. Kami berencana untuk mermalam di masjid itu dengan melapor ke pengurus masjid. KTP kami di tahan untuk sekedar berjaga-jaga. Di saat kami akan tidur datanglah pak Rohman, warga yang juga pengurus masjid itu. Dia menyuruh kami untuk tidur di rumahnya yang tak jauh dari masjid. Akhirnya kami menuruti perintah beliau dan menuju ke rumah pak Rohman. Setelah kami ngobrol dengan beliau, ternyata ia takut kalo terjadi apa-apa kepada kami. Sebab saat itu sedang panas-panasnya pemilihan Presiden, takutnya warga sekitar mencurigai kami sebagai mata-mata dari salah satu capres, pikir pak Rohman. jadi kami disuruh menghinap di rumah beliau.

Azan subuh berkumandang, dan setelah kami sholat subuh di masjid dan mengambil KTP. kami berpamitan kepada istri pak Rohman (berhubung pak Rohman sedang pergi ada urusan). Beliau melarang kami untuk pergi karena sedang dibuatkan sarapan. Karena kami memaksa untuk pergi, akhirnya kami disuruh sarapan sisa tadi malam yang kami makan. Setelah itu kami berpamitan menuju desa Oro oro ombo. Terima kasih bapak dan ibu Rohman atas tumpangan dan makanannya, semoga selalu diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah.

Jarak desa Sumber urip ke desa Oro oro ombo memang tak begitu jauh. Yang membuat kami lama adalah mencari spot foto jalanan yang viral beredar di sosial media. Memang di google maps tidak tercantum lokasi tersebut. Lokasi ini adalah sebuah jalan lurus yang seakan akan menuju ke gunung Semeru, dengan kanan kiri berupa persawahan. Gunung Semeru nampak gagah di depan sana dengan kepulan asap dari kawah jonggring saloko menjadikan tempat ini menarik. Jika kalian ingin kesana dan tidak tau lokasinya , bisa (klik disini).

Serasa cukup puas berada di ds Oro oro ombo, kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yaitu coban kapas biru.

Coban yang dulu pernah saya kunjungi di akhir tahun 2015 ini berlokasi di dsn Mulyoharjo ds Pronojiwo kec Pronojiwo. Tempat ini di buka ditahun yang sama disaat saya pertama kali kesini, jadi banyak yang berubah ketika kami sampai di coban Kapas biru. Mulai dari lahan parkir, toilet hingga kondisi jalan menuju ke lokasi air terjun.

Salah satu yang baru saya tahu setelah kembali lagi ke coban kapas biru ini adalah sumber air dari aliran Kapas biru ini adalah dari coban Sumber telu yang berada di atasnya.

Jalurnya tetap seperti dulu, membuat ngosngosan pernafasan. Tapi tetep, setelah sampai di air terjun rasa capek berubah ketika melihat keindahan air terjun. Motif tebingnya tetap membuat terpesona ketika melihatnya . Tidak ada pengunjung lain saat kami sampai lokasi air terjun, pasalnya hari itu hari senin, hari masuk kerja. Si Tesar aja rela bolos kuliah demi perdolanan ini..haha

Setelah puas menikmati pesona coban Kapas biru, akhirnya kami kembali. Jalan menuju ke pintu masuk lebih menguras tenaga, karena jalanya menanjak. Beda banget saat kami berangkat, karena jalan yang menurun.

Setelah sampai tempat parkir kami istirahat sebentar karena kecepekan. Setelah itu kami lanjut lagi menuju tempat wisata berikutnya, yaitu coban kabut pelangi. Lokasinya tak begitu jauh dari coban kapas biru sekitar 10 menit perjalanan.

Sampai di loket kapas biru kami lupa membeli minuman. karena tidak ada warung di loket masuk, akhirnya kami putar balik menuju warung terdekat untuk membeli air mineral. Tiket masuk menuju coban Kabut pelangi ini sama seperti di coban Kapas biru dan coban Sriti, yaitu Rp. 15.000 untuk 2 orang sudah termasuk parkir.

Track pertama masih berupa jalan cor dengan rumah rumah warga di sekitarnya. Berubah kemudian dengan perkebunan salak di kanan kiri jalan setapak. Berpapasan kami dengan pengunjung lain yang mulai naik menuju ke tempat parkir, nampak sekali raut wajahnya kecapekan. Wah, apakah mungkin jalurnya begitu jauh?. Benar saja, ternyata jalurnya memang jauh, sekitar 30 menit perjalanan. Tampak di tengah perjalanan terlihat coban Sriti dari kejauhan. Setelah menuruni sungai, selanjutnya jalur belok ke kanan, turun menyusuri sungai. Sungai ini tak begitu deras alirannya.

Akhirnya sampailah kami di coban Kabut pelangi di ujung sungai. Dinamakan Kabut pelangi karena, jika beruntung terlihatlah pelangi akibat pembiasan cahaya dari kabut yang dihasilkan dari air terjun.

Berbeda dengan Kapas biru yang mempunyai dinding yang berwarna kecokelatan, dinding Coban kabut pelangi justru berwarna hijau karena tertutup lumut. Tinggi air terjun ini sekitar 100 m dengan keunikan ujungnya yang tumpul. Hati-hati jika berada di lokasi air terjun, sebab batuan licin akibat ditumbuhi lumut.

Tips untuk mengambil gambar di coban Kabut pelangi ini adalah bawalah pembersih lensa. karena hempasan kabut air terjun membuat lensa menjadi basah dan hasil foto tidak akan bagus. Jika tidak ingin ribet, pakailah kamera HP yang lensanya tak begitu besar, sehingga kabut tak banyak mempengaruhi hasil jepretan.

Setelah puas menikmati coban Kabut pelangi, kami akhirnya kembali. Jalan yang menanjak kembali harus kami lalui. Kami sangat kelelahan, sebab sebelumnya sudah tracking ke coban Kapas biru. Rencana ingin menuju Tumpak sewu pun kami batalkan. Akibat dari maraton coban ini sandal si Tesar jadi putus, di perjalanan pulang dari coban ini, kasihan si tesar..

Sekian cerita perjalanan kami maraton coban di Pronojiwo. Semoga bermanfaat dan terhibur..

Susur pronojiwo: mencoba jalur baru coban Sriti.

Banyak sekali potensi alam yang ada di kabupaten Lumajang. Terlebih daerah yang berada di lereng gunung Semeru, sebut saja kecamatan Pronojiwo. Kecamatan yang perbatasan langsung dengan kabupaten Malang ini mempunyai banyak potensi alam. Mulai dari gunung, air terjun, danau bahkan sampai candi. Nah kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengunjungi beberapa wisata yang ada di kecamatan Pronojiwo, kabupaten Malang.

Minggu pagi saya belum kepikiran dolan ke suatu tempat. Terbesit dipikiran saya, ke coban Sriti. Masalahnya sahabat-sahabat saya tak ada yang mau diajak kesana dengan berbagai alasan. Ada yang sibuk sendiri lah, ada yang ngabarinya mendadak lah. Banyak deh alasanya. Hingga ada salah satu sahabat saya, Tesar namanya. Dia mau dengan ajakan saya.
Selepas sarapan, sayapun langsung menuju ke Malang, menjemput Tesar. Karana saya tak tahu rumahnya, kami pun ketemuan di Alun-alun Malang. Selepas semuanya beres, sekitar pukul 11: 00, kami pun mulai berangkat dari tempat tinggal Tesar.
Dari Malang kota sampai ke kecamatan Pronojiwo berjarak sekitar 60 Km atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Semula jalan yang kami lalui jalanan datar, hingga sampai kecamatan Dampit jalanan mulai naik turun khas pegunungan. Hampir mendekati kecamatan Pronojiwo, kendaraan banyak didominasi truk pengangkut pasir. Memang, kecamatan Pronojiwo dan kecamatan – kecamatan di sekitarnya banyak penambangan pasir. Pasir diambil dari kali aliran lahar dingin gunung Semeru. Pasir daerah ini memang berkualitas bagus. Tak heran jika kabupaten Lumajang terkenal akan pasirnya. Oke, lanjut ke cerita…
Sebelum sampai di coban Sriti kami sempatkan mampir di rumah makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Sambil makan, saya menghubungi mas saiful, kenalan saya yang membuka jalur coban Sriti bersama warga desanya. Seberes makan kami lanjut perjalanan.
Sampailah kami di pertigaan setelah jembatan Prinojiwo lalu belok ke selatan. Dari pertigaan ini sudah ada petunjuk arahnya kok. Jaraknya pun sudah dekat, sekitaran 1 Km dari pertigaan. Setelah sampai di lokasi, motor kami parkir di rumah warga di seberang pintu masuk coban sriti. Tiket masuk Rp. 15.000 untuk 2 orang sudah termasuk parkir. Oh iya, lokasi pintu masuk coban sriti ini berada di dusun jogokereng, desa Tamanayu, kecamatan Pronojiwo.
Di pintu masuk terlihat 2 orang yang sedang bersantai. Meraka memberikan kami buah salak untuk perbekalan dijalan menuju coban Sriti, kamipun melanjutkan perjalanan. Setelah itu saya mengabari mas saiful via chat, bahwa kami sudah dalam perjalanan turun. Tak pernah melihat mas saiful sebelumnya, ternyata orang yang memberi salak di depan pintu masuk itu adalah mas saiful sendiri. Berhubung dia baru saja dari coban sriti, kami canggung untuk minta mengantarkannya, akhirnya kami hanya turun berdua.
Jalur pertama adalah perkebunan salak milik warga sekitar. Belok ke kiri melewati sungai kecil dan setelah itu berganti dengan melipir di pinggiran tebing yang hanya berpagar bambu, membuat kami harus tetap berhati hati. Sampai disini kami disambut dengan ratusan kalong ( kekelawar besar). Jika kalong di daerah lain beraktivitas saat malam hari, berbeda dengan kalong disini. Kalong yang berada di sekitaran coban Sriti ini malah beraktivitas pada siang hari.
img_20190827_074601_y8n.jpg

jalur baru menuju ke coban Sriti.

Sampai dibawah tampak aliran sungai glidik yang berwarna keruh kecoklatan. Maklum, di atas adalah terdapat aktivitas pertambangan pasir. Jadi jika aktivitas pertambangan berhenti, maka warna air pun juga menjadi jernih.
Sebelum jalur baru lewat desa Tamanayu ini dibangun, para pengunjung biasanya lewat melalui coban kapas biru. Dari coban kapas biru sampai ke coban sriti kalian harus menyeberangi delapan aliran sungai yang aliranya deras. Lebih berbahaya lagi di saat musim penghujan, sebab lahar dingin dari gunung semeru tiba-tiba bisa datang menerjang. Itu mengapa warga desa membuat jalur baru menuju coban sriti dengan akses yang lebih mudah melalui desa Tamanayu ini. Oh iya,saat kami mengunjungi coban Sriti ini, jalur baru dibuka sekitar 1 minggu yang lalu (akhir bulan April 2019).
img_20190827_075242_4Lw.jpg

Keindahan coban Sriti (c) prasetia bayu.

img_20190827_081914_gk5.jpg

Penampakan coban Sriti jika di zoom

Disebut coban sriti karena berada di bawah gunung kukusan sriti. Ada juga yang menyebutnya coban wolu karena harus menyeberangi delapan (wolu) aliran sungai. Coban sriti sendiri mempunyai ketinggian sekitar 120 m dengan dilingkari tebing setinggi kurang lebih 150 m, menjadikan salah satu coban tertinggi di Indonesia. Coban Sriti mempunyai dua aliran air, membuat air terjun ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Tidak disarankan untuk mendekati coban karena alirannya begitu deras. memandanginya dari kejauhan saja sudah basah kuyup akibat hembusan airnya yang begitu deras, apa lagi jika mendekat . Karena dalam dan aliranya begitu deras, jangan sekali kali menyeberang melewati kali. Waktu yang paling cocok untuk mengunjungi coban Sriti ini adalah saat siang hari sekitar pukul 12:00 hingga pukul 16:00 sore hari.
img_20190827_080300_Ifb.jpg

Pakaian basah kuyup akibat hembusan air terjun

Sekitar 30 menit kami di lokasi sendirian, datanglah mas Saiful dengan mengantarkan para pengunjung lain. Lebih tepatnya wanita-wanita berhijab. Karna kawatir terjadi yang tidak diinginkan sebab jalur belum 100% jadi. Saran kami, gunakan pakain yang sesuai dengan kondisi medan, pakaian yang membuat tubuh lebih leluasa dalam bergerak. Dan juga gunakanlah alas kaki yang anti selip, sebab jalanannya berupa tanah licin dengan jurang di sampingnya.
Sampai dibawah, para cewek-cewek ini memasak mie instan dan kopi yang mereka bawa dari atas, kamipun di beri sebagain sebagai tanda perkenalan dari mereka. Kami seakan tak mau meninggalkan tempat ini karena keindahan coban Sriti. Berhubung waktu sudah sore, kami pun kembali ke atas dan pamitan kepada mas Saiful.
img_20190827_080853_gwp.jpg

Para ledies sedang memasak

Buruan rencanakan kunjunganmu ke coban Sriti. Eits tapi ingat, buanglah sampah pada tempatnya dan jangan membuat vandalisme di coban Sriti. Jadikan coban Sriti tetap indah tanpa sampah dan coretan, teman.
Bersambung…

Memperingati kemerdekaan di puncak terlarang gunung Kelud

Gunung Kelud adalah gunung berapi yang masih aktif, berada di kabupaten Kediri, Jawa Timur. Berjarak sekitar 30 Km ke arah timur kota Kediri. Gunung ini adalah salah satu gunung yang paling aktif yang ada di Indonesia. Terakhir meletus tahun 2014, ketika saya kelas 3 SMA. Sekolah secara mendadak meliburkan kegiatan ajar mengajar karena dampak erupsi gunung Kelud. Nah kali ini saya akan bercerita keseruan saya mengunjungi gunung Kelud…
Karena ingin mengejar Sunrise di gunung Kelud, berangkatlah saya dari kos jam 00:00 tengah malam bersama Jerry. Selain karna ingin mengejar sunrise, kami berangkat tengah malam karna menghindari malam minggu yang jalanan pasti ramai. Alih-alih jalanan sepi, ternyata udara tengah malam sangatlah dingin, meskipun saya menggunakan jaket. Ditambah lagi angin yang kencang di daerah Jombang, semakin membuat dingin ini menjadi-jadi. Setelah sekitar 2 jam berkendara, akhirnya kami sampai di Simpang Lima Gumul atau yang lebih dikenal SLG.
Sampai disini kami langsung membuka bekal nasi yang di bawa Jerry dari kos-kosan, karna perut saya lapar, dari sore belum makan nasi sama sekali. Meskipun sudah memasuki jam 02:00 dini hari, tapi para pengunjung masih ramai. Mungkin karna malam Minggu kali ya.
Oh ya, jika kalian belum tahu SLG (Simpang Lima Gumul) adalah sebuah Monumen di tengah simpang lima dengan tugu di tengahnya, tugu mirip Arc de Triomphe di Perancis membuat SLG menjadi terkenal. SLG juga termasuk salah satu ikon wisata di kabupaten Kediri selain gunung Kelud. Di dinding-dinding monumen terdapat sebuah relief yang menggambarkan tentang sejarah kerajaan Kediri.
Bodohnya kami setelah kami selesai makan, kami lupa tidak bawa air putih. akhirnya Jerry membeli susu hangat di dekat kami berhenti. Setelah menghabiskan susu hangat dan seberes mengambilan foto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke gunung Kelud.
img_20190821_wa0002_f9C.jpg
img_20190822_061106_6ye.jpg
SLG (sumpang lima gumul)
Berjarak kurang lebih 27 Km dari SLG menuju gunung Kelud. Melewati rumah-rumah yang banyak dihisai dengan lampu warna warni. Maklum, saat berkunjung ke gunung Kelud masih dalam hari kemerdekaan RI yang ke 74. Bahkan disalah satu desa yang kami lewati, warga desanya kompak membuat lampu yang yang hanya menyala merah dan putih, layaknya bendera Indonesia. Yang ternyata lampu berwarna merah putih tadi dipasang pada tiang-tiang bendera. Jadi saat siang hari terlihat bendera merah putih, sedangkan malam hari terlihat cahaya merah putih di tiang tersebut. Sungguh kreatif sekali para warga.
img_20190822_055003_Ejw.jpg
Jalan menuju kawasan gunung Kelud.
Sekitar pukul 03:30 kami sampai di gerbang menuju kawasan gunung Kelud. Ternyata gerbang belum dibuka. Kata penjaga gerbangnya, gerbang akan dibuka sekitar pukul 04:30 . Tak ingin menunggu lama di pos penjaga, akhirnya kami mencari mushola terdekat untuk tidur sejenak, lumayan bisa istirahat. Sayapun terbangun ketika qiro’ah sebelum azan subuh berkumandang. Sehabis sholat subuh kami segera secepatnya menuju ke tiket masuk dan treking agar dapat menikmati sunrise. Pikirku..
Ternyata tidak sesuai rencana. Setelah kami sampai di batas akhir parkir mobil pukul 05:00, terdapat gerbang lagi yang masih ditutup. Dengan tulisan di depan gerbang. “BUKA JAM 07:00, TUTUP JAM 16:00” . duh, akhirnya kami gagal mendapatkan sunrise di “puncak” gunung Kelud deh. Kami harus menunggu 2 jam agar gerbang dibuka. Apalagi dingin yang sejak tadi malam, membuat kami untuk terus bergerak agar rasa dingin menjadi berkurang.
Dari batas parkir mobil ini para abang-abang ojek sudah bersiap untuk mengantarkan pengunjung sampai di bibir kawah. Dengan tarif pulang pergi sebesar Rp. 50.000 dan jika rombongan maksimal 4 orang, mendapat harga Rp. 40.000 per orang. Ojek di Kelud sudah sangat terorganisir, para abang ojeknya menggunakan nomer antrian dan parkir dengan rapi menunggu penumpang.
Sebelum gerbang dibuka, para pengunjung sudah ramai berada di parkiran mobil. Maklum hari ini hari Minggu dan bertepatan libur panjang hari kemerdekaan RI. Lama menunggu, kami akhirnya memesan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuh di warung terd
img_20190822_055301_iEK.jpg
Tampak pengunjung menunggu gerbang dibuka.
Pukul 07:00 gerbang baru dibuka. Kami langsung tancap gas menuju batas parkiran motor. Kami cuma bayar parkir Rp.5.000, tanpa membayar tiket masuk. Karna saat kami melewati tiket masuk yang berada setelah gerbang kawasan gunung Kelud, petugas belum menjaga loket. Untuk tiket masuknya sendiri sebenarnya Rp. 10.000 per orang saat hari libur.
Setelah sampai parkiran, kami langsung berjalan menuju ke “puncak” gunung Kelud. Lebih cepat naik ojek sih. Tapi karena alasan keuangan dan abang ojek gak berhenti ditempat yang kami maksud, kami mengurungkan niat kami naik ojek dan memilih untuk jalan kaki. Jarak dari parkiran motor sampai ke bibir kawah sekiar 3 Km, lumayan capek untuk berjalan kaki. Jalur yang kami lewati adalah jalanan cor yang baru setengah jadi. Sebelum sampai bibir kawah, sekitar 30 menit berjalan, kami mengambil keluar dari jalur wisatawan. Menuju sebuah bukit di sebelah kiri. Sebenarnya bukit ini dilarang untuk kunjungi. Itu dapat dilihat dengan adanya pagar pembatas yang sudah setengah roboh. Maafkan kami pak, kami nakal. Untuk dulur-dulur jangan dititru perbuatan kami ya..hehe.
Trekking menuju bukit ini berpasir dan sedikit berbatu. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di puncak. Sampai puncak kami harus melipir ke kiri menuju yang lebih aman, karena area puncak sangatlah curam dan rawan longsor. Terdapat alat perekam aktivitas gunung Kelud di area puncak, itu mungkin sebabnya mengapa area puncak ini tidak di peruntukan bagi wisatawan. Dari puncak kami dapat melihat kawah gunung Kelud yang erupsi tahun 2014 dan tebing Sumbing yang terlihat secara keseluruhan. Terlihat juga puncak gunung Kelud jika mendaki via Tulungrejo ataupun via Karangrejo, Blitar.
img_20190822_062238_xxv.jpg
Jalan setengah cor menuju ke kawah.
img_20190822_062501_wNh.jpg
Persimpangan menuju ke “puncak”.
lrm_export_20190822_054243_9VQ.jpg
View dari puncak.
Selepas berfoto-foto, kami lalu sarapan. Memakan sisa bekal yang tadi malam kami makan di Simpang Lima Gumul. Maklum hemat biyaya..hehe. Selepas sarapan dan perut kenyang, kamipun turun.
img_20190822_171448_jOt.jpg
Menu sarapan.
Turun dari puncak lebih berbahaya. Sebab tanah yang berpasir kasar dan berbatu kecil-kecil membuat gampang selip di sepatu. Pijakan pun kurang stabil, membuat gampang terpeleset. Oleh sebab itu kami lebih berhati-hati dalam menuruni puncak. Setelah sampai bawah, kami melanjutkan menuju ke jalur wisatawan dan menuju dekat kawah. Jalan yang semula setengah cor, sekarang berubah menjadi jalanan yang berkerikil. Enaknya jalanan sudah landai tak menanjak ataupun menurun. Selain ojek, pengguna sepeda juga diperbolehkan sampai ke dekat kawah. Sebelum sampai kawah, kami melewati terowongan yang panjangnya sekitar 100 m, dengan lebar 2,5 m. Terdapat ruangan-ruangan di dalam terowongan, entah apa fungsinya kami tidak tahu.
Keluar dari terowongan, sampailah kami di batas akhir mengunjungi gunung Kelud. Melihat lebih dekat tebing sumbing, memang tebing Sumbing ini mempunyai karakteristik yang khas. Batuan vulkanik bekas letusan membuat tebing sumbing lebih indah. Tapi sayang, fasilitas toilet di sini sangatlah kotor, banyak sampah yang menumpuk ditoilet. Bahkan toilet bisa dikatakan tak layak digunakan. Jadi jika kalian ingin BAB saat berada di sini, mending tahan dulu deh, tahan sampai kembali di parkiran..hehe.
Terdapat pula orang-orang yang sedang melakukan aktivitas clambing di tebing sumbing. Karna kami datang saat masih moment kemerdekaan, kami melihat anak-anak muda mengibarkan bendera merah putih berukuran besar di bukit yang tadi kami naiki. Nah, padahal saat kami naik maupun turun, kami tak menemui anak-anak itu. Lalu dari mana anak-anak itu naik ke bukit itu? Apa mungkin ada jalur yang lain selain jalur yang kami naiki? Tau ah.
Selain foto sendiri, disini juga terdapat jasa pemotretan yang standnya berda di depan terowongan. Terdapat juga pengamen yang hanya duduk di tempat dan jika di kasih uang baru bernyanyi layaknya pengamen-pengamen luar negeri gitu. Bedanya jika di luar negeri mengunakan gitar, di gunung Kelud ini pengamen menggunakan gembrung, alat musik tradisional. Lagu-lagunya pun juga lagu lokal..hehe.
img_20190822_171825_sTY.jpg
Terowongan menuju kawah Kelud.

img_20190822_172318_MXg.jpg
View kawah dari dekat.
img_20190822_172052_gFe.jpg

Clambing di tebing sumbing.

img_20190822_172119_kmO.jpg

Pengibaran bendera di puncak yang kami daki.

img_20190822_173628_sSm.jpg

Pengamen tradisional di area wisata gn. Kelud.

Serasa cukup puas menikmati pesona gunung Kelud, kami akhirnya kembali ke parkiran dan pulang. Eh, karena semaleman kami kurang tidur, kami akhirnya tidur sebentar di mushola yang semalam kami singgahi. Sekitar 1 jam tidur, kami lanjutkan perjalanan pulang. Jam 15:00 Alhamdulillah kami sampai di kos dengan selamat.
Sekian cerita saya mengexplore gunung Kelud. Ambil sisi positifnya dan buang jauh-jauh sisi negatifnya. Sampai jumpa..
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai